BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.2. Teori Yang Di Gunakan
2.2.1 Pengertian antropolinguistik
2.2.1.1. Konsep performansi
Performansi adalah bentuk bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yang memiliki kreatifitas dan selalu berkembang. “Performasi adalah kemampuan berbahasa seseorang ditunjukan melalui kemampuan yang rill, seperti pada saat berbicara, menulis, mendengarkan, pemahaman bahasa sebagai tindakan, dan pertunjukan komunikatif performansi bersifat konkrit”(Duranti 1997)
Antropologi berupaya mengkaji performansi tradisi budaya berdasarkan nilai dan norma budaya yang dirumuskan dari struktur teks, koteks dan konteks dalam sutu peristiwa atau performansi mengindikasikan bahwa nilai dan norma budaya tradisi lisan cerminan realitas sosial. Dalam proses komunikasi, teks sebagai tanda verbal pada umumnya didampingi oleh tanda lain, seperti koteks dan konteks.
Teks tersebut berfungsi untuk memperjelas pesan atau makna sebuah teks.
Performansi terbentuk dari sejumlah sumber dan dapat di interprestasikan dalam beberapa cara (Duranti, 1997). “Performance (performansi) adalah realisasi nyata
pengetahuan penutur dalam tuturan, yang didalamnya tercakup berbagai faktor sosial, fisik, dan kejiwaan” (Duranti,1997)
Dalam buku Oral Tradition and Verbal Art.( Finnegan 1992) memberikan sejumlah panduan yang dapat diaplikasikan dalam menganalisis dan membandingkan teks dengan memperhatikan aspek struktur, gaya, dan isi serta proses pengolahan teks lisan melalui penerjemah, pendeskripsian, dan presentasi.
(Finnagen 19920) mengatakan bahwa performansi adalah suatu peristiwa komunikasi yang memiliki dimensi proses komunikasi yang bermuatan sosial, budaya, dan estetik. Pertunjukan memiliki model tindakan dengan tanda tertentu yang dapat ditafsirkan sehingga tindakan komunikasi dapat diperagakan, diperkenalkan dengan objek luar, dan dibangun dari lingkungan kontekstualnya.
Pertunjukan budaya merupakan konteks pertunjukan yang menonjolkan suasana komunitas, yang berkaitan dengan ruang dan waktu.
(Finnegan 1992) “mengatakan bahwa performansi dalam tradisi budaya dapat dibedakan menjadi dua yaitu (1) performansi yang ditampilkan dan dihadapan audiens, dan (2) performansi yang tidak ditampilkan dihadapan audiens sesuai dengan kondisi tertentu”. Model performansi pertama dimanfaatkan untuk tujuan sakral. (Finnegan 1992) mengatakan bahwa dalam performansi melibatkan unsur performer (orang yang terlibat melakukan pertunjukan) , audiens dan partisipan (orang-orang yang terlibat pertunjukan), dengan media (sarana dan prasarana yang digunakan, baik verbal maupun material). Konsep performansi yang digunakan dalam kajian ini aspek- aspek kelisanan dari sebuah penyajian tradisi lisan di antaranya komposisi, audiens dan transmisi,. Performansi
merupakan penggunaan bahasa secara nyata dalam situasi komunikasi yang sebenarnya yang merupakan cerminan dari sistem bahasa yang ada pada pikiran penutur. Misalnya dalam tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda Duda pada masyarakat Simalungun, performansi ditunjukan pada acara pemberian nasehat berupa harapan, doa yang telah disampaikan.
2.2.1.2.Konsep Indeksikalitas
Salah satu ranah penelitian yang paling penting dalam dalam bidang antropolinguistik dalam tiga dekade terakhir adalah indeksikalitas (Duranti 1997).
“Indeksikalitas adalah tanda yang dihubungkan dengan objek yang ada pada dunia nyata( bukan merupakan penafsiran), sesuatu yang membutuhkan reaksi dan perhatian”.
