KARAKTER GENERASI MUDA BAGI SISWA SMA
2. METODE
Metode yang digunakan adalah metode studi literatur yaitu salah satu metode dalam pendekatan kualitatif yang menguraikan tentang beberapa teori teori, temuan temuan dan bahan penelitian lain yang digunakan sebagai dasar landasan kegiatan penelitian serta merancang dan menyusun kerangka pemikiran dan rumusan masalah.
Isi dari literarur riview meliputi rangkuman, ulasan dan pemikiran penulis yang berasal dari sumber pustaka, misalnya slide, artikel, informasi dari internet. Literatur rivew yang baik dan bersifat relevan dan yang paling mutakhir. Hal ini berguna untuk mendukungtopik yang dibahas dalam suatu penelitian. Selain itu juga untuk membantudalam melakukan pembatasan masalah
3. ISI
Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus.
Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga di atas memberikan pengerian bahwa pandidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi
juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia. Landasan Pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan, khususnya di negara Indonesia, setiap Negara memiliki landasan pendidikan yang berbeda satu sama lain.
Adapun landasan pendidikan di Indonesia yakni landasan agama (religius), landasan filosofis, landasan psikologis, landasan historis, landasan sosiologis dan budaya (sosiokultural), landasan hukum (yuridis), landasan ekonomi pendidikan, dan landasan ilmiah dan teknologi (IPTEK).
Landasan religius bimbingan dan konseling pada dasarnya ingin menetapkan bahwa konseli merupakan mahluk tuhan dengan segenap kemuliaannya menjadi fokus sentral dalam upaya bimbingan dan konseling (Prayitno dan Erman Amti,2003:233).
Budaya religius sesungguhnya sesuai dengan upaya pengembangan fitrah manusia yang diharapkan dapat menjangkau tiga aspek secara terpadu, yakni 1) knowing, yakni agar peserta didik dapat mengetahui dan memahami nilai-nilai religius; 2) doing, yakni agar peserta didik dapat mempraktikkan nilai-nilai religius; dan 3) being, yakni agar peserta didik dapat menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai religius (Muhaimin, 2009:
305-306).
Nilai-nilai religius yang telah disebutkan dibiasakan dalam kegiatan sehari-hari, dilakukan secara bertahap, mampu merasuk ke dalam intimitas jiwa dan ditanamkan dari generasi ke generasi, maka akan menjadi budaya religius lembaga pendidikan. Apabila sudah terbentuk budaya religius, maka secara otomatis internalisasi nilai-nilai tersebut dapat dilakukan sehari-hari yang akhirnya akan menjadikan salah satu karakter lembaga yang unggul dan substansi meningkatnya mutu pendidikan.
Sebagai (professional profession) seorang konselor dituntut untuk memenuhi kualifikasi dalam memainkan perannya sebagai (helper).
Gibson (2011) istilah konselor profesional
membedakan Anda dari profesional lain yang juga menggunakan label konselor/
penasihat. Para profesional adalah mereka yang bekerja penuh waktu dan aktif bagi profesinya, karena itu mereka menerima tanggung jawab akan sebuah profesionalisme, seorang konselor dapat bertanggung jawab dalam memainkan perannya sebagai berikut:
(1) para konselor harus terlatih sepenuhnya dan berkualifikasi agar sanggup memenuhi kebutuhan populasi klien, (2) para konselor profesional perlu berkomitmen secara pribadi dan profesional untuk terus memperbarui dan meningkatkan keahlian dan pengetahuan mereka sebagai cerminan dan representasi kemajuan dari profesi mereka, (3) konselor profesional menyadari dan berkontribusi bagi pengembangan profesi dengan melakukan dan berpartisipasi dalam studi-studi riset yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan tentang profesinya, (4) konselor harus sadar betul dan taat kepada rambu-rambu legal dan etis profesi dan praktik konseling.
Seringkali kita salah presepsi tentang makna dari peran dan fungsi, Wrenn (1973) Dalam pemikiran Wrenn, peran dengan fungsi itu berbeda. Peran, dikonseptualisasikan ke dalam suatu tujuan, sedangkan fungsi berarti proses. Konsep peran lebih ditekankan pada suatu bagian akhir yang dituju, sedangkan fungsi menegaskan kegiatan atau aktivitas dalam rangka pencapaian tujuan.
Dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing religion sebagai bentuk dari kata benda yang berarti agama atau kepercayaan akan adanya sesuatu kekuatan kodrati di atas manusia. Sedangkan religius berasal dari kata religious yang berarti sifat religi yang melekat pada diri seseorang.
Religius sebagai salah satu nilai karakter dideskripsikan oleh Suparlan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam
menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini siswa diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama.
Dengan segala keterbatasan, penulis mencoba dalam asumsi nilai nilai religius yang dijadikan tolok ukur dalam rangka studi dan praktek bimbingan dan konseling.
