IMPLIKASI PEMIKIRAN AL-GHAZALI DALAM LAYANAN
besar Al-Ghazali sebagai salah satu pendekatan Islam yang dapat berimplikasi pada dalam proses layanan bimbingan dan konseling.
Kata Kunci: Pemikiran Al-Ghazali. Pendekatan Spiritual, nilai-nilai religius, Layanan BK
1. PENDAHULUAN
Persoalan yang terjadi pada siswa di era globalisasi ini sudah semakin kompleks.
Terlebih persoalan tentang krisis moral, ada kekhawatiran terhadap gaya hidup anak muda masa kini. Tentu saja tidak semua anak yang melakukan tindakan yang menyimpang dari standart moral, banyak juga remaja yang masih menyandang nilai-nilai moral dalam diri mereka. Akan tetapi tidak sedikit jumlah anak muda yang berperilaku menyimpang di Negara ini.
Dapat dicontohkan fenomena gaya hidup Karin Novilda yang lebih dikenal dengan sebutan salah satu remaja yang baru-baru ini sangat santer dibicarakan dengan gaya hidupnya yang menyimpang dari standart moral tentunya hal ini mempengaruhi sebagian besar pandangan remaja bahwa nakal itu gaul, nakal itu dapat menjadikan seseorang terkenal, nakal itu sumber uang. Sehingga tidak sedikit juga remaja Indonesia yang menjadikan Awkarin sebagai permodelan.
Lalu, siapa yang di salahkan dalam hal ini?
untuk lebih bijak dalam menyikapi ada baiknya dari segala lapisan negara ini untuk lebih merefleksi diri apa yang sekiranya perlu dibenahi atau diperbaiki. Terlebih dari lingkup pendidikan formal hal ini menjadi tantangan besar bagi pendidikan khususnya untuk bisa mengentaskan permasalahan kompleks ini sampai pada akarnya.
Fenomena-fenomena yang disebutkan di atas menunjukkan kurang adanya asupan nilai-nilai religius dalam pendidikan. Timbul pertanyaan apa hubungan moral dan nilai-nilai religius? Tentunya ketika berbicara moral hal itu ada selalu kaitannya dengan agamis.
Pada dasarnya semua agama pada dasarnya mengarahkan perkembangan manusia ke arah
yang lebih positif.
Agama menjadi suatu dukungan moral lebih jauh lagi disebutkan dalam Thomas Lickona bahwa bukankah moralitas membawa diri untuk cenderung terhadap hal yang bersifat agamis, dan bagaimana sekolah dapat masuk ke dalamnya. Di Amerika pun para pendidik mengalami kesulitan dan halangan dalam memberikan pendidikan moral dikarenakan factor dari diri pendidik yang belum mendalami landasan religius dalam pendidikan.
Memang saat ini pemerintah Indonesia sedang menggalakkan pendidikan karakter akan tetapi konsep itu terkesan kaku bila tidak dijalankan secara optimal. Maka daripada itu perlu kerja keras dari segala lapisan masyarakat termasuk konselor sebagai pelaku pendidikan untuk lebih memusatkan perhatian pada permasalahan remaja masa kini. karena sejatinya dalam upaya pemecahan masalah siswa yang kompleks tersebut dalam hal ini konselor sangat perlu memberikan sentuhan nilai-nilai religius pada tiap proses pelayanannya di sekolah.
Layanan bimbingan dan konseling sejatinya merupakan proses pemberian bantuan “helping” individu oleh tenaga professional yang bernama konselor. Tentunya ketika memberikan bantuan ada baiknya konselor mempertimbangkan nilai-nilai yang dibawa oleh konseli. Nilai yang paling melekat pada diri manusia pada dasarnya adalah nilai-nilai spiritual. Selanjutnya pengintegrasian nilai-nilai religius dalam dunia bimbingan dan konseling pada hakikatnya hanya ingin memposisikan manusia pada pada posisi yang sebenarnya, yaitu manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan
dengan kesempurnaan. Pembahasan kali ini terkait dengan penanaman nilai-nilai religius dengan kehidupan sehari-hari konseli dalam proses pemberian layanan bimbingan konseling. Secara harfiah dalam diri setiap manusia memiliki nilai-nilai spiritual. Oleh sebab itu dalam pencarian solusi setiap permasalahan individu konselor muslim khususnya juga harus mempertimbangkan pendekatan keagamaan dalam layanan bimbingan dan konseling.