Pierce (2001), “berpendapat bahwa indeksikalitas adalah hubungan antara tanda dan objeknya atau acuan yang yang bersifat kemiripan”. Dia menyatakan bahwa ikon adalah tanda yang memiliki kemiripan\similaritas dengan objeknya ikon, jika ia berupa hubungan kemiripan atau dengan kata lain, indeksikalitas merupakan sesuatu yang menggantikan sesuatu bagi seseorang dalam beberapa hal atau kapasitas. Ia tertuju kepada seseorang artinya di dalam benak orang itu tercipta suatu tanda lain yang ekuivalen, atau mungkin suatu tanda yang lebih berkembang. Tanda yang tercipta itu disebut sebagai interpretan dari tanda yang pertama. Tanda yang menggantikan sesuatu, yaitu objeknya, tidak dalam segala hal melainkan dalam rujukannya pada sejumput gagasan yang kadang disebut sebagai latar dari representamen. Pierce (2001), “mencirikan indeksikalitas sebagai “suatu tanda yang menggantikan (stand for) sesuatu semata-mata karena
ia mirip dengannya”, sebagai tanda yang “mengambil bagian dalam karakter-karakter objek”; atau sebagai tanda yang “kualitasnya mencerminkan objeknya”,dengan membangkitkan sensasi-sensasi didalam benak lantaran kemiripannya.”
Indeksikalitas tidak hanya berupa tanda-tanda yang terdapat didalam komunikasi visual, melainkan juga dalam hampir semua bidang semiotis termasuk didalam bahasa. Pada penelitian ini akan dibahas indeksikalitas dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada mayarakat Simalungun. Indeksikalitas adalah tanda yang didasarkan pada kemiripan diantara tanda (representamen) dan objeknya, walaupun semata-mata bertumpu pada pencitraan “naturalistik” seperti apa adanya, karena grafik skema, atau peta juga termasuk yang dapat dikatakan ikon. Jenis tanda yang didasari resemblance itu adalah tanda ikonis, dan gejalanya dapat disebut sebagai ikonitas.
Konsep indeksikalitas menyangkut tanda yang memiliki hubungan eksistensial dengan yang dianut. Pada masyarakat Simalungun terdapat banyak tanda yang digunakan sebagai indeksikalitas dalam Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda Duda pada masyarakat Simalungun.
2.2.1.3. Partisipan
Partisipan dalam teori Antropolinguistik merupakan interaksi keterlibatan dengan orang lain dalam berbahasa. Partisipasi (penampilan) dapat ditemukan pada unit-unit perilaku tuturan (speech activities). Selain itu, partisipasi juga terjadi situasi yang membutuhkan tuturan (speech situation) seperti acara makan
bersama dalam keluarga, acara-acara yang membutuhkan tuturan (speech event) seperti percakapan,wawanacara, dan dialog dengan orang lain, dan juga tindak tutur (speech act) yang berupa sapaan, permintaan maaf, pertanyaan, dan perkenalan (Hymes, 1972). Partisipasi dalam Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun dikenalkan dengan istilah tolu sahundulan lima saodoran
2.3. Pengertian Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda
Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda merupakan upacara adat terakhir kalinya diberikan kepada orang tua yang masih hidup dan layak dikatakan sayur matua, upacara adat ini bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang tua secara adat sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih anak kepada orang tua atas seluruh jasa orang tuanya. Dalam upacara adat Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda ini terdapat nilai teori, nilai ekonomi, solidaritas ,nilai kuasa, nilai, nilai seni dan nilai agama. Nilai ekonomi lebih dominan karena berpengaruh terhadap benda-benda yang digunakan dalam upacara adat tradisi mambere tungkot pakon duda-duda. Upacara adat tradisi mambere tungkot pakon duda-duda merupakan warisan budaya yang harus dipertahankan dan dilestarikan (Girsang Desy 2016)
Dalam pelaksaan upacara tradisi Mambere tungkot pakon duda-duda tolu sahundulan pakon lima saodoran mempunyai peran penting dan bisa dikatakan jika salah satu dari tolu sahundulan ini tidak hadir maka upacara tersebut tidak akan dilaksanakan oleh karena itu kehadiran dan kerja sama tolu sahundulan dan
lima sodoran ini sangat diharapkan. “tolu sahundulan lima saodoran” terdiri dari (1) tondong, tondong merupakan kedudukan yang paling tinggi dari kedudukan manusia yang lainnya dalam fungsi adat yang begitu mulia dan dihormati.
