• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1.5 Implementasi CSR

Implementasi CSR yang dilakukan oleh masing-masing perusahaan sangat bergantung kepada misi, budaya, lingkungan dan profil resiko, serta kondisi operasional masing-masing perusahaan. Banyak perusahaan yang telah melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan pelanggan, karyawan, komunitas, dan lingkungan sekitar, yang merupakan titik awal yang sangat baik menuju pendekatan CSR yang lebih luas.

Terkait dengan praktik CSR, pengusaha dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu kelompok hitam, merah, biru, dan hijau.

Tabel 2.1

Kategori Perusahaan Menurut Implementasi

Corporate Social Responsibility (CSR)

Peringkat Keterangan

Hijau

a. Perusahaan yang sudah menempatkan CSR pada strategi

inti dan jantung bisnisnya.

b. CSR tidak hanya dianggap sebagai keharusan, tetapi

kebutuhan (modal sosial).

Biru a. Perusahaan yang menilai praktik CSR akan membawa dampak positif terhadap usahanya karena merupakan investasi, bukan biaya.

Merah a. Perusahaan peringkat hitam yang memulai menerapkan CSR. CSR masih dipandang sebagai komponen biaya yang mengurangi keuntungan perusahaan.

Hitam a.b. Kegiatannya degeratif Mengutamakan kepentingan bisnis

c. Tidak peduli aspek lingkungan dan sosial disekelilingnya.

Sumber : Untung, 2008 : 9

Implementasi mengacu kepada keputusan, proses, praktik, dan aktivitas keseharian yang menjamin bahwa perusahaan memenuhi semangat dan menjalankan rencana tertulis yang telah disusun. Kegagalan untuk memenuhi komitmen CSR tanpa penjelasan yang memuaskan dapat menimbulkan masalah bagi perusahaan, termasuk karyawan, pemegang saham, mitra bisnis, pelanggan, serta komunitas yang tidak puas.

Setiap perusahaan berbeda serta akan melakukan pendekatan yang berbeda terhadap implementasi CSR. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam mengimplementasikan CSR.

1. Membangun sebuah struktur pengambilan keputusan CSR yang

terintegrasi. Sangat penting bagi perusahaan untuk menyelaraskan tujuan dan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan CSR dengan sasaran dan strategi secara keseluruhan, sehingga mengikutsertakan pertimbangan CSR dalam pengambilan keputusan perusahaan menjadi hal yang sama.

2. Siapkan dan implementasikan rencana bisnis CSR. Struktur pengambilan

keputusan mengidentifikasikan siapa yang bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakan yang berkaitan dengan CSR dalam perusahaan.

3. Menetapkan sasaran yang terukur dan mengidentifikasi pengukuran

keberhasilan adalah mengidentifikasi tujuan yang yang mendasari

komitmen CSR, membangun Key Performance Indikacators (KPI),

membuat metode pengukuran, kemudian mengukur hasil yang dicapai.

4. Libatkan karyawan dan juga pihak-pihak lain yang menjadi sasaran dari

komitmen CSR.Dukungan karyawan bagi pengimplementasian CSR dapat diperoleh dan dijaga dengan sejumlah cara, yaitu :

a. Memasukkan elemen-elemen kinerja CSR ke dalam uraian

pekerjaan dan evaluasi kinerja.

b. Menyediakan update secara berkala mengenai perkembangan

pelaksanaan CSR, seperti dalam rapat atau dalam newsletter

perusahaan.

c. Mengembangkan insentif, seperti penghargaan bagi

sasaran-sasaran yang dianggap terbaik.

d. Menghilangkan atau mengurangi disinsentif.

5. Merancang dan menjalankan pelatihan mengenai CSR. Perusahaan perlu

memberikan pelatihan kepada karyawan yang terlibat langsung dalam aktivitas CSR, karena kebutuhan pelatihan akan berkembang pada saat isu-isu CSR berkembang. Terdapat lima langkah dalam membangun program pelatihan yang berhasil, yaitu :

a. Melakukan analisis kebutuhan

b. Menetapkan tujuan pembelajaran

c. Merancang program, seperti isi, format, logistik, waktu, durasi

d. Implementasi program

e. Evaluasi program berdasarkan tujuan pembelajaran.

