• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

4.3. Indeksikalitas Dalam Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda

Indeksikalitas tidak hanya berupa tanda yang terdapat di dalam komunikasi visual, melainkan hampir semua bidang semiotis, termasuk di dalam bahasa.

Indeksikalitas adalah tanda yang didasarkan pada kemiripan diantara tanda. Jenis tanda yang didasari itu adalah tanda ikonis, dan dapat disebut sebagai ikonisitas.

Adapun indeksikalitas yang terdapat dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun adalah sebagai berikut.

a. Tungkot (tongkat).

Gambar .14 Tungkot (Tongkat)

Tongkat berfungsi untuk menopang tubuh yang sudah rentan. Pada masyarakat Simalungun tungkot ini di berikan kepada ompung dalahi (orang tua laki-laki ). Salah satu tujuan dari pemberian tungkot ini yaitu walaupun semua anak sudah menikah dan memiliki rumah tangga masing-masing atau sudah jauh dari orang tua maka tungkot yang diberikan bisa menjadi pengganti anak untuk menuntun kemanapun orang tua melangkah. Secara adat tungkot ini berisi harapan agar orang yang diberikan tungkot/ duda-duda diberikan kekuatan, kebahagiaan dan umur yang panjang karena pada umumnya tungkot ini diberikan kepada orang tua yang sudah lanjut usia yang secara fisik sudah di anggap lemah. Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda tongkat ini memiliki makna yang dalam yaitu berupa simbolis ungkapan terima kasih dan ungkapan syukur anak kepada orang tua yang telah membesarkan, melindungi dan mendidik mereka hingga memiliki keturunan. Tungkot di berikan kepada orang tua dengan harapan agar orang tua memaafkan segala kesalahan yang telah di perbuat anak selama ini dan tetap membimbing dan menasehati anak dalam segala kelalaian. Tungkot yang di pakai

yang terbuat dari emas atau perak, dalam tongkat tersebut di tuliskan nama panggilan orang tua dan dituliskan nama dan berapa jumlah anaknya.

b. Bajut dan isi bajut

Bajut (tempat sirih) adalah benda yang terbuat dari anyaman yang dibentuk seperti sebuah wadah yang di dalamnya berisi peralatan yaitu duda-duda, tempat kapur, tempat pinang, tempat gambir dan tempat tembakau, dan setiap pelatalan sudah di isi sesuai dengan kegunaannya.

Gambar 15 Bajut dan isi bajut

Bajut diberikan kepada orang tua perempuan/ tua dengan tujuan agar tempat sirih seadanya yang selama ini di gunakan tua di ganti dengan bajut hundul yang lebih baik. Salah satu tujuan bajut ini diberikan karena orang tua yang sudah pikun sehinga diberikan bajut (tempat sirih) yang mudah untuk di bawa kemana saja dan memiliki warna yang bagus warna batak yaitu hitam, putih dan merah. Secara adat bajut ini berisikan harapan agar orang tua yang menerima bajut ini memiliki kelengkapan hidup dan kebahagiaan seperti lengkapnya bahan yang terdapat dalam bajut dan memiliki cita rasa yang sama dengan sirih yang ketika dimakan di mana pertama kalinya di kunyah akan menghasilkan rasa yang pedas dan pahit tetapi setelah lama di kunyah akan menghasilkan rasa yang begitu manis. Bajut yang di berikan serta dilengkapi sedemikian rupa ini sebagai bentuk ungkapan rasa terima kasih anak terhadap orang tua yang selama ini telah membim-bing dan membesarkan mereka hingga saat ini sudah menikah dan bisa mencari nafkah sendiri. Bentuk duda-duda yaitu wadah kecil yang menyerupai pipa dan memiliki alat penumbuk seperti obeng yang terbuat dari perak atau emas namun pada saat ini hanya dilapisi dengan replika emas. Duda-duda di gunakan mengaluskan sirih sebelum di masukkan kedalam mulut agar lebih mudah di kunyah oleh tua. Duda-duda berisi harapan agar penerima duda-duda marmalas ni uhur (bersuka cita). Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda diberikan sebagai wujud ungkapan terima kasih anak terhadap orang tua agar tua tetap dapat merasakan sirih yang selama ini sudah jadi lalapan tua disela-sela pkerjaanya.