Tondong memberikan restu (pasu pasu) kepada anak borunya. (2) suhut atau sanina ini adalah saudara kandung atau saudara semarga (3) anak boru, adalah sebagai pembantu utama di dalam melaksankan suatu upacara adat. Anak boru mempunyai kewajiban meberikan perlengkapan berupa barang-barang yang di perlukan dalam sebuah upacara adat. Yang termasuk dalam kelompok 5 saodoran itu adalah (1) tondong (2) sanina (3) suhut (4) anak boru jabu (5) anak boru mantori.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Metode Dasar
Metode dasar yang digunakan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ini berusaha menggali, menemukan, mengungkapkan dan menjelaskan “meaning” (makna) “pattrens” (pola) objek penelitian yang di teliti secara holistik makna dapat dipahami sebagai fungsi, nilai, norma dan kearifan lokal, sedangkan pola dapat dipahami sebagai kaidah struktur, formula, yang pada giliranya dapat menghasilkan model. Kedua hal itu lah yang menjadi tujuan akhir penelitian kualitatif ( Sibarani, 2017:39).
Penelitian kulitatif ini mengikuti langkah langkah (Miles dan Huberman 1984) yakni (1) data collection (pengumpulan data), merupakan pengumpulan data berupa kata kata dengan cara wawancara, pengamatan, intisari dokumen, perekaman dan catatan; (2) data reduction (reduksi kata), yakni merangkum, memilih hal hal yang pokok, memfokuskan pada hal hal penting, di cari tema dan pola nya dan “menyisihkan” yang tidak perlu; (3) data display (penyajian data) yakni memperlihatkan data, mengklasifikasikan data dan menyajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif atau bagan; (4) clussiondrawing/verifikation (penarikan kesimpulan/verifikasi) yakni penarikan kesimpulandan verifikasi sehingga dapat merumuskan temuan temuan penelitian.
3.2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yaitu merupakan tempat geografis di mana seorang peneliti mendapatkan informasi yang menjadi data untuk bahan tulisannya. Dalam hal ini penulis memilih lokasi penelitian di Desa Bahbulawan Nagori Sigodang Barat, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun. Ada 3 alasan penulis memilih lokasi tersebut : (1) karena Desa Bahbulawan merupakan desa adat yang masih melaksanakan tradisi mambere tungkot pakon duda-duda hingga sekarang. (2), lokasi penelitian mudah di jangkau dan (3) memiliki informan yang memadai.
3.3. Sumber Data Penelitian
Sumber data merupakan segala sesuatu yang dapat memperoleh informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan sekunder
a. Data Primer
Data primer adalah data yang asli didapatkan langsung dari lapangan pada saat penelitian dilakukan. Dalam penelitian ini data primer didapatkan dari seorang informan melalui kegiatan wawancara.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data pendukung yang sudah pernah dikaji sebelumnya yang dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, skripsi, jurnal dan internet yang berkaitan dengan judul yang diangkat.
3.4. Instrumen Penelitian
Menurut Hutomo (Bungin 2001:56) salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia seperti; angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan sebagainya dapat digunakan, akan tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen kunci. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti adalah mutlak, karena peneliti harus berinteraksi dengan lingkungan baik manusia dan non manusia yang ada dalam ruang lingkup penelitian.
Pada saat melakukan wawancara dengan informan, penulis menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang diajukan penulis dalam melakukan wawancara dengan informan. Alat bantu yang digunakan adalah berupa telepon genggam sebagai alat bantu untuk merekam kegiatan pada saat wawancara, buku tulis dan pulpen sebagai alat untuk mencatat setiap informasi yang didapat dari informan, kamera sebagai alat untuk mengambil gambar pada saat melakukan penelitian. Dan pada saat akan mengolah data yang sudah ada, penulis menggunakan alat bantu berupa laptop.
3.5. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Metode pustaka adalah melakukan suatu penelitian atau pengamatan yang sering diterapkan dengan tehnik kepustakaan dengan mencari data dari petua adat serta masyarakat setempat.
2. Metode lapangan meliputi a. Observasi
observasi memiliki ciri spesifik bila dibandingan teknik yang lain.
