BAB III HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN PRINSIP TRANSPARANSI
B. Peranan Prinsip Transparansi dalam Good Coorporate Governance
Buruknya kondisi perbankan di Indonesia, setidaknya disebabkan oleh enam faktor,48 yaitu : (1) penyaluran kredit yang terlalu ekspansif yang dipacu oleh pemasukan dana luar negeri yang bersifat rentan karena sifatnya jangka pendek; (2) pemberian kredit tanpa melalui proses analisis kredit yang sehat; (3) konsentrasi kredit yang berlebihan kepada suatu kelompok usaha atau indibidu baik yang terkait dengan bank maupun tidak; (4) moral hazard karena belum tegasnya mekanisme exit policy dan berlarut-larutnya penyelesaian bank-bank bermasalah; (5) campur tangan pemilik yang berlebihan dalam manajemen bank (bahkan tak sedikit pemilik yang merangkap jabatan sebagai pengurus bank); dan (6) lemahnya aspek supervise dan regulasi perbankan.
Oleh karena itu, dalam menjalankan fungsi utama Bank, yaitu untuk memoblisasi dana masyarakat dan menyalurkan dana tersebut dalam bentuk kredit kepada
48 Zulkarnain Sitompul, Op. Cit.,. hlm. 64
penggunaan atau investasi yang efektif dan efisien, perlu didukung peraturan yang cukup yang dikaitkan dengan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.49
Organization for Economic Corporation and Development (OECD) Transparansi dibangun atas kebebasan arus informasi, dapat diakses secara langsung bagi yang membutuhkan, serta disediakan informasi yang cukup agar mudah dipahami dan melakukan pengawasan. Transparansi merujuk pada ketersediaan informasi pada masyarakat umum dan kejelasan (clarity) tentang peraturan, undang-undang, dan keputusan pemerintah.
Adapun indikator dari transparansi tersebut adalah:
1. Akses pada informasi yang akurat dan tepat waktu (accurate and timely) tentang kebijakan ekonomi dan pemerintahan yang sangat penting bagi pengambilan keputusan ekonomioleh para pelaku swasta;
2. Data tersebut harus bebas didapat dan tersedia (freely and readilyavailable);
serta
3. Aturan dan prosedur yang “simple,straight forward and easy to apply” untuk mengurangi perbedaan dalam interpretasi.
Good Corporate Governance pada dasarnya merupakan suatu sistem (input, proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang kepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara
49 Ibid, hlm. 67
pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi terciptanya tujuan perusahaan.50
Setidak-tidaknya ada tiga fungsi prinsip transparansi atau keterbukaan, yaitu:
1. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk memelihara kepercayaan public terhadap pasar.51 Prinsip keterbukaan atau transparansi ini memiliki peranan penting bagi investor sebelum mengambil keputusan untuk melakukan investasi karena melalui keterbukaan bisa berbentuk suatu penilaian (Judgement) terhadap investasi.52 Sehingga investor dapat secara optimal menentukan pilihan terhadap portofolio mereka.53
2. Prinsip keterbukaan berfungsi untuk menciptakan mekanisme pasar yang efisien.54 Filosofi ini didasarkan pada konstruksi pemberian informasi secara penuh sehingga menciptakan pasar modal yang efisien, yaitu harga saham sepenuhnya merupakan refleksi dari seluruh informasi yang tersedia.55 Dengan demikian prinsip keterbukaan dapat berperan dalam meningkatkan supply informasi yang benar,56 agar dapat ditetapkan harga pasar yang akurat.57 Tanpa informasi peserta pasar tidak dapat mengevaluasi produk-produk lembaga
50 H.Moh.Wahyudin Zarkasyi. Op. Cit. hlm. 36.
51 Frank H. Eastbrook dan Daniel R. Fishcel, 1, The Economic Structure of Corporate Law, dalam Bismar Nasution, Keterbukaan Pasar Modal, (Jakarta: Universitas Indonesia Fakultas Hukum Program Pasca Sarjana, 2001), hlm. 8.