Orang yang sudah terbiasa memakan sirih akan merasa pahit dimulut saat tidak memakan sirih dalam sehari.

d. Uang Logam Dan Boras Tenger

Gambar 17. Uang Logam Dan Boras Tenger

Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda uang logam digunakan sebagai pembagian berkat, Uang logam ditaburkan kepada pahompu, anak dan kerabat yang hadir yang dilakukan dengan cara menaburkan ke semua pejuru agar semua yang hadir memiliki kesempatan untuk mendapatkan rezeki . Banyaknya uang logam yang ditabur sesuai seberapa banyaknya harta yang dimiliki orang tua. Uang logam berisi harapan agar memiliki keteguhan hati dan selalu was-was terhadap hal yang buruk yang ada di sekitarnya.

Boras (beras) adalah bahan makanan pokok untuk sebagaian besar penduduk benua asia. Bagi orang Simalungun ternyata beras dapat menceritakan dan menjelaskan banyak hal dalam kehidupannya. Boras bukan hanya sekedar di masak untuk mengisi perut , dan bukan hanya bahan masakan untuk di dapur tetapi beras memiliki banyak makna dalam budaya dan adat istiadat pada masyarakat Simalungun. Sejak seseorang masih di dalam kandungan, kemudian lahir, bertumbuh, dan bergumul dalam kehidupannya hinga pada hari kematiannya

masyarakat Simalungun selalu mengkaitkan diri dengan kekeradaanya dengan beras. Menurut masyarakat Simalungun ada nilai-nilai kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan dalam beras.

e. Untei Mungkur (Jeruk Purut)

Untei mungkur (jeruk purut) adalah jenis tumbuhan yang memiliki kaya akan manfaat, daun dan buah di manfaatkan untuk penyedap rasa pada masakan.

Gambar 18. Jeruk Purut

Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda jeruk purut mempunyai banyak manfaat yaitu untuk membersihkan tubuh dari jenis penyakit, untei yang dimandikan yang dicampur dengan garam, daun bawang (hosaya sitolu-tolu) ,dan lada, bermanfaat untuk kesehatan, kemudian Air jeruk yang diminum diyakini memiliki khasiat untuk kesehatan yaitu Menjaga kekebalan tubuh. Untei mungkur berisi harapan agar orang yang memandikan atau meminum sari dari buah jeruk purut diberikan kesehatan, kebugaran dan jauh dari segala jenis penyakit dan jau dari makhluk jahat.

f. Demban (sirih)

Demban (sirih) merupakan jenis tumbuhan merambat yang menompang di

inimemiliki rasa pedas biasanya dikunyah bersamaan dengan bumbu yaitu pinang, kapur dan gambir

Gambar 19. Demban (sirih)

Demban memiliki kaya akan manfaat yaitu sebagai obat dari berbagai penyakit seperti obat sakit gigi, obat sariawan, obat luka dan penyakit lainya. Pada masyarakat Simalungun demban memiliki kegunaan yang penting yaitu sebagai media untuk mengundang, permintaan maaf, memohon restu, dan perdamaian.

Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda sirih berisi harapan agar suasana upacara adat dapat berjalan dengan baik.

g. Podoman (Tilam/Kasur)

Podoman (tilam) adalah alas tidur yang terbuat dari kain atau plastik berisi kapuk , karet, busa, kapas.

Gambar 20. Tilam

Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda Tilam berguna sebagai tempat duduk orang tua supaya nyaman sepanjang berlangsungnya upacara adat . Tilam diberikan kepada ompung/ tua agar memiliki tempat untuk beristrahat, dan jika kelak sudah waktunya tiba dan kembali kepada sang khalik tilam tersebut dijadikan sebagai alas tempat berbaring (NB: dalam arti positif budaya, bukan berarti mengharapkan ompung/tua cepat meninggal). Amak bontar (tikar putih) yang dijadikan alas untuk duduk berfungsi sebagai penghangat tambahan. Karena bahan alami dari amak bontar yang dapat memberikan kehangatan dan kenyamanan dibanding dengan tikar lainnya yang terbuat dari plastik. Tilam bersisi umum agar orang yang duduk atau tidur di atas tilam dapat istirahat dengan nyaman dan aman.

h. Gotong

Gotong adalah Penutup kepala orang Simalungun (yang diperuntuk-kan bagi laki-laki yang sudah menikah) yang terbuat dari kain berwarna coklat tua bercorak.