Hakikat agama itu sendiri menurut Zakiah Drajat, dkk (dalam Amirah, 2009) merupakan risalah yang disampaikan Tuhan kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hokum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan dan tanggung jawab kepada Allah swt. Agama juga merupakan sumber system nilai yang menjadi petunjuk, pedoman dan pendorong bagi manusia untuk memecahkan berbagai masalah hidupnya.
Lebih jauh dijelaskan bahwa Islam adalah Agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, untuk diteruskan kepada ummat manusia, yang mengandung ketentuan-ketentuan yang menentukan proses berfikir merasa dan berbuat dan proses terbentuknya kata hati. (dalam Amirah, 2009)
Berdasarkan paparan di atas, maka secara harfiah Islam selalu berorientasi pada kebaikan dan hal-hal yang positif. Lalu jika Islam digunakan sebagai kacamata dalam melihat konseling, maka konseling dapat diartikan sebagai bagian dari ibadah atau amal yang harus dilakukan umat muslim untuk mendapatkan kedekatan dengan sang khalik.
Melihat perkembangan konseling di Negara Paman Sam Amerika Serikat, pengentasan masalah konseli dengan pendekatan religius sudah sering digunakan ataupun dikaji oleh para konselor profesional.
Terbukti bahwa Amerika memiliki keyakinan pada Tuhan, 65% adalah anggota dari sebuah gereja, 60% mengatakan
agama yang sangat penting dalam kehidupan mereka, dan 62% percaya bahwa agama dapat menjawab semua atau sebagian besar masalah pada hari ini. oleh karena itu tidak heran jika pendekatan spiritual dan iman sudah digeluti masyarakat konseling di Amerika sejak akhir abad ke-20. (P. Scott Richards and Allen E.
Bergin. 2006).
Studi pendahuluan di Amerika Serikat oleh Hodge (dalam Shaleh) juga menyebutkan bahwa dari sejumlah populasi muslim Amerika atau dengan jumlah responden sebanyak 121 orang ditemukan 53%
responden menginginkan seorang konselor;
75% persen merasa bahwa itu penting bagi seorang konselor potensial untuk memiliki nilai-nilai Islami; dan 86% menunjukkan bahwa itu adalah penting bagi konselor untuk memiliki pemahaman tentang nilai-nilai Islam. Dari paparan di atas menyiratkan bahwa sudah sebaiknya konselor terlebih dahulu untuk lebih memahami konsep-konsep Islam yang dapat diimplementasikan dalam bidang bimbingan dan konseling.
Hubungan agama dan praktik konseling pada dasarnya bukan suatu hal yang baru lagi. Menurut Stanley Hall (dalam Prayitno:
2004) )Studi mengenai gejala keagamaan, khususnya sebagai gejala psikologis telah menjadi pusat perhatian para ahli. Seperti Stanley Hall, sejak abad ke-19. Lebih jauh studi diarahkan kepada peranan agama bagi para ahli kesehatan jiwa. Kajian tentang hubungan agama dan psikologi ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengalami peristiwa-peristiwa keagamaan pada dirinya, namun kemampuan itu sering kali tidak termanfaatkan.
Konselor barat yang melayani konseli dengan latar belakang muslim juga menaruh perhatian khusus terhadap konseli arab/
muslim. Tanpa memaksakan nilai-nilai yang dibawa oleh pribadi konselor.
Selanjutnya beralih pada Indonesia sendiri, sejauh ini belum banyak konselor
muslim yang menggunakan pendekatan spiritual terhadap konseli muslim. proses layanan bimbingan dan konseling yang terjadi di Indonesia lebih banyak berorientasi pada pendekatan-pendekatan worldview barat. Sedangkan manusia sebagai makhluk multidimensional oleh karenanya dalam setiap pengentasan masalah yang kompleks sudah semestinya diperlukan intervensi yang komprehensif tidak hanya mengadopsi dari pemikiran barat, akan tetapi juga perlu adanya keseimbangan dengan pendekatan religiusitas.
Selanjutnya juga diketahui bersama bahwa informasi-infromasi penting untuk membantu mengembangkan dan mengentaskan segala persoalan yang dihadapi manusia itu ada dalam Al-Qur’an, hadist-hadist Rasullullah saw, maupun dari pemikiran tokoh muslim besar. Lebih lanjut tentang nilai-nilai religius bagi layanan bimbingan dan konseling perlu ditekankan tiga hal pokok, yaitu:
(a) keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk tuhan. (b) sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama, dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya.
