IMPLIKASI NILAI SOSIOKULTURAL DALAM PENGUATAN
multiculturalisme. Mengenali pengetahuan dan pemahaman konselor terhadap pandangan yang dimiliki serta pengatahuan khsusus terkait kelompok budaya konseli. Keterampilan mengacu pada strategi dan teknik intervensi yang dibutuhkan dalam proses konseling dengan konseli dengan latar belakang budaya tertentu.
Kata kunci: nilai sosiokultural, multicultural competencies counseling, karakter peserta didik
1. PENDAHULUAN
Setiap individu merupakan produk budaya yang terpolarisasi oleh berbagai sistem nilai yang bersifat abstrak menjadi perilaku yang lebih bersifat konkret sebagai identitas keunikan/kekhasan dari setiap individu, keunikan individu dapat dipahami dengan menyelami aspek subjektif tanpa melakukan generalisasi terhadap berbagai fenomena yang dimaknai sebagai domain kualitatif dalam menggambarkan persepsi terkait sistem nilai setiap individu. Dalam era digital dengan membanjirnya arus informasi dalam setiap aspek kehidupan individu, menjadi salah satu faktor determinan yang secara simultan mampu mempengaruhi pola pikir dan perilaku individu. Individu memiliki probabilitas untuk mengubah pandangan yang dimiliki dan meninggal sistem nilai budaya yang dimiliki saat ini kemudian rekonstruksi kembali sistem nilai yang dipandang lebih adaptif dengan perkembangan zaman, dengan kata lain perkembangan informasi dan teknologi pada abad ke-21 secara langsung dan tidak langsung memiliki sumbangsih dalam inkonsistensi sikap dan perilaku dari setiap individu. Dalam konteks layanan bimbingan dan konseling, konselor dituntut mampu memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik berasal dari berbagai macam latar belakang budaya. Konselor diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai sosiokultural dengan menghargai dan memiliki kepekaan secara kultural terhadap budaya yang dimiliki peserta didik. Dalam perkembangannya, pendekatan bimbingan dan konseling yang digunakan oleh konselor sebagai pendekatan dalam layanan konseling, mengacu kepada dinamika
kehidupan bermasyarakat eropa sebagai representasi awal dikembangkannya berbagai macam pendekatan konseling. Asumsi bahwa karakteristik masyarakat dalam konteks multikultural selalu dibatasi oleh ruang lingkup sosial-demografis yang berbeda, maka pendekatan dalam teori bimbingan dan konseling perlu untuk disesuikan dengan konteks peserta didik yang ada dalam kondisi sosial-demografis tertentu. Multicultural competencies counseling memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman dan kepekaan sosial dari konselor dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling. Menghindari munculnya prejudice dan stereotype terhadap peserta didik atas pola pemikiran dan perilaku tertentu yang dipengaruhi oleh budaya peserta didik.
Asumsi utama layanan konseling yang peka terhadap budaya adalah konselor mampu mengakui bahwa setiap individu memiliki tendensi dan batasan dari budaya yang dimiliki pada orang lain. Pengaruh budaya pada diri seseorang terbatas pada kelompok atau individu tertentu dan tidak dapat ditansmisikan kepada kelompok budaya lainnya, walaupun secara empiris memiliki persamaan dalam beberapa aspek kehidupan.
Konselor juga penting untuk memahami budaya dan worldviews yang dimiliki sebelum membantu orang lain. Menurut Padilla, Boxley, and Wagner (1973), banyak bukti yang menunjukkan bahwa konselor yang sudah terlatih tidak dipersiapkan untuk berinteraksi dengan individu yang berbeda latar belakang budaya dengan konselor.
Hal ini menunjukkan bahwa Multicultural competencies counseling belum menjadi fokus utama sebagai salah satu kompetensi
konselor yang secara implisit merupakan gamabran dari kompetensi personal konselor yang terapeutik. Sementara itu, dalam menghadapi dinamika psikologis dari peserta didik, siperlukan Multicultural competencies counseling yang dapat menumbuhkan karakteristik ideal konselor, salah satunya adalah penerimaan tanpa syarat kepada peserta didik, karena kepekaan budaya tetap menjadi salah satu karakteristik penting dari proses konseling yang efektif. Problematika terkait rendahnya Multicultural competencies counseling yang dimiliki oleh konselor juga diperkuat dengan pandangan Pedersen, Draguns, Lonner, and Trimble (2002), yang menegaskan bahwa kesadaran multikultural tidak lagi dipandang sebagai penekanan khusus, melainkan sebagai kompetensi umum dalam konseling silang budaya (cross cultures). Menekankan pentingnya Multicultural competencies counseling bagi konselor sebagai perwujudan dari nilai sosiokulutral, penulis dalam makalah ini akan mendiskusikan beberapa isu utama yang dibagi dalam tiga bagian: (1) Relevansi nilai sosiokultural dalam bimbingan dan konseling, (2) Memahami Multicultural Competencies Counseling, dan (3) Implikasi Multicultural Competencies Counseling dalam pengembangan karakter peserta didik.