Observasi melakukan kegiatan pengukuran dengan menggukan indra penglihatan, yang juga berarti tidak melakukan pertanyaan-pertanyaan, Sutrisno hadi dalam buku (sugiyono 2016:145) mengemukakan bahwa observasi merupakan proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis serta psikologis
Dalam penelitian ini, observasi langsung adalah teknik menyampaikan langsung tradisi mambere tungkot pakon duda-duda. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana upacaranya. Dengan observasi dapat kita peroleh dengan metode lain.
b. Metode Wawancara
salah satu tehnik pengumpulan data dalam penelitian adalah metode wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada informan. Wawancara dilakukan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan sejumlah responden sedikit/banyak.
C. Kepustakaan
Kepustakaan yaitu mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku, internet dan skripsi yang berkaitan dengan penelitian.
3.6. Metode Analisis Data
Langkah langkah yang dilakukan penulis dalam menganalisis data hasil penelitian sebagai berikut:
1. Setelah data terkumpul, maka penulis akan menerjemakan data dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia
2. mengklasifikasikan data yang sesuai dengan pokok permasalahan.
3. Menganalisis data dengan menggunakan teori yang sudah ditentukan.
4. Mendeskripsikan hasil dari analisis yang telah dilakukan.
5. Membuat kesimpulan dari hasil analisis dan saran
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada Bab ini disajikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda yaitu untuk mengetahui bagimanakah tahapan, performansi, indeksikalitas, dan partisipasi dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun.
Sebelum pelaksanaan upacara adat mambere tungkot pakon duda-duda terlebih dahulu dibuat pertemuan keluarga inti untuk bermusyawarah untuk membahas hal-hal yang di perlukan dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda. Dalam bermusyawarah ada beberapa hal yang harus di bicarakan, yaitu membahas tentang penentuan waktu pelaksanaan upacara adat. Penentuan waktu pelaksanaan upacara adat akan disesuaikan dengan kalender baik ari-ari namadear (hari yang baik) yang pada saat ini dapat di lihat dari buku susukara GKPS untuk menyesuaikan kapan waktu yang baik untuk melaksanakan upacara adat/ horja adat. Menurut kepercayaan masyarakat Simalungun ada hari yang baik untuk melaksanakan sebuah upacara adat dan ada pula hari yang tidak baik untuk melaksanakan sebuah upacara adat.
Dalam musyawarah akan dibahas tentang biaya yang dibutuhkan dalam sebuah upacara adat berkaitan erat dengan persiapan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun. Semua bahan yang di butuhkan dalam pelaksanaan upacara adat di masukkan kedalam daftar anggaran dana kemudian akan disepakati oleh keluarga
dan dilakukan pembagian tugas. Selain membahas tentang biaya dalam musyawarah ini akan membahas tentang surat undangan. Surat undangan merupakan surat pemberitahuan yang dikirim kepada orang lain agar pihak lain yang dimaksud hadir pada waktu, tempat, acara, yang telah ditentukan.
Pembagian undangan umum akan di serahkan kepada boru, sedangkan undangan kepada tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut, tondong ni tondong akan di serahkan kepada suhut dan akan di datangi langsung kediaman tondong.
4.1.Tahapan-Tahapan Dalam Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda Pada Masyarakat Simalungun.
4.1.1. Acara Kebaktian
Pelaksanaan Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda dimulai dari pagi hari (Sogotni ari). Berkumpul Semua pihak di tempat orang tua yang akan diberikan tungkot pakon duda-duda. Keluarga dan undangan disambut dan dituntun ke tempat duduk sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku. mengatur tempat duduk
Siamun (sebelah kanan) = Tondong
Luluan ( atas ) = hasuhuton
Talaga ( bawah) = boru
Sebelum memulai sebuah upacara adat pada masyarakat Simalungun selalu mengawali kegiatan dengan kebaktian agar upacara adat yang akan dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan baik.