Gambar 21. Gotong

Gotong adalah benda yang digunakan sebagai penutup kepala oleh laki-laki yang sudah menikah. Gotong dalam masyarakat Simalungun mempunyai makna untuk menghalau segala sesuatu yang bisa menggangu kepala dari berbagai penyakit, juga menghalau dari panas terik, hujan dan sebagainya.

Gotong yang dipakai seseorang menandakan bahwa orang tersebut telah memiliki tanggung jawab atas keluarga dan adat. Tanggung jawab harus diemban oleh laki-laki untuk senantiasa menyayangi keluarga, mendidik anak, menafkahi dan melindungi keluarga. Gotong memiliki makna kebersahajaan bagi etnik Simalungun, seseorang yang menerima atau memakai gotong yaitu orang yang telah pantas menjadi seorang pemimpin, baik dalam masyarakat maupun keluarga.

i. Bulang

Penutup kepala perempuan (yang diberikan kepada wanita yang sudah menikah) bulang terbuat dari hiou suri-suri yang di dilipat sedemikian rupa seperti tanduk dan setiap sisinya memiliki rambu Bulang.

Gambar 22. Bulang

Bulang pada masyarakat Simalungun mempunyai makna yaitu untuk menghalau segala sesuatu yang bisa menggangu kepala dari jenis penyakit penyakit, juga menghalau dari panas terik, hujan dan sebagainya. Selain itu juga sebagai penanda identitas wanita Simalungun. Bagi wanita yang sudah menggunakan Bulang berarti sudah memiliki tanggung jawab atas keluargadan adat, seseorang yang menerima atau memakai bulang adalah orang yang telah mampu mengurus sebuah keluarga. Tanggung jawab tersebut harus diemban oleh perempuan untuk senantiasa menyayangi keluarga, mendidik anak, dan siap siaga melengkapi segala kebutuhan keluarga.

j. Hiou ragi hotang

hiou ragi hotang adalah Kain tenunan Simalungun yang memiliki warna hitam di sisi kanan dan kiri, dibagian tengah terdapat warna biru dengan corak dan di sisi lainnya dekat rambu.

Gambar 23. Hiou Ragihotang

Hiou berfungsi untuk menghangatkan tubuh, mengahalau dari rasa dingin dan hiou ragi hotang ini merupakan salah satu identitas masyarakat Simalungun.

Sehingga setiap kegiatan adat selalu di iringi dengan adanya hiou. Pada upacara adat Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda hiou ragi hotang ini akan di lilit di pinggang (iabithon) digunakan sebagai penutup bagian bawah tubuh. Sebagian dijadikan sebagai. Hiou ragi hotang berisi harapan agar orang yang menerimanya memperoleh kehangatan tubuh dan dapat mengikat roh jiwa. Hiou yang isabinghon bermakna agar orang yang terlingkup dalam hiou tersebut tetap bersatu, saling terikat, saling membantu dan menguatkan.

k. Suri-suri

suri-suri adalah Kain tenunan Simalungun yang memiliki beberapajenis warna, hasil tenunan yang berwarna hitam dan memiliki rambu yang panjang.

Gambar 24. Suri-Suri

Suri-suri berfungsi untuk menghangatkan tubuh, menghalau dari rasa dingin dan merupakan salah satu identitas masyarakat Simalungun. Sehingga setiap kegiatan adat selalu diiringi dengan adanya suri-suri. Suri-suri ini sering digunakan sebagai hadang-hadangan (selendang yang disematkan dipundak).

Suri-suri ini memiliki makna bahwa orang yang memakainya adalah seorang yang telah mengemban suatu tanggung jawab baik dalam keluarga maupun dalam bermasyarakat.

l. Seperangkat pakaian adat untuk ompung laki-laki

Seperangkat pakaian untuk ompung pada pelaksanaan upacara adat tradisi mambere tungkot pakon duda-duda yaitu, hiou ragi hotang untuk abit (untuk bagian bawah), gotong , jas, dasi dan suri-suri untuk hadang-hadangan di selempangkan sebelah kanan bahu.

