BAB IV KAJIAN HUKUM TRANSPARANSI INFORMASI PERBANKAN DI
B. Implementasi Prinsip Transparansi Informasi di Bank BTN KCP KAS UTAMA
Prinsip transparansi dalam industri perbankan berkaitan dengan prinsip keadilan.
Oleh karena jalannya prinsip keadilan harus didukung oleh transparansi keadaan finansial dalam pengawasan perusahaan. Gregory dan Simmon mengatakan, bahwa kegagalan dewan komisaris dan pemegang saham pengendali dalam mempertanggungjawabkan pengawasan usaha dapat diamati dari faktor yang
memunjukan dewan komisaris dan pemegang saham pengendali terlibat melakukan tindakan pemberian pinjaman yang didasarkan pada hubungan pertemanan, dibandingkan atas adanya suatu anlisis yang mendalam mengenai risiko. Hal ini bukan suatu yang mengejutkan, oleh karena mereka mendasarkan pendapat pada suatu adanya invstasi berlebihan yang bersifat non produktif dan kegiatan perusahaan yang bersifat spekulatif.71
Adapun pendekatan dan penahapan implementasi program Good Coorporate Governance di BTN dilakukan dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard.
Di sini terdapat 3 langkah yang harus dicapai.72 Pertama, merumuskan tujuan program Good Coorporate Governance. Langkah ini teramat krusial karena dijadikan motivasi untuk bertindak.
Kedua, merumuskan road map sebagai milestones yang akan dijadikan petunjuk pada tahapan-tahapan selanjutnya.
Ketiga, merumuskan strategi berdasarkan “Smart Strategy for 360 Degree GCG with Balanced Scorecard Approach” yang mencakup 3 tahapan berikut:
1. Tahapan Pra Implementasi yang terdiri dari : a) Mengukuhkan Komitmen.
b) Membangun Soft Structure.
c) Melengkapi Infrasturcture
71 Bismar Nasution,”Pentingnya Keterbukaan Untuk Pengelolaan Perusahaan yang Baik dalam UUPM”, (Vol. 14, 2001)
72 Op.Cit, Gustyanita Pratiwi.
2. Tahapan Implementasi yang terdiri dari:
a) Awareness Programs (internalisasi dan institusionalisasi) b) Self Assessment (sesuai standar dari Bank Indonesia) c) External Parties Assessment, serta
d) Mengkomunikasikan penerapan Good Coorporate Governance di Bank BTN kepada pihak eksternal.
3. Tahapan Siklus Implementasi: Monitoring yang berkelanjutan senantiasa harus dilakukan, untuk menuju sukses jangka panjang.
BTN secara berkala juga melakukan training maupun refreshment bagi seluruh pegawai, misalnya sertifikasi human capital, sertifikasi /refreshment manajemen risiko, serta sosialisasi code of conduct. Tujuannya adalah agar insan Bank BTN memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan setiap tugasnya tanpa mengesampingkan etika.
Bank BTN juga melakukan benchmark dengan lembaga keuangan lain guna memperoleh best practice, mengundang professional consultant untuk menjalankan beberapa project yang bersifat adhoc, mengundang konsultan untuk memperkuat corporate culture, mengikuti training di dalam dan luar negeri dan memberikan beasiswa Program Magister dan Program Doktoral bagi karyawan yang potensial pada universitas ternama di dalam maupun luar negeri.73
Dalam perkembangannya, implementasi prinsip-prinsip Good Coorporate Governance di seluruh aspek perbankan, tidak terlepas dari upaya pengelolaan risiko
73 Ibid.
yang dihadapi oleh bank. Sebagai bank yang fokus utamanya di bidang pemberian kredit atau pembiayaan perumahan, portofolio aset BTN didominasi oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini dipengaruhi oleh adanya perubahan iklim bisnis eksternal seperti inflasi serta BI Rate. Upaya meminimalkan dampak negatif tersebut dilakukan dengan pengelolaan pengetahuan yang berlandaskan prinsip Good Coorporate Governance dan kehati-hatian. Dalam hal ini, bank memberikan pelatihan/workshop kepada direksi, komisaris, serta pegawai secara berkala. Sebagai contoh, saat ini BTN telah memiliki learning centre yang berfungsi sebagai sarana pelatihan bagi pegawai baru dengan instruktur yang berasal dari internal maupun eksternal Babnk BTN.