6. Membangun mekanisme guna memberikan perhatian terhadap perilaku

yang problematis. Adalah penting bagi perusahaan untuk menerapkan mekanisme dan proses yang memungkinkan dilakukannya deteksi awal, pelaporan, dan resolusi aktivitas yang bermasalah.

7. Ciptakan rencana komunikasi internal dan eksternal. Informasi mengenai

komitmen, aktivitas, dan pelaporan kinerja CSR harus sering dikomunikasikan dengan jelas kepada seluruh karyawan. Karyawan harus mengetahui bahwa CSR adalah prioritas perusahaan (Susanto, 2009 : 57-61).

Indikator yang paling efektif adalah bersifat kualitatif. Menurut Kartini (2009: 54-55), ada 8 (delapan) indikator yang sebaiknya digunakan dalam pengukuran indikator kinerja dalam implementasi CSR, yakni :

1. Leadership (Kepemimpinan)

a. Program CSR dapat dikatakan berhasil jika mendapatkan

dukungan dari top management perusahaan.

b. Terdapat kesadaran filantropik dari pimpinan yang menjadi dasar

pelaksanaan program.

CSR dirancang bukan semata-mata pada kisaran anggaran saja, melainkan juga pada tingkatan serapan maksimal, artinya apabila areanya luas, maka anggrannya harus lebih besar. Jadi tidak dapat dijadikan tolok ukur, apabila anggaran besar pasti menghasilkan program yang bagus.

3. Transparansi dan Akuntabilitas

a. Terdapat laporan tahunan (annual report)

b. Mempunyai mekanisme audit sosial dan finansial dimana audit

sosial terkait dengan pengujian sejauhmana program –program CSR telah dapat ditunjukkan secara benar sesuai kebutuhan masyarakat, perusahaan mendapatkan umpan balik dari masyarakat

secara benar dengan melakukan interview dengan para penerima

manfaat.

4. Cakupan wilayah (Coverage Area)

Terdapat identifikasi penerima manfaat secara tertib dan rasional berdasarkan skala prioritas yang telah ditentukan.

5. Perencanaan dan Mekanisme Monitoring dan Evaluasi

a. Dalam perencanaan perlu ada jaminan untuk melibatkan multi

stakeholder pada setiap siklus pelaksanaan proyek.

b. Terdapat kesadaran untuk memperhatikan aspek-aspek lokalitas

(local wisdom), pada saat perencanaan ada kontribusi, pemahaman, dan penerimaan terhadap budaya-budaya lokal yang ada.

c. Terdapat blue-print policy yang menjadi dasar pelaksanaan

program.

6. Pelibatan Stakeholder (Stakeholders Enggagement)

a. Terdapat mekanisme koordinasi reguler dengan stakeholders,

utamanya masyarakat.

b. Terdapat mekanisme yang menjamin partisipasi masyarakat untuk

dapat terlibat dalam siklus proyek.

7. Keberlanjutan (Sustainability)

a. Terjadi alih-peran dari korporat ke masyarakat

b. Tumbuhnya rasa memiliki (sense of belonging) program dan hasil

program pada diri masyarakat, sehingga masyarakat dapat ikut andil dalam menjaga dan memlihara program dengan baik.

c. Adanya pilihan partner program yang bisa menjamin bahwa tanpa

keikutsertaan perusahaan, program bisa tetap dijalankan sampai selesai dengan partner tersebut.

8. Hasil Nyata (Outcome)

a. Terdapat dokumentasi hasil yang menunjukkan berkurangnya

angka kesakitan dan kematian (dalam bidang kesehatan), atau berkurangnya angka buta huruf dan meningkatkan kemampuan SDM (dalam bidang pendidikan) atau parameter lainnya sesuai dengan bidang CSR yang dipilih oleh perusahaan.

b. Terjadinya perubahan pola masyarakat.

c. Membedakan dampak ekonomi masyarakat yang dinamis

Dokumen terkait