TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.7. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Pembangunan merupakan suatu kegiatan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai aspek kehidupan yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dengan memanfaatkan dan memperhitungkan kemampuan sumber daya, informasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan perkembangan sosial (Bappenas dalam Melliana dan Zain, 2013:237). Pembangunan merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera.
ICK Pengambil Kebijakan (Lamp I) 13 Aspek 35 Fokus 43/44 IKK Pelaksana Kebijakan 9 Aspek 8 Umum/ Generik (Lamp II) 26 UW/8 UP 21 IKK 1 TCK/SPM (Lamp III) UW 79 /78 IKK UP 15 IKK IKM PP 3/2007 26 UW/8 UP TP&TUP
Dengan adanya perubahan penyelenggaraan pemerintahan yang dulu sentralisasi menjadi desentralisasi sejak tahun 1999, maka pemerintah daerah harus berupaya untuk menetapkan kebijakan pengganggaran dengan menyediakan sumber-sumber pendapatan dan mengarahkan penggunaanya untuk pengeluaran dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat. Hoffman dan Gibson (2005) telah melakukan penelitian terkait sumber pendapatan dan pengaruhnya terhadap pengeluaran pemerintah daerah yang diterbitkan oleh University of California, San Diego yang berjudul Fiscal Governance and Public Services: Evidence from Tanzania and Zambia. Hoffman dan Gibson menyatakan bahwa: “using data from local government budgets in Tanzania and Zambia, we find that local government in both countries produce more public services as their budget’s share of local taxes increases”.
Pernyataan tersebut berarti pemerintah daerah di negara Tanzania dan Zambia akan meningkatkan pelayanan publik seiring dengan peningkatan pendapatan pajak daerah. Selanjutnya masih menurut Hoffman dan Gibson, sumber dana dari eksternal (pemerintah pusat maupun lainnya) akan mendorong pemerintah kabupaten untuk menggunakan pendapatan asli daerah untuk konsumsi. Penelitian lain oleh Rully Prassetya (2013), dalam penelitiannya yang berjudul Fiscal Decentralization, Governnance, and Development: The Case of Indonesia, menyatakan bahwa desentralisasi fiskal dimaksudkan untuk meningkatkan pembangunan secara langsung. Penelitian yang dilakukan terhadap 33 provinsi di Indonesia selama lima tahun (2007-2011) tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa fiscal transfer (dana perimbangan) dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah telah tumbuh terus sejak 2005, dan rata-rata meningkat 17%. Hal
ini berarti bahwa desentralisasi fiskal telah dikembangkan dan tumbuh di Indonesia. Secara teori, desentralisasi fiskal akan meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan secara keseluruhan, karena akan mendorong pemerintah untuk lebih akuntabel dan menerima partisipasi yang lebih besar dari publik. Akhirnya hal tersebut akan memberikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi kepada daerah baik provinsi maupun kabupaten. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal mempunyai pengaruh yang positif untuk pembangunan di pemerintah daerah yang diukur dari tingkat kemiskinan, Human Development Index
(HDI), rata-rata lulusan sekolah tinggi, angka kematian per 100-kelahiran dan
Regional Gross Domestic Product (RGDP).
Dari uraian tersebut di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa salah satu indikator penting yang dapat digunakan untuk mengukur hasil pembangunan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) (Melliana dan Zain, 2013:237). Indeks Pembangunan Manusia merupakan indeks komposit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam tiga hal mendasar pembangunan manusia, yaitu: (1) lamanya hidup yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir; (2) tingkat pendidikan, yang diukur dengan kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa (dengan bobot dua per tiga) dan rata-rata lama sekolah (dengan bobot sepertiga); dan (3) tingkat kehidupan yang layak, diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan (PPP Rupiah) (Mirza, 2012:4).
Indeks pembangunan manusia merupakan salah satu alat ukur yang dapat digunakan untuk menilai kualitas pembangunan manusia, baik dari sisi dampaknya terhadap kondisi fisik manusia (kesehatan dan kesejahteraan) maupun yang bersifat non-fisik (pendidikan). Pembangunan yang berdampak pada kondisi fisik
masyarakat misalnya tercermin dalam angka harapan hidup serta kemampuan daya beli masyarakat, sedangkan dampak non-fisik dapat dilihat dari kualitas pendidikan masyarakat.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup. Indeks Pembangunan Manusia ini ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel India Amartya Sen dan Mahbub ul Haq seorang ekonom Pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dan sejak itu dipakai oleh Program Pembangunan PBB pada laporan HDI tahunannya. Digambarkan sebagai "pengukuran vulgar" oleh Amartya Sen karena batasannya, indeks ini lebih fokus pada hal-hal yang lebih sensitif dan berguna daripada hanya sekedar pendapatan perkapita yang selama ini digunakan, dan indeks ini juga berguna sebagai jembatan bagi peneliti yang serius untuk mengetahui hal-hal yang lebih terinci dalam membuat laporan pembangunan manusianya.
Human Development Index (HDI) mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia yaitu:
a. Hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran.
b. Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar, menengah, atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga).
c. Standard kehidupan yang layak diukur dengan GDP per kapita gross domestic product/produk domestik bruto dalam paritas kekuatan beli purchasing power parity dalam Dollar AS.
Secara umum metode penghitungan IPM yang digunakan di Indonesia sama dengan metode penghitungan yang digunakan oleh UNDP. IPM di Indonesia disusun berdasarkan tiga komponen indeks yaitu: 1) Indeks angka harapan hidup; 2) Indeks pendidikan, yang diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah (rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang dijalani) dan angka melek huruf latin atau lainnya terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun atau lebih); 3) Indeks standar hidup layak, yang diukur dengan pengeluaran per kapita (PPP/Purchasing Power Parity/Paritas daya beli dalam rupiah). IPM merupakan rata-rata dari ketiga komponen tersebut, dengan rumus :
IPM=(X1+X2+X3)/3 Dimana :
X1= angka harapan hidup X2= tingkat pendidikan X3= tingkat kehidupan layak
Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih nilai suatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai
maksimum dari nilai indikator yang bersangkutan. Rumusannya dapat disajikan sebagai berikut:
1. Indeks harapan hidup :
X1 =[(eo-25)/(85-25)] x 100 Dimana :
X1 = indeks harapan hidup eo = angka harapan hidup
25 = angka minimum harapan hidup (UNDP) 85 = angka maksimum harapan hidup (UNDP) 2. Indeks pendidikan :
X2 = [2/3[(Lit-0)/(100-0)] + 1/3[(MYS-0)/(15-0)]]x100 Dimana :
X2 = indeks pendidikan Lit = angka melek huruf MYS = lama sekolah
0 = angka minimum baik untuk lit maupun MYS 100 = angka maksimum lit (melek huruf)
15 = angka maksimum untuk MYS (lama sekolah) 3. Indeks standar hidup layak :
X3 = [(PPP-300,00)/(732,7-300,00)]x100
PPP = nilai konsumsi riil per kapita yang disesuaikan 300,00 = nilai standar minimal (standar UNDP)
Tabel 2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM
Indikator IPM Nilai
Minimum
Nilai Maksimum Keterangan
Angka Harapan Hidup 25 85 Berdasarkan standar global (UNDP)
Angka Melek Huruf 0 100 Berdasarkan standar global (UNDP)
Rata-rata lama sekolah 0 15 Berdasarkan standar global (UNDP)
Konsumsi per kapita yang disesuaikan 300.000 732.720 PDB per kapita riil yang disesuaikan
Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Tahun 2001
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sumatera Utara secara umum selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2012 berada pada posisi 75,13 atau meningkat sebesar 0,64% dari tahun 2011 sebesar 74,65. Posisi tahun 2011 tersebut meningkat sebesar 0,62% dari tahun 2010 yang berada pada posisi 74,19. Demikian juga tahun 2010 meningkat 0,53% dari posisi tahun 2009 73,8. Sedangkan berdasarkan kategori, seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara termasuk berada pada IPM kategori sedang (50-80).
Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada Kabupaten dan Kota yang ada di wilayah Sumatera Utara untuk tahun 2009-2012 dapat dilihat pada lampiran 2.1.
Untuk kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara, peringkat IPM tahun 2012 terbaik diraih oleh Kota Pematang Siantar dengan IPM sebesar 78,27 dan terendah berada pada kabupaten pemekaran yaitu Nias Barat dengan nilai 67,59. Kondisi ini sama dengan keadaan IPM kabupaten dan kota di wilayah Sumatera Utara untuk tahun 2011, dimana Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Nias Barat menduduki peringkat pertama dan terakhir.