Gambar 1. Kebaktian Singkat
Acara keagamaan akan disesuaikan dengan agama yang dianut oleh keluarga yang melaksanakan upacara adat. Memohon berkat dan perlindungan kepada Tuhan agar orang tua diberikan kesehatan, umur yang panjang, kebahagiaan, dan kekuatan di usianya yang semakin tua
4.1.2 Manurduk Demban (Memberikan Sirih)
Tahapan kedua yaitu Manurduk demban (memberikan sirih) adalah salah satu tradisi pada masyarakat Simalungun yang dilakukan sejak lama digunakan untuk upacara adat. Manurduk demban terdiri dari, demban (sirih), hapur (kapur sirih), pining (pinang), timbahou (tembakau) dan gambir. Manurduk Demban harus dengan takaran yang pas agar pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik.
Dalam Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda ada tiga jenis manurduk demban yang digunakan yaitu;
Demban Sayur: Daun sirih yang tidak dilipat, namun di isi dengan
bumbu seperti gambir, kapur dan pinang.
Demban Tangan-Tangan: Sirih yang berisi bumbu seperti gambir,
kapur dan tembakau yang disuguhkan langsung kepada seseorang, tanpa panindih demban.
Demban salpu mangan: sirih lengkap dengan bumbu digunakan
setelah selesai makan diberikan kepada tondong dan kepada undangan.
Sesama keluarga memberi dan menerima sirih pada masyarakat Simalungun disebut marsisurdukan demban. Dimulai dari Anak/ boru memberi sirih ke orang tua (ompung) dan dilanjutkan oleh pahompu memberi sirih kepada ompung/ tua. Urutan memberi sirih dimulai dari pahompu dari anak paling besar sampai pahompu dari anak paling kecil dilanjutkan kepada cicit (apabila sudah ada).
Gambar 2. Manurduk demban ( memberi sirih)
Dilanjutkan dengan memberi sirih kepada pihak tondong adapun urutanya yaitu yang pertama dimulai dari tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut, dan tondong ni tondong
4.1.3. Maranggir (Membersihkan Diri)
Tahapan selanjutnya Maranggir merupakan jenis kearifan lokal (local wisdom) pada masyarakat Simalungun. Maranggir adalah sebuah ritual penyucian diri (membersihkan diri) yang dilakukan oleh masyarakat Simalungun.
Maranggir menggunakan jeruk purut dicampur dengan air biasa yang disiram ke tubuh. Biasanya, maranggir atau mandi jeruk purut seperti ini dilakukan di paridian (tempat mandi) yang biasa dilakukan di air pancuran (passur ni huta).
semua anak dan pahompu mangugasi ompung/tua memberikan setelan pakaian dan air mandi yang telah dicampur dengan jeruk purut, ompung/tua akan dibawa maranggir ke sungai/pancuran jika tidak ada bisa maranggir di kamar mandi. Ompung dimandikan oleh pahompu laki-laki dan tua dimandikan oleh
pahompu perempuan. Setelah selesai maranggir Ompung/tua akan iugasi (diganti pakaiannya) dengan pakaian adat yang sebelumya sudah diberikan. Ompung akan iugasi oleh anak dan pahompu laki-laki sedangkan tua akan iugasi oleh parumaen (menantu perempuan) dan pahompu perempuan.
Gambar 3. mangugasi Tua
Setelah selesai iugasi ompung/tua akan dituntun kembali ke rumah dengan menggunakan tongkat dari tebu, disambut dengan taburan boras sihoras-horas lalu dituntun ke tempat duduk di atas podoman (tilam) yang dilapisi dengan amak bontar (tikar putih) yang sudah ditata rapi, letaknya di sebelah luluan (atas).
Setelah orang tua duduk orang tua meminta padi dalam tapongan (tumbuan) orang tua tersebut menancapkan tebu ke atas padi yang berada dalam tapongan dan berkata; omei on ma bonih nima, sakambuyur satapongan, marbunga songon tobu on ma hanima, jagar ma hanima ipudini ari songon jagarni na marbunga.
(Padi inilah yang menjadi benih kalian, dan beranak cuculah kalian di kemudian hari) setelah diserahkan padi tersebut semua anak mengucapkan terima kasih kepada orang tua.