52 D. Brian Hufford, “Dettering Fraud vs Avoiding the „strike suit‟: Reaching an Approriate Balance”, Brooklyn Law Review, (Vol 61, 1995), hlm. 593-594 dalam Bismar Nasution, Ibid, hlm. 8
53 Frank H. Eastbrook dan Daniel R Fischel, 2, “Mandatory Disclosure and the Protection of Investors”, Virginia Law Review, (Vol. 70, 1984), hlm. 673 dalam Bismar Nasution, Ibid.
54 Lynn A. Stout, The Unifortance of Being Efficient: An Economic Analysis of Stock Market Pricing and Securities Regulation”‟ Michigan Law Review, (Vol. 87 December 1988), hlm. 645, dalam Bismar Nasution, Ibid. hlm. 8.
55 Lynn A. Stout, Op.cit, hlm. 615 dalam Bismar Nasution, Ibid. hlm. 8.
56 Frank H. Eastbrook dan Daniel R. Fischel, 1, Op.cit, hlm. 297-299, dalam Bismar Nasution, Ibid, hlm.8
57 Nicholas I. Georgakopoulus, “Why Should Disclosure Rules Zubsidize Informed Traders”, Internasional Review Law and Economic, (Vol. 16, 1996), hlm. 418 dalam Bismar Nasution, Ibid, hlm. 8.
keuangan. Kalau informasi mengenai saham sedikit, maka investor yang melakukan investasi akan relatif kecil. Jadi informasi saham yang mutunya rendah dapat mengakibatkan harga saham itu menjadi lebih rendah semestinya.58
3. Prinsip keterbukaan penting untuk mencegah penipuan (fraud). Sangat baik untuk dipahami ungapan yang pernah diungkapkan Barry A.K.Rider: “ sun light is the best disinfectant and electric light the best policeman.” Dengan perkataan lain, Rider menyatakan bahwa “more disclosure will evitably discourage wrongdoing and abuse”.59Selanjutnya dia menyatakan bahwa dalam pasar keuangan, pendapat tersebut tidak perlu dibuktikan, tetapi lebih banyak bergantung pada informasi apa yang harus diungkapkan dan kepada siapa informasi itu disampaikan.60
Pada tanggal 19 Agustus 1999, Pemerintah Indonesia membentuk Komite Nasional Kebijakan Coorporate Governance yang beranggotakan 22 orang terdiri dari sektor swasta dan public yang diketuai oleh Pemerintah. Komite ini kemudian mengeluarkan pedoman Good Coorporate Governance ( Code for Coorporate Governance) dengan tujuan agar dunia bisnis memiliki dasar acuan yang memadai mengenai konsep pola pelaksanaan Good Coorporate Governance.
Adapun maksud dari pedoman ini adalah :61
58 Linda Allen, Capital Market and Institution: A Global View (New York, Singapore, Toronto : John Wiley & Sons, inc, 1977), hlm. 38, dalam Bismar Nasution, Ibid, hlm. 9
59 Bismar Nasution, Ibid, hlm. 9.
60 Barry A.K. Rider,”Global Trens in Securities Regulation:The Changing Legal Climate”, Dickinson Jurnal of Internasional Law, (Spring, 1995), hlm. 514, dalam Bismar Nasution, Ibid, hlm. 9.
61 Komite Nasional Kebijakan Coorporate Governance, Pedoman Coorporation Governance ref.
4.0, hal. 2-3.
1. Memaksimalkan nilai perseroan bagi pemegang saham dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggungjawab dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, serta dengan menciptakan iklim yang mendukung investasi.
2. Mendorong pengelolaan perseroan secara professional, mendorong transparansi dan efisiensi, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian dewan komisaris, direksi dan RUPS.
3. Mendorong agar pemegang saham, aggota dewan komisaris, dan anggota direksi dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan yang dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-udangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggungjawab sosial perseroan terhadap pihak yang berkepentingan maupun kelestarian lingkungan.
Penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance diharapkan mampu memberikan kemajuan terhadap kinerja suatu perusahaan. Penerapan prinsip Good Corporate Governance secara konkrit memiliki tujuan terhadap perusahaan sebagai berikut:
1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing.
2. Mendapatkan cost of capital yang lebih murah.
3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam mningkatkan kinerja ekonomi perusahaan.
4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari stakeholder terhadap perusahaan.
5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum.
6. Meningkatkan mutu hubungan board of directors dan manajemen senior perusahaan.62
Penerapan good corporate governance sangat dibutuhkan untuk seluruh perusahaan,termasuk perusahaan yang bergerak di bidang perbankan. Bank merupakan lembaga kepercayaan yang operasionalnya adalah menghimpun dana masyarakat dan menyalurkankepada usaha yang membutuhkan. Untuk itu, bank harus beroperasi secara sehat dalamrangka menjaga kepercayaan masyarakat. Agar bank dapat beroperasi secara sehat, bankharus melaksanakan prinsip-prinsip good corporate governance dengan baik. Penerapan goodcorporate governance di sektor perbankan diatur oleh Bank Indonesia dalam PBI No.8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum.Pengaturan tersebut dilakukan agar perbankan di Indonesia dapat beroperasi secara sehat,sehingga memberikan kontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional denganmenggerakkan sektor riil.
Sehubungan dengan penerapan good corporate governance, Bank Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/4/PBI/2006 tanggal 30 Januari 2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance Bagi Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 8/14/PBI/2006 tanggal 6 Oktober 2006 serta Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 9/12/DPNP tanggal 30 Mei 2007. Adapun aturan umum yang tertuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 9/12/DPNP antara lain63:
1. Pelaksanaan Good Corporate Governance pada industri perbankan harus senantiasa berlandaskan pada lima prinsip dasar. Pertama, transparansi
62 I Nyoman Tjager, “Penerapan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada BUMN,”
dalam kebijakan Fiskal: Pemikiran, Konsep, dan Implementasi, diedit leh Heru Subiyanto dan Singgih Riphat (Jakarta : Kompas 2004), hlm.574
63 Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 9/12/DPNP
(transparency), yaitu keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan.
Kedua, akuntabilitas (accountability) yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban organ bank sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif. Ketiga, pertanggungjawaban (responsibility) yaitu kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan bank yang sehat. Keempat, independensi (independency) yaitu pengelolaan bank secara profesional tanpa pengaruh/tekanan dari pihak manapun. Kelima, kewajaran (fairness) yaitu keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam rangka menerapkan kelima prinsip dasar tersebut di atas, bank harus berpedoman pada berbagai ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan pelaksanaan good corporate governance.
2. Bank wajib melaksanakan prinsip-prinsip good corporate governance dalam setiap kegiatan usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. Yang dimaksud dengan seluruh tingkatan atau jenjang organisasi adalah seluruh pengurus dan karyawan bank mulai dari dewan komisaris dan direksi sampai dengan pegawai tingkat pelaksana.
3. Bank wajib melaksanakan prinsip-prinsip good corporate governance dalam setiap kegiatan usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. Yang dimaksud dengan seluruh tingkatan atau jenjang organisasi adalah seluruh
pengurus dan karyawan bank mulai dari dewan komisaris dan direksi sampai dengan pegawai tingkat pelaksana.
4. Dalam mengimplementasikan prinsip transparansi (transparency) sebagaimana termaksud di atas, bank diwajibkan untuk menyampaikan laporan pelaksanaan good coporate governance. Keberadaan laporan dimaksud, diperlukan untuk mengedukasi serta meningkatkan check and balance stakeholders bank dan persaingan melalui mekanisme pasar.
5. Dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas pelaksanaan good corporate governance, bank diwajibkan secara berkala melakukan self assessment secara komprehensif terhadap kecukupan pelaksanaan good corporate governance, sehingga apabila masih terdapat kekurangan dalam pengimplementasiannya, bank dapat segera menetapkan rencana tindak (action plan) yang meliputi tindakan korektif (corrective action) yang diperlukan.