BAB III HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN PRINSIP TRANSPARANSI
C. Hambatan Transparansi Informasi Perbankan di Indonesia
Industri perbankan sangat penting untuk dibiarkan mengatur dirinya sendiri.
Peranan bank dalam menghimpun dana dan menyalurkannya dalam bentuk kredit menyebabkan bank sangat riskan untuk dibiarkab bangkrut. Oleh karena itu, industri perbankan harus diatur dan diawasi dengan ketat baik melalui peraturan langsung maupun peraturan tidak langsung.64 Peraturan langsung bertujuan mengurangi kewenangan pengurus bank dalam menjalankan kegiatan usaha.65
Dalam penerapan peraturan tersebut malah terdapat beberapa benturan peraturan yang menyebabkan bank mengalami hambatan secara operasional khususnya dalam
64 Zulkarnain Sitompul, Op.cit. hlm 2.
65 Ibid. hlm. 3
penerapan prinsip transparansi. Secara umum hambatan yang dialami perbankan tersebut berkaitan dengan kepentingan yakni antara antara pihak bank, masyarakat, pemerintah, maupun competitor.
Pelaksaan transparansi informasi perbankan harus diajalankan secara seksama mengingat industri perbankan diwajibkan menjalankan penerapan manajemen resiko (risk management) dalam kegiatan usahanya. Didalamnya terdapat kewajiban untuk mengelola informasi agar tidak mengganggu kegiatan usaha bank karena terkait pengelolaan resiko.
Persoalan tumpang tindihnya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan menimbulkan persoalan yang berpotensi menimbulkan kegiatan operasional bank. Seharusnya produk hukum terkait keterbukaan informasi publik di perbankan dapat menjamin keberlangsungan usaha perbankan dan aksebilitas informasi publik.
Namun kenyataanya, masih terdapat sejumlah perusahaan beberapa diantaranya adalah :
Informasi terkait laporan keuangan bank. Dalam hal ini benturan kepentingan yakni antara keberlanjutan usaha bank dengan kepentingan masyarakat.;
1. terkait dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yakni Pasal 9 Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik yang mentakan bahwa
a. Setiap Badan Publik wajib mengumumkan Informasi Publik secara berkala.
b. Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : 1) informasi yang berkaitan dengan Badan Publik;
2) informasi mengenai kegiatan dan kinerja Badan Publik terkait;
3) informasi mengenai laporan keuangan; dan/atau ;
4) informasi lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
c. Kewajiban memberikan dan menyampaikan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling singkat 6 (enam) bulan sekali.
d. Kewajiban menyebarluaskan Informasi Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan dengan cara yang mudah dijangkau oleh masyarakat dan dalam bahasa yang mudah dipahami.
e. Cara-cara sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditentukan lebih lanjut oleh Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di Badan Publik terkait.
f. Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban Badan Publik memberikan dan menyampaikan Informasi Publik secara berkala sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Petunjuk Teknis Komisi Informasi.
2. Pasal 10 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 6/ POJK. 03/ 2015 Tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank.
a. Bank wajib mengumumkan Laporan Publikasi Bulanan pada Situs Web Bank.
b. Pengumuman Laporan Publikasi Bulanan pada Situs Web Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat akhir bulan berikutnya setelah posisi akhir bulan laporan.
c. Bank wajib memelihara pengumuman Laporan Publikasi Bulanan pada Situs Web Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling kurang untuk 2 (dua) Tahun Buku terakhir.
d. Bank dinyatakan tidak mengumumkan Laporan Publikasi Bulanan pada Situs Web Bank apabila Bank mengumumkan Laporan Publikasi Bulanan setelah melewati batas akhir waktu pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Selanjutnya Laporan Hasil Pemeriksaan Bank. Terdapat benturan kepentingan yakni antara keberlanjutan usaha bank dengan kepentingan masyarakat serta
pemerintah.
1. Pasal 9 Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik.
2. Pasal 12 Peraturan Bank Indonesia No: 8/ 4 PBI/ 2006 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum yang menyatakan bahwa dalam rangka mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya, Dewan Komisaris wajib membentuk paling kurang:
a. Komite Audit;
b. Komite Pemantau Risiko;
c. Komite Remunerasi dan Nominasi.
Selanjutnya Laporan Hasil Pemeriksaan Bank. Terdapat benturan kepentingan yakni antara keberlanjutan usaha bank dengan kepentingan masyarakat dan competitor.