Gambar 25. Pakaian Adat Simalungun

Pakaian ompung/tua adalah untuk menghangatkan tubuh. Tujuan diberikannya Perangkat pakaian yang digunakan agar tubuh ompung/tua dibalut dengan pakaian yang bagus dan membuat ompung/tua semakin bersahaja.

Seperangkat pakaian yang akan diusei kepada ompung mempunyai makna agar pakaian bersih yang sudah dipakai memberikan aura positif untuk membersihkan pemikiran dan hati. Kenyamanan tubuh ompung dan kebersahajaan ompung ketika akan melakukan sebuah upacara adat.

m. Seperangkat Pakaian Adat Untuk Ompung Perempuan/Tua

Seperangkat pakaian untuk tua pada saat pelaksanaan Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda yaitu, bulang, kebaya, suri-suri untuk diselempangkan

sebelah kanan bahu, suri-suri untuk selempang.

Gambar 26. Pakaian Adat Simalungun

Pakaian ompung/tua untuk menghangatkan tubuh. Tujuan diberikannya perangkat pakaian yang digunakan agar tubuh ompung/tua dibalut dengan pakaian yang bagus dan membuat ompung/tua lebih bersahaja. Seperangkat pakaian yang akan diusei kepada tua mempunyai makna agar pakaian bersih yang telah dipakai memberikan aura positif untuk membersihkan pemikiran dan hati. Kenyamanan tubuh tua dan kebesehajaan tua ketika akan melakukan sebuah upacara adat.

n. Rudang-Rudang (Bunga Pohon Pinang)

Bunga pohon pinang yang akan berubah menjadi buah. Rudang-rudang berfungsi sebagai penghias di penutup kepala. Rudang-rudang akan di sematkan di bulang dan gotong. Rudang-rudang mempunyai makna agar kehidupan teratur seperti susunan bunga rudang-rudang yang tersusun rapi secara alami, rukun dan juga berbuah.

Gambar 27. Rudang-Rudang (Bunga Pohon Pinang)

o. Tobu Sigerger Sangkalayur (Tebu Merah Utuh)

Tobu (tebu), sigerger (warna merah), sangkalayur (ungkapan satuan untuk tumbuhan).

Gambar 28.Tebu Merah

Sejenis tumbuhan batang yang rasanya manis dan berwarna merah tua.

Sangkalayur berati tebu tersebut lengkap/utuh (memiliki akar batang dan daun serta bunga). Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda Tobu sangkalayur berfungsi sebagai tongkat ompung sebelum ompung menerima tungkot yang sesungguhnya. Tobu (tebu) dijadikan sebagai media pertukaran yang di dramatisir

agar pertukaran dengan tongkat dapat berjalan sesuai dengan adat yang yang berlaku.

Tobu berisikan harapan agar kehidupan selalu manis semanis tebu, dan harapan agar orang yang di berikan tebu utuh tersebut beroleh umur yang panjang (seperti panjang tebu yang menjulang tinggi) dan semakin tua semakin bisa menjadi teladan yang artinya semakin tua semakin manis serta keutuhan keluarga senantiasa bahagia seperti bunga yang tumbuh di pucuk tebu, kokoh seperti akar yang diaplikasikan pada tebu tersebut. Dalam Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda tebu memiliki makna agar keturunannya memperoleh umur yang panjang seperti orang tua mereka, agar tradisi ini tidak dilakukan pada satu generasi saja, tetapi berkelanjutan hingga ke generasi berikutnya.

o. Dayok Nabinatur

Dayok nabinatur (ayam yang diatur) yang disusun teratur. Potongan daging ayam sesuai dengan aturan dan disusun dalam tempat penghidangan dengan susunan yang teratur layaknya seperti susunan ayam tersebut ketika masih hidup.

