• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.3. Pengertian Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda

Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda merupakan upacara adat terakhir kalinya diberikan kepada orang tua yang masih hidup dan layak dikatakan sayur matua, upacara adat ini bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang tua secara adat sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih anak kepada orang tua atas seluruh jasa orang tuanya. Dalam upacara adat Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda ini terdapat nilai teori, nilai ekonomi, solidaritas ,nilai kuasa, nilai, nilai seni dan nilai agama. Nilai ekonomi lebih dominan karena berpengaruh terhadap benda-benda yang digunakan dalam upacara adat tradisi mambere tungkot pakon duda-duda. Upacara adat tradisi mambere tungkot pakon duda-duda merupakan warisan budaya yang harus dipertahankan dan dilestarikan (Girsang Desy 2016)

Dalam pelaksaan upacara tradisi Mambere tungkot pakon duda-duda tolu sahundulan pakon lima saodoran mempunyai peran penting dan bisa dikatakan jika salah satu dari tolu sahundulan ini tidak hadir maka upacara tersebut tidak akan dilaksanakan oleh karena itu kehadiran dan kerja sama tolu sahundulan dan

lima sodoran ini sangat diharapkan. “tolu sahundulan lima saodoran” terdiri dari (1) tondong, tondong merupakan kedudukan yang paling tinggi dari kedudukan manusia yang lainnya dalam fungsi adat yang begitu mulia dan dihormati.

Tondong memberikan restu (pasu pasu) kepada anak borunya. (2) suhut atau sanina ini adalah saudara kandung atau saudara semarga (3) anak boru, adalah sebagai pembantu utama di dalam melaksankan suatu upacara adat. Anak boru mempunyai kewajiban meberikan perlengkapan berupa barang-barang yang di perlukan dalam sebuah upacara adat. Yang termasuk dalam kelompok 5 saodoran itu adalah (1) tondong (2) sanina (3) suhut (4) anak boru jabu (5) anak boru mantori.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Dasar

Metode dasar yang digunakan penulis dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ini berusaha menggali, menemukan, mengungkapkan dan menjelaskan “meaning” (makna) “pattrens” (pola) objek penelitian yang di teliti secara holistik makna dapat dipahami sebagai fungsi, nilai, norma dan kearifan lokal, sedangkan pola dapat dipahami sebagai kaidah struktur, formula, yang pada giliranya dapat menghasilkan model. Kedua hal itu lah yang menjadi tujuan akhir penelitian kualitatif ( Sibarani, 2017:39).

Penelitian kulitatif ini mengikuti langkah langkah (Miles dan Huberman 1984) yakni (1) data collection (pengumpulan data), merupakan pengumpulan data berupa kata kata dengan cara wawancara, pengamatan, intisari dokumen, perekaman dan catatan; (2) data reduction (reduksi kata), yakni merangkum, memilih hal hal yang pokok, memfokuskan pada hal hal penting, di cari tema dan pola nya dan “menyisihkan” yang tidak perlu; (3) data display (penyajian data) yakni memperlihatkan data, mengklasifikasikan data dan menyajikan dalam bentuk teks yang bersifat naratif atau bagan; (4) clussiondrawing/verifikation (penarikan kesimpulan/verifikasi) yakni penarikan kesimpulandan verifikasi sehingga dapat merumuskan temuan temuan penelitian.

3.2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yaitu merupakan tempat geografis di mana seorang peneliti mendapatkan informasi yang menjadi data untuk bahan tulisannya. Dalam hal ini penulis memilih lokasi penelitian di Desa Bahbulawan Nagori Sigodang Barat, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun. Ada 3 alasan penulis memilih lokasi tersebut : (1) karena Desa Bahbulawan merupakan desa adat yang masih melaksanakan tradisi mambere tungkot pakon duda-duda hingga sekarang. (2), lokasi penelitian mudah di jangkau dan (3) memiliki informan yang memadai.

3.3. Sumber Data Penelitian

Sumber data merupakan segala sesuatu yang dapat memperoleh informasi mengenai data. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan sekunder

a. Data Primer

Data primer adalah data yang asli didapatkan langsung dari lapangan pada saat penelitian dilakukan. Dalam penelitian ini data primer didapatkan dari seorang informan melalui kegiatan wawancara.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data pendukung yang sudah pernah dikaji sebelumnya yang dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, skripsi, jurnal dan internet yang berkaitan dengan judul yang diangkat.

