DALAM PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA INDONESIA
2.3. Kajian Teoritik Nilai-Nilai Religius Teks Sukarno dalam Pembangunan
Kalau saya boleh mengajukan sedikit usul: hendaklah ditambah banyaknya
“pengetahuan barat” yang hendak dikasihkan kepada murid-murid pesantren itu. Umunya adalah sangat saya sesalkan, bahwa kita punya islam-scholars masih sangat sekali kurang pengetahuan modern-science.
Walau yang sudah bertitel “mujahid” dan
“ulama” sekalipun, banyak sekali yang masih mengecewakan pengetahuannya modern-science. Lihatlah misalnya kita punya majalah-majalah Islam: banyaksekali yang kurang kwalitet. Dan jangan tanya lagi bagaimana halnya kita punya kyai-kyai muda! Saya tahu, tuan punya pesantren bukan universitiet, tapi alangkah baiknya kalau toch western science disitu ditambah banyaknya. Demi Allah “Islam science”
bukan hanya pengetahuan Qur’an dan Hadits saja; :Islam Science” adalah pengetahuan Qur’an dan Hadits plus pengetahuan umum!
Orang tak dapat memahami betul Qur’an dan Hadits, kalau tak berpengetahuan umum (DT2/1969/335/PB/Kal2).
Berdasarkan keterangan teks di atas maka dapat dimaknai bahwa pentingnya nilai agama bersanding dengan pengetahuan barat.
Berbekal pengetahuan barat maka manusia akan dapat mencerna nilai agama yang masih abstrak untuk dipahami. Pengetahuan barat lebih aplikatif dan rasional dalam menjelaskan sebuah fenomena. Hal ini dapat digunakan dalam menjelaskan nilai agama yang masih tertutup oleh tabir. Hasil kajian beberapa teks di atas dapat disimpulkan bahwa rethinking of islam dapat diserap menjadi sikap keterbukaan. Sikap ini dapat diserap oleh manusia Indonesia sebagai karakter ideal.
Hasil penelusuran nilai karakter religius menurut Sukarno dapat terlihat pada tabel dibawah ini.
Tabel Nilai Religius menurut Sukarno
No Sumber Teks Makna Teks
1. DT1/2001/393/PA2/Kal1 DT1/469/PA1/Kal1 DT2/1969/342/PA/Kal2
Keimanan
2. DT3/1969/233-234/PB/
Kal1 Toleransi
3. DT2/1969/489490/PB/
Kal1DT2/1969/402/PA/Kal1 DT2/1969/490/PB/Kal1 DT2/1969/335/PB/Kal2
Rasionalitas
Pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa deskripsi religius menurut Founding Fathers Indonesia (Sukarno) meliputi:
keimanan, toleransi antar agama, rasionalitas, dan keimanan.
2.3.Kajian Teoritik Nilai-Nilai Religius
to denote “religious” in the experiential, subjective orientation, regardless of the conceptual structure in which the person’s
“religiosity” is expressed” (Fromm, 1976:
114). Artinya bahwa bila kita dikatakan sebagai religius maka didasarkan pada orientasi subjektif dan memperhatikan struktur manusia dalam religius yang dimunculkan dalam sebuah tindakan nyata.
Wujud tindakan nyata terlihat dalam bentuk keimanan manusia pada Tuhan.
Keimanan mengindikasikan wujud dari sebuah perilaku yang merupakan bentuk dari kepatuhan pada Tuhan. Menurut Fromm, keimanan merupakan salah satu bentuk cinta kepada Tuhan. Fromm menyebutkan bahwa “the religious form of love, that which is called the love of God...it springs from the need to overcome seperateness and to achieve union” (1957: 50). Paparan diatas mengindikasikan bahwa pola keimanan seseorang akan terbentuk dalam sebuah pola kebudayaan tempat ia berada. Pola pembudayaan keimanan terbentuk melalui proses yang panjang dalam diri manusia. Pola pembudayaan keimanan tersebut lebih jauh dijelaskan oleh Fromm pada paparan berikut.
“in the history of the human race we see—and can anticipate—the same development: from the begining of the love for God as the helpless attachment to a mother Goddes, through the obedient attachment to a fatherly God, to a mature stage where God ceases to be an outside power, where man has incorporated the principles of love and justice into himself, where he has become one with God, and eventually, to a point where he speaks of God only in a poetic, symbolic sense” (1957: 63).
Penjelasan Fromm di atas berarti bahwa pola keimanan tumbuh pada mulanya dalam pola asuh ibu yang memosisikan manusia sebagai makhluk tidak berdaya dan membutuhkan kasih sayang. Kemudian keimanan berkembang pada pola asuh ayah yang otoriter membuat anak mendapat nilai
kepatuhan dalam menjalankan ajaran agama.
Tahap selanjutnya, manusia memasuki fase kedewasaan (maturity) yang membuat ia mampu berpikir rasional. Ia mampu menjadikan Tuhan bagian dalam dirinya dalam setiap aktivitas. Ia menciptakan simbol atau bentuk lain tentang pola keimanan yang dijadikan pedoman dalam hidup beragama.
Berdasarkan kajian teoretis yang telah dilakukan maka manusia Indonesia dapat lebih memahami sumber pola keimanan yang telah ia internalisasikan dalam pribadi.
