TINJAUAN PUSTAKA
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang dan landasan teori dapat dibuat kerangka konseptual yang akan diteliti seperti yang terlihat dalam Gambar 3.1. Dari Gambar 3.1. tersebut dapat dilihat pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasi (DBH), Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan Belanja Pelayanan Dasar (BPD) sebagai moderating variabel baik secara parsial dan simultan.
Variabel Moderating
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual DAK DAU PAD IPM DBH BKP BPD
Berdasarkan penjelasan literatur, peneliti membentuk kerangka konseptual yang menggambarkan hubungan secara simultan dan parsial antara variabel independen, moderating dan dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) . Variabel moderating dalam penelitian ini adalah Belanja Pelayanan Dasar (BPD), sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
1. Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Setiap daerah mempunyai kemampuan yang tidak sama dalam mendanai kegiatan-kegiatannya, hal ini menimbulkan ketimpangan fiskal antara daerah satu dengan daerah lainnya. Oleh karena itu menurut Setyowati dan Suparwati (2012: 119), untuk mengatasi ketimpangan fiskal ini pemerintah mengalokasikan dana yang bersumber dari APBN untuk mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Salah satu dana perimbangan dari pemerintah ini adalah Dana Alokasi Umum (DAU) yang pengalokasiannya menekankan aspek pemerataan dan keadilan yang selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintah (UU No.32/2004).
Penggunaan dana alokasi umum ini diharapkan untuk keperluan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat yang merupakan tuntutan dari otonomi daerah. Jika kondisi masyarakat menjadi lebih baik maka pembangunan manusia akan berhasil. Jadi bukan hanya alokasi tinggi bagi kemajuan daerah yang dilihat dari kekayaan, melainkan juga pengalokasian dana yang lebih tinggi bagi belanja untuk peningkatan kesejahteraan.
2. Pengaruh Dana Alokasi Khusus Terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan dalam APBN untuk daerah-daerah tertentu dalam rangka mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan termasuk dalam prioritas nasional. Daerah dapat menerima DAK apabila memenuhi tiga kriteria, yakni 1) kriteria umum berdasarkan Indeks Fiskal
Netto; 2) kriteria khusus berdasarkan peraturan perundangan dan karakteristik daerah dan 3) kriteria teknis berdasarkan Indeks Teknis bidang terkait (UU No. 32/2004 dan UU No. 33/2004) (Setyowati dan Suparwati, 2012:120).
Penggunaan DAK pada dasarnya merupakan kewenangan Pemerintah Daerah karena DAK merupakan bagian dari APBD. Meskipun demikian, dengan alasan agar penggunaan DAK oleh pemerintah daerah sesuai dengan kepentingan nasional, Pemerintah Pusat mengatur penggunaan DAK melalui berbagai regulasi, seperti peraturan menteri keuangan dan peraturan menteri teknis berupa petunjuk teknis. Sejak pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah pada tahun 2001, cakupan sektor bidang atau kegiatan yang dibiayai oleh DAK bertambah banyak. Pada tahun 2007 penggunaan DAK telah meliputi tujuh bidang pelayanan pemerintahan, yakni pendidikan, kesehatan, pertanian, pekerjaan umum (jalan, irigasi, dan air bersih), prasarana pemerintahan, kelautan dan perikanan, serta lingkungan hidup. Jadi APBN mengalokasikan DAK untuk membiayai pelayanan publik tertentu yang disediakan oleh pemerintah kabupaten/kota. Tujuannya adalah untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik antar daerah. Selain berperan dalam menunjang penerimaan daerah, DAK juga berperan cukup penting dalam meningkatkan kapasitas belanja modal pemerintah daerah dengan
kecenderungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun (Usman, dkk, 2008). Jadi hal ini mampu mendorong pemda agar dapat meningkatkan kualitas pembangunan manusia melalui pengalokasian anggaran belanja modal yang secara otomatis berorientasi pada kesejahteraan publik, hal ini disebabkan jika DAK dikelola dengan baik dapar memperbaiki mutu pendidikan, meningkatkan pelayanan kesehatan, dan paling tidak mengurangi kerusakan infrastruktur (Setyowati dan Suparwati, 2012:121).
3. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Desentralisasi tidak dapat dilepaskan dari isu kapasitas keuangan daerah, dimana kemandirian daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan diukur dari kemampuan menggali dan mengelola keuangannya. Secara konseptual, desentralisasi fiskal mensyaratkan bahwa setiap kewenangan yang diberikan kepada daerah harus disertai dengan pembiayaan yang besarnya sesuai dengan besarnya beban kewenangan tersebut. Konsep ini dikenal dengan money follow function, bukan lagi function follow money. Artinya, pemerintah pusat berkewajiban menjamin sumber keuangan terkait dengan pendelegasian wewenang dari pusat ke daerah. Hal ini berarti bahwa hubungan keuangan pusat-daerah perlu diberikan pengaturan sedemikian rupa sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi tanggung jawab daerah dapat dibiayai dari sumber penerimaan yang ada. Berdasarkan UU No. 33/2004, sumber-sumber pendanaan keuangan daerah terdiri atas pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah.
Pelaksanaan desentralisasi fiskal membawa reaksi yang berbeda-beda bagi daerah. Pemerintah daerah yang memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah menyambut otonomi daerah dengan penuh harapan, sebaliknya daerah yang miskin sumber daya alam menanggapi dengan hati-hati dan rasa khawatir. Hal tersebut terkait dengan seberapa besar pendapatan asli daerah (PAD) yang dapat diperoleh dari SDA yang dimiliki daerah sebagai sumber pendanaan. Melalui desentralisasi fiskal, pemerintah daerah diharapkan lebih mampu menggali sumber-sumber keuangan khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya melalui pendapatan asli daerah (PAD). PAD merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi daerah yang dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha daerah (BUMD), dan lain-lain PAD yang sah.
Konteks otonomi daerah, PAD sebagai pengukur pendapatan sendiri daerah sangat diharapkan sebagai sumber pembiayaan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat (Abdullah dan Solichin, 2006). PAD setidaknya dapat digunakan untuk pembangunan jalan yang bersumber dari pajak kendaraan bermotor dan pajak bahan bakar, disamping itu pembangunan fasilitas kesehatan dapat bersumber dari retribusi pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah daerah. Jadi dalam hal ini dimensi umur panjang dan sehat dalam Indeks Pembangunan Manusia dapat tercapai dengan pembangunan fasilitas kesehatan.
4. Pengaruh Dana Bagi Hasil Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Pemerintah dalam perkembangannya memberikan dana perimbangan untuk mengatasi persoalan ketimpangan fiskal dan adanya kebutuhan pendanaan
daerah yang cukup besar tersebut dan salah satu komponen dana adalah Dana Bagi Hasil (DBH). DBH dialokasikan dalam APBN untuk daerah-daerah tertentu dalam mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan termasuk dalam program prioritas nasional.
Dalam beberapa tahun berjalan, proporsi DBH terhadap penerimaan daerah masih cukup tinggi dibanding dengan penerimaaan daerah lainya. Hal ini menunjukkan masih tingginya ketergantungan pemerintah daerah terhadap alokasi dana dari pemerintah pusat. Namun demikian, dalam jangka panjang, ketergantungan seperti ini harus lebih kecil. Berbagai investasi yang dilakukan pemerintah daerah diharapkan memberikan hasil yang positif.
5. Pengaruh BKP Terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus mendukung tercapainya sasaran utama dan prioritas pembangunan nasional yang ditetapkan setiap tahunnya. Keberhasilan pencapaian sasaran utama dan prioritas pembangunan nasional sangat tergantung kepada sinkronisasi kebijakan antara pemerintah provinsi dengan pemerintah dan antara pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah dan pemerintah provinsi yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) setiap tahunnya sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing daerah.
Sinkronisasi kebijakan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/ kota diwujudkan dalam penyusunan rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang disepakati bersama antara pemerintah daerah dan DPRD sebagai dasar dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD.
Selain menerima dana perimbangan dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota juga menerima perimbangan dari pemerintah provinsi antara lain berupa pendapatan daerah yang bersumber dari bantuan keuangan, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus yang dulu sering dikenal dengan istilah dana bantuan daerah bawahan (DBDB).
Peran bantuan keuangan dari pemerintah provinsi dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia juga dapat berpengaruh melalui realisasi belanja daerah dalam pelayanan publik. Peran pemerintah dalam kebijakan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal didasarkan pada pertimbangan bahwa daerahlah yang lebih mengetahui kebutuhan dan standar pelayanan bagi masyarakat di daerahnya, sehingga pemberian otonomi daerah diharapkan dapat memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi daerah dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh pembangunan manusia. Pada hakekatnya pembangunan adalah pembangunan manusia, sehingga perlu diprioritaskan alokasi belanja untuk keperluan ini dalam penyusunan anggaran (Suyanto dalam Christy et al, 2009). Melihat fenomena di atas, pembangunan manusia atau peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting dalam strategi kebijakan pembangunan nasional. Penekanan terhadap pentingnya peningkatan sumber daya manusia dalam pembangunan menjadi suatu kebutuhan karena kualitas manusia di suatu wilayah memiliki andil besar dalam menentukan keberhasilan pengelolaan pembangunan wilayahnya.
6. Pengaruh Belanja Pelayanan Dasar (BPD) Terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan yang dilakukan pemerintah. Artinya, jika pemerintah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, maka pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah dalam melaksanakan kebijakannya tersebut.
Peran pemerintah dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia dapat diwujudkan melalui realisasi belanja negara dalam pelayanan publik. Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan jaminan sosial dengan mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolak ukur kinerja dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hal tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia terkait dengan penyusunan APBD yang diterbitkan setiap tahun oleh Kementerian Dalam Negeri.
Strategi dalam mewujudkan pembangunan manusia bukan seperti strategi pembangunan secara umum, tetapi strategi ini harus dilihat pada anggaran pembangunan yang akan diimplementasikan. Anggaran pembangunan yang dimaksud harus menunjukkan keberpihakan kepada sektor-sektor yang secara umum langsung menyentuh pembangunan manusia, yaitu pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Percepatan akselerasi pembangunan manusia bisa dilakukan, jika didukung dengan realisasi anggaran yang memadai untuk membiayai pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Semakin besar porsi yang dikeluarkan untuk membiayai hal tersebut, maka semakin cepat pula akselerasi pembangunan manusianya. Realisasi anggaran tersebut tercermin dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang telah dituangkan dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) setiap tahunnya untuk mencapai sasaran yang telah ditargetkan dalam bentuk tolok ukur output (keluaran) maupun outcome (hasil). Indikator capaian kinerja (ICK) pada tataran pengembilan kebijakan maupun pelaksanaan kebijakan pada 9 (Sembilan) urusan pemerintahan yang menjadi urusan dasar diharapkan mampu untuk mengukur keberhasilan pembangunan manusia.
3.2 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan teoritis, tinjauan penelitian terdahulu dan kerangka konseptual, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
1. DAU, DAK, PAD, DBH, BKP berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara simultan.
2. Belanja Pelayanan Dasar (BPD) memperkuat hubungan pengaruh variabel DAU, DAK, PAD, DBH, BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).