Prayitno & Erman (yusuf, 2010) mengemukakan bahwa landasan religius dalam bimbingan dan konseling Landasan religius dalam bimbingan dan konseling mengimplikasikan bahwa konselor sebagai
“helper”, pemberi bantuan dituntu untuk memiliki pemahaman akan , nilai-nilai agama dan komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari, khususnya dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada konseli atau peserta didik. Konselor seyogyanya menyadari bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada konseli merupakan salah satu kegiatan yang bernilai ibadah, karena didalam proses bantuannya terkandung nilai “amar ma’ruf nahyi munkar” yang berarti mengembangkan kabaikan dan mencegah keburukan. Peran agama mendapatkan tempat yang penting dalam undang-undang dasar 1945dan dalam sistem pendidikan Nasional tujuannya yaitu menyangkut “manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa”
(UU No. 2 /1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Peran agama dalam Bimbingan dan Konseling memberikan warna, arah dan suasana hubungan konseling yang tercipta antara konseli dan Konselor Prayitno &
Erman (yusuf, 2010) mengemukakan bahwa landasan religius dalam bimbingan dan konseling Agar dapat terlaksana dengan baik maka pemberian layanan bimbingan dan konseling diberikan dengan penuh keiklasan dan kesabaran. Konselor harus benar-benar memperhatikan dan menghormati agama konseli.
Berkaitan dengan hal tersebut maka persyaratan bagi konselor sebagai berikut:
1. Konselor hendaklah orang yang beragama dan mengamalkan dengan baik keimanan dan ketakwaanya sesuai dengan agama yang dianut.
2. Konselor sedapat-dapatnya mampu mentransfer kaidah-kaidah agama secara garis besar yang relevan dengan masalah konseli.
Melalui tulisan ini, penulis berupaya memberikan sebuah paradigma berfikir baru yang bersifat spesifik yang ditujukan kepada konselor dan profesi helper lainnya seperti psikolog dan psikiater dalam menanamkan nilai-nilai religius terhadap generasi muda.
Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsa tergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur, maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya.
Memang, moral sangat penting bagi suatu masyarakat, bangsa dan umat. Kalau moral rusak, ketenteraman dan kehormatan bangsa itu akan hilang. Oleh karena itu, untuk memelihara kelangsungan hidup sebagai bangsa yang terhormat, maka perlu sekali memperhatikan pendidikan moral, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat (Komariah, 2011).
Moral melibatkan pemikiran, perasaan dan tingkah laku yang sesuai Ataupun sebaliknya pada pandangan masyarakat. Ia mempunyai kaitan dengan hubungan intrapersonal dan interpersonal manusia. Dimensi interpersonal berkaitan dengan aktivitas individu yang tidak melibatkan orang lain. Manakala, interpersonal pula berkaitan dengan hubungan dengan orang lain (Madoan dan Ahmad, 2004).
Moral berasal dari bahasa latin mores yang berarti tata cara, kebiasaan, perilaku, dan adat istiadat dalam kehidupan (Hurlock, 1990). Rogers (1977) mengartikan moral
sebagai pedoman salah atau benar bagi perilaku seseorang yang ditentukan oleh masyarakat. Allen (1980) mengartikan moral sebagai pola perilaku, prinsip-prinsip, konsep dan aturan-aturan yang digunakan individu atau kelompok yang berkaitan dengan baik dan buruk. Moral menurut Piaget (1976) adalah kebiasaan seseorang untuk berperilaku lebih baik atau buruk dalam memikirkan masalah-masalah sosial terutama dalam tindakan moral.
Moral akibat pengaruh faktor-faktor tertentu dapat menyimpang. Kartono (2007) memberi definisi yang cukup panjang, penyimpangan moral adalah kondisi individu yang hidupnya delingment (nakal, jahat), yang senantiasa melakukan penyimpangan perilaku dan bertingkah laku asosial atau antisosial dan amoral. Ciri-ciri orang yang mengalami defisiensi moral cenderung psikotis dan mengalami regresi, dengan penyimpangan-penyimpangan relasi kemanusiaan, sikapnya dingin, beku, tanpa afeksi, emosinya labil, munafik, jahat, sangat egoistis, self centered, dan tidak menghargai orang lain. Tingkah laku orang yang mengalami defisiensi moral selalu salah dan jahat (misconduct), sering melakukan penyimpangan perilaku, bisa berupa menindas, suka berkelahi, mencuri, mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan sebagainya. Ia selalu melanggar hukum, norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Penyimpangan moral remaja biasanya diwujudkan dalam bentuk kenakalan.
Santrock (2003) menjelaskan kenakalan remaja berdasarkan tingkah laku, yaitu;
a. Tindakan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial karena bertentangan dengan nilai-nilai norma-norma dalam masyarakat. Contoh: berkata kasar pada guru, orang tua.
b. Tindakan pelangga ran ringan seperti ; membolos sekolah, kabur pada jam mata pelajaran tertentu dll.
c. Tindakan pelanggaran berat yang merujuk pada semua tindakan kriminal yang
dilakukan oleh remaja, seperti; mencuri, seks pranikah, menggunakan obat-obatan terlarang.