• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORITIS

II. 1,2 Teori Komunikasi Massa

II.2.2. Implikasi Agenda Setting Dalam Periklanan

Meskipun kebanyakan studi-studi penelitian agenda setting

didasarkan pada berita yang diterbitkan media massa dan pemilihan

berita, namun kerangka teori agenda setting dapat juga diterapkan dalam

periklanan, khususnya semenjak periklanan masuk kedalam satu ruang

lingkup yang sama yaitu bidang komunikasi.

Iklan merupakan salah satu bentuk dari spesialisasi komunikasi

massa. Hal ini disebabkan dalam penyampaian tujuannya menggunakan

unsur-unsur komunikasi, yakni komunikator (periklanan), pesan, media

(melalui televisi, radio, surat kabar, majalah, komunikasi atau

khalayaknya, dan efek yang diharapkan dari penayangan iklan tersebut.

Iklan atau advertising berasal dari bahasa latin ad-vere berarti

mendefenisikan iklan sebagai suatu proses komunikasi yang mempunyai

kekuatan yang sangat penting sebagai alat pemasaran yang membantu

menjual barang, memberikan layanan serta gagasan atau ide-ide melalui

salinan tertentu dalam bentuk informasi yang persuasif (Liliweri, 1992 :

20). Pandangan yang diajukan oleh Wright ini mengandung 2 makna,

yakni: (1) iklan dipandang sebagai alat pemasaran, dan (2) iklan dalam

pengertian proses komunikasi yang bersifat persuasif.

Institut praktisi periklanan Inggris mendefenisikan periklanan

merupakan pesan-pesan penjualan yang paling persuasif yang diarahkan

pada calon pembeli yang paling potensial atas produk barang atau jasa

tertentu dan biaya yang semurah-murahnya (Jefkins, 1996 :5) .

selanjutnya secara sederhana Rhenald Kasali (1995 :9) mendefenisikan

iklan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang diajukan

kepada masyarakat lewat suatu media.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa iklan adalah

suatu proses komunikasi persuasif yang menginformasikan dan

mempromosikan suatu produk ataupun jasa melalui media massa kepada

masyarakat.

Penayangan iklan tentang suatu produk tidak pernah lepas dari

tujuan iklan itu dibuat. Suatu iklan senantiasa bertujuan untuk

mengenalkan atau mengingatkan kembali pada khalayak untuk ertarik

pada produk itu (efektif), dan kemudian menggunakannya (konatif).

khalayaknya, dengan tujuan utamanya adalah untuk membuat agar

khalayaknya terpengaruh dan mau membeli produk yang diiklankan.

Iklan berhubungan dengan pesan-pesan yang bersifat persuasif,

dalam hal ini dapat diasumsikan bahwa iklan membujuk konsumen untuk

membeli produknya, hampir sama dengan metode yang digunakan media

massa dalam menyampaikan beritanya, periklanan juga menggunakan

metode agenda setting untuk menarik perhatian khalayaknya, metode

agenda setting akan dapat membantu iklan dalam membangun agenda

publiknya melalui penempatan iklan dalam media massa, lamanya

penayangan iklan tersebut juga melalui penayangan gambaran tentang

permasalahan yang ada dalam masyarakat untuk menawarkan

bagaimana solusi dari masalah tersebu.

Teori Agenda Setting menyatakan bahwa media massa tidak

mengatakan pada publiknya yang harus dipikirkan, tetapi untuk

mengatakan pada publik untuk berpikir tentang apa yang harus dipikirkan.

Menurut model agenda setting masyarakat akan menerima setiap

informasi yang diberikan dan penggabungan topik-topik atau isu-isu

penting menjadi suatu siklus pengetahuannya. Mc Combs and Shaw

mengatakan bahwa semakin penting suatu berita atau issu didalam media

massa maka semakin penting pula isu atau topik tersebut didalam publik

(dikutip dari

setting / media.html.