Gambar 29. Dayok Nabinatur

Dayok naniatur adalah makanan khas Simalungun yang akan dijadikan dalam pelaksanaan upacara adat. Makanan ini akan dipersembahkan kepada kedua orang tua yang akan diberikan tungkot/duda-duda dan dengan menggunakan tangan oleh cucu. Makanan dayok nabinatur yang telah dipotong sesuai aturan akan dibagikan kepada semua anak sesuai adat dan kemudian potongan yang sudah dibagi oleh ompung/tua kepada anak dibagi lagi kepada pahompu secara simbolis. Simbol adat yang berisi ucapan syukur dan harapan tentang keteraturan hidup seperti keteraturan susunan daging ayam bagi siapapun yang memakannya. Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda dayok nabinatur ini disuapkankan memiliki makna wujud terima kasih dan suka cita untuk sebuah pencapaian yang telah berhasil diwujudkan serta harapan agar orang tua dan anak dapat meneladani sifat ayam betina yang selalu manghopkop (setia) anak-anaknya (melindungi anak dalam sayap mulai dari telur (mengerami telurnya) hingga mampu mencari makan sendiri, mengais mencari makan untuk anaknya dan meneladani ayam jantan yang selalu taat waktu berkokok di pagi hari menandakan hari sudah mulai terang dan menegor anak yang lupa diri dan berkelahi dengan saudaranya. Dayok nabinatur adalah makanan adat yang dianggap istimewa oleh masyarakat Simalungun, jarang dimasak sebagai lauk kecuali pada pelaksanaan adat dan syukuran.

p. Nitak Gabur-Gabur

Nitak gabur-gabur adalah makanan khas Simalungun yang terbuat dari Campuran tepung beras, kelapa gongseng, kelapa mentah, gula pasir, lada, hasohor (kencur) dan bawang yang dihaluskan dan ditumbuk di andalu (penumbuk) yang terbuat dari batu, merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Simalungun).

Gambar 30. Nitak gabur-gabur

Nitak gabur-gabur adalah makanan khas Simalungun yang akan dijadikan sebagai makanan pengiring pada upacara adat tradisi mambere tungkot pakon duda-duda. Salah satu kebiasaan masyarakat Simalungun ketika akan memberikan dayok nabinatur yaitu harus dilengkapi dengan makanan pengiring berupa nitak dan pisang. Bahul- bahul yang merupakan tempat nitak berfungsi agar nitak yang dimasukkan kedalam tidak cepat basi dan berjamur karena bahul-bahul merupakan kearifan lokal yang terbuat dari daun yang dapat menyimpan makanan dengan baik dan dapat memperlambat masa kadaluarsa nitak. Simbol adat yang berisi harapan agar perjalanan kehidupan segembur nitak gabur-gabur, artinya agar segala sesuatunya dapat terselesaikan dengan mudah. Dalam Tradisi

mambere tungkot pakon duda-duda makna nitak gabur-gabur ini agar kehidupan yang dijalani senantiasa dimudahkan rezeki (gaburma pansarian).

q. Nitak Siang-Siang

Nitak siang-siang adalah penganan khas Simalungun yang ter-buat dari campuran tepung beras, kelapa gongseng, gula merah/ gula batak, lada, hasohor (kencur) yang ditumbuk di lumpang (penumbuk yang terbuat dari batu,merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Simalungun).

Gambar 31. Nitak Siang-Siang

Nitak siang-siang adalah makanan adat khas Simalungun yang akan dijadikan makanan pengiring dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda.

Salah satu kebiasaan pada masyarakat Simalungun ketika akan memberikan dayok nabinatur adalah harus dilengkapi dengan makanan pengiring berupa nitak dan pisang. Simbol adat yang mempunyai harapan agar siapapun yang menerima dan memakannya beroleh kehidupan yang terang, rezeki yang tampak jelas (siangma pansarian artinya semoga rezeki dimudahkan) dan setiap orang yang memakannya memiliki pikiran yang positif (siangma paruhuran

artinya teranglah pemikiran). Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalunggun nitak siang-siang memiliki makna agar semua keluarga tetap berfikiran yang jernih dalam menghadapi semua permasalahan agar segala sesuatu dapat di selesaikan secara kekeluargaan dan keutuhan jalinan persaudaraan tetap terjaga.

r. Namalum

Irisan daging babi bagian lemak leher (aliang-aliang) yang dicincang dicampur dengan rebusan tepung beras (beras yang di gongseng), air perasan sihala bolon (batang kincung muda yang telah dibakar, lada, merica, jahe, lengkuas, sangge sangge, kemiri bakar yang telah di-haluskan.