1. Pasal 9 Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik.
2. Pasal 25 Peraturan Bank Indonesia No: 8/ 4/PBI/ 2006 Tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum;
a. Direksi bertanggungjawab penuh atas pelaksanaan kepengurusan Bank.
b. Direksi wajib mengelola Bank sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawabnya sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Pasal 12 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 6/ POJK.03/ 2015 Tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank;
a. Laporan Publikasi Triwulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b adalah laporan untuk posisi akhir bulan Maret, bulan Juni, bulan September dan bulan Desember.
b. Berdasarkan permintaan dari Otoritas Jasa Keuangan, Laporan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditambahkan dengan:
1) Laporan Publikasi selain periode sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
;dan/atau
2) Informasi lain yang ditentukan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Penjelasan diatas menunjukkan adanya benturan antar regulasi yang mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan transparansi informasi pada perbankan.
Pemberian informasi yang diberikan kepada masyarakat adalah informasi yang berbeda dengan apa yang harus diberikan kepada investor di dalam bursa pasar modal. Informasi material yang disampaikan kepada investor merupakan informasi yang lengkap, akurat dan benar. Informasi yang dikeluarkan dapat dikatakan berbeda karena masyarakat atau
nasabah secara umum memiliki kepentingan yang berbeda dengan perusahaan khususnya bank. Masyarakat secara umum berkepentingan dengan bank dalam hal seperti: menabung dan membeli KPR. Beda halnya dengan kepentingan investor yaitu berupa penanaman modal kepada perusahaan (investasi) dan mengharapkan keuntungan baik karna kenaikan harga saham ataupun berharap atas pembagian dividen.
KAJIAN HUKUM TRANSPARANSI INFORMASI PERBANKAN DI INDONESIA
A. Peranan Prinsip Transparansi Informasi Perbankan Pada Sistem Perbankan di Bank BTN KCP KAS UTAMA di Medan
Dalam rangka menciptakan disiplin pasar (market discipline) dan sejalan dengan perkembangan standar internasional diperlukan upaya peningkatan transparansi kondisi keuangan dan kinerja Bank melalui publikasi laporan Bank untuk memudahkan penilaian oleh masyarakat dan pelaku pasar. Upaya peningkatan transparansi dilakukan melalui penyediaan informasi kuantitatif dan kualitatif yang tepat waktu, akurat, relevan, dan memadai. informasi kuantitatif dan kualitatif yang disediakan dapat mempermudah pengguna informasi dalam menilai kondisi keuangan, kinerja, profil risiko dan penerapan manajemen risiko, aktivitas bisnis Bank, penetapan tingkat suku bunga, serta kondisi keuangan Entitas Induk (parent), Entitas Anak (subsidiary), Perusahaan Terelasi (sister company), dan Pihak Terkait Bank. informasi yang diungkapkan kepada masyarakat perlu memperhatikan faktor keseragaman dan kompetisi antar Bank.66
BI telah membuat Peraturan BI Nomor: 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank, dimana pertimbangan pembuatan peraturan tersebut adalah untuk menciptakan disiplin pasar (marketdisipline). Peraturan itu diupayakan untuk
66 Konsideran Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 6/POJK.03/2015 Tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank.
meningkatkan tranparansi kondisi keuangan dan kinerja bank untuk memudahkan penilaian di antara sesama peserta pasar melalui publikasi laporan kepada masyarakat.
Peraturan transparansi tersebut masih perlu dikritisi, khususnya mengenai transparansi kinerja bank secara cukup. Misalnya, masalah transparansi yang berkaitan dengan anggota direksi dan komisaris serta manajer untuk mengungkapkan kepentingan yang bersifat substansial dalam pelaksanaan perkreditan atau hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan67.
Transparansi informasi mengenai produk bank merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan good governance pada industri perbankan dan memberdayakan nasabah.
Transparansi informasi mengenai produk bank sangat diperlukan unuk memberikan kejelasan pada nasabah mengenai manfaat dan resiko yang melekat pada produk bank.
Transparansi terhadap penggunaan data pribadi yang disampaikan nasabah kepada bank diperlukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap hak-hak pribadi nasabah dalam berhubungan dengan bank. hal-hal tersebut diperlukan untuk mengatur transparansi informasi produk bank dan penggunaan data pribadi nasabah.