Bank BTN juga telah memiliki sistem pengelolaan pengetahuan yaitu Akses Internal Manajemen Standar (AIMS) dan FTP. AIMS sendiri terdiri dari dari 2 jenis yaitu AIMS Internal dan AIMS Eksternal. AIMS Internal diperuntukkan sebagai sarana akses informasi terkait kebijakan internal perusahaan maupun petunjuk teknis lainnya yang meliputi: Anggaran, Dasar Perusahaan, Ketetapan Direksi (KD), Peraturan Direksi (PD), Surat Edaran Direksi (SE Dir), Surat Keputusan Direksi (SK Dir), Surat Kuasa Direksi, PA (Petunjuk Akuntansi), SOP (StSandard Operational Procedure), POK (Petunjuk Operasional Komputer), SKB (Surat Keputusan Bersama), Mou dan PKS, serta Presentation Kit.
Sementara AIMS Eksternal diperuntukkan sebagai sarana akses informasi terkait peraturan/kebijakan eksternal dari berbagai pihak antara lain : Bank Indonesia (Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia), Keputusan Presiden,
Keputusan Menteri, Peraturan Bapepam LK/OJK, Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Peraturan Menteri, Peraturan Pemerintah, dan Undang-Undang.
Dari seluruh uraian di atas, hasil penerapan Good Coorporate Governance terutama pada prinsip transparansi akhirnya berdampak pada beberapa hal. Pertama tentang kinerja keuangan BTN yang secara umum menunjukkan pertumbuhan positif, Maryono selaku direktur utama Bank BTN mengatakan “Dari sini kami anggap bahwa pengelolaan-pengelolaan yang kami lakukan terhadap Bank BTN sesuai dengan Good Coorporate Governance yang dijadikan kunci kesuksesan perusahaan, iklim kerja yang baik, kepercayaan investor dan stakeholder, serta penilaian dari pihak eksternal”.74
Penerapan Good Corporate Governance di Bank BTN secara konsisten diharapkan dapat memelihara eksistensi dan kinerja perusahaan yang baik. Dalam rangka upaya pemenuhan aspek transparansi penerapan Good Corporate Governance, Bank BTN telah melakukan langkah-langkah penerapan Good Corporate Governance dengan menyusun action plan perbaikan dan peningkatan kualitas penerapan Good Corporate Governance yang telah disampaikan kepada Bank Indonesia.
Action plan dimaksud meliputi Peningkatan Peran Komisaris, Peningkatan Peran Aktif Direksi, Peningkatan Peran dan Fungsi Kepatuhan, Peningkatan Efektifitas Penerapan Fungsi Audit Intern, Peningkatan Proses Manajemen Risiko dan Sistem Pengendalian, Peningkatan Transparansi Laporan.
Bank BTN juga telah menyusun cetak biru peningkatan implementasi Good Corporate Governance di Bank BTN yang dilakukan melalui empat pilar Good
74 Laporan Pelaksanaan GCG BTN Tahun 2011. Diakses pada tanggal 2 Februari 2018
Corporate Governance, yaitu Commitment on Governance, Governance Structure and Infrastructure, Governance Mechanism Process dan Governance Outcome. Ke - empat pilar dimaksud diharapkan dapat menyangga penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance di Bank BTN.75
Good Coorporate Govenance (GCG) memiliki arti yang sangat penting bagi Perseroan. Terdapat sejumlah manfaat yang sangat besar ketika prinsip-prinsip Good Coorporate Governance dapat diterapkan dengan baik, yang intinya dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat), yaitu:76
1. Meningkatkan kinerja Perseroan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders. Dengan membangun Good Coorporate Governance akan dapat memperbaiki kinerja Perseroan serta menciptakan Perseroan yang berhasil yang akan membentuk keunggulan komparatif. Karena dengan Good Coorporate Governance maka manajemen Bank akan berjalan dengan baik, efisiensi akan berjalan dan pada akhirnya meningkatkan kepuasan para stakeholders. Hal ini berkaitan pula dengan pembentukan citra yang baik dari Perseroan. Lebih dari itu, prinsip-prinsip Good Coorporate Governance memiliki arti yang begitu penting bagi Perseroan dalam rangka mewujudkan sebuah sustainable company. Good Coorporate Governance akan menuntun Perseroan kearah keunggulan kompetitif yang pada gilirannya memberikan kontribusi positif pada
75 Komitmen Pelaksanaan GCG Oleh Komisaris Bank BTN Pada Tahun 2014. Diakses pada tanggal 2 Februari 2018
76 Laporan GCG, Op.cit.
perkembangan ekonomi dan menjamin kelanggengan kemakmuran yang akan dinikmati rakyat banyak.
2. Meningkatkan corporate value dengan dilakukannya praktik Good Coorporate Governance akan dapat meningkatkan nilai (value) Perseroan melalui peningkatkan kinerja keuangan dan mengurangi risiko yang memungkinkan dilakukan oleh manajemen dengan keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Prinsip-prinsip Good Coorporate Governance akan mendorong value driver untuk bekerja secara lebih baik karena Perseroan dikelola atas dasar best practice yang kemudian akan meningkatkan nilai sebuah Bank (Value Creation).
3. Meningkatkan kepercayaan investor. Praktik Good Coorporate Governance yang dapat dijalankan dengan baik akan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan sebaliknya pelaksanaan Good Coorporate Governance yang buruk akan menurunkan tingkat kepercayaan mereka. Good Coorporate Governance menjadi perhatian utama para investor menyamai kinerja finansial dan potensi pertumbuhan, khususnya bagi pasar-pasar yang sedang berkembang (emerging markets). Para investor cenderung menghindari perusahaan-perusahaan yang buruk dalam penerapan GCG yang dipandang sebagai kriteria kualitatif penentu.
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja Perseroan yang selanjutnya akan meningkatkan shareholders value. Good Coorporate Governance dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja Bank dengan tujuan akhir yaitu tercapainya stakeholder satisfaction yang meliputi task satisfaction dan
employee satisfaction.Perseroan menetapkan dan senantiasa berupaya menerapkan the highest standard of Corporate Governance dengan mengacu kepada regulasi yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa keuangan (OJK) dan standard internasional berdasarkan prinsip OECD dan ASEAN CG Scorecard.Acuan regulasi yang dijadikan standar penerapan GCG Perseroan sesuai Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No.
8/14/PBI/2006 tanggal 05 Oktober 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum dan Surat Edaran Bank Indonesia No.
15/15/DPNP/ tanggal 29 April 2013 perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Standar pelaksanaan Good Coorporate Governance sesuai regulasi ini minimal meliputi 11 (sebelas) parameter, sebagai berikut :
a. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris;
b. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi;
c. Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite;
d. Penanganan Benturan Kepentingan;
e. Penerapan Fungsi Kepatuhan;
f. Penerapan Fungsi Audit Intern;
g. Penerapan Fungsi Audit Ekstern;
h. Penerapan Manajemen Risiko termasuk Sistem Pengendalian Intern;
i. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait (Related Party) dan Penyediaan Dana Besar (Large Exposure);
j. Transisi Kondisi Keuangan dan Non Keuangan Bank, Laporan pelaksanaan GCG dan Pelaporan Internal;
k. Rencana Strategis Bank.
Hasil penilaian penerapannya dapat dilihat pada bagian Self Assessment sesuai ketentuan BI dan/Otoritas Jasa Keuangan. Adapun standar internasional yang menjadi acuan Perseroan sesuai standar internasional berdasarkan prinsip OECD dan ASEAN CG Scorecard sebagaimana yang telah dituangkan oleh OJK dalam Pedoman Tata Kelola Perusahaan yang dikeluarkan oleh OJK di tahun 2015 meliputi 5 (lima) aspek yang diturunkan ke dalam 8 (delapan) prinsip dan 25 (dua puluh lima) rekomendasi sebagai berikut :
Aspek 1 : Hubungan Perusahaan Terbuka dengan Pemegang Saham dalam Menjamin Hak-hak Pemegang Saham. Meliputi prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Meningkatkan Nilai Penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
2. Meningkatkan Kualitas Komunikasi Perusahaan Terbuka dengan Pemegang Saham atau Investor.
Aspek 2 : Fungsi dan Peran Dewan KomisarisMeliputi prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Memperkuat Keanggotaan dan Komposisi Dewan Komisaris.
2. Meningkatkan kualitas Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris.
Aspek 3 : Fungsi dan Peran Direksi Meliputi prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Memperkuat Keanggotaan dan Komposisi Direksi.
2. Meningkatkan Kualitas Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi.
Aspek 4 : Partisipasi Pemangku Kepentingan Meliputi prinsip:
Meningkatkan Aspek Tata Kelola Perusahaan melalui Partisipasi Pemangku Kepentingan.
Aspek 5 : Keterbukaan Informasi Meliputi prinsip:
Meningkatkan Pelaksanaan Keterbukaan Informasi
C. Hambatan Transparansi Informasi Perbankan Pada Bank BTN Kantor Kas