Nb: Pangiringni (pelengkap) adalah daging babi panggang yang di cincang .

Gambar 32. Namalum

Namalum adalah simbol makanan utama yang di manfaatkan pada upacara adat Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalunggun, namalum adalah makanan yang digunakan sebagai makanan adat yang akan disuapkan kepada ompung/ tua . Namalum merupakan makanan adat yang baik

berbagai rempah yang memiliki khasiat baik untuk kesehatan tubuh. Namalum berisi harapan agar malum ma haganup naborit , malum ma paruhuran semua penyakit dalam tubuh disembuhkan dan semua urusan hati dan perasaan yang bersifat buruk seperti dendam dan sakit hati ditenangkan, dan dipulihkan. Agar tidak ada hal mengganjal yang mengganggu jiwa. Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalunggun namalum juga sebagai simbol permohonan maaf untuk segala kekurangan, terutama kesalahan terhadap orang tua.

s. Mumbang (Kelapa Muda)

Mumbang (kelapa muda) adalah jenis tumbuhan berbatang tinggi buahnya tertutup sabut dan tempurung yang keras didalamnya terdapat daging yang mengandung air dan santan.

Gambar 33. Mumbang (Kelapa Muda)

Mumbang adalah Buah kelapa muda yang memiliki putik yang sudah besar. Kalapa mumbang, pisang ,dan tolor nairobus adalah makanan yang merupakan kebijakan masyarakat Simalungun untuk memberikan makanan yang bisa dimakan oleh orang tua yang lanjut usia. agar semua makanan yang

diserahkan kepada ompung/tua bisa dikonsumsi dengan mudah. Makna kalapa mumbang secara adat berisi harapan agar murah rezeki (ase mumbang ma tongon pansarian). Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalunggun selain agar dimudahkan rezeki, juga karena airnya yang manis dan buahnya yang lunak mudah dimakan oleh ompung/tua yang sudah tua. Kalapa mumbang yang dipakai adalah kelapa yang benar-benar masih hijau dan muda serta dipetik langsung dari pohonnya hal ini dilakukan untuk menunjukkan ketulusan dan tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik kepada orang tua.

t. Galuh Namabei (Pisang)

Galuh namabei adalah Buah pisang yang sudah tua/matang dan sudah waktunya untuk dimakan yang memiliki rasa yang manis.

Gambar 34. Pisang

Galuh namabei adalah makanan yang merupakan kebijakan masyarakat Simalungun untuk memberikan makanan yang bisa dimakan oleh orang tua yang lanjut usia. Fungsinya selain rasa manis yang dapat dirasakan juga agar semua makanan yang diserahkan kepada ompung/tua bisa dikonsumsi dengan mudah.

Makna dalam galuh namabei secara adat berisi harapan agar setiap orang yang

menerima/memakannya senantiasa memikirkan segala sesuatunya secara matang-matang terlebih dahulu dan tidak gegabah, agar memiliki hidup yang manis semanis pisang tersebut. Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda galuh namabei ini memiliki makna agar kehidupan semua anggota keluarga senantiasa dilingkupi oleh segala sesuatu yang bersifat manis, harmonis dan bahagia dan perasaan yang tenang dan lembut (lambok pangahapon). Pisang yang dipilih biasanya yaitu pisang terbaik dan sudah matang dan tidak ada cacat, jenis pisang bisa pisang sibarangan, pisang siomas dan pisang raja.

u. Dengke Sayur (Ikan Mas Arsik)

Dengke (Ikan) adalah binatang bertulang belakang yang hidup dalam air, bernafas dengan insang, menjaga keseimbangan berenang dengan sirip. Sayur yaitu tumbuh-tumbuhan (seperti kacang panjang,bawang batak, rias) dan sebagainya yang dapat dimasak.

Gambar 35. Ikan Mas Arsik

Dengke sayur adalah ikan yang dimasak dengan sayur dan dimasak utuh bersama dengan bagian dalamnya. Makna dengke secara adat berisi ungkapan

terima kasih untuk semua dukungan dan kerja keras, biasanya dengke sayur ini

terima kasih untuk semua dukungan dan kerja keras, biasanya dengke sayur ini