Produk bank adalah produk dan atau jasa perbankan termasuk produk dan/atau jasa lembaga keuangan bukan bank yang dipasarkan oleh bank sebagai agen pemasaran.
Dalam peraturan Bank Indonesia Nomor 7/6/PBI/2005 tentang Transparansi informasi produk bank dan penggunaan data nasabah pada pasal 1 angka 3.68
Di pengujung tahun 2009, Bank BTN membuka lembaran barunya sebagai perusahaan terbuka pasca IPO. Langkah strategis ini membawa hawa segar bagi BTN untuk bertransformasi dari yang semula hanya bertaraf lokal menjadi world class
67 Ibid.
68 Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/6/PBI/2005 Tentang Informasi Produk Bank dan Penggunaan Data Pribadi Nasabah.
banking company. Hal ini kemudian diwujudkannya dalam praktik tata kelola yang baik atau lebih dikenal dengan Good Corporate Governance (GCG).69
Maryono, Direktur Utama BTN, bertutur bahwa latar belakangnya mengikuti pemilihan Good Coorporate Governance bukan semata-mata untuk mendapatkan award, tapi karena ingin menjadikannya dasar dalam pengelolaan bisnis perusahaan. Apalagi posisi BTN sendiri sebagai bank pemerintah atau BUMN, yang dalam hal ini tidak bisa terlepas dari regulasi. “Kami tidak bisa menciptakan suatu aturan yang manajemen sukai saja, tapi juga harus memperhatikan aturan Bank Indonesia (BI) selaku regulator serta ketentuan-ketentuan lain seperti pasar modal, dll,”
terang Maryono, sebagaimana dicatat Gustyanita Pratiwi.
Dari niatan itulah, BTN kemudian menerapkan prinsip-prinsip dasar GCG yang mencakup Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness (T ARIF). Pertama, Transparency yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk mengungkapkan informasi yang relevan, akurat, serta tepat waktu kepada para stakeholder. Salah satu sarana penyampaiannya bisa melalui website www.btn.co.id yang memuat annual report, sustainability report, financial report, analyst meeting, dll.70
Kedua, Accountability yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk mengintegrasikan berbagai kejelasan tugas pokok/fungsi, wewenang dan tanggung jawab, mekanisme check & balance, serta pengukuran kinerja perusahaan.
69 Gustiyanita Pratiwi, GCG Kunci Sukses Bisnis Bank BTN, https://swa.co.id/swa/capital-market/gcg/gcg-kunci-sukses-bisnis-bank-btn. diakses tanggal 3 Februari 2018
70 Ibid.
Ketiga, Responsibility yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk berpegang pada prinsip kehati-hatian dan memastikan pengelolaan perusahaan sesuai dengan anggaran dasar, peraturan perundang-undangan, serta memenuhi tanggung jawab sosial, lingkungan dan para pemangku kepentingan lainnya.
Keempat, Independency yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk bersikap profesional dan obyektif dalam memastikan tidak adanya dominasi atau intervensi serta mampu mengelola konflik kepentingan. Di sini kewenangan tertinggi berasal dari rapat Direksi di mana dalam setiap penyelenggaraannya telah dilakukan dokumentasi terhadap adanya dissenting opinion. Direksi juga telah merumuskan Pedoman Penanganan Benturan Kepentingan (conflict of interest) sesuai dengan Peraturan Direksi No.31/PD/CSD/2010 maupun Surat Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk No. 02/DEKOM-BTN/IV/2011 dan No. SKB-02/DIR-02/DEKOM-BTN/IV/2011 tanggal 25 April 2011 tentang Panduan Tata Kerja Komisaris dan Direksi.
Terakhir, Fairness yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memberikan perlakuan yang wajar sesuai dengan proporsinya terhadap seluruh pemangku kepentingan.
Prinsip-prinsip itulah yang diyakini BTN untuk menjamin terciptanya keseimbangan bisnis secara paripurna/menyeluruh. Dari sini, BTN kemudian merumuskan dan menerapkan nilai-nilai perusahaan ke dalam Standar Perilaku Pegawai
dan Etika Bisnis serta berbagai kebijakan lainnya seperti Kebijakan Pengelolaan Benturan Kepentingan, Kebijakan Penerimaan dan Pemberian Hadiah/Gratifikasi, Kebijakan Aktivitas Politik, Kebijakan Whistleblowing, Kebijakan Penyediaan Dana Besar dan Pihak Terkait, dll.