Adapun dalam realita kehidupan dimasyarakat menunjukkan tidak semua orang beragama kemudian mereka berperilaku sebagaimana yang diajarkan oleh agama tersebut dengan baik, akan tetapi ada juga yang perilakunya jauh dari nilai-nilai agama, kecuali mengerjakan nilai-nilai agama hanya sedikit saja. Pada penganut agama manapun akan dijumpai oaring-oarang yang taat beragama, kurang taat dan tidak taat pada ajaran agamanya. Tingkat ketaatan ini akan mempengaruhi kuat atau lemahnya seseorang dalamkepribadian dan perilaku seseorang. Namun demikian diakui, sekecil apapun rasa memiliki terhadap agama ini tetap ada. Oleh sebab itu religious values penting dipertimbangkan oleh konselor
dalam menjalankan proses bimbingan dan koseling yang efektif guna memahami perilaku dan kepribadian konseli sebaiknya tidak meninggalkan pemahaman agama yang dianutnya. Demikian pula dalam memberikan treatment kepada konseli.
Dalam kaitannya mengenai religious values, maka dalam kajian ini penulis menawarkan konsep pemikiran tokoh muslim Al-Ghazali, hal ini disinyalir dapat diadaptasikan ke dalam layanan bimbingan dan konseling konseling bernuansa keagamaan, sebagai upaya konselor dalam melaksanakan layanan yang melibatkan siswa muslim khususnya.
2. RIWAYAT HIDUP AL-GHAZALI Al-Ghazali atau Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad at-Thusi al-Ghazali salah satu tokoh besar tasawuf yang lahir di Thus, Kurasan. Al-Ghazali memberikan banyak sumbangsih pemikiran dalam dunia Islam melalui karya-karyanya yang hingga saat ini masih menjadi rujukan oleh umat muslim di seluruh penjuru dunia.
Dalam perjalanan hidupnya Al-Ghazali mempelajari sejumlah ilmu diantara nya ilmu filsafat, ilmu teologi dan hukum. Tak hanya itu Al-Ghazali juga mendalami ilmu fiqih. Karena kehebatannya dalam memahami berbagai ilmu tersebut hingga pada akhirnya ia diangkat menjadi guru besar oleh Nizam Al-Mulk di Madrasah Nizamiyyah di Baghdad.
Karya Al-Ghazali diperkirakan mencapai 300 buah. Diantara yang bisa disebutkan disini seperti: (1) Maqashid Al-falsafah,. (2) Tahafut Al-Falasifah (3) Mi’yar al-‘Ilm (4) Ihya’ ‘Ulum Din. (5) Al-Munqids min al-Dhalal, (6) Al-Ma’arif al-‘Aqliah, (7) Misykat al-Anwar.
3. PEMIKIRAN AL-GHAZALI
Al-Ghazali yang merupakan salah satu ulama besar tasawuf yang dalam pandangannya, ilmu tasawuf mengandung dua bagian penting, Pertama mengandung bahasa
hal-hal yang menyangkut ilmu mu’amalah dan bagian Kedua mengandung bahasa hal-hal yang menyangkut ilmu mukasyafah. Ilmu tasawuf yang mengandung dua bagian ilmu ini secara jelas diuraikan dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitab ini, Al-Ghazali banyak berbicara mengenai nafs.
Sebagai ulama yang mendalami ilmu tasawuf Menurut Al-Ghazali perjalanan tasawuf itu pada hakikatnya adalah pembersihan diri dan pembeningan hati terus menerus hingga mampu mencapai musyahadah. Oleh karena itulah, maka Al-Ghazali menekankan betapa pentingnya pelatihan jiwa, penempaan moral atau akhlak yang terpuji baik disisi manusia maupun disisi Tuhan.
A l - G h a z a l i j u g a m e n u a n g k a n pemikirannya mengenai kalam, Al-Ghazali sangat menentang para filsuf dan bahkan menganggap kafir pemikiran dari para filsuf tersebut. Menurutnya ilmu filsafat yang yang dituangkan oleh Al-Farabi dan Ibnu Sina khususnya banyak yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam.(dalam Al-Ghazali:
2001).
Lebih lanjut Al-Ghazali juga menuangkan pemikirannya tentang moral. Gagasan etikanya dibangun melalui perhubungan paradigm wahyu dengan tindakan moral, stressingnya bahwa kebahagiaan adalah pemberian dan anugerah Tuhan. Keutamaan-keutmaan merupakan pertolongan Tuhan yang niscaya sifatnya terhadap jiwa. Tidak ada keutamaan lain yang dapat dicapai tanpa pertolongan Tuhan.