Sutherland dan Galloway mengatakan bahwa penerapan dari

yang mendasar dari periklanan tidak mencoba untuk membujuk sikap dan

tindakan membeli dari konsumen melainkan untuk memfokuskan

perhatian konsumen pada nilai-nilai produk, merek ataupun atribut dari

sebuah produk sebagai pertimbangan dalam menentukan sikap dan

keputusan untuk membeli (dikutip dari

Selanjutnya Sutherland dan Galloway menggambarkan diagram

yang menunjukkan implikasi model agenda setting dalam periklanan

adalah sebagai berikut :

Akibat dari agenda Akibat dari penelitian Setting Periklanan

Gambar II.1 : Model Agenda Setting Dalam Periklanan

Sumber :

agenda-setting/adv.html)

Menurut model diatas Sutherland dan Galloway mengatakan

bahwa dalam pengiriman pesan melalui media massa adalah melalui 2

tahapan, yaitu :

1. tahapan pertama dalam model tersebut menjelaskan bahwa

penonjolan isi pesan iklan yang berupa nilai-nilai, produk, merek

ataupun akibat dari suatu produk akan turut memperbesar pengaruh

penonjolan isi pesan iklan tersebut dalam agenda publiknya. Hal ini

dikarenakan sebagai akibat dari model agenda setting, penonjolan isi Advertising Salience

(Penonjolan dalam iklan)

Public Salience (Penonjolan dalam publik / masyarakat

Behavioral Outcome (Tindakan untuk membeli)

pesan iklan pada media dalam lingkungan juga dapat diukur akan

menjadi penonjolan pada agenda publik pula.

2. Tahapan kedua adalah model tersebut menggambarkan sebuah

hubungan dari penonjolan dalam agenda publik kepada tindakan juga

dihasilkan. Hal ini terjadi dikarenakan sebagai akibat dari riset

periklanan / penonjolanan dalam pemikiran publik ini akan

berhubungan langsung dengan tindakan yang muncul, misalnya

tindakan membeli sebuah produk.

Dari model diatas dapat disimpulkan bahwa teori agenda setting

dalam periklanan menyatakan bahwa penonjolan pesan atau informasi

iklan dari suatu media iklan akan dapat menarik perhatian sekaligus

mempengaruhi publik untuk memikirkan pesan iklan yang dilihatnya

tersebut. Setelah konsumen tertarik pada iklan yang ditayangkan dan

menganggap pesan atau informasi iklan tersebut penting maka iklan

tersebut akan menonjol dalam agenda publiknya. Iklan yang menonjol ini

kemudian menimbulkan persepsi dan opini dalam pemikiran

konsumennya, baik itu mengenai isi pesan iklannya, nilai-nilai, ciri-ciri atau

merek produknya yang selanjutnya akan menentukan tindakan konsumen

terhadap produk yang diiklankan tersebut, yakni tindakan untuk membeli.

Dalam model agenda setting, terdapat elemen-elemen atau

keadaan-keadaan yang turut mempengaruhi hubungan antara periklanan

dan konsumennya. Pertama sangka terpaan (dutation of exposure)

terhadap isu-isu yang khusus, karena segala sesuatu akan menangkap

dipahami oleh khalayaknya, ketiga media yang digunakan dalam

penyampaian pesannya yang diharapkan akan memberikan pengaruh

yang kuat pada khalayaknya, mis. Televisi, radio, ataupun surat kabar

html).

Dalam periklanan, untuk mengkomunikasikan isu-isu atau hal-hal

yang menonjol dari iklan pada pemikiran atau kesadaran konsumen

adalah melalui :

1. Penempatan media iklan, adalah penggunaan media perantara yang

dipilih sebagai tempat iklan tersebut ditayangkan (baik media yang

bersifat nasional atau lokal kepada target pasarnya)

2. Headline iklan atau bentuk utama informasi dari iklan tersebu, adalah

bentuk pesan iklan yang disampaikan apakah yang bersifat humor /

lucu ataupun serius yang akan dapat membantu untuk menarik

perhatian konsumen akan iklan tersebut.