Kesimpulannya, peranan prinsip transparansi informasi di Bank BTN Medan adalah untuk penguatan fundamental perbankan, karena bank merupakan lembaga yang berasaskan kepercayaan. Dimana dalam menghimpun dan mengelola dana dari pihak ketiga, maka nasabah yang mempercayakan dananya di Bank BTN harus mengerti bagaimana kemananan uang yang disimpan.
Selain itu, pelaksanaan transparansi informasi juga dapat mendorong peningkatan kinerja Bank BTN Cabang Medan karena pengelolaan perusahaan lebih akuntabel dengan prinsip Good Coorporate Governance. Dengan adannya transparansi informasi perbankan maka akan memperkecil ruang bagi pekerja di Bank BTN Medan untuk melakukan fraud karena standar operasional pekerjaan yang telah diatur untuk menghilangkan conflict of interest.
B. Implementasi Prinsip Transparansi Informasi di Bank BTN KCP KAS UTAMA di Medan
Prinsip transparansi dalam industri perbankan berkaitan dengan prinsip keadilan.
Oleh karena jalannya prinsip keadilan harus didukung oleh transparansi keadaan finansial dalam pengawasan perusahaan. Gregory dan Simmon mengatakan, bahwa kegagalan dewan komisaris dan pemegang saham pengendali dalam mempertanggungjawabkan pengawasan usaha dapat diamati dari faktor yang
memunjukan dewan komisaris dan pemegang saham pengendali terlibat melakukan tindakan pemberian pinjaman yang didasarkan pada hubungan pertemanan, dibandingkan atas adanya suatu anlisis yang mendalam mengenai risiko. Hal ini bukan suatu yang mengejutkan, oleh karena mereka mendasarkan pendapat pada suatu adanya invstasi berlebihan yang bersifat non produktif dan kegiatan perusahaan yang bersifat spekulatif.71
Adapun pendekatan dan penahapan implementasi program Good Coorporate Governance di BTN dilakukan dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard.
Di sini terdapat 3 langkah yang harus dicapai.72 Pertama, merumuskan tujuan program Good Coorporate Governance. Langkah ini teramat krusial karena dijadikan motivasi untuk bertindak.
Kedua, merumuskan road map sebagai milestones yang akan dijadikan petunjuk pada tahapan-tahapan selanjutnya.
Ketiga, merumuskan strategi berdasarkan “Smart Strategy for 360 Degree GCG with Balanced Scorecard Approach” yang mencakup 3 tahapan berikut:
1. Tahapan Pra Implementasi yang terdiri dari : a) Mengukuhkan Komitmen.
b) Membangun Soft Structure.
c) Melengkapi Infrasturcture
71 Bismar Nasution,”Pentingnya Keterbukaan Untuk Pengelolaan Perusahaan yang Baik dalam UUPM”, (Vol. 14, 2001)
72 Op.Cit, Gustyanita Pratiwi.
2. Tahapan Implementasi yang terdiri dari:
a) Awareness Programs (internalisasi dan institusionalisasi) b) Self Assessment (sesuai standar dari Bank Indonesia) c) External Parties Assessment, serta
d) Mengkomunikasikan penerapan Good Coorporate Governance di Bank BTN kepada pihak eksternal.
3. Tahapan Siklus Implementasi: Monitoring yang berkelanjutan senantiasa harus dilakukan, untuk menuju sukses jangka panjang.
BTN secara berkala juga melakukan training maupun refreshment bagi seluruh pegawai, misalnya sertifikasi human capital, sertifikasi /refreshment manajemen risiko, serta sosialisasi code of conduct. Tujuannya adalah agar insan Bank BTN memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan setiap tugasnya tanpa mengesampingkan etika.