4.1.4. Memberikan Tungkot Dan Duda-Duda
Tadisi mambere tungkot pakon duda-duda merupakan upacara adat terakhir kalinya diberikan kepada orang tua yang masih hidup dan layak disebut sayur matua, upacara adat ini bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang tua secara adat sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih anak terhadap orang tua atas seluruh jasa orang tuanya. Sebelum menyerakhan tungkot dan duda-duda terlebih dahulu Pihak tondong memyematkan ompung gotong, dan menyematkan tua bulang. Parumaen menyematkan rudang-rudang (bunga pinang) ke bulang/ gotong dilanjutkan dengan tondong mamboras tengeri (meletakkan beras ke atas kepala) lalu ihorashon (menabur beras dengan cara menabur ke arah langit-langit) sebanyak tiga kali. Tebu yang tadinya dipakai oleh ompung menjadi tongkat diminta oleh segenap pahompu secara bersamaan.
Setelah tebu diminta dari ompung, sebagai pengganti diserahkan sebuah tongkat yang di tempah yang memiliki hiasan melingkar yang terbuat dari emas/perak (sesuai dengan kesepakatan anak-anaknya) jumlah hiasan dalam tongkat disesuaikan dengan berapa jumlah anak. Apabila ompung memiliki kebiasaan merokok maka pahompu akan memberikan ompung rokok. Selanjutnya pahompu perempuan akan Menyerakan bajut kepada tua
Gambar 4. Memberikan Tongkat dan Duda-Duda
4.1.5. Mangan Riap (Makan Bersama)
Setelah acara pemberian tungkot pakon duda-duda selesai maka acara selanjutnya adalah mangan riap (makan bersama). Sekaligus acara /manurduk dayok nabinatur. Dayok nabinatur adalah ayam yang telah di potong dan di susun kembali di atas piring sesuai susunan ayam sewaktu masih hidup, arti dari dayok nabinatur merupakan sebuah doa atau harapan, ucapan terima kasih dan memiliki makna agar terdapat keteraturan dalam menjalankan kehidupan.
Gambar .6. manurduk dayok ( memberikan ayam yang telah di susun diatas piring)
Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda yang pertama manurduk dayok adalah anak. Anak memberikan dayok nabinatur kepada orang tua.
Selanjutnya Pahompu memberikann dayok nabinatur kepada ompung/tua : on ma ompung/ tua dayok nabinatur ase songon paraturni dayok on ma tongon hita hanjon hujanan ( inilah ompung /tua ayam yang di atur seperti teraturnya ayam inilah kehidupan kita kedepannya) yang kedua Niombah pakon haganupan pahompu mamberehon namalum hubani orang tua on ma bapa/inang namalum sai malum ma tongon haganup naborit nassiam, malum homa paruhuran nassiam hubannami ganup niombah pakon haganup pahoppu nassiam (inilah Bapak/Ibu namalum (sehatlah semua penyakit yang ada di tubuh kalian, dan maafkan kami anak dan cucumu semuanya) dan ketiga Niombah pakon pahompu haganup mamberehon mumbang kepada orang tua on ma ompung mumbang ase mumbang ma tongon passarian (inilah bapa/ibu kelapa muda muda semakin banyak lah rejeki kita kedepannya). Tidak hanya orang tua yang menerima surduk-surduk melainkan semua pihak tondong di mulai dari tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut dan tondong ni anak. Selain dari surduk-surduk tondong juga menerima jambar, yaitu Tondong bona menerima jambar bagian kepala, tondong jabu menerima bagian tulan bona, tondong bona menerima tulan bona, tondong mangihut menerima bagian tulan tangan dan tondong ni anak menerima tulan tangan. Selesai acara makan boru memberi demban salpu mangan kepada semua tondong mulai dari tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut dan tondong ni anak.
4.1.6. Marpodah (Memberikan Nasehat)
Marpodah (memberikan nasehat) acara marpodah/ memberi nasehat kepada anak adalah tahapan yang tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat Simalungun dengan tujuan agar semua anak-anaknya hidup rukun dan saling menopang satu sama lain.
Gambar 7. Marpodah (Memberikan Nasehat)
Saat marpodah ini orang tua sekalian menyampaikan/memberikan manoh-manoh jika ada dan biasanya berupa emas, tanah dan uang. Semua cucunya
Saat marpodah ini orang tua sekalian menyampaikan/memberikan manoh-manoh jika ada dan biasanya berupa emas, tanah dan uang. Semua cucunya