3.4. Instrumen Penelitian

Menurut Hutomo (Bungin 2001:56) salah satu ciri penelitian kualitatif adalah peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia seperti; angket, pedoman wawancara, pedoman observasi dan sebagainya dapat digunakan, akan tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen kunci. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti adalah mutlak, karena peneliti harus berinteraksi dengan lingkungan baik manusia dan non manusia yang ada dalam ruang lingkup penelitian.

Pada saat melakukan wawancara dengan informan, penulis menggunakan instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang diajukan penulis dalam melakukan wawancara dengan informan. Alat bantu yang digunakan adalah berupa telepon genggam sebagai alat bantu untuk merekam kegiatan pada saat wawancara, buku tulis dan pulpen sebagai alat untuk mencatat setiap informasi yang didapat dari informan, kamera sebagai alat untuk mengambil gambar pada saat melakukan penelitian. Dan pada saat akan mengolah data yang sudah ada, penulis menggunakan alat bantu berupa laptop.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Metode pustaka adalah melakukan suatu penelitian atau pengamatan yang sering diterapkan dengan tehnik kepustakaan dengan mencari data dari petua adat serta masyarakat setempat.

2. Metode lapangan meliputi a. Observasi

observasi memiliki ciri spesifik bila dibandingan teknik yang lain.

Observasi melakukan kegiatan pengukuran dengan menggukan indra penglihatan, yang juga berarti tidak melakukan pertanyaan-pertanyaan, Sutrisno hadi dalam buku (sugiyono 2016:145) mengemukakan bahwa observasi merupakan proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis serta psikologis

Dalam penelitian ini, observasi langsung adalah teknik menyampaikan langsung tradisi mambere tungkot pakon duda-duda. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana upacaranya. Dengan observasi dapat kita peroleh dengan metode lain.

b. Metode Wawancara

salah satu tehnik pengumpulan data dalam penelitian adalah metode wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada informan. Wawancara dilakukan apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan sejumlah responden sedikit/banyak.

C. Kepustakaan

Kepustakaan yaitu mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku, internet dan skripsi yang berkaitan dengan penelitian.

3.6. Metode Analisis Data

Langkah langkah yang dilakukan penulis dalam menganalisis data hasil penelitian sebagai berikut:

1. Setelah data terkumpul, maka penulis akan menerjemakan data dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia

2. mengklasifikasikan data yang sesuai dengan pokok permasalahan.

3. Menganalisis data dengan menggunakan teori yang sudah ditentukan.

4. Mendeskripsikan hasil dari analisis yang telah dilakukan.

5. Membuat kesimpulan dari hasil analisis dan saran

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada Bab ini disajikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda yaitu untuk mengetahui bagimanakah tahapan, performansi, indeksikalitas, dan partisipasi dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun.

Sebelum pelaksanaan upacara adat mambere tungkot pakon duda-duda terlebih dahulu dibuat pertemuan keluarga inti untuk bermusyawarah untuk membahas hal-hal yang di perlukan dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda. Dalam bermusyawarah ada beberapa hal yang harus di bicarakan, yaitu membahas tentang penentuan waktu pelaksanaan upacara adat. Penentuan waktu pelaksanaan upacara adat akan disesuaikan dengan kalender baik ari-ari namadear (hari yang baik) yang pada saat ini dapat di lihat dari buku susukara GKPS untuk menyesuaikan kapan waktu yang baik untuk melaksanakan upacara adat/ horja adat. Menurut kepercayaan masyarakat Simalungun ada hari yang baik untuk melaksanakan sebuah upacara adat dan ada pula hari yang tidak baik untuk melaksanakan sebuah upacara adat.

Dalam musyawarah akan dibahas tentang biaya yang dibutuhkan dalam sebuah upacara adat berkaitan erat dengan persiapan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun. Semua bahan yang di butuhkan dalam pelaksanaan upacara adat di masukkan kedalam daftar anggaran dana kemudian akan disepakati oleh keluarga

dan dilakukan pembagian tugas. Selain membahas tentang biaya dalam musyawarah ini akan membahas tentang surat undangan. Surat undangan merupakan surat pemberitahuan yang dikirim kepada orang lain agar pihak lain yang dimaksud hadir pada waktu, tempat, acara, yang telah ditentukan.

Pembagian undangan umum akan di serahkan kepada boru, sedangkan undangan kepada tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut, tondong ni tondong akan di serahkan kepada suhut dan akan di datangi langsung kediaman tondong.