2. PEMBAHASAN
2.1 Relevansi nilai sosiokultural dalam bimbingan dan konseling
Pentingnya nilai sosiokultural dalam menyoroti proses kebudayaan dan pendidikan merupakan dua komponen yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan dan kebudayaan memiliki keterkaitan yang sangat erat, yaitu memandang sistem nilai sebagai realitas dalam proses pendidikan dan kebudayaan, salah satunya adalah nilai sosiokultural.
Nilai sosiokultural menempatkan fungsi mental (psikologis) individu untuk mengembangkan relasi dengan budaya,
insitusi kemasyarakatan dan konteks sejarah.
Indikator dari nilai sosikultural terletak pada fungsi pesikologis individu yang mampu mengakomodasi relasi sosial antara individu sebagai manifestasi dari kebudayaan, lembaga-lembaga kemasyarakat yang berfungsi sebagai wadah dalam menciptakan interaksi antara individu dengan orang-orang disekitarnya(interpersonal), dan sejauh mana individu menempatkan aspek historis sebagai prinsip terkait nilai-nilai realitas yang diwarisi dari setiap generasi. Oleh karena itu, fokus utama nilai sosiokultural adalah peran individu yang berpartisipasi dalam interaksi sosial dan kegiatan terorganisasi secara budaya yang memainkan peran penting dalam mempengaruhi perkembangan psikologis. Nilai sosikultural dapat diukur dari tingkat peran dalam interaksi sosial individu dengan orang-orang yang berada dalam institusi masyarakat dalam berbagai kegiatan yang bersifat partisipatif sehingga dapat meningkatkan perkembangan psikologis.
Nilai sosiokultural menekankan bahwa fungsi mental individu tidak hanya berasal dari interaksi sosial, struktur yang spesifik dan proses yang diungkapkan oleh individu dapat ditelurusi pada hubungan mereka dengan orang lain. Hubungan interpersonal menjadi parameter untuk mengukur tingkatan implementasi dalam kehidupan sosial.
Hubungan interpersonal yang terjadi pada setiap kelompok bertujuan untuk mewujudkan proses aktualisasi dir. Relasi sosial yang baik dengan orang lain, menunjukkan individu mampu menempatkan diri sebagai agen masyarakat yang menghargai setiap keunikan budaya yang dimilihi oleh anggota kelompok.
Mencegah individu untuk bersikap represif dalam mengnyikapi berbagai perbedaan pendapat dalam memandang sebuah fenomena. Nilai sosial mampu mendorong generasi muda untuk menempatkan diri secara proposional sebagai bagian dari pranata sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Vygotsky (1978) menekankan bahwa
yang paling penting bukan apa yang lebih dikenali oleh orang lain dibawa dalam interaksi, tetapi apa yang diri anak bawa untuk interaksi, setting budaya dan sejarah lebih luas dalam membentuk interaksi. Personality adalah modal utama dalam membangun relasi sosial dengan orang lain. Sismbol-simbol yang ditunjukkan oleh individu memunculkan distorsi dan menghambat arus komunikasi.
Identitas sosiokultural berpeluangan menciptakan jarakn antara individu. Sikap superioritas menunjukkan setiap individu mencoba mempengaruhi dalam komunikasi interpersonal. Menamipilkan diri dengan apaadanya dan menyampaikan pikiran dan perasaan secara terbuka dan menghargai sistem nilai yang dimiliki orang lain sebagai dimensi dari setting budaya merupakan substansi dalam membentuk interaksi sosial.
Vygotsky melalui teori belajar sosikultural, menekankan bahwa individu belajar dengan batuan orang lain dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Development (ZPD) atau Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Individu dalam perkembangannya membutuhkan orang lain untuk memahami sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapi. Selain itu, intelegensi individu berasal dari masyarakat, lingkungan dan budaya sehingga perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan sosial) intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri). Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memakai informasi-informasi baru.
Nilai sosiokultural memiliki relevansi dengan layanan bimbingan dan konseling karena perkembangan dalam bidang pribadi-sosial menjadi salah satu bidang dalam layanan bimbingan dan konseling yang
menekankan faktor keberterimaan diri peserta didik sebagai bagian integral dari pengaruh kebudayaan yang mengkonstruksi pola sikap dan perilaku peserta didik.
2.2 Memahami Multicultural Competencies Counseling
Konseling multikultural mengacu pada proses konseling yang dimana konselor dan konseli memiliki latar belakan budaya yang berbeda. Perbedaan budaya tidak hanya merujuk pada asal usul daerah semata, namun pola asuh orang tua dalam lingkungan keluarga juga membentuk beberapa dimensi psikologis yang menunjukkan keunikan dari setiap individu. Dalam kondisi demografis tertentu, kesulitan dalam layanan konseling muncul dari perbedaan budaya antara individu yang didominasi dan mendominasi, termasuk superioritas dalam aspek sosiokultural.
Konseling multikultural adalah sumber utama dari keberagaman, telah diakui bahwa konseling adalah pada umumnya secara natural dan semua komunikasi konseling yang terjadi memiliki implikasi multikultural, dengan kata lain tanpa disadari oleh konselor, selama berlansungnya proses konseling telah memuat beberapa aspek multikultural yang tidak terungkap secara eksplisit. Hal ini semakin memperkuat bahwa kebutuhan terhadap kompetensi multikulturalisme dalam konseling profesional adalah kebutuhan yang penting dan diperlukan dalam praktik konseling yang mengedepankan nilai-nilai etika profesi (kode etik), sebagai bagian integral dari kerja profesional konselor.
Berkaitan dengan keterampilan multikultural konselor, Sue and Sue (1990) telah mengorganisasikan sejumlah karakteristik dalam tiga dimensi: pertama, keterampilan multikultural konselor adalah salah satu proses yang secara aktif mengarahkan konselor menjadi sadar terhadap asumsi tentang perilaku individu, nilai, bias, praduga, batasan secara pribadi, dan sebagainya. Konselor diharapkan memahami
pandangan yang dimiliki oleh konselor terkait bagaimana konselor menciptakan kondisi budaya konselor itu sendiri, yang dicerminkan dalam kerja profesional layanan konseling dengan kelompok ras dan etnik minoritas.
Kedua, keterampilan multikultural konselor secara aktif mencoba untuk memahami sudut pandang konselor dalam perspektif budaya dari konseli yang berbeda tanpa penilaian yang negatif. Ini merupakan faktor krusial bagi konselor dalam memahami dan membagi pandangan budaya yang dimiliki dengan menghargai dan mengapresiasi.
Hal ini tidak berarti bahwa konselor harus memegang pandangan yang dimiliki, tetapi dapat menerima konseli dengan pandangan yang benar dalam sudut pandang yang berbeda. Ketiga, keterampilan multikultural konselor yang salah satu prosesnya secara aktif mengembangkan dan mempraktikkan strategi dan keterampilan intervensi yang tepat, relevan, dan sensitif dalam proses konseling dengan konseli yang memiliki perbedaan budaya dengan konselor.
Multikultural tidak berhenti pada keragaman atau perbedaan semata, namun lebih pada bagaimana konselor bersama konseli dapat mengenal, menerima, dan memahami perbedaan yang tidak dapat dipisahkan dalam layanan konseling.
Terselenggaranya layanan konseling yang melibatkan seorang konselor dan seorang/ sejumlah konseli tidak bertujuan untuk menunjukkan adanya perbedaan dan keragaman, tetapi memberikan penghargaan dan apresiasi terhadap terhadap keberagaman yang dimiliki, sehingga konselor tidak mengintervensi konseli berdasarkan nilai dan keyakinannya, dan konseli terus dapat mengembangkan nilai dan keyakinannya ke arah yang positif.
Pedersen (1994) telah merumuskan konsep kerangka kerja untuk mengembangkan kompetensi budaya dan multibudaya yang menurut penulis dapat dinternalisasi oleh konselor sebagai bagian dari Multicultural
Competencies Counseling. Empat komponen kompetensi untuk mengembangkan kompetensi multikultural, yaitu:
2.2.1 Awareness, menekankan pentingnya konselor untuk menguji nilai dan keyakinan diversity-related dalam rangka untuk mengenali setiap praduga dan stereotipe deep-seated yang dapat menciptakan batasan untuk layanan konseling dan pengembangan pribadi.
Diversity education dapat berguna untuk mengungkapkan mereka; yang memiliki
“titik buta” tentang nilai dan keyakinan mereka.
2.2.2 Attitude, pengaruh nilai dan keyakinan dalam efektivitas cross-cultural counseling karena konselor dan konseli dapat menunjukkan sejauh mana sikap keterbukaan terhadap perbedaan pandangan dan pilihan.
2.2.3 Knowledge, pengetahuan terhadap kebudayaan yang dimiliki oleh konseli m e m u n g k i n k a n k o n s e l o r u n t u k menghindari sikap pelecehan terhadap budaya, sehingga konselor dan konselir tetap dihubungkan dalam interaksi cross-cultural.
2.2.4. Skills, konselor yang tidak mempelajari keterampilan atau memiliki sedikit kesempatan untuk mempraktikkan, pengetahuan dan kesadaran yang dimiliki tidak cukup untuk menghindari dan mengelola cross-cultural landmines.
Oleh karena itu, keterampilan merupakan akumulasi dari keseluruhan komponen keterampilan yang harus dimiliki oleh konselor.
Parameter pentingnya Multicultural Competencies Counseling dalam dilihat dari kesimpulan Sue and Sue (1990), menyatakan bahwa tujuan dari karakteristik dan komponen kompentensi multikultural konseling adalah pentingnya konselor yang yang memiliki keterampilan multikultural sebagai “proses aktif” yang berkelanjutan dan proses yang tidak pernah mencapai titik akhir. Secara
implisit, konselor menghargai kompleksitas dan keberagaman dari konseli serta mengakui batasan pribadi dalam memanfang realiats budaya konseli serta kebutuhan untuk selalu mengembangkan diri.
2.3 Implikasi Multicultural Competencies Counseling dalam pengembangan karakter peserta didik
Peran konselor dalam memfasilitasi pembentukan karakter konseli ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu memahami potensi yang dimiliki oleh konseli.
Potensi konselor yang dikembangkan secara optimal, dapat mengarah pada pembentukan karakter konseli. Konselor sebagai role model, dapat memfasilitas perkembangan optimal konseli melalui layanan bimbingan dan konseling. Multicultural Competencies Counseling yang dimiliki oleh konselor dapat memberikan penguatan bagi konseli dalam menunjukkan sikap yang menghargai keberagaman dalam interaksi sosial.
Konselor yang memiliki kompetensi multikultural dapat memfasilitasi dan mentransformasikan penguatan sistem nilai sosiokultural yang mencakup becoming, yaitu proses untuk mengaktualisasikan diri dan being, yaitu proses untuk menemukan kebermaknaan hidup. Konselor juga berperan dalam memfasilitasi konseli beradaptasi dengan lingkungan secara akurat, karena perkembangan konseli pada akhirnya tidak akan lepas dari peranan dirinya dalam lingkungan yang setiap saat berubah, baik secara fisik, psikis, maupun sosial budaya.
Pembentukan karakter dalam layanan bimbingan konseling dapat tercapai ketika konselor mampu menghargai dan mengapresiasi sistem nilai yang dimiliki oleh konseli sebagai bagian dari interaksi budaya. Penghargaan dan apresiasi yang diperikan oleh konselor dapat meningkatkan kebermaknaan diri konseli, sehingga sikap yang mencerminkan keterampilan multikultural dapat diimplementasikan oleh
konseli dalam kehidupan sehari-hari selama berlangsungan interaksi sosial. Konseli yang mamiliki nilai sosiokultural, menempatkan orang lain sebagai agen masyarakat yang memiliki persepsi yang unik dan mereduksi sikap yang dapat menghambat terbentuknya interaksi sosial, yang terdiri dari: praduga, stereotipe, pelecahan budaya, dan lain-lain.
3. SIMPULAN
Multicultural Competencies Counseling a d a l a h k e m a p u a n k o n s e l o r d a l a m menempatkan nilai soiokultural dalam memandang konseli sebagai representasi dari budaya yang dimiliki dan menghargai dinamika psikologis dalam diri konseli serta mengembangka pemahaman diri terhadap kesadaran akan nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh konselor, sehingga mereduksi munculnya prasangka dan stereotipe yang berpotensi menghambat pembentukan karakter peserta didik yang dapat dicapai yaitu konseli yang menghargai dan mempu beradaptasi dengan individu lainnya dalam konteks keberagaman dalam pola sikap dan perilaku.
4. REKOMENDASI
M e n g e m b a n g k a n M u l t i c u l t u r a l Competencies Counseling adalah keharusan bagi konselor, karena Multicultural Competencies Counseling dapat meningkatkan efektifitas dan menciptakan kondisi terapeutik dalam proses konseling. Selain itu, aspek budaya yang terinternalisasi dalam diri konseli melalu proses pendidikan secara nonformal dilingkunga keluarga dan masyarakan telah membentuk pola sikap dan perilaku yang unik, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih kompehensif terhadap aspek subjektif konseli, pemahan komprehensif dapat dicapai oleh konselor ketika memiliki Multicultural Competencies Counseling.
REFERENSI
W. Sue., D. Sue., (1990).Counseling the culturally different: Theory and practice. New York Wiley.
E. R. Padilla, A. Broxley., N. Wagner, (1973). The desegregation of clinical psychology training, pp. 259-263, 4th vol, Professional Psychology.
L. S. Vygotsky. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press.
P. B. Pederson., J. G. Draguns., W. J. Lonner., J. E. Trimble. (2002). Multicultural awareness as a generic competence for counseling, Wiley Online Library.