AS A YOUNG GENERATION INDONESIA
2. PEMBAHASAN 1 Pendidikan Karakter
2.3 Pengembangan Karakter Membentuk Manusia Seutuhnya
Karakter adalah sifat pribadi yang relatif
stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi (Prayitno, Belferik M, 2010). Pendapat lain menyatakan karakter atau watak pada hakekatnya merupakan ciri kepribadian yang berkaitan dengan timbangan nilai moralitas normatif yang berlaku (Mohamad Surya, 2012). Kualitas watak seseorang bersifat relatif tetap dan akan tercermin pada penampilan kepribadiannya ditinjau dari sudut timbangan nilai moral normatif. Atribut utama karakter yang perlu dikembangkan adalah tercapainya karakter dengan kualitas : 1) memiliki courage atau keberanian dalam melaksanakan tindakan, 2) care atau memiliki kepedulian terhadap tugasnya, 3) optimistik terhadap masa depan, 4) self control atau kemampuan mengendalikan diri dalam melaksanakan tugas, dan 5) communication atau kemampuan berkomunikasi efektif dalam keseluruhan pemberian pelayanan. Pembentukan dan pengembangan karakter manusia dapat dicapai melalui proses pendidikan.
Pendidikan harus mendorong terwujudnya manusia yang dewasa secara personal/
emosional, moral, sosial, dan intelektual, sehingga terwujud manusia yang meningkat keimanan dan ketaqwaannya, serta akhlak mulia sebagai dasar untuk menjadikan mereka cerdas, serta secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Hal tersebut mengandung makna bahwa pendidikan di Indonesia sarat dengan nilai yang harus menjadi bagian di dalam prosesnya.
Fokus pada pendidikan karakter menjadi amat penting, urgen, dan bermakna bagi pembangunan bangsa yang berkarakter.
Karakter itu sendiri merupakan nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat dan estetika. Pendidikan karakter
merupakan upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil,. Dengan demikian pendidikan karakter merupakan suatu system penanaman nilai-nilai perilaku (karakter) kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan (knowledge), kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesame, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Kemendiknas, 2010).
Sepanjang rentang kehidupan manusia, pendidikan (pendidikan karakter) akan dialami dimanapun manusia itu berada, baik pada jalur pendidikan informal, formal, maupun nonformal. Dalam pendekatan pendidikan sebagai suatu industri, input diproses kemudian menghasilkan lulusan baik dalam arti output maupun outcomes, maka lulusan yang berkarakter menjadi konsern utama, dan itu hanya dapat terwujud apabila proses/
pelayanan pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai sebagai bagian utama di dalamnya.
Dalam proses pendidikan harus mengacu pada upaya menginternalisasi nilainilai, baik untuk tingkatan institusional (terkait dengan hubungan eksternal sekolah), tingkatan manajerial (terkait dengan pengelolaan seluruh sumberdaya internal sekolah), maupun tingkatan operasional/teknikal (terkait dengan proses pembelajaran).
Pada tataran operasional manajemen pendidikan, dalam hal ini pembelajaran di kelas, maka fokus utama untuk internalisasi nila-nilai menjadi hal yang amat penting dan urgen, mengingat siswa itulah yang menjadi indikator utama keberhasilan pendidkan karakter. Proses utama pendidikan, yaitu pembelajaran di kelas menjadi kondisi yang amat menentukan dan harus dapat mewujudkan internalisasi nilai-nilai secara efektif di dalamnya, sehinggan tidak cukup hanya dengan menyampaikan informasi
tentang nilai-nilai yang ingin ditanamkan, tetapi juga mengembangkan sikap positif terhadapnya serta mendorongnya untuk menjadi bagian dari perilaku peserta didik.
Sehingga pendidikan karakter benar-benar berdampak pada perilaku. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter bukan dari makin meningkatnya pengetahuan tentang nilai-nilai, tetapi menguatnya sikap positif akan nilai-nilai dan yang utama adalah berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut, sehingga siswa dan lulusan lembaga pendidikan tersebut dapat menjadi tiang utama dalam membangun dan memperkuat karakter bangsa.
Nilai-nilai agama, nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat merupakan sumber nilai-nilai dan pemerintahan harus bisa menjadi panutan bagi generasi muda, karena di pundak generasi mudalah harapan bangsa untuk dapat melanjutkan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Karakter dibentuk melalui pengembangan unsur-unsur harkat dan martabat manusia (HMM) yang secara keseluruhan bersesuaian dengan nilai-nilai luhur pancasila.
Harkat dan martabat manusia meliputi tiga komponen dasar yaitu: 1) Hakikat manusia, meliputi lima unsur, yaitu bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang beriman dan bertaqwa, paling sempurna, paling tinggi derajatnya, khalifah di muka bumi, dan penyandang HAM (hak azasi manusia).
