AKUNTABILITAS KINERJA
A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI
I. Terkendalinya beban pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup dari usaha/kegiatan (SS1)
2. Indeks Kualitas Udara (IKU) 1. Realisasi
a. Sumber Data
Data primer bersumber dari pemantauan langsung kualitas udara ambien dengan metode
passive sampler yang dilakukan melalui kegiatan dekosentrasi Kementerian lingkungan
Hidup dan Kehutanan terhadap 15 (lima belas) Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat yang telah masuk ke dalam Jaringan Nasional Passive Sampler, yaitu Kota Padang, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi, Kota Sawahlunto, Kota Padang Panjang, Kota Pariaman, Kabupaten Solok, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman Barat.
Lokasi titik pantau tersebut mewakili 4 (empat) kondisi di masing-masing Kabupaten/kota, yaitu kawasan pemukiman, kawasan perkantoran, kawasan industri dan kawasan padat lalu lintas.
b. Acuan dan alat
Acuan/alat yang digunakan dalam menetapkan IKU adalah:
- Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara - Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup, tahun
c. Metodologi perhitungan
Untuk pemantauan kualitas udara dengan passive sampler, perhitungan indeks kualitas udara mengadopsi EU Directives, yaitu membandingkan nilai rata-rata tahunan terhadap standar EU Directives, dengan formula :
Indeks Udara IKLH = 100 – 50/0.9 *( (leu – 0,1))
Leu = rata-rata SO2 hasil pemantauan dibagi SO2 Ref EU dan NO2 hasil pemantauan dibagi NO2 Ref EU
Referensi EU untuk kualitas udara adalah sebagai berikut: Pollutan Nilai Limit (µg/m3)
NO2 Rata –rata 40
SO2 Rata-rata 20
Langkah - langkah menghitung IKU adalah sebagai berikut:
1. Menghitung rerata parameter NO2 dan SO2 dari tiap periode pamantauan untuk masing-masing lokasi (titik) sehingga didapat data rerata untuk area transportasi (A), Industri (B), pemukiman/perumahan (C1) dan komersial/perkantoran/perdagangan (C2).
2. Menghitung rerata parameter NO2 dan SO2 untuk masing-masing Kota/kabupaten yang merupakan perhitungan rerata dari ke empat titik pemantauan.
3. Menghitung rerata parameter NO2 dan SO2 untuk provinsi yang merupakan perhitungan rerata dari kota/kabupaten.
4. Angka rerata NO2 dan SO2 provinsi dibandingkan dengan Referensi EU akan didapatkan Indeks Udara Model EU (IEU) atau indeks antara sebelum dinormalisasikan pada indeks IKLH.
5. Indeks Udara Model EU (IEU) dikonversikan menjadi indeks IKLH melalui persamaan: Indeks Udara IKLH = 100 – 50/0.9 *( (leu – 0,1))
6. Kriteria Indeks Udara untuk IKLH ditentukan dalam skala unggul sampai dengan waspada dengan nilai sebagaimana tabel 7 di atas.
7. Selanjutnya tingkat capaian indikator IKU dihitung dengan rumus: Realisasi X 100 %
Target kinerja
2.2. Analisis Capaian Kinerja
a. Perbandingan antara target dan realisasi kinerja tahun 2016
Menggunakan prosedur sebagaimana tersebut di atas, didapatkan nilai IKU Sumatera Barat adalah sebesar 82,90, yang mana nilai ini sudah masuk ke dalam range/kisaran yang ditargetkan (82 < IPU 90) atau 100% dari target. Dengan nilai IKU tersebut kualitas udara di Sumatera Barat termasuk kategori sangat baik.
b. Perbandingan realisasi kinerja dan capaian kinerja tahun 2016 dengan tahun 2015 dan beberapa tahun terakhir
Apabila dibandingkan dengan pemantauan kualitas udara ambien passive sampler tahun 2015, terjadi penurunan pada tahun 2016. Indeks Kualitas Udara Provinsi Sumatera Barat tahun 2015 adalah 88,48 sedangkan tahun 2016, IKU-nya 82,9 atau menurun 6,03%. Hal ini disebabkan antara lain oleh pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang cukup signifikan dibandingkan tahun 2015 dan adanya peningkatan aktifitas kendaraan bermotor di lokasi titik sampel passive sampler. Namun bila ditinjau dari jumlah keikutsertaan Kabupaten/kota dalam Jaringan Passive Sampler Nasional, maka jumlah tahun 2016 lebih banyak daripada tahun 2015. Jumlah kabupaten/kota peserta Jaringan passive sampler tahun 2016 adalah 15 Kabupaten/kota sedangkan tahun 2015 adalah 10 kabupaten/kota atau meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Berikut dapat dilihat pertambahan jumlah Kabupaten/Kota Passive Sampler dan nilai IKU tahun 2015 dan 2016
Grafik 4. Jumlah kabupaten/Kota jaringan Passive Sampler Sumatera Barat
c. Perbandingan realisasi kinerja sampai tahun 2016 dengan target jangka menengah pada dokumen Renstra
Realisasi nilai IKU tahun 2016 yang merupakan tahun pertama dari periode Renstra 2016 – 2021 adalah sebesar 82,90, yang mana angka ini sudah berhasil mencapai target ditetapkan untuk tahun pertama (2016) dalam dokumen Renstra Bapedalda periode 2016 – 2021, yaitu masuk dalam kisaran 82 < IKU < 90. Apabila kecenderungan keberhasilan ini dapat dipertahankan, maka target nilai IKA pada akhir periode Renstra akan dapat dicapai.
d. Perbandingan realisasi kinerja tahun 2016 dengan standar nasional
Perbandingan dilakukan dengan nilai target IKU nasional tahun 2016, dimana target IKU nasional tahun 2016 adalah 81,5 artinya bila dibandingkan dengan standar nasional, kondisi kualitas udara Sumatera Barat masih lebih baik 0,49% dibandingkan dengan target rata-rata nasional.
e. Analisis penyebab keberhasilan serta alternatif solusi yang telah dilakukan Capaian indikator Indeks Kualitas Udara sebesar 100% termasuk berhasil dengan kategori sangat baik. Keberhasilan ini dicapai melalui upaya:
- Pelaksanaan pemantauan yang dilakukan secara rutin tiap tahun, dalam bentuk pembinaan oleh Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota.
- Melakukan pemantauan rutin dengan frekuensi 2 kali dalam setahun agar data lebih akurat oleh kabupaten/kota
- Menciptakan program-program yang dapat mengurangi pencemaran udara seperti memberlakukan Car Free Day, penggunaan moda angkutan umum yang lebih terarah, dan penanaman pohon-pohon yang lebih banyak.
- Pengawasan terhadap sumber-sumber pencemar.
- Upaya pengendalian pencemaran udara melalui pembinaan monitoring kepada masing-masing kabupaten/kota.
Disamping upaya-upaya tersebut, terdapat 2 (dua) faktor penyebab kualitas udara Sumatera Barat masih terkategori sangat baik yaitu:
- Sumber pencemar masih sedikit dibandingkan daya serap lingkungan
- Ruang terbuka hijau dan hutan masih baik untuk menyerap sumber pencemaran. f. Analisis efisiensi penggunaan sumber daya
Pada tahun 2016, dalam rangka pencapaian target indikator IKU telah dialokasikan anggaran sebesar Rp. 69.572.000, terealisasi 69.119.100 (APBN) atau 99,35% dan di APBD sebesar Rp. 953.080.000,-, terealisasi sebesar 937.385.445,- atau 98,35%. g. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan
Terdapat beberapa kegiatan yang menunjang keberhasilan pencapaian kinerja pemantauan kualitas udara ambien antara lain:
1. Kegiatan Utama
Pemantauan Kualitas udara Passive Sampler (APBN) Pemantauan Kualitas Udara Ambien
2. Kegiatan Pendukung
Monev dan Pelaporan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi GRK Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan
Program Penilaian Kinerja Perusahaan
Program Penilaian Peringkat Kinerja Lingkungan Kegiatan Adipura
Gerakan Sumatera Barat Bersih
Peningkatan Koordinasi Keanekaragaman Hayati
Dengan tercapainya target indikator kualitas udara yang ditetapkan pada tahun 2016, maka kegiatan yang dilaksanakan telah sesuai untuk memenuhi target/sasaran. hanya saja salah satu kegiatan penunjang utama masih bersumber dari APBN, karena metode pemantauan kualitas udara untuk menghasilkan data nilai IKU hanya ada di kegiatan
passive sampler (APBN). Adapun data hasil kegiatan pemantauan kualitas udara ambien
yang bersumber dari APBD hanya sebagai pembanding.
Namun perlu ditambahkan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan Pemantauan Kualitas Udara Ambien disamping pengambilan sampel udara dan analisa laboratorium serta pengiriman hasil dan saran pengendalian pencemaran udara melalui surat tindak lanjut (follow up) juga perlu didukung oleh aksi kabupaten/kota dan OPD terkait untuk melakukan upaya pengendalian pencemaran udara seperti menambah tutupan vegetasi dan ruang terbuka hijau, penertiban kendaraan bermotor yang tidak laik (dari segi emisi gas buang), sosialisasi pengendalian pencemaran udara, himbauan tidak melakukan pembakaran sampah dan lain sebagainya.
Selain program-program yang ada di Bapedalda Provinsi Sumatera Barat, diperlukan juga sinergi program-program terkait lainnya yang ada di Satuan Kerja Perangkat Daerah (OPD) yang lain, seperti Dinas Kehutanan, Dinas Perhubungan, Bappeda dan lain sebagainya untuk mendukung perbaikan atau minimal mempertahankan kualitas udara Provinsi Sumatera Barat.
II. Ditaatinya mekanisme, implementasi izin lingkungan dan Kajian Lingkungan