Lamanya waktu penayangan iklan, adalah lamanya iklan tersebut

ditayangkan ditengah, konsumen, apakah dalam waktu empat bulanan

ataupun tahunan menggambarkan efektifitas kegiatan kampanye, produk

yang beriklankan tersebut

Faktor-faktor diatas akan mempengaruhi persepsi dan pengenalan

konsumen mengenai produk tertentu. Iklan berperan dalam membuat

konsumennya mengamati, merasakan, melihat dan mempelajari secara

berupa layanan/service, ataupun nilai nilai ataupun keunggulannya melalui

informasi yang diberitahukan melalui iklan tersebut.

Menurut Sutherland dan Galloway, terdapat pandangan umum

dalam masyarakat bahwa jika konsumen melihat produk atau layanan

tertentu sering diiklankan di media massa, maka layanan yang sangat

bagus

advertising-bs.html). dengan kata lain produk yang diiklankan secara

terfrekuensi dan berulang-ulang dimedia massa akan dianggap sebagai

produk yang lebih baik dan populer dalam pemikiran atau agenda

konsumennya. Lebih jauh, produk yang sering diiklankan ini akan

dianggap lebih memiliki kualitas dibandingkan yang tidak diiklankan.

II.3. Teori AIDDA

Teori AIDDA disebut juga proses A-A atau A-A Procedure

(Attention-Action Procedure) AIDDA merupakan singkatan dari Attention

(Perhatian), Interest (Ketertarikan), Desire (Minat), Decision

(Keputusan),dan Action (Tindakan). Proses ini dimulai dengan adanya

kegiatan untuk membangkitkan perhatian, menumbuhkan minat melalui

pesan yang berisi info yang disampaikan komunikator dan diakhirnya

diambil keputusan untuk bertindak terhadap pesan itu, Proses AIDDA ini

Appeal (-)

Attractiveness

Appeal (+)

Gambar II.2 : Skema Proses Teori AIDDA

Proses AIDDA ini mengandung maksud bahwa komunikasi

hendaknya dimulai dengan membangkitkan perhatian. Dalam hal ini

komunikator harus mampu menimbulkan daya tarik pada komunikan.

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangkitkan perhatian

ini adalah dihindarkannya munculnya himbauan (Appeal yang negatif)

yang akan menumbuhkan kegelisahan (Anexity Arrousing). William Mc

Guire, seorang ahli komunikasi kenamaan menyatakan dalam karyanya

“Persuasi” bahwa anexity arrousing communication menimbulkan efek

ganda, pada satu pihak menimbulkan rasa takut akan bahaya sehingga

mempertinggi motivasi untuk melakukan tindakan pencegahan

(preventive) dipihak lain rasa takut itu menimbulkan sikap kesiapan

bertarung (fight to fight) yang dalam kasus komunikasi dapat berbentuk

sikap permusuhan atau tidak menaruh perhatian sama sekali kepada

pesan.

Komunikasi yang diawali dengan membangkitkan perhatian

(Attention) akan merupakan awal suksesnya komunikasi. Apabila

perhatian komunikan tidak terbangkitkan, hendaknya disusul dengan Anexity Rasa Preventive(penolakan) Arrousing Takut Tidak ada perhatian

tinggi dari perhatian. Minat adalah kelanjutan dari perhatian yang

merupakan titik tolak timbulnya hasrat (Desire) untuk melakukan suatu

kegiatan yang diharapkan oleh komunikator. Hal ini belum cukup, untuk itu

harus dilanjutkan dengan munculnya keputusan (Decision) yaitu

keputusan untuk melakukan kegiatan (Action) sebagaimana diharapkan

komunikator.

Dalam model AIDDA ini hal utama yang harus dilakukan adalah

membangkitkan dan menumbuhkan perhatian dan minat komunikan,

berhasil tidaknya hal tersebut tergantung oleh attractiveness (ketertarikan)

dari komunikan karena perhatian tersebut adalah efek pada tahap

permulaan dalam diri seorang komunikan.