Pembentukan karakter sepenuhnya mengacu kepada kelima unsur hakikat manusia ini.
2) Dimensi kemanusiaan, meliputi lima dimensi, yaitu dimensi kefitrahan (dengan kata kunci kebenaran dan keluhuran), dimensi keindividualan (dengan kata kunci potensi dan perbedaan), dimensi kesosialan (dengan kata kunci komunikasi dan kebersamaan), dimensi kesusilaan (dengan kata kunci nilai dan norma), dan dimensi keberagamaan (dengan kata kunci iman dan taqwa). Penampilan kelima unsur dimensi kemanusiaan dalam
kehidupan sehari-hari akan mencerminkan karakter individu yang bersangkutan. 3) Pancadaya kemanusiaan, meliputi lima potensi dasar yaitu daya taqwa, daya cipta, daya rasa, daya karsa, dan daya karya.
Melalui pengembangan seluruh unsur pancadaya inilah pribadi karakter dibangun.
Pengembangan HMM dapat merupakan wahana bagi penanaman nilai-nilai luhur pancasila dalam diri individu. Pengembangan HMM dengan isi nilai-nilai luhur Pancasila merupakan upaya pengembangan sosok manusia seutuhnya (dengan muatan di dalamnya komponen/ unsur-unsur HMM dan nilai-nilai luhur pancasila).
Materi pengembangan karakter dimuatkan ke dalam materi pembelajaran pada setiap mata pelajaran, muatan lokal dan pelayanan bimbingan dan konseling, yang meliputi butir-butir nilai karakter cerdas seperti:
kandungan lima i (iman dan taqwa, inisiatif, industrius, individu, dan interaksi); indikator karakter cerdas yang meliputi lima fokus ( keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, dan kepedulian) yang hendaknya terimplementasikan dalam kehidupan secara menyeluruh; serta nilai-nilai luhur pancasila seperti tertera dalam butir-butir wujud pengamalan pancasila (Prayitno dan Afriva Khaidir, 2010).
Berbagai unsur nilai yang terkandung di ketiga sumber tersebut saling melengkapi untuk dapat mewujudkan sosok individu/
siswa yang berkarakter. Karakter bukan masalah pengajaran dalam arti transfer of moral knowledge, namun lebih pada pemodelan atau percontohan melalui interaksi edukatif yang dapat mengkondisikan suasana pembelajaran yang menumbuhkan sikap positif serta perilaku yang mewujudkan nilai-nilai luhur, oleh karena itu menjadi hal penting sikap, perilaku dan karakter guru yang melaksanakan peran dan tugasnya sebagai pendidik.
Upaya untuk meningkatkan dan
mengembangkan kompetensi guru mulai dari kepribadian, sosial, pedagogik dan professional menjadi keharusan. Hal tersebut dapat dicapai dengan komitmen profesi guru yang kuat, menjadi guru merupakan panggilan, dan pengabdian. Dalam situasi demikian proses pemodelan dan pengkondisian dalam membentuk dan mengembangkan karakter siswa akan efektif karena dikelola oleh guru yang mampu menanamkan nilai-nilai luhur dan positif pada siswa.
Model pengembangan karakter terdiri dari lima “E” yaitu example, experience, education, .environment, dan evaluation (Gene Klann dalam Mohamad Surya, 2012).
Hal tersebut mengandung makna bahwa upaya untuk membangun karakter manusia secara utuh harus ditata sedemikian rupa sehingga dapat mengembangkan karakter.
Pola pola pengembangan karakter dilaksanakan melalui: 1. Model-model peran atau sumber keteladanan. 2.
Pengalaman yang dihayati secara sadar sehingga mencapai taraf perkembangan social psikologis. 3. Memberikan pendidikan dan pelatihan baik formal maupun non-formal yang sejalan dengan pembentukan karakter. 4. Mengembangkan lingkungan kondusif yang dapat menginternalisasikan nilai-nilai landasan karakter. 5. Senantiasa melakukan penilaian diri dan perbaikan secara berkesinambungan demi penyempurnaan karakter.
Pengembangan karakter siswa dengan segala daya upaya diarahkan untuk terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya, yang mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila di dalam kehidupan sehari-hari, membangun karakter cerdas yang berbasis pada harkat dan martabat manusia. Penyelenggaraan pendidikan karakter cerdas dikemas dan direncanakan secara terintegrasi di dalam semua materi pembelajaran untuk semua mata pelajaran (termasuk di dalamnya muatan lokal) yang diselenggarakan oleh guru
pengampu mata pelajaran.
Guru mata pelajaran bertanggung jawab atas pembelajaran pada setiap mata pelajaran, dan guru BK/Konselor bertanggung jawab atas kegiatan yang berkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling.
2.4 Upaya Bimbingan dan Konseling dalam