Manusia Indonesia yang telah memahami makna keimanan maka ia akan lebih mampu untuk meresapi bentuk keimanan terhadap Tuhan. Bentuk keimanan terhadap tuhan merupakan wujud love of God yang berarti manusia Indonesia percaya Tuhan maka ia mencintai Tuhan dengan seluruh jiwa dan raga.
2.3.2. Toleransi
Toleransi berasal dari bahasa latin tolerantia yang berarti bertahan lama (enduring), menahankan (suffering), hubungan (bearing) atau meletakkan dengan (putting up with) (Fiala, 2005: 24). Penjabaran tersebut dapat diartikan bahwa toleransi memiliki makna ‘menanggung’ atau ‘daya tahan’. Ahli lain yang mengkaji tentang toleransi berpendapat bahwa “tolerance does not ask us to deaden our emotional responses to others; rather it asks us to restrain the negative consequences of our negative emotional responses out of deference to a more universal set of commitments” (Fiala, 2005: 24). Toleransi berarti adanya kecakapan dalam mengontrol emosi.
Toleransi menurut KBBI (2012) berarti sifat atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh. Pendapat berbeda diungkapkan oleh Hasanah & Sauri (2013: 170) yang menyatakan bahwa toleransi merupakan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan
tidakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Berdasarkan penjelasan beberapa ahli, toleransi senada dengan pemikiran Fromm.
Pemikiran Fromm menjelaskan bahwa toleransi (tolerance) merupakan aspek positif dalam orientasi karakter pemasaran (Fromm, 1957: 121). Toleransi berguna dalam menerima dan mengadaptasi nilai-nilai kepercayaan yang berbeda. Hal ini berarti bahwa toleransi merupakan salah satu mode manusia berhubungan satu sama lain yang memiliki karakteristik yang berbeda.
Aspek lain dalam toleransi adalah rasa menghargai antar sesama manusia sebagai wujud cinta sesama makhluk ciptaan Tuhan.Rasa menghargai merupakan bentuk kepedulian terhadap suatu hal baik objek ataupun subjek. Rasa menghargai yang telah dipaparkan meliputi menghargai orang tua, menghargai nama bangsa, menghargai budaya, menghargai sejarah, menghargai sesama, menghargai alam semesta. Rasa menghargai yang telah dijelaskan tersebut senada dengan pendapat Fesit & Feist (2008:
200) yang menyatakan bahwa.
Biophilic people desire to further all life—
the life of people, animals,plants, ideas, and cultures. They are concerned with the growth and development of themselves as well as others. Biophilic individuals want to influence people through love, reason, and example—
not by force (Feist and Fesit, 2008: 200).
Artinya bahwa wujud dari rasa menghargai merupakan bentuk dari perilaku bipolia (biopolic) yang mengutamakan rasa cinta pada sesama agar dapat tumbuh dan berkembang dalam suasana cinta. Fromm menambahkan bahwa “the affirmation of one’s own life, happiness, growth, freedom, is rooted in one’s capacity to love, i.e., in care, respect, responsibility, and knowledge” (Fromm, 1975: 135). Hal ini dapat disimpulkan bahwa bipolia merupakan aspek hidup produktif yaitu hidup penuh semangat cinta pada sesama.
Toleransi dapat diserap manusia Indonesia
sebagai jalan untuk berhubungan dengan manusia lain dengan didasarkan pada sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan masing-masing. Manusia Indonesia dapat menerapkan toleransi dalam hubungan teman sebaya yang memiliki perbedaan jenis kelamin, agama maupun latar belakang sosial ekonomi. Toleransi yang diinternalisasikan dalam pribadi manusia Indonesia akan menciptakan kualitas karakter produktif.
2.3.3. Rasional
Rasional menurut KBBI (2012) memiliki arti menurut pikiran dan pertimbangan yang logis. Rasional menurut Fromm merupakan bentuk orientasi karakter produktif (1975:
108). Rasional adalah bagian dari proses berpikir produktif (productive thinking) yang meliputi dua aspek reason dan intelegence.
Aspek intelegence adalah alat manusia untuk mencapai tujuan yang bersifat praksis.
Artinya bahwa ia bertujuan menemukan aspek pikiran tentang pengetahuan untuk memanipulasi objek (Fromm, 1975: 108).
Fungsi intelegence bertujuan untuk “taken for granted and may or may not be rational in themselves” (Fromm, 1957: 108).
Aspek reason merupakan tahap pemikiran yang sudah mampu menjangkau bernalar dan berpikir (Fromm, 1975: 108). Fungsi reason adalah “to know, to understand, to garsp, to relate onseself to things by comprehending them” (Fromm, 1975: 108). Penjabaran tersebut dapat disimpulkan bahwa intelegence hanya sebatas untuk memanipulasi objek tanpa melakukan analisis mendalam sedangkan reason mampu menjangkau pemikiran secara kritis. Pernyataan Fromm di atas tentang
“productive thinking” sesuai dengan konsep
“rasional” yang dipaparkan oleh Founding Fathers Indonesia. Hal ini dapat diartikan bahwa manusia Indonesia yang religius maka ia mampu berpikir rasional terhadap isu agama yang berkembang. Rasional dapat digunakan oleh manusia Indonesia sebagai filter informasi dari luar dan diproses dalam
pikiran sehingga ia mampu menyimpulkan secara bijak terkait isu agama yang terjadi saat ini.
3. PENUTUP