Sekali lagi perlu diingatkan bahwa langkah pertama yang harus

dilakukan pada model AIDDA ini adalah menarik perhatian, perhatian

terhadap sesuatu akan menimbulkan minat dan kecenderungan yang kuat

akan sesuatu dari minat yang kuat ini kemudian timbul hasrat / keinginan

yang merupakan akibat lanjutan. Sedang keputusan adalah efek lebih

jauh lagi yang timbul setelah melewati proses pemikiran dan

pertimbangan terlebih dahulu.

II.4. Teori 7 C of Communication

Cutlip & Center ( Rosady, 1997; 72-74) menyatakan bahwa teori 7 C of

Communication terdiri dari 7 elemen pentibg dalam komunikasi yaitu :

Komunikasi tersebut dimulai dengan membangun suatu kepercayaan.

Oleh karena itu untuk membangun iklim kepercayaan itu dimulai dari

kinerja, baik dari pihak komunikator dan komunikan akan menerima pesan

tersebut berdasarkan keyakinan yang dapat dipercaya, begitu juga

tujuannya.

2. Context

Suatu program komunikasi mestinya berkaitan dengan lingkungan

hidup atau keadaan sosial yang tidak bertentangan dan seiring dengan

keadaan tertentu dan memperlihatkan sikap partisipatif.

3. Content

Pesan yang akan disampaikan itu mempunyai arti bagi audiensnya

dan memiliki kecocokan dengan sistem nilai-nilai yang berlaku bagi orang

banyak dan bermanfaat.

4. Clarity

Pesan dalam berkomunikasi itu disusun dengan bahasa yang dapat

dimengerti oleh komunikator dan komunikan atau mempunyai persamaan

arti antara komunikator dengan komunikannya.

5. Continuity and Consistency

Komunikasi tersebut merupakan suatu proses yang tidak ada akhirnya

yang memerlukan pengulangan-pengulangan untuk mencapai tujuan dan

bervariasi, yang merupakan kontribusi bagi fakta yang ada dengan sikap

penyesuaian melalui proses belajar. Isi atau materi pesan harus konsisten

dan tidak membingungkan audiensnya.

Menggunakan media sebagai saluran pesan yang setepat mungkin

dan efektif dalam penyampaian pesan yang dimaksud. Channel is any

way by which news, ideas, etc may travel ; (radio and television) band of frequencies within which signals from a transmitter must be kept (to prevent interference from other transmitters) -- saluran adalah segala jalan

untuk dapat menyampaikan berita, pemikiran,dll ; pita frekuensi dimana

sinyal-sinyal dari suatu pemancar (radio dan televisi) disimpan (untuk

mencegah gangguan dari pemancar lainnya (Hornby, et al, 1963 : 155)

7. Capability of Audience

Komunikasi tersebut memperhitungkan kemungkinan suatu

kemampuan dari audiens atau komunikan, kebiasaan membaca mereka

atau kemampuan menyerap ilmu pengetahuan dsb. perlu diperhatikan

oleh pihak komunikator dalam melakukan suatu kampanye.

II.5. Konsep Posisioning

Rhenald Kasali (1992;157) Menyatakan posisioning sebagai salah

satu proses atau upaya untuk menempatkan suatu produk, merek,

perusahaan, individu, atau apa saja dalam pikiran mereka yang dianggap

sebagai sasaran atau kensumennya. Upaya ini dianggap perlu karena

situasi masyarakat atau pasar konsumennya sudah over communicated.

Menurut David A. Acker (Kasali, 1992;156) ada beberapa cara

untuk melakukan strategi posisioning. Strategi ini dapat diterapkan melalui

1. Penonjolan karakteristik produk

3. Penonjolan penggunaannya

4. Posisioning munurut pemakaiannya

5. Posisioning menurut kelas produk

6. Posisioning dengan menggunakan simbol-simbol budaya

7. Posisioning langsung terhadap pesaing.

Dalam hal ini positioning yang digunakan adalah penonjolan karakteristik

produk yaitu deodoran yang ditujukan untuk kaum pria.

Dokumen terkait