4.1.Tahapan-Tahapan Dalam Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda Pada Masyarakat Simalungun.

4.1.1. Acara Kebaktian

Pelaksanaan Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda dimulai dari pagi hari (Sogotni ari). Berkumpul Semua pihak di tempat orang tua yang akan diberikan tungkot pakon duda-duda. Keluarga dan undangan disambut dan dituntun ke tempat duduk sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku. mengatur tempat duduk

 Siamun (sebelah kanan) = Tondong

 Luluan ( atas ) = hasuhuton

 Talaga ( bawah) = boru

Sebelum memulai sebuah upacara adat pada masyarakat Simalungun selalu mengawali kegiatan dengan kebaktian agar upacara adat yang akan dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan baik.

Gambar 1. Kebaktian Singkat

Acara keagamaan akan disesuaikan dengan agama yang dianut oleh keluarga yang melaksanakan upacara adat. Memohon berkat dan perlindungan kepada Tuhan agar orang tua diberikan kesehatan, umur yang panjang, kebahagiaan, dan kekuatan di usianya yang semakin tua

4.1.2 Manurduk Demban (Memberikan Sirih)

Tahapan kedua yaitu Manurduk demban (memberikan sirih) adalah salah satu tradisi pada masyarakat Simalungun yang dilakukan sejak lama digunakan untuk upacara adat. Manurduk demban terdiri dari, demban (sirih), hapur (kapur sirih), pining (pinang), timbahou (tembakau) dan gambir. Manurduk Demban harus dengan takaran yang pas agar pesan yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik.

Dalam Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda ada tiga jenis manurduk demban yang digunakan yaitu;

 Demban Sayur: Daun sirih yang tidak dilipat, namun di isi dengan

bumbu seperti gambir, kapur dan pinang.

 Demban Tangan-Tangan: Sirih yang berisi bumbu seperti gambir,

kapur dan tembakau yang disuguhkan langsung kepada seseorang, tanpa panindih demban.

 Demban salpu mangan: sirih lengkap dengan bumbu digunakan

setelah selesai makan diberikan kepada tondong dan kepada undangan.

Sesama keluarga memberi dan menerima sirih pada masyarakat Simalungun disebut marsisurdukan demban. Dimulai dari Anak/ boru memberi sirih ke orang tua (ompung) dan dilanjutkan oleh pahompu memberi sirih kepada ompung/ tua. Urutan memberi sirih dimulai dari pahompu dari anak paling besar sampai pahompu dari anak paling kecil dilanjutkan kepada cicit (apabila sudah ada).

Gambar 2. Manurduk demban ( memberi sirih)

Dilanjutkan dengan memberi sirih kepada pihak tondong adapun urutanya yaitu yang pertama dimulai dari tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut, dan tondong ni tondong

4.1.3. Maranggir (Membersihkan Diri)

Tahapan selanjutnya Maranggir merupakan jenis kearifan lokal (local wisdom) pada masyarakat Simalungun. Maranggir adalah sebuah ritual penyucian diri (membersihkan diri) yang dilakukan oleh masyarakat Simalungun.

Maranggir menggunakan jeruk purut dicampur dengan air biasa yang disiram ke tubuh. Biasanya, maranggir atau mandi jeruk purut seperti ini dilakukan di paridian (tempat mandi) yang biasa dilakukan di air pancuran (passur ni huta).

semua anak dan pahompu mangugasi ompung/tua memberikan setelan pakaian dan air mandi yang telah dicampur dengan jeruk purut, ompung/tua akan dibawa maranggir ke sungai/pancuran jika tidak ada bisa maranggir di kamar mandi. Ompung dimandikan oleh pahompu laki-laki dan tua dimandikan oleh

pahompu perempuan. Setelah selesai maranggir Ompung/tua akan iugasi (diganti pakaiannya) dengan pakaian adat yang sebelumya sudah diberikan. Ompung akan iugasi oleh anak dan pahompu laki-laki sedangkan tua akan iugasi oleh parumaen (menantu perempuan) dan pahompu perempuan.

Gambar 3. mangugasi Tua

Setelah selesai iugasi ompung/tua akan dituntun kembali ke rumah dengan menggunakan tongkat dari tebu, disambut dengan taburan boras sihoras-horas lalu dituntun ke tempat duduk di atas podoman (tilam) yang dilapisi dengan amak bontar (tikar putih) yang sudah ditata rapi, letaknya di sebelah luluan (atas).

Setelah orang tua duