• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH) Dan Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) Terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Dengan Belanja Pelayanan Dasar Sebagai Moderating Variabel (Stud

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH) Dan Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) Terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Dengan Belanja Pelayanan Dasar Sebagai Moderating Variabel (Stud"

Copied!
181
0
0

Teks penuh

(1)

PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) DENGAN BELANJA PELAYANAN DASAR SEBAGAI

MODERATING VARIABEL

(Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara)

TESIS

OLEH :

ATANASIUS WIDARWANTO 097017078 / AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) DENGAN BELANJA PELAYANAN DASAR SEBAGAI

MODERATING VARIABEL

(Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara)

TESIS

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Magister Akuntansi

Universitas Sumatera Utara

OLEH :

ATANASIUSWIDARWANTO 097017078 / AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Dengan Belanja Pelayanan Dasar Sebagai Moderating Variabel (Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara)

Nama Mahasiswa : Atanasius Widarwanto Nomor Induk : 097017078

Program Studi : Akuntansi

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak) Ketua

(Drs. Idhar Yahya, MBA, Ak) (Anggota)

Ketua Program Studi,

(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, Ak.)

Dekan

Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac, Ak., CA

(4)

PANITIA PENGUJI TESIS :

Ketua : Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak. Anggota : 1. Drs. Idhar Yahya, MBA, Ak.

2. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS, MBA, CPA, Ak. 3. Prof. Dr. Ramli, MS

(5)

Judul Tesis

PENGARUH DANA ALOKASI UMUM (DAU), DANA ALOKASI KHUSUS (DAK), PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA BAGI HASIL (DBH) DAN

BANTUAN KEUANGAN PROVINSI (BKP) TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) DENGAN BELANJA

PELAYANAN DASAR SEBAGAI MODERATING VARIABEL

(Studi Empiris Pada Pemerintah Kabupaten/Kota Se-Sumatera Utara)

Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 29 Januari 2015

Penulis,

(6)

BELANJA PELAYANAN DASAR (BPD) SEBAGAI MODERATING VARIABEL.

(Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara) ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah untuk menganalisis pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara parsial maupun simultan. Selain itu penelitian ini menganalisis pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan BPD sebagai moderating variabel.Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, pengujian metode Generalized Linier Regression dengan analisis regresi pooled data panel fixed effect method dengan melakukan uji asumsi klasik sebelum mendapatkan model penelitian yang terbaik. Variabel dalam penelitian ini adalah DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP sebagai variabel independen, BPD sebagai moderating variabel dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai variabel dependen. Jumlah sampel 30 Pemerintah Kabupaten/Kota dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Hasil riset ini menunjukkan secara simultan menunjukkan variabel DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP berpengaruh terhadap IPM. Secara parsial DAK dan BKP tidak berpengaruh terhadap IPM. Hal ini sejalan dengan penelitian Setyowati dan Suparwati (2012) bahwa Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (PABM). Selain itu juga penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel Belanja Pelayanan Dasar (BPD) berperan sebagai moderating variabel turut memperkuat dan memperlemah hubungan antara varaibel DAU, DAK, PAD, DBH, DBDB terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(7)

(HUMAN DEVELOPMENT INDEX) WITH BPD (BASIC SERVICE EXPENDITURES AS MODERATING

VARIABLE

(An Empirical Study at District/Town Administrations of North Sumatera)

ABSTRACT

The objective of the study was to analyze the influence of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP on IPM partially and simultaneously. Besides that, the research analyzed the influence of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP on IPM with BPD as moderating variable. The data were analyzed quantitatively by using generalized linear regression analysis, pooled data panel fixed effect method, and classic assumption test before the best research model was obtained. Independent variables were DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP, while BPD was moderating variable and IPM was dependent variable. The samples consisted of 30 District/Town Administrations in the period of 2009-2012. The result of the research showed that, simultaneously, the variables of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP influenced IPM; partially, DAK and BKP did not have any influence on IPM. This was in line with the result of the research conducted by Setyowati and Suparwati (2012) which pointed out that DAU, DAK, and PAD had positive influence on IPM through PABM (Allocation of Capital Expenditures). It was also concluded that BPD played its role as moderating variable in strengthening and weakening the correlation of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP with IPM.

(8)

yang telah menyertai dan memberikan kesehatan dan kesempatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Tesis ini berisi penelitian mengenai bagaimana pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH), Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) terhadap IPM dengan Belanja Pelayanan Dasar (BPD) Sebagai Moderating Variabel. Hasil analisis dan pengujian hipotesis akan dijabarkan dalam tesis ini. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga memerlukan perbaikan berupa kritik dan saran yang membangun.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa segala yang dilakukan dalam penyusunan tesis ini tidak akan terlaksana dengan baik tanpa adanya bantuan dan bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM & H.,M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Azhar Maksum, M.Ec, Ac, Ak, CA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc, selaku Direktur Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

(9)

5. Ibu Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D,Ak, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada penulis dalam proses penelitian dan penulisan tesis ini.

6. Bapak Drs. Idhar Yahya, MBA,Ak, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada penulis dalam proses penelitian dan penulisan tesis ini.

7. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si, Ak, CA selaku Sekretaris Program Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara sekaligus dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan untuk perbaikan tesis ini

8. Bapak Prof. Dr. Ramli, MS selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran dan kritik untuk perbaikan hingga penyelesaian tesis ini.

9. Seluruh staf pengajar Program Magister Akuntansi Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara atas segala ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan, dan seluruh staf administrasi Program Magister Akuntansi Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

(10)

11. Kedua orang tua dan mertua penulis yang telah memberikan dorongan semangat serta doa kepada penulis.

12. Teman-teman di Program Magister Akuntansi Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, yang penuh dengan rasa kekeluargaan dan persahabatan dalam memberi sumbangan pikiran selama perkuliahan.

Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan berkat dan karunia-Nya, dan apa yang penulis lakukan ini mendapatkan restu-Nya serta berguna bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Medan, 29 Januari 2015 Penulis

(11)

1. NAMA : ATANASIUS WIDARWANTO 2. TEMPAT/TGL LAHIR : KULON PROGO, YOGYAKARTA

02 MEI 1974

3. AGAMA : KATHOLIK

4. ORANG TUA

a. AYAH : A. WARTOWIYONO

b. IBU : A. SIAMI

5. ALAMAT : JL. KAPAS RAYA NO 13 PERUMNAS SIMALINGKAR, MEDAN

6. PENDIDIKAN

a. SD : SD PL II BORO, YOGYAKARTA

b. SMP : SMP PL I BORO, YOGYAKARTA c. SMU : SMA NEGERI 3 (PADMANABA)

YOGYAKARTA

d. DIPLOMA III : SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA (STAN)

e. DIPLOMA IV : SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA (STAN)

7. PENDIDIKAN PROFESI

a. AUDITOR AHLI PERWAKILAN BPKP PROVINSI SUMATERA UTARA

(12)

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 12

1.3. Tujuan Penelitian ... 12

1.4. Manfaat Penelitian ... 12

1.5. Originalitas ... 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 16

2.1 Landasan Teori... ... 16

2.1.1 Dana Alokasi Umum (DAU) ... 16

2.1.2 Dana Alokasi Khusus (DAK) ... 17

2.1.3 Pendapatan Asli Daerah (PAD) ... 18

2.1.4 Dana Bagi Hasil (DBH) ... 19

(13)

2.2 Review Peneliti Terdahulu ... 31

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS ... 39

3.1 Kerangka Konseptual ... 39

3.2 Hipotesis Penelitian ... 47

BAB IV METODE PENELITIAN ... 48

4.1 Jenis Penelitian ... 48

4.2 Lokasi Penelitian ... 48

4.3 Populasi dan Sampel ... 49

4.4 Metode Pengumpulan Data ... 50

4.5 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 51

4.6 Model dan Teknik Analisis Penelitian ... 54

4.6.1 Perumusan Model ... 54

4.6.2 Pengujian Asumsi Klasik ... 58

4.6.2.1 Uji Normalitas ... 58

4.6.2.2 Uji Multikolinieritas ... 59

4.6.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 60

4.6.2.4 Uji Autokorelasi ... 60

4.6.3 Pengujian Hipotesis ... 61

4.6.3.1 Uji Simultan (Uji F) ... 63

4.6.3.2 Uji Parsial (Uji t) ... 63

(14)

5.1.1 Diskripsi Data Penelitian ... 66

5.1.2 Uji Asumsi Klasik ... 71

5.1.2.1 Pengujian Normalitas Data ... 71

5.1.2.2 Pengujian Multikolinieritas ... 73

5.1.2.3 Pengujian Autokorelasi ... 76

5.1.2.4 Pengujian Heterokedastisitas ... 79

5.1.2.5 Pengujian Normalitas Data Setelah Transformasi .. 82

5.1.2.6 Pengujian Multikolinieritas Setelah Transformasi .. 83

5.1.2.7 Pengujian Autokorelasi Setelah Transformasi ... 85

5.1.2.8 Pengujian Heterokedastisitas Setelah Transformasi ... 90

5.1.3 Pemilihan Estimasi Model Regresi Data Panel ... 92

5.1.3.1 Uji Chow ... 93

5.1.3.2 UJi Hausman ... 97

5.1.3.3 Hasil Estimasi Model Regresi Data Panel ... 99

5.1.4 Pengujian Hipotesis ... 104

5.1.4.1 Uji Statistik F ... 104

5.1.4.2 Uji Statistik t ... 105

5.1.4.3 Koefisien Determinasi ... 113

5.1.4.4 Uji Residual Variabel Moderating ... 114

(15)

5.2.3 Pengaruh PAD terhadap IPM ... 125

5.2.4 Pengaruh DBH terhadap IPM ... 125

5.2.5 Pengaruh BKP terhadap IPM ... 126

5.2.6 Pengaruh BPD terhadap IPM ... 126

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 128

6.1 Kesimpulan .. ... 128

6.2 Keterbatasan Penelitian ... 129

6.3 Saran ... 129

(16)

Nomor Judul Halaman

1.1 Perbandingan Peneliti dengan Peneliti Terdahulu ... 15

2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM ... 31

2.2 Review Penelitian Terdahulu ... 37

4.1 Definisi Operasional Variabel ... 53

5.1 Statistik Deskriptif ... 67

5.2 Hasil Pengujian Normalitas ... 72

5.3 Hasil Regresi Dengan Pooled Least Square ... 74

5.4 Hasil Estimasi Nilai R-Squared (R2), VIF dan TOL ... 76

5.5 Hasil Regresi CEM ... 76

5.6 Hasil Regresi FEM ... 77

5.7 Hasil Regresi REM ... 78

5.8 Hasil Pengujian Heterokekastisitas Uji Park... 79

5.9 Hasil Pengujian Heterokekastisitas Uji Glejser ... 80

5.10 Hasil Pengujian Normalitas Data Setelah Transformasi ... 82

5.11 Hasil Regresi Dengan Pooled Least Square Setelah Transformasi ... 83

5.12 Hasil Estimasi Nilai R-Squared (R2), VIF dan TOL Setelah Transformasi ... 85

(17)

5.16 Hasil Regresi FEM Pooled EGLS Setelah Transformasi ... 89

5.17 Hasil Pengujian Heteroskedastisitas Setelah Transformasi Uji Park ... 90

5.18 Hasil Pengujian Heteroskedastisitas Setelah Transformasi Uji Glesjer ... . 91

5.19 Chow test/likehood Ratio Test ... 94

5.20 Estimasi Regresi Data Panel Common Effect Model (CEM) ... 95

5.21 Estimasi Regresi Data Penel Fixed Effect Model (FEM) ... 97

5.22 Correlated Random Effet-Hausman Test ... 98

5.24 Estimasi Model Regresi Data Panel Statis ... 100

5.25 Estimasi Model Regresi Data Panel ADL ... 102

5.26 Perhitungan Respon Jangka Panjang (Λ) ... 103

5.27 Uji t Model Statis ... 105

5.28 Uji t Model Dinamis ... 109

5.29 Hasil Regresi Data Panel Variabel BPD dengan FEM ... 115

(18)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman 1.1 IPM Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009-2012 ... 6 1.2 Perkembangan DAU, DAK, PAD, dan DBH Provinsi Sumatera

Utara Tahun 2009-2012 ... 10 2.1 indikator capaian kinerja berdasarkan aspek fokus dan

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman 1 Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten/Kota di Sumatera

Utara ... 134

2 Aspek, Fokus dan Indikator Kinerja Kunci EKPOD ... 135

4.1 Tabel Waktu Penelitian ... 137

4.2. Sampel Penelitian ... 138

5.1 Data Observasi……… ... 139

5.2 Hasil Pengolahan Data Dengan Eviews ……… .... 144

(20)

BELANJA PELAYANAN DASAR (BPD) SEBAGAI MODERATING VARIABEL.

(Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara) ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah untuk menganalisis pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara parsial maupun simultan. Selain itu penelitian ini menganalisis pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan BPD sebagai moderating variabel.Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, pengujian metode Generalized Linier Regression dengan analisis regresi pooled data panel fixed effect method dengan melakukan uji asumsi klasik sebelum mendapatkan model penelitian yang terbaik. Variabel dalam penelitian ini adalah DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP sebagai variabel independen, BPD sebagai moderating variabel dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai variabel dependen. Jumlah sampel 30 Pemerintah Kabupaten/Kota dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Hasil riset ini menunjukkan secara simultan menunjukkan variabel DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP berpengaruh terhadap IPM. Secara parsial DAK dan BKP tidak berpengaruh terhadap IPM. Hal ini sejalan dengan penelitian Setyowati dan Suparwati (2012) bahwa Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (PABM). Selain itu juga penelitian ini menyimpulkan bahwa variabel Belanja Pelayanan Dasar (BPD) berperan sebagai moderating variabel turut memperkuat dan memperlemah hubungan antara varaibel DAU, DAK, PAD, DBH, DBDB terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(21)

(HUMAN DEVELOPMENT INDEX) WITH BPD (BASIC SERVICE EXPENDITURES AS MODERATING

VARIABLE

(An Empirical Study at District/Town Administrations of North Sumatera)

ABSTRACT

The objective of the study was to analyze the influence of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP on IPM partially and simultaneously. Besides that, the research analyzed the influence of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP on IPM with BPD as moderating variable. The data were analyzed quantitatively by using generalized linear regression analysis, pooled data panel fixed effect method, and classic assumption test before the best research model was obtained. Independent variables were DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP, while BPD was moderating variable and IPM was dependent variable. The samples consisted of 30 District/Town Administrations in the period of 2009-2012. The result of the research showed that, simultaneously, the variables of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP influenced IPM; partially, DAK and BKP did not have any influence on IPM. This was in line with the result of the research conducted by Setyowati and Suparwati (2012) which pointed out that DAU, DAK, and PAD had positive influence on IPM through PABM (Allocation of Capital Expenditures). It was also concluded that BPD played its role as moderating variable in strengthening and weakening the correlation of DAU, DAK, PAD, DBH, and BKP with IPM.

(22)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perencanaan pembangunan ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan (growth) merupakan awal proses pembangunan suatu negara. Pembangunan suatu negara diharapkan mampu memberikan hasil nyata yaitu Pro Growth, Pro Poor, Pro Job dan Pro Environment yang artinya menciptakan pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini sejalan dengan strategi kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 di bidang kesejateraan rakyat melalui pelaksanaan kebijakan pembangunan manusia, penurunan kemiskinan dan pengangguran dan penanganan mitigasi bencana yang efektif. Kendala utama pembangunan suatu negara yang sedang berkembang adalah kurangnya optimalisasi pendataan dan penggunaan sumber-sumber pendapatan. Kalau masalah kekurangan sumber pendapatan ini bisa diatasi dengan baik, maka proses pembangunan di negara-negara sedang berkembang akan lebih cepat mencapai sasaran.

(23)

Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dari pengertian tersebut di atas maka akan tampak bahwa daerah diberi hak otonom oleh pemerintah pusat untuk mengatur dan mengurus kepentingan sendiri.

Sejalan dengan diberlakukannya undang-undang otonomi tersebut pemerintah daerah diberikan kewenangan menyelenggarakan pemerintah daerah yang lebih luas, nyata dan bertanggung jawab. Adanya pembagian kewenangan tugas fungsi dan peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah tersebut menyebabkan masing-masing daerah harus memiliki sumber pendapatan yang cukup. Pemerintah daerah harus memiliki sumber pembiayaan yang memadai dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, sehingga diharapkan masing-masing daerah akan dapat lebih maju, mandiri, sejahtera dan kompetitif di dalam pelaksanaan pemerintahan maupun pembangunan daerahnya masing-masing.

(24)

bukunya yang berjudul Reflections on Human Development (1995), dan telah disepakati dunia melalui United Nation Development Program (UNDP).

Menurut United Nations Development Program, IPM Indonesia tahun 2012 berada pada nilai 62,9 di urutan 121 dari 187 negara, sedangkan IPM Indonesia tahun 2011 di urutan 124 dari 187 negara yang disurvei, dengan skor 61,7. Peringkat IPM Indonesia dua tahun ini turun dari peringkat 108 pada tahun 2010, (http://www.wartaekonomi.co.id, diakses pada tanggal 16 April 2014).

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia untuk tahun 2012 apabila dibandingkan dengan Negara di kawasan ASEAN masih sangat rendah. Di kawasan ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dan hanya unggul dari Vietnam yang memiliki nilai IPM 61,7, Kamboja dengan nilai IPM 54,3, Laos dengan nilai IPM 54,3, dan Myanmar dengan nilai IPM 49,8. Hal ini tidak jauh berbeda dengan keadaan tahun 2011 dimana Indeks Pembangunan Manusia Indonesia apabila dibandingkan dengan Negara di kawasan ASEAN juga masih sangat rendah. Kondisi tahun 2011 di kawasan ASEAN, Indonesia hanya unggul dari Vietnam yang memiliki nilai IPM 59,3, Laos dengan nilai IPM 52,4, Kamboja dengan nilai IPM 52,3, dan Myanmar dengan nilai IPM 48,3, (http://nasional.kompas.com/, diakses pada tanggal 16 April 2014).

(25)

sebesar 4,6 tahun dari 8,3 tahun pada 1980 menjadi 12,9 tahun pada tahun 2012. Sedangkan PDB per kapita tahun 2012 sebesar 4,154 atau naik sebesar 225 persen. IPM Indonesia dengan kategori menengah senilai 62,9, mengalami kemajuan secara terus menerus selama 3 tahun terakhir, namun saat ini IPM Indonesia masih berada di bawah rata-rata IPM negara-negara yang berada di kawasan Asia Pasifik. Kenaikan IPM Indonesia disebabkan oleh pencapaian pada komitmen nasional terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik, program pengentasan kemiskinan yang inovatif dan keterlibatan strategis dengan ekonomi dunia, (http://www.voaindonesia.com/, diakses pada tanggal 16 April 2014).

(26)

km, terdiri dari 600 km jalan negara, 900 km jalan provinsi dan 12.000 jalan kabupaten/kota. Sementara 350 ribu hektar (ha) irigasi yang ada di Sumatera Utara sekitar 30% diantaranya mengalami kerusakan. Penentuan prioritas terhadap penanganan permasalahan yang ada, baik itu oleh pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota dengan mengalokasikan dana yang relatif besar dan tepat sasaran menjadi hal yang penting. Sinkronisasi rencana pembangunan provinsi dan kabupaten/kota harus dirancang lebih terintegrasi, (http://www.waspada.co.id/, diakses tanggal 18 Maret 2014).

Di Sumatera Utara, secara umum pertumbuhan ekonomi makronya membaik, karena pada 2011 pertumbuhannya mencapai 6,58% dan lebih tinggi dari nasional 6,5%. Pergerakan sektor rill dengan angka loan to deposit ratio mencapai 81,25%, meningkat dari tahun sebelumnya 68,21%. Begitu juga dengan Pendapaan Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pendapatan perkapita yang semula Rp 22,43 juta/tahun kini meningkat menjadi 28,19 juta/tahun. Angka pengangguran juga mengalami penurunan dari 7,60% menjadi 6,37%. Sehingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berhasil mencapai peningkatan sebesar 0,39 atau 0,53% menjadi 74,19 dari sebelumnya 73,80.

Terkait pembangunan yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial di Sumatera Utara capaiannya masih belum lebih baik dari nasional. Terutama yang berhubungan langsung dengan grass root (masyarakat bawah) seperti angka kematian ibu melahirkan dan gizi buruk. Hal itu harus menjadi catatan di tengah pertumbuhan ekonomi, angka pengangguran serta IPM yang membaik.

(27)

Gambar 1.1. IPM Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009-2012

Dari gambar 1.1. tersebut dapat dilihat bahwa IPM di Sumatera Utara untuk tahun 2010 meningkat sebesar 1,00 atau 0.02 % dari tahun 2009, untuk tahun 2011 meningkat sebesar 0,46 atau 0.01 % dari tahun 2010 dan untuk tahun 2012 meningkat sebesar 0,48 atau 0.01 % dari tahun 2011. Dengan demikian selama kurun waktu 2009-2012 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0.6467 atau 0,012%.

Dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan indikator IPM, pemerintah daerah di Sumatera Utara harus berusaha untuk merencanakan struktur Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang Pro Rakyat. Sesuai denngan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Daerah diberi kewenangan untuk mengoptimalkan sumber daya yang diperoleh untuk merencanakan target-target capaian kinerja melalui pengeluaran yang efektif dan efisien. Hal ini merupakan konsekuensi diadopsinya sistem

2009 2010 2011 2012

IPM 73.8 74.19 74.65 75.13

73 73.5 74 74.5 75 75.5

IPM

(28)

desentralisasi (otonomi daerah) menggantikan model sentralisasi yang telah dijalankan sekitar 14 tahun. Desentralisasi fiskal mensyaratkan bahwa setiap kewenangan yang diberikan kepada daerah harus disertai dengan sumber pembiayaan yang besarnya sesuai dengan beban kewenangan tersebut. Dengan kata lain pemerintah pusat berkewajiban untuk menjamin sumber keuangan atas pendelegasian tugas dan wewenang dari pusat ke daerah. Mulai tahun 2001 muncul konsep dana perimbangan sebagai instrumen sumber pembiayaan daerah. Dana Alokasi Umum (DAU) sebagai salah satu instrumen fiskal dana perimbangan selain Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil (DBH), bertujuan untuk mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah (horizontal imbalance). Sumber pembiayaan lainnya adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperoleh dari pajak daerah, retribusi, laba perusahaan/BUMD dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Selain itu, pemerintah provinsi juga mengalokasikan sumber pembiayaan kepada pemerintah kabupaten dan kota baik dalam bentuk dana bagi hasil maupun bantuan keungan provinsi.

(29)

prinsipal (principal) dan agen (agency) yang tercermin dari kontrak antara individu dengan individu lain atau antara satu kelompok dengan kelompok lain, menjadi salah satu rujukan utama dalam hal pertanggungjawaban dana publik. Kontrak yang dilakukan menunjukkan kesepakatan antara prinsipal selaku pemberi amanah dan agen selaku penerima amanah, hubungan ini dibangun atas dasar kepercayaan. Dalam organisasi sektor publik, khususnya pada pemerintah daerah, daerah bertindak sebagai agen selaku pihak yang menerima amanah rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan, dan rakyat yang diwakili oleh dewan perwakilan rakyat diposisikan sebagai prinsipal yang memiliki salah satu tugas utama untuk mengawasi aktivitas organisasi yang dijalankan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

(30)
(31)

masyarakat yang konsekuensinya meningkatkan pembangunan manusia. Sebagai gambaran perkembangan perkembangan DAU, DAK, PAD, DBH Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009-2012 dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2. Perkembangan DAU, DAK, PAD, dan DBH Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009-2012

me

(32)

Berdasarkan pada penjelasan di atas, penelitian ini akan melakukan pengujian kembali pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia untuk melihat konsistensinya dengan penelitian-penelitian sebelumnya dan pengujian terhadap Belanja Pelayanan Dasar yang berfungsi sebagai variabel moderating dengan sampel yang berbeda.

Istilah variabel moderating digunakan dalam pengertian bahwa Belanja Pelayanan Dasar mempengaruhi tingkat hubungan DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Dipilihnya Belanja Pelayanan Dasar sebagai variabel moderating karena dengan memiliki Belanja Pelayanan Dasar yang tinggi, pemerintah kabupaten/kota diharapkan dapat membuat kebijakan pengeluaran untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia. Pemerintah kabupaten dan kota yang mengalokasikan Belanja Pelayanan Dasar, masyarakat di wilayahnya seharusya memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena tidak semua pemerintah kabupaten dan kota mengalokasikan Belanja Pelayanan Dasar sebagai prioritas.

(33)

berpengaruh positif terhadap indeks pembangunan manusia (IPM) melalui pengalokasian anggaran belanja modal.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penulis ingin melakukan penelitian kembali dengan judul ”Pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan Belanja Pelayanan Dasar sebagai Moderating Variabel (Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten/Kota

se-Sumatera Utara)”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka masalah yang hendak diteliti dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah DAU, DAK, PAD, DBH, BKP berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara parsial maupun simultan?

2. Apakah Belanja Pelayanan Dasar memoderasi hubungan DAU, DAK, PAD, DBH, BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk menganalisis pengaruh DAU, DAK, PAD, DBH, BKP terhadap Indeks

Pembangunan Manusia (IPM) secara parsial maupun simultan

2. Untuk menganalisis pengaruh Belanja Pelayanan Dasar (BPD) apakah memperkuat atau memperlemah terhadap hubungan variabel DAU, DAK, PAD, DBH, BKP terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

1.4 Manfaat Penelitian

(34)

1. Masukan bagi perencana pembangunan di kabupaten/kota se-Sumetera Utara yang menjadi lokasi penelitian, agar dapat mengoptimalkan alokasi DAU, DAK, PAD, DBH dan BKP untuk sumber pendanaan kegiatan, sehingga pembangunan manusia mengarah kepada pembangunan yang lebih Pro Growth, Pro Poor, Pro Job dan Pro Environment.

2. Informasi dan masukan bagi peneliti selanjutnya, untuk melanjutkan pengembangan penelitian terkait Indeks Pembangunan Manusia.

3. Memberikan informasi secara tertulis maupun sebagai referensi bagi pembaca mengenai perkembangan Indeks Pembangunan Manusia di Sumatera Utara.

1.5 Originalitas Penelitian

Penelitian yang peneliti lakukan ini, merupakan pengembangan ide dari penelitian sebelumnya terutama yang dilakukan oleh Setyowati dan Suparwati (2012) dengan judul Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, DAU, DAK, PAD terhadap Indeks Pembangunan Manusia dengan Pengalokasian Anggaran Belanja Modal Sebagai Variabel Intervening (Studi Empiris pada Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Jawa Tengah).

Perbedaan penelitian terdahulu oleh Setyowati dan Suparwati (2012) dengan replikasi penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Objek Penelitian

(35)

penelitian di 33 kabupaten dan kota se-Sumatera Utara dengan periode pengamatan tahun 2009-2012.

2) Variabel Penelitian

Variabel independen terdahulu adalah pertumbuhan ekonomi, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sedangkan dalam penelitian ini yang menjadi variabel independennya adalah Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Bantuan Keuangan Provinsi (BKP). Peneliti menambahkan variabel independen DBH karena DBH merupakan sumber pendapatan terbesar ketiga setelah DAU dan PAD dan lebih besar dari sumber pendapatan DAK bagi pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Penambahan DBH sebagai variabel independen juga perupakan pengembangan dari hasil penelitian terdahulu oleh Ubar Harahap (2010) dimana DAU, DAK dan DBH berpengaruh terhadap IPM. Selain itu menurut penelitian Wandira (2013) DBH berpengaruh signifikan terhadap belanja modal yang menurut Setyowati dan Suparwati (2012) berpengaruh signifikan terhadap IPM. Sedangkan Pertumbuhan Ekonomi tidak digunakan sebagai variabel independen karena menurut hasil penelitian Setyowati dan Suparwati (2012) tidak berpengaruh positif terhadap IPM.

(36)

sebagian kewenangan dibidang pengelolaan keuangan dan agar keluaran yang dihasilkan lebih bermanfaat dan dapat langsung dinikmati oleh rakyat di kabupaten dan kota yang bersangkutan.

Setyowati dan Suparwati (2012) mengamati sebanyak 4 (empat) variabel independen, 1 (satu) variabel dependen dan 1 variabel intervening, yaitu pertumbuhan ekonomi, DAU, DAK dan PAD sebagai variabel independen, Indeks Pembangunan Manusia sebagai variabel dependen dan pengalokasian anggaran belanja modal sebagai variabel intervening. Sedangkan penelitian ini mengamati sebanyak 5 (lima) variabel independen, yaitu Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Bantuan Keuangan Provinsi BKP, 1 (satu) variabel dependen yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan 1 (satu) variabel moderating yaitu realisasi belanja pelayanan dasar. Perbandingan antara peneliti sebelumnya dengan penelitian ini dapat disarikan dalam tabel 1.1. berikut ini:

Tabel 1.1. Perbandingan Peneliti dengan Peneliti Terdahulu

No Kriteria Peneliti Terdahulu Peneliti

1. Variabel Independen 4 variabel yaitu :

Pertumbuan Ekonomi

2. Variabel Dependen Indeks Pembangunan

Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 3. Variabel Intervening Pengalokasian Belanja

Modal (PABM)

--

4. Variabel Moderating -- Belanja Pelayanan

Dasar

5. Lokasi Penelitian Pemerintah Kabupaten

dan Kota se-Jawa Tengah

Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Sumatera Utara

(37)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Landasan Teori

Dalam landasan teori, akan dibahas lebih lanjut mengenai Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH), Bantuan Keuangan Provinsi (BKP), Belanja Pelayanan Dasar dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Bagian ini menjabarkan teori yang melandasi penelitian ini dan beberapa peneliti terdahulu yang telah diperluas dengan referensi atau keterangan tambahan yang diperoleh selama penelitian.

2.1.1. Dana Alokasi Umum (DAU)

Berdasarkan Undang-Undang nomor 33 tahun 2004, Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan sarana untuk mengatasi ketimpangan fiskal antar daerah dan di sisi lain juga memberikan sumber pembiayaan daerah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa DAU lebih diprioritaskan untuk daerah yang mempunyai kapasitas fiskal yang rendah. Menurut Undang-undang tersebut, porsi DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN. Sementara itu, proporsi pembagian DAU untuk provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan sesuai dengan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Definisi dari DAU dapat diartikan sebagai berikut (Sidik, 2003:25) :

(38)

2. Instrumen untuk mengatasi horizontal imbalance yang dialokasikan dengan tujuan peningkatan kemampuan keuangan antar daerah dan penggunaannya ditetapkan sepenuhnya oleh daerah.

3. Equalization grant, berfungsi untuk menetralisasi ketimpangan kemampuan keuangan dengan adanya PAD, bagi hasil pajak, dan bagi hasil SDA yang diperoleh daerah otonomi dan pembangunan daerah.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Dana Alokasi Umum yang selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

2.1.2 Dana Alokasi Khusus (DAK)

Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan salah satu sumber pendanaan bagi daerah otonom melalui mekanisme transfer keuangan Pemerintah Pusat ke daerah yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana fisik daerah sesuai prioritas nasional serta mengurangi kesenjangan laju pertumbuhan antar daerah dan pelayanan antar bidang (Subekan, 2012:88). DAK memainkan peran penting dalam dinamika pembangunan sarana dan prasarana pelayanan dasar di daerah karena sesuai dengan prinsip desentralisasi–tanggung jawab dan akuntabilitas bagi penyediaan pelayanan dasar masyarakat telah dialihkan kepada pemerintah daerah.

(39)

beberapa jenis investasi atau prasarana, pembangunan jalan di kawasan terpencil dan saluran irigasi primer.

Menurut peraturan perundang-undangan yang baru untuk daerah otonom, yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004, wilayah yang menerima DAK harus menyediakan dana pendamping paling tidak 10% dari DAK yang ditransfer ke wilayah, dan dana pendamping ini harus dianggarkan dalam anggaran daerah (APBD). Meskipun demikian, wilayah dengan pengeluaran lebih besar dari penerimaan tidak perlu menyediakan dana pendamping. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua daerah menerima DAK karena DAK bertujuan untuk pemerataan dan untuk meningkatkan kondisi infrastruktur fisik yang merupakan prioritas nasional.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Dana Alokasi Khusus yang selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan ke daerah dengan tujuan untuk pemerataan dan peningkatan kondisi infrastruktur fisik yang merupakan prioritas nasional dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

2.1.3. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

(40)

kepada suatu pemerintah daerah diwajibkan untuk menggali sumber-sumber keuangan daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hal ini dapat memberikan kebebasan kepada pemerintah daerah setempat untuk menciptakan sumber pendapatan dari pajak/retribusi daerah yang baru demi tercapainya kemajuan suatu daerah. Tentu saja dengan cara yang tidak eksploitatif agar dimensi-dimensi yang disebutkan diatas menjadi dasar dalam menggali sumber-sumber pendapatan daerah.

Menurut Mardiasmo (2002:132), pendapatan asli daerah adalah penerimaan yang diperoleh dari sektor pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Mangkosubroto (1997) menyatakan bahwa pada umumnya penerimaan pemerintah diperlukan untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Penerimaan pemerintah dapat dibedakan antara penerimaan pajak dan bukan pajak. Penerimaan bukan pajak, misalnya adalah penerimaan pemerintah yang berasal dari pinjaman pemerintah, baik pinjaman yang berasal dari dalam negeri maupun pinjaman pemerintah yang berasal dari luar negeri.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendapatan asli daerah merupakan penerimaan yang diperoleh oleh pemerintah daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut dengan menerbitkan peraturan daerah dengan mendasarkan kepada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang berlaku.

2.1.4. Dana Bagi Hasil (DBH)

(41)

sumber daya alam. Dana bagi hasil merupakan alokasi yang pada dasarnya memperhatikan potensi daerah penghasil (Nurcholis, 2005).

Pasal 11 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 menyebutkan bahwa Dana Bagi Hasil dibagi menjadi dua yaitu dana bagi hasil pajak (DBHP) dan dana bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam (DBHSDA). Dana bagi hasil yang bersumber dari pajak terdiri atas: Pajak Bumi dan Bangunan (PBB); Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.

Dana bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dari : kehutanan; pertambangan umum; perikanan; pertambangan minyak bumi; pertambangan gas bumi; dan pertambangan panas bumi. Perlu diketahui juga bahwa sejak diterbitkannya Undang-Undang nomor 28 Tahun 2009, Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sudah diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah kabupaten dan kota dan untuk kabupaten dan kota di wilayah Sumatera Utara, pengelolaannya efektif dilaksanakan mulai tahun 2011.

(42)

daerah bagi hasil pajak dan non pajak yang berasal dari hasil pembagian penerimaan pusat dan provinsi yang diperuntukkan bagi pemerintah kabupaten/kota.

2.1.5. Bantuan Keuangan Provinsi (BKP)

Menurut Ardios dalam bukunya “Kamus Besar Akuntansi” mendefinisikan

sebagai berikut: Pada umumnya dana berarti uang, surat berharga serta harta lainnya yang sengaja disisihkan bagi suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Dana bantuan daerah bawahan adalah suatu dana yang diberikan pemerintah provinsi sebagai subsidi kepada pemerintah kabupaten/kota dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Dana bantuan keuangan kepada daerah bawahan merupakan sumber pendapatan daerah bagi pemerintah kabupaten/kota yang berasal dari APBD provinsi untuk mendukung pelaksanaan kewenangan pemerintah daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada daerah, yaitu terutama peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Menurut Elmi (2002), secara umum tujuan pemerintah pusat melakukan transfer dana kepada pemerintah daerah adalah:

1. Sebagai tindakan nyata untuk mengurangi ketimpangan pembagian pendapatan nasional, baik vertikal maupun horisontal.

(43)

dana transfer ke pemerintah kabupaten/kota untuk mengurangi ketimpangan dan meningkatkan efisiensi pengeluaran.

Pemerintah provinsi mengalokasikan belanja bantuan keuangan kepada pemerintah kabupaten/kota yang akan menjadi sumber pendapatan bagi pemerintah kabupaten/kota yang dianggarkan dalam kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah berupa bantuan keuangan dari provinsi atau yang dulu lebih dikenal dengan istilah Bantuan Keuangan kepada Daerah Bawahan (BDB).

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.

Bantuan keuangan yang bersifat umum, peruntukan dan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah kabupaten/kota/pemerintah desa penerima bantuan. Bantuan keuangan yang bersifat khusus, peruntukan dan pengelolaannya diarahkan/ditetapkan oleh pemerintah daerah pemberi bantuan (pemerintah provinsi). Pemberi bantuan bersifat khusus dapat mensyaratkan penyediaan dana pendamping dalam APBD atau anggaran pendapatan dan belanja desa penerima bantuan yang akan digunakan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan bagi penerima bantuan.

(44)

kabupaten/kota/pemerintah desa penerima bantuan, maupun bersifat khusus yang peruntukan dan pengelolaannya diarahkan/ditetapkan oleh pemerintah daerah pemberi bantuan guna membiayai program dan kegiatan di pemerintah daerah penerima bantuan untuk pencapaian target kinerja yang telah ditetapkan.

2.1.6. Belanja Pelayanan Dasar (BPD)

(45)

dan indikator kinerja kunci yang digunakan untuk evaluasi kinerja pemerintah otonomi daerah (EKPOD) dapat dilihat pada lampiran 2.1.

(46)

Gambar 2.1. Indikator Capaian Kinerja (ICK) Berdasarkan Aspek Fokus Dan Indikator Kinerja Kegiatan

Sumber : SE Menteri Dalam Negeri Nomor.120.04/7303/OTDA/2012

2.1.7. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Pembangunan merupakan suatu kegiatan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai aspek kehidupan yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dengan memanfaatkan dan memperhitungkan kemampuan sumber daya, informasi dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan perkembangan sosial (Bappenas dalam Melliana dan Zain, 2013:237). Pembangunan merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang makmur dan sejahtera.

ICK

(47)

Dengan adanya perubahan penyelenggaraan pemerintahan yang dulu sentralisasi menjadi desentralisasi sejak tahun 1999, maka pemerintah daerah harus berupaya untuk menetapkan kebijakan pengganggaran dengan menyediakan sumber-sumber pendapatan dan mengarahkan penggunaanya untuk pengeluaran dalam rangka pencapaian kesejahteraan masyarakat. Hoffman dan Gibson (2005) telah melakukan penelitian terkait sumber pendapatan dan pengaruhnya terhadap pengeluaran pemerintah daerah yang diterbitkan oleh University of California, San Diego yang berjudul Fiscal Governance and Public Services: Evidence from Tanzania and Zambia. Hoffman dan Gibson menyatakan bahwa: “using data from local government budgets in Tanzania and Zambia, we find that local government

in both countries produce more public services as their budget’s share of local taxes

increases”.

(48)

ini berarti bahwa desentralisasi fiskal telah dikembangkan dan tumbuh di Indonesia. Secara teori, desentralisasi fiskal akan meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan secara keseluruhan, karena akan mendorong pemerintah untuk lebih akuntabel dan menerima partisipasi yang lebih besar dari publik. Akhirnya hal tersebut akan memberikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi kepada daerah baik provinsi maupun kabupaten. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa desentralisasi fiskal mempunyai pengaruh yang positif untuk pembangunan di pemerintah daerah yang diukur dari tingkat kemiskinan, Human Development Index

(HDI), rata-rata lulusan sekolah tinggi, angka kematian per 100-kelahiran dan

Regional Gross Domestic Product (RGDP).

Dari uraian tersebut di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa salah satu indikator penting yang dapat digunakan untuk mengukur hasil pembangunan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) (Melliana dan Zain, 2013:237). Indeks Pembangunan Manusia merupakan indeks komposit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam tiga hal mendasar pembangunan manusia, yaitu: (1) lamanya hidup yang diukur dengan harapan hidup pada saat lahir; (2) tingkat pendidikan, yang diukur dengan kombinasi antara angka melek huruf pada penduduk dewasa (dengan bobot dua per tiga) dan rata-rata lama sekolah (dengan bobot sepertiga); dan (3) tingkat kehidupan yang layak, diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan (PPP Rupiah) (Mirza, 2012:4).

(49)

masyarakat misalnya tercermin dalam angka harapan hidup serta kemampuan daya beli masyarakat, sedangkan dampak non-fisik dapat dilihat dari kualitas pendidikan masyarakat.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. HDI digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup. Indeks Pembangunan Manusia ini ini pada 1990 dikembangkan oleh pemenang nobel India Amartya Sen dan Mahbub ul Haq seorang ekonom Pakistan dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics dan sejak itu dipakai oleh Program Pembangunan PBB pada laporan HDI tahunannya. Digambarkan sebagai "pengukuran vulgar" oleh Amartya Sen karena batasannya, indeks ini lebih fokus pada hal-hal yang lebih sensitif dan berguna daripada hanya sekedar pendapatan perkapita yang selama ini digunakan, dan indeks ini juga berguna sebagai jembatan bagi peneliti yang serius untuk mengetahui hal-hal yang lebih terinci dalam membuat laporan pembangunan manusianya.

Human Development Index (HDI) mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia yaitu:

(50)

b. Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa (bobotnya dua per tiga) dan kombinasi pendidikan dasar, menengah, atas gross enrollment ratio (bobot satu per tiga).

c. Standard kehidupan yang layak diukur dengan GDP per kapita gross domestic product/produk domestik bruto dalam paritas kekuatan beli purchasing power parity dalam Dollar AS.

Secara umum metode penghitungan IPM yang digunakan di Indonesia sama dengan metode penghitungan yang digunakan oleh UNDP. IPM di Indonesia disusun berdasarkan tiga komponen indeks yaitu: 1) Indeks angka harapan hidup; 2) Indeks pendidikan, yang diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah (rata-rata jumlah tahun yang telah dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang dijalani) dan angka melek huruf latin atau lainnya terhadap jumlah penduduk usia 15 tahun atau lebih); 3) Indeks standar hidup layak, yang diukur dengan pengeluaran per kapita (PPP/Purchasing Power Parity/Paritas daya beli dalam rupiah). IPM merupakan rata-rata dari ketiga komponen tersebut, dengan rumus :

IPM=(X1+X2+X3)/3 Dimana :

X1= angka harapan hidup X2= tingkat pendidikan X3= tingkat kehidupan layak

(51)

maksimum dari nilai indikator yang bersangkutan. Rumusannya dapat disajikan sebagai berikut:

1. Indeks harapan hidup :

X1 =[(eo-25)/(85-25)] x 100 Dimana :

X1 = indeks harapan hidup eo = angka harapan hidup

25 = angka minimum harapan hidup (UNDP) 85 = angka maksimum harapan hidup (UNDP) 2. Indeks pendidikan :

X2 = [2/3[(Lit-0)/(100-0)] + 1/3[(MYS-0)/(15-0)]]x100 Dimana :

X2 = indeks pendidikan Lit = angka melek huruf MYS = lama sekolah

0 = angka minimum baik untuk lit maupun MYS 100 = angka maksimum lit (melek huruf)

15 = angka maksimum untuk MYS (lama sekolah) 3. Indeks standar hidup layak :

X3 = [(PPP-300,00)/(732,7-300,00)]x100

PPP = nilai konsumsi riil per kapita yang disesuaikan 300,00 = nilai standar minimal (standar UNDP)

(52)

Tabel 2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM

Indikator IPM Nilai

Minimum

Nilai Maksimum Keterangan

Angka Harapan Hidup 25 85 Berdasarkan standar global (UNDP)

Angka Melek Huruf 0 100 Berdasarkan standar global (UNDP)

Rata-rata lama sekolah 0 15 Berdasarkan standar global (UNDP)

Konsumsi per kapita yang disesuaikan 300.000 732.720 PDB per kapita riil yang disesuaikan

Sumber : Badan Pusat Statistik Sumatera Utara, Tahun 2001

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sumatera Utara secara umum selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2012 berada pada posisi 75,13 atau meningkat sebesar 0,64% dari tahun 2011 sebesar 74,65. Posisi tahun 2011 tersebut meningkat sebesar 0,62% dari tahun 2010 yang berada pada posisi 74,19. Demikian juga tahun 2010 meningkat 0,53% dari posisi tahun 2009 73,8. Sedangkan berdasarkan kategori, seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara termasuk berada pada IPM kategori sedang (50-80).

Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada Kabupaten dan Kota yang ada di wilayah Sumatera Utara untuk tahun 2009-2012 dapat dilihat pada lampiran 2.1.

Untuk kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Utara, peringkat IPM tahun 2012 terbaik diraih oleh Kota Pematang Siantar dengan IPM sebesar 78,27 dan terendah berada pada kabupaten pemekaran yaitu Nias Barat dengan nilai 67,59. Kondisi ini sama dengan keadaan IPM kabupaten dan kota di wilayah Sumatera Utara untuk tahun 2011, dimana Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Nias Barat menduduki peringkat pertama dan terakhir.

2.2.Review Penelitian Terdahulu

(53)
(54)

Anggaran Belanja Modal (PABM) yang diproksikan dengan Belanja Modal (BM) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

(55)

bahwa TKF tidak berpengaruh terhadap IPM kabupaten/kota di Sumatera Utara. Hal ini menunjukkan bahwa secara parsial pola manajemen perencanaan pemerintah daerah kabupaten/kota di Sumatera Utara, dalam jangka pendek tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM, dimana penerimaan daerah yang menunjang TKF sangat kecil. Berbeda dengan TKF, hasil penelitian menunjukkan PAD secara parsial berpengaruh signifikan terhadap IPM. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka waktu yang pendek maupun jangka panjang PAD berpengaruh terhadap peningkatan IPM karena sebagian PAD digunakan untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat untuk mendorong percepatan pembangunan daerah.

(56)

berpengaruh negatif signifikan. Sementara itu rasio DBH terhadap belanja modal menjadi satu-satunya variabel yang tidak signifikan mempengaruhi IPM. Pertumbuhan ekonomi menjadi variabel dengan pengaruh paling dominan terhadap IPM.

Rosiana (2010) melakukan studi dengan judul Analisis Pengaruh Determinan Indeks Pembangunan Manusia Dikaitkan dengan Pembangunan Wilayah pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa apakah terdapat pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah Pemerintah Kabupeten/Kota se-Sumatera Utara yang terdiri dari 23 Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berupa Laporan Realisasi APBD Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara tahun 2003-2007. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif, pengujian metode Generalized Linier Regression

(57)

Ubar (2010) melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus dan Dana Bagi Hasil Terhadap Indeks Pembangunan Manusia pada Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisa apakah terdapat pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah Pemerintah Kabupeten/Kota se-Sumatera Utara yang terdiri dari 25 Pemerintah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berupa Laporan Realisasi APBD Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara tahun 2005-2007. Metode penelitian menggunakan metode regresi berganda dengan lag setahun. Hasil penelitian menemukan bahwa secara simultan terdapat pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Secara parsial Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) tidak berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara.

(58)

Tabel 2.2. Review Penelitian Terdahulu

Nama/Tahun Peneliti

Judul Penelitian Variabel yang Digunakan

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Pertumbuhan Ekonomi (PE) terbukti tidak berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (PABM) sedangkan Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (PABM), dan Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (PABM) yang diproksikan dengan Belanja Modal (BM) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa secara simultan Tingkat Kemandirian Fiskal (TKF) dan PAD terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks

Pembangunan Manusia (IPM).

Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh langsung terhadap IPM tanpa melalui Belanja Modal. Tingkat Kemandirian Fiskal (TKF) berpengaruh tidak secara langsung terhadap IPM melalui Belanja Modal. Secara parsial Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Secara parsial Tingkat Kemandirian Fiskal (TKF) tidak berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa rasio PAD dan DAK terhadap belanja modal dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif signifikan terhadap IPM sedangkan variabel DAU berpengaruh negatif signifikan. Rasio DBH terhadap belanja modal menjadi satu-satunya variabel yang tidak signifikan mempengaruhi IPM. Pertumbuhan ekonomi menjadi variabel dengan pengaruh paling dominan terhadap IPM. Dina Rosiana

(59)

Nama/Tahun Peneliti

Judul Penelitian Variabel yang Digunakan

Hasil yang Diperoleh

Wilayah pada Kabupaten/Kota di

Sumatera Utara

Utara. Secara parsial Pertumbuhan Ekonomi yang diproksikan dengan PDRB harga berlaku yang berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Kota di Sumatera Utara, sedangkan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya Indeks Pembangunan Manusia.

(60)

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang dan landasan teori dapat dibuat kerangka konseptual yang akan diteliti seperti yang terlihat dalam Gambar 3.1. Dari Gambar 3.1. tersebut dapat dilihat pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasi (DBH), Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan Belanja Pelayanan Dasar (BPD) sebagai moderating variabel baik secara parsial dan simultan.