4. KAITAN PEMIKIRAN AL-GHAZALI DENGAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Dari paparan pemikiran Al-Ghazali di atas jika ditarik dalam konteks konseling, maka tentunya ada banyak hal yang dapat dikembangkan dari sumbangsih pemikiran beliau terhadap bidang bimbingan dan konseling. Telah disebutkan juga bahwa
Al-Ghazali banyak membahas tentang hati.
Manusia dibekali dengan potensi akal, pendengaran, penglihatan dan hati (Surah Ar Ra’du, 13 : 19 – 20; - As-Sajadah, 32 :9 ).
Manusia cenderung lalai dalam menjadikan tiga potensi tersebut sebagai kekuatan dalam menjalani hidupnya terlebih tentang hati. Persoalan hati menjadi penggerak utama dalam sebuah tindakan. Sebagaimana penurunan moral saat ini, remaja masa kini perlu mendapatkan bimbingan yang khusus. Setiap penyimpangan akhlak selalu bersumber dari hati.
Al-Ghazali berpendapat bahwa hati merupakan pengendali dari setiap sikap manusia. dengan hati juga manusia yang bermasalah lebih cendrung akan dikuasai oleh rasa takut yang dapat diartikan juga disini sebagai rasa cemas dalam hal ini menurut pandangan Rogers (dalam Amirah:
2009) yang mengatakan bahwa kondisi yang diperlukan dalam proses konseling salah satunya konseli merasakan kecemasan dalam taraf minimum. (Minimum State of Anxiety).
Dapat ditarik kesimpulan bahwa jauh sebelum psikologi berbicara mengenai kepribadian manusia, Al-Qur’an, Hadist, dan tokoh muslim besar terdahulu sudah lebih dulu berbicara mengenai hal tersebut. Dalam karya-karyanya salah satunya Ihya ulumuddin dan Al-Munqids Min-Dalal banyak menuangkan pemikirannya tentang pengolahan jiwa yang dapat dipastikan bahwa dalam pemikirannya juga mengandung terapeutik-terapeutik untuk mengentaskan permasalahan manusia yang menurutnya disebabkan oleh hubud duniawi.
Dan melupakan ukhrawi. Salah satunya dalam karya besar beliau Ihya Ulumuddin yang banyak membahas tentang hakikat rasa takut, tingkatan-tingaktan rasa takut dan obat dari rasa takut.
Menurut Al-Ghazali rasa takut manusia saat ini berbeda dengan rasa takutnya para ulama. Rasa takut manusia saat ini lebih disebabkan karena cinta dunia dan melupakan nilai-nilai ketuhanan. (dalam Al-Ghazali:
2009).
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pemikiran-pemikiran beliau erat kaitannya dengan bidang bimbingan dan konseling. Menjadi tugas atau bahkan tantangan bagi para konselor untuk bisa mengimplementasikan pandangan-pandangan bernafaskan keagamaan ini dalam pelaksanaan layanan BK.
5. PENUTUP
Berdasarkan kajian ilmiah mulai awal sampai akhir, peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dengan pendekatan nilai-nilai religius masih belum banyak digunakan di Indonesia. Oleh kerenanya diharapkan kajian literature ini nantinya dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi masyarakat BK khususnya.
terhadap implementasi layanan BK di sekolah.
Maka solusi yang ditawarkan penulis dalam permsalahan remaja saat ini dengan menghadirkan pemikiran Al-Ghazali dalam proses layanan konseling. Utamanya ditujukan bagi konselor/konseli Islam, dan secara khusu bernaung di instansi pendidikan berbasis keagamaan (keIslaman), sehingga pandangan-pandangan Al-Ghazali yang diyakini sebagai terapi pengentasan kecemasa, dapat diadaptasikan, diintegrasikan, diserap, dan atau ditransfer ke dalam bimbingan dan konseling corak Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN Al-Qur’an Nur Karim
Amirah Diniyati. 2009. Teori-Teori konseling (Tinjauan Terhadap Isi dan Aplikasinya Serta Perspektif Islam).
Daulat Riau: Pekanbaru.
Al-Ghazali. 2009. Ihya Ulumuddin Jilid VIII. Asy Syifa: Semarang
Al-Ghazali. 2001. Keajaiban-Keajaiban Hati. Mizan Media Utama (MMU) Lickona, 2015. Educating for Character
(Mendidik Untuk Membentuk
Karakter). Bumi Aksara: Jakarta
P. Scott Richards and Allen E. Bergin. 2006.
A Spiritual Strategy for Counseling and Psychotherapy. Washington, Dc.
Prayitno. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta: Jakarta.