Bank BTN juga melakukan benchmark dengan lembaga keuangan lain guna memperoleh best practice, mengundang professional consultant untuk menjalankan beberapa project yang bersifat adhoc, mengundang konsultan untuk memperkuat corporate culture, mengikuti training di dalam dan luar negeri dan memberikan beasiswa Program Magister dan Program Doktoral bagi karyawan yang potensial pada universitas ternama di dalam maupun luar negeri.73
Dalam perkembangannya, implementasi prinsip-prinsip Good Coorporate Governance di seluruh aspek perbankan, tidak terlepas dari upaya pengelolaan risiko
73 Ibid.
yang dihadapi oleh bank. Sebagai bank yang fokus utamanya di bidang pemberian kredit atau pembiayaan perumahan, portofolio aset BTN didominasi oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini dipengaruhi oleh adanya perubahan iklim bisnis eksternal seperti inflasi serta BI Rate. Upaya meminimalkan dampak negatif tersebut dilakukan dengan pengelolaan pengetahuan yang berlandaskan prinsip Good Coorporate Governance dan kehati-hatian. Dalam hal ini, bank memberikan pelatihan/workshop kepada direksi, komisaris, serta pegawai secara berkala. Sebagai contoh, saat ini BTN telah memiliki learning centre yang berfungsi sebagai sarana pelatihan bagi pegawai baru dengan instruktur yang berasal dari internal maupun eksternal Babnk BTN.
Bank BTN juga telah memiliki sistem pengelolaan pengetahuan yaitu Akses Internal Manajemen Standar (AIMS) dan FTP. AIMS sendiri terdiri dari dari 2 jenis yaitu AIMS Internal dan AIMS Eksternal. AIMS Internal diperuntukkan sebagai sarana akses informasi terkait kebijakan internal perusahaan maupun petunjuk teknis lainnya yang meliputi: Anggaran, Dasar Perusahaan, Ketetapan Direksi (KD), Peraturan Direksi (PD), Surat Edaran Direksi (SE Dir), Surat Keputusan Direksi (SK Dir), Surat Kuasa Direksi, PA (Petunjuk Akuntansi), SOP (StSandard Operational Procedure), POK (Petunjuk Operasional Komputer), SKB (Surat Keputusan Bersama), Mou dan PKS, serta Presentation Kit.
Sementara AIMS Eksternal diperuntukkan sebagai sarana akses informasi terkait peraturan/kebijakan eksternal dari berbagai pihak antara lain : Bank Indonesia (Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia), Keputusan Presiden,
Keputusan Menteri, Peraturan Bapepam LK/OJK, Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Peraturan Menteri, Peraturan Pemerintah, dan Undang-Undang.
Dari seluruh uraian di atas, hasil penerapan Good Coorporate Governance terutama pada prinsip transparansi akhirnya berdampak pada beberapa hal. Pertama tentang kinerja keuangan BTN yang secara umum menunjukkan pertumbuhan positif, Maryono selaku direktur utama Bank BTN mengatakan “Dari sini kami anggap bahwa pengelolaan-pengelolaan yang kami lakukan terhadap Bank BTN sesuai dengan Good Coorporate Governance yang dijadikan kunci kesuksesan perusahaan, iklim kerja yang baik, kepercayaan investor dan stakeholder, serta penilaian dari pihak eksternal”.74
Penerapan Good Corporate Governance di Bank BTN secara konsisten diharapkan dapat memelihara eksistensi dan kinerja perusahaan yang baik. Dalam rangka upaya pemenuhan aspek transparansi penerapan Good Corporate Governance, Bank BTN telah melakukan langkah-langkah penerapan Good Corporate Governance dengan menyusun action plan perbaikan dan peningkatan kualitas penerapan Good Corporate Governance yang telah disampaikan kepada Bank Indonesia.
Action plan dimaksud meliputi Peningkatan Peran Komisaris, Peningkatan Peran Aktif Direksi, Peningkatan Peran dan Fungsi Kepatuhan, Peningkatan Efektifitas Penerapan Fungsi Audit Intern, Peningkatan Proses Manajemen Risiko dan Sistem Pengendalian, Peningkatan Transparansi Laporan.
Bank BTN juga telah menyusun cetak biru peningkatan implementasi Good Corporate Governance di Bank BTN yang dilakukan melalui empat pilar Good
74 Laporan Pelaksanaan GCG BTN Tahun 2011. Diakses pada tanggal 2 Februari 2018
Corporate Governance, yaitu Commitment on Governance, Governance Structure and Infrastructure, Governance Mechanism Process dan Governance Outcome. Ke - empat pilar dimaksud diharapkan dapat menyangga penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance di Bank BTN.75
Good Coorporate Govenance (GCG) memiliki arti yang sangat penting bagi Perseroan. Terdapat sejumlah manfaat yang sangat besar ketika prinsip-prinsip Good Coorporate Governance dapat diterapkan dengan baik, yang intinya dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat), yaitu:76
1. Meningkatkan kinerja Perseroan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders. Dengan membangun Good Coorporate Governance akan dapat memperbaiki kinerja Perseroan serta menciptakan Perseroan yang berhasil yang akan membentuk keunggulan komparatif. Karena dengan Good Coorporate Governance maka manajemen Bank akan berjalan dengan baik, efisiensi akan berjalan dan pada akhirnya meningkatkan kepuasan para stakeholders. Hal ini berkaitan pula dengan pembentukan citra yang baik dari Perseroan. Lebih dari itu, prinsip-prinsip Good Coorporate Governance memiliki arti yang begitu penting bagi Perseroan dalam rangka mewujudkan sebuah sustainable company. Good Coorporate Governance akan menuntun Perseroan kearah keunggulan kompetitif yang pada gilirannya memberikan kontribusi positif pada
75 Komitmen Pelaksanaan GCG Oleh Komisaris Bank BTN Pada Tahun 2014. Diakses pada tanggal 2 Februari 2018
76 Laporan GCG, Op.cit.
perkembangan ekonomi dan menjamin kelanggengan kemakmuran yang akan dinikmati rakyat banyak.
2. Meningkatkan corporate value dengan dilakukannya praktik Good Coorporate Governance akan dapat meningkatkan nilai (value) Perseroan melalui peningkatkan kinerja keuangan dan mengurangi risiko yang memungkinkan dilakukan oleh manajemen dengan keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Prinsip-prinsip Good Coorporate Governance akan mendorong value driver untuk bekerja secara lebih baik karena Perseroan dikelola atas dasar best practice yang kemudian akan meningkatkan nilai sebuah Bank (Value Creation).
3. Meningkatkan kepercayaan investor. Praktik Good Coorporate Governance yang dapat dijalankan dengan baik akan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan sebaliknya pelaksanaan Good Coorporate Governance yang buruk akan menurunkan tingkat kepercayaan mereka. Good Coorporate Governance menjadi perhatian utama para investor menyamai kinerja finansial dan potensi pertumbuhan, khususnya bagi pasar-pasar yang sedang berkembang (emerging markets). Para investor cenderung menghindari perusahaan-perusahaan yang buruk dalam penerapan GCG yang dipandang sebagai kriteria kualitatif penentu.
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja Perseroan yang selanjutnya akan meningkatkan shareholders value. Good Coorporate Governance dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja Bank dengan tujuan akhir yaitu tercapainya stakeholder satisfaction yang meliputi task satisfaction dan
employee satisfaction.Perseroan menetapkan dan senantiasa berupaya menerapkan the highest standard of Corporate Governance dengan mengacu kepada regulasi yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa keuangan (OJK) dan standard internasional berdasarkan prinsip OECD dan ASEAN CG Scorecard.Acuan regulasi yang dijadikan standar penerapan GCG Perseroan sesuai Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia No.
8/14/PBI/2006 tanggal 05 Oktober 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum dan Surat Edaran Bank Indonesia No.
15/15/DPNP/ tanggal 29 April 2013 perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Standar pelaksanaan Good Coorporate Governance sesuai regulasi ini minimal meliputi 11 (sebelas) parameter, sebagai berikut :
a. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris;
b. Pelaksanaan Tugas dan Tanggung Jawab Direksi;
c. Kelengkapan dan Pelaksanaan Tugas Komite;
d. Penanganan Benturan Kepentingan;
e. Penerapan Fungsi Kepatuhan;
f. Penerapan Fungsi Audit Intern;
g. Penerapan Fungsi Audit Ekstern;
h. Penerapan Manajemen Risiko termasuk Sistem Pengendalian Intern;
i. Penyediaan Dana Kepada Pihak Terkait (Related Party) dan Penyediaan Dana Besar (Large Exposure);
j. Transisi Kondisi Keuangan dan Non Keuangan Bank, Laporan pelaksanaan GCG dan Pelaporan Internal;
k. Rencana Strategis Bank.
Hasil penilaian penerapannya dapat dilihat pada bagian Self Assessment sesuai
Hasil penilaian penerapannya dapat dilihat pada bagian Self Assessment sesuai