Variabel Moderating

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 3.1. Kerangka Konseptual DAK

DAU

PAD IPM

DBH

BKP

(61)

Berdasarkan penjelasan literatur, peneliti membentuk kerangka konseptual yang menggambarkan hubungan secara simultan dan parsial antara variabel independen, moderating dan dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH) dan Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) . Variabel moderating dalam penelitian ini adalah Belanja Pelayanan Dasar (BPD), sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

1. Pengaruh Dana Alokasi Umum Terhadap Indeks Pembangunan Manusia Setiap daerah mempunyai kemampuan yang tidak sama dalam mendanai kegiatan-kegiatannya, hal ini menimbulkan ketimpangan fiskal antara daerah satu dengan daerah lainnya. Oleh karena itu menurut Setyowati dan Suparwati (2012: 119), untuk mengatasi ketimpangan fiskal ini pemerintah mengalokasikan dana yang bersumber dari APBN untuk mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi. Salah satu dana perimbangan dari pemerintah ini adalah Dana Alokasi Umum (DAU) yang pengalokasiannya menekankan aspek pemerataan dan keadilan yang selaras dengan penyelenggaraan urusan pemerintah (UU No.32/2004).

(62)

2. Pengaruh Dana Alokasi Khusus Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan dalam APBN untuk daerah-daerah tertentu dalam rangka mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan termasuk dalam prioritas nasional. Daerah dapat menerima DAK apabila memenuhi tiga kriteria, yakni 1) kriteria umum berdasarkan Indeks Fiskal

Netto; 2) kriteria khusus berdasarkan peraturan perundangan dan karakteristik daerah dan 3) kriteria teknis berdasarkan Indeks Teknis bidang terkait (UU No. 32/2004 dan UU No. 33/2004) (Setyowati dan Suparwati, 2012:120).

(63)

kecenderungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun (Usman, dkk, 2008). Jadi hal ini mampu mendorong pemda agar dapat meningkatkan kualitas pembangunan manusia melalui pengalokasian anggaran belanja modal yang secara otomatis berorientasi pada kesejahteraan publik, hal ini disebabkan jika DAK dikelola dengan baik dapar memperbaiki mutu pendidikan, meningkatkan pelayanan kesehatan, dan paling tidak mengurangi kerusakan infrastruktur (Setyowati dan Suparwati, 2012:121).

3. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

(64)

Pelaksanaan desentralisasi fiskal membawa reaksi yang berbeda-beda bagi daerah. Pemerintah daerah yang memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah menyambut otonomi daerah dengan penuh harapan, sebaliknya daerah yang miskin sumber daya alam menanggapi dengan hati-hati dan rasa khawatir. Hal tersebut terkait dengan seberapa besar pendapatan asli daerah (PAD) yang dapat diperoleh dari SDA yang dimiliki daerah sebagai sumber pendanaan. Melalui desentralisasi fiskal, pemerintah daerah diharapkan lebih mampu menggali sumber-sumber keuangan khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya melalui pendapatan asli daerah (PAD). PAD merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi daerah yang dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha daerah (BUMD), dan lain-lain PAD yang sah.

Konteks otonomi daerah, PAD sebagai pengukur pendapatan sendiri daerah sangat diharapkan sebagai sumber pembiayaan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat (Abdullah dan Solichin, 2006). PAD setidaknya dapat digunakan untuk pembangunan jalan yang bersumber dari pajak kendaraan bermotor dan pajak bahan bakar, disamping itu pembangunan fasilitas kesehatan dapat bersumber dari retribusi pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah daerah. Jadi dalam hal ini dimensi umur panjang dan sehat dalam Indeks Pembangunan Manusia dapat tercapai dengan pembangunan fasilitas kesehatan.

(65)

daerah yang cukup besar tersebut dan salah satu komponen dana adalah Dana Bagi Hasil (DBH). DBH dialokasikan dalam APBN untuk daerah-daerah tertentu dalam mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan termasuk dalam program prioritas nasional.

Dalam beberapa tahun berjalan, proporsi DBH terhadap penerimaan daerah masih cukup tinggi dibanding dengan penerimaaan daerah lainya. Hal ini menunjukkan masih tingginya ketergantungan pemerintah daerah terhadap alokasi dana dari pemerintah pusat. Namun demikian, dalam jangka panjang, ketergantungan seperti ini harus lebih kecil. Berbagai investasi yang dilakukan pemerintah daerah diharapkan memberikan hasil yang positif.

5. Pengaruh BKP Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus mendukung tercapainya sasaran utama dan prioritas pembangunan nasional yang ditetapkan setiap tahunnya. Keberhasilan pencapaian sasaran utama dan prioritas pembangunan nasional sangat tergantung kepada sinkronisasi kebijakan antara pemerintah provinsi dengan pemerintah dan antara pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah dan pemerintah provinsi yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) setiap tahunnya sesuai dengan potensi dan kondisi masing-masing daerah.

(66)

Selain menerima dana perimbangan dari pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota juga menerima perimbangan dari pemerintah provinsi antara lain berupa pendapatan daerah yang bersumber dari bantuan keuangan, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus yang dulu sering dikenal dengan istilah dana bantuan daerah bawahan (DBDB).

Peran bantuan keuangan dari pemerintah provinsi dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia juga dapat berpengaruh melalui realisasi belanja daerah dalam pelayanan publik. Peran pemerintah dalam kebijakan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal didasarkan pada pertimbangan bahwa daerahlah yang lebih mengetahui kebutuhan dan standar pelayanan bagi masyarakat di daerahnya, sehingga pemberian otonomi daerah diharapkan dapat memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi daerah dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh pembangunan manusia. Pada hakekatnya pembangunan adalah pembangunan manusia, sehingga perlu diprioritaskan alokasi belanja untuk keperluan ini dalam penyusunan anggaran (Suyanto dalam Christy et al, 2009). Melihat fenomena di atas, pembangunan manusia atau peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting dalam strategi kebijakan pembangunan nasional. Penekanan terhadap pentingnya peningkatan sumber daya manusia dalam pembangunan menjadi suatu kebutuhan karena kualitas manusia di suatu wilayah memiliki andil besar dalam menentukan keberhasilan pengelolaan pembangunan wilayahnya.

(67)

6. Pengaruh Belanja Pelayanan Dasar (BPD) Terhadap Indeks Pembangunan Manusia

Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan yang dilakukan pemerintah. Artinya, jika pemerintah menetapkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa, maka pengeluaran pemerintah mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah dalam melaksanakan kebijakannya tersebut.

Peran pemerintah dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia dapat diwujudkan melalui realisasi belanja negara dalam pelayanan publik. Berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan jaminan sosial dengan mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolak ukur kinerja dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Hal tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia terkait dengan penyusunan APBD yang diterbitkan setiap tahun oleh Kementerian Dalam Negeri.

Gambar

Gambar 1.2. Perkembangan DAU, DAK, PAD, dan DBH Provinsi Sumatera  Utara Tahun 2009-2012
Tabel 1.1. Perbandingan Peneliti dengan Peneliti Terdahulu
Gambar 2.1. Indikator Capaian Kinerja (ICK) Berdasarkan Aspek Fokus Dan
Tabel 2.1 Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah rasio efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusu

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi

“PENGARUH PETUMBUHAN EKONOMI, PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD), DANA ALOKASI UMUM (DAU), DAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) TERHADAP BELANJA MODAL (Studi Kasus Di Provinsi Sumatera

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Belanja Modal (BM) terhadap pertumbuhan

Atas ijin Allah, peneliti dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Belanja Modal terhadap Pertumbuhan

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul: “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Bagi Hasil

bahwa skripsi dengan judul “Pengaruh Pendapatan Asli daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Terhadap Alokasi.. Belanja Daerah.”