• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Nilai-nilai Religius

BAB II TINJAUAN TEORETIS .................................................................... 16-37

B. Implementasi Nilai-nilai Religius

Secara umum implementasi nilai-nilai religius pada peserta didik dapat melalui dua metode yaitu metode pembiasaan dan nasihat.40 Sedangkan dimensi dari religiusitas menurut Muhaimin ada lima macam yakni dimensi keyakinan, dimensi praktik agama, dimensi pengalaman, dimensi pengetahuan beragama dan dimensi pengamalan akhlak dan konsekuensi.41

Implementasi menurut Subarsono dengan hasil karya buku dengan judul analisis kebijakan publik menjelaskan bahwa segala bentuk aktivitas seseorang yang dalam pengerjaannya dibutuhkan alat untuk memperoleh suatu hasil yang hendal dicapai.42

Umat Islam memiliki kekayaan ajaran yang luar biasa dan sebagai bangsa Indonesia, kita kaya akan slogan, tetapi kita semua menjadi miskin tindakan apalagi keteladanan.43 Oleh karena itu kita harus senantiasa membiasakan diri terhadap tindakan tindakan yang positif.

39Heru Sulistiyo, “Relevansi Nilai Religius dalam Mencegah Perilaku Difungsional Audit”

Jurnal Ekonomi Manajemen dan Akuntansi no 30 (2014): h. 5-6

40Fadhlurrahman, “Internalisasi Nilai Religius Pada Peserta Didik; Kajian Atas Pemikiran Al-Ghazali dan Relevansinya Dalam Pendidikan Islam”, h. 84.

41 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, h. 167.

42Subarsono, Analisis Kebijakan Public (Yogyakarta, PT Pustaka pelajar, 2009) h. 30.

43Mujamil Qomar, Fajar Baru Islam Indonesia? Kajian Komprehensif atas Arah Sejarah dan Dinamika Intelektual Islam Nusantara (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2012), h. 218.

34

Peserta didik sebagai bagian dari generasi penerus umat Islam bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri, peserta didik memiliki periodisasi perkembangan dan pertumbuhan, peserta didik adalah makhluk Allah swt., yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada, peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu, peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.44

Berdasarkan pendapat Bije Widjajanto yang dikutip oleh Syamsul Kurniawan bahwa kebiasaan peserta didik dapat terbentuk dari tindakan yang dilakukan berulang-ulang setiap hari. Tindakan-tindakan tersebut biasanya disadari atau disengaja, tetapi karena begitu seringnya maka tindakan dilakukan pada akhirnya seringkali kebiasaan yang disebutkan tadi menjadi reflex dilakukan tanpa disadari oleh orang yang bersangkutan.45

Analisis peneliti berdasarkan uraian di atas bahwa sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus maka akan membentuk dan menjadi sebuah kebiasaan yang rutin dilakukan setiap hari. Pada dasarnya manusia menyadari perbuatan sebagai tindakan di sengaja. Namun setiap perbuatan yang dilakukan secara berulan-ulang akan menimbulkan spontanitas.

44Musaddad Harahap “ Esensi Peserta Didik dalam Perspektif Pendidikan Islam” Jurnal Al-Thariqah Vol. 1, No. 2, ( 2016): h. 4.

45Syamsul Kurniawan, Pendidikan Karakter Konseps dan Implementasinya secara Terpadu (Yokyakarta: Ar; Ruzz Media, 2013), h. 29.

Terdapat dalam Islam peserta didik perlu memiliki akidah dan akhlak sebagai dasar bertingkah laku. Sebagaimana tercantum dalam QS Al-Najm/53: 3-4 sebagai berikut:

ٝ هح ُّْٛي ي ْحَٚ َّلِِا َُٛ٘ ِْْا ٜ هٌَْٛٙا َِٓع ُكِطَْٕي اََِٚ

Terjemahnya:

“Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur‟an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.46

Berdasarkan analisis peniliti bahwa ayat tersebut dimaksudkan bahwa segala sesuatu yang terucap melalui mulut baginda Nabiullah Muhammad saw., tidaklah keluar berdasarkan hawa nafsunya dan pula bukan dengan tujuan tertentu, melainkan hal itu dikarenakan semata-mata untuk melaksanakan perintah Allah swt., kemudian beliau sampaikan kepada umat manusia dengan kesempurnaan tanpa pegurangan maupun penambahan.

Membimbing seseorang dalam bertingkah laku dsini Rasululullah merupakan suri tauladan yang harus dicontoh sikap dan akhlaknya.47

Sehingga peserta didik hendaknya banyak belajar terkait cara belajar agama dan berprilaku yang baik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan, menjadi makhluk hidup belajar.48 Dengan demikian hendaknya peserta didik banyak belajar dan mengamalkan implementasi nilai-nilai religius .

46Kementrian Agama RI, al-Qur‟an dan terjemahnya, h. 763.

47Ahmad Dahlan, “Tujuan dan Fungsi Pembelajaran Akidah Akhlaq” Blog Ahmad Dahlan https://www.wawasanpendidikan.com/2014/11/tujuan-dan-fungsi-pembelajaran-aqidah.html?m=1 (17 november 2021).

48Ahmad Jayadi & Abdul Majid, Tadzikirah Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (PT Raja Grafindo Persada , 2005), h. 26.

36

1. Contoh nilai-nilai religius sebagai berikut:

a. Melaksanakan ibadah baik berupa ibadah salat, sedekah, membayar zakat, dan beberapa ibadah lainnya yang mampu meningkatkan keimanan kita kepada Allah swt., serta berbuat baik semata-mata untuk mencari ridho dari Allah swt.

b. Senantiasa menanamkan rihul jihad pada diri, yaitu bersungguh sungguh dalam berjuang di jalan Allah swt. Sikap bersungguh-sungguh merupaka salah satu sikap terpuji yamg disenangi oleh Allah swt., dengan demikian sehingga rihul jihad henadkanya senantiasa tertanam dalam diri manusia.

c. Disiplin dalam melaksanakan ibadah dan tepat waktu dalam mengerjakan suatu pekerjaan. Dengan penerpaan yang demikian sehingga dapat menajdikan manusia pribadi yang lebih taat dan lebih baik.

d. Menjadi insan berakhak mulia dengan menanamkan sikap keteladanan.

Keteladanan yang dimaksudkan tidak terlepas dari apa yang menjadi suri tauladan dari baginada Nabiullah Muhammad saw., seperti lemah lembut.49 2. Berikut beberapa contoh nilai religius dalam pelajaran Akidah Akhlak.

a. Menghormati antar umat beragama

b. Menjalankan perintah agama yang dianutnya c. Saling menghargai kebebasan memilih agama d. Tidak memaksakan mengikuti suatu agama.50

Menurut analisis peneliti berdasarkan contoh nilai-nilai religius di atas bahwa contoh nilai-nilai religius hendaknya menerapkan hidup rukun dalam beragama, mengimplementasikan nilai religius berupa menanamkan sikat toleransi sikap tenggang rasa dalam diri manusia dan saling menghargai sesama manusia, menghargai perbedaan, menghargai pendapat tanpa membeda-bedakan antara satu dan lainnya.

49Alifia Furaida Salsabila, “Contoh Nilai Religius dalam Kehidupan Sehari-hari”.

https://www.celeberities.id/read/contoh-nilai-religius-dalam-kehidupan-sehari-hari-416v1Q (23 November 2022).

50Masdayat “Beberapa Contoh Nilai Religius” Blog Masdayat.net https://www.wawasan pendidikan.com/2014/11/tujuan-dan-fungsi-pembelajaran-aqidah.html?m=1 ( 23 November 2021).

Berdasarkan uraian di atas serta teori-teori yang dikemukakan oleh Abdullah dan Zulkarnain, yang membagi nilai-nilai religius menjadi beberapa aspek. Abdullah membagi nilai-nilai religius meliputi nilai ibadah, nilai syariah dan nilai akhlak.

Sedangkan Zulkarnain membagi nilai-nilai religius meliputi nilai tauhid, nilai ibadah, nilai akhlak dan nilai kemasyarakatan. Namun dalam penelitian ini peneliti hanya berfokus atau memilih tiga aspek nilai religius saja yakni nilai ibadah, nilai akhlak, dan nilai kemasyarakan hal ini berdasarkan masalah yang ada di lapangan. Nilai-nilai religius tersebut sudah sepatutnya melekat pada diri seseorang terutama pada peserta didik dengan demikian nilai-nilai tersebut mampu membawa orang tersebut menjadi orang yang taat ajaran Islam dan patuh atas segala yang di perintahkan oleh Allah dan rasul-Nya. Nilai-nilai religius juga memiliki peranan yang sangat penting, salah satunya membentuk pribadi manusia menjadi lebih baik. Senantiasa mengintrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan dan mengevaluasi diri agar kedepannya menjadi lebih baik. Peran nilai religius juga menyadarkan diri bahwa setiap yang dilakukan oleh manusia berada dalam pengawasan Allah swt., sebab Allah swt., tidak pernah tidur dan maha melihat setiap gerakan hati manusia, ucapan dan tingkah laku, sehingga meminimalisir terjadinya perbuatan menyimpang dari agama. Sehingga dari uraian tersebut lahirlah konsep terkait implementasi nilai-nilai religus yang diteliti yakni nilai ibadah, nilai akhlak dan nilai kemasyarakatan.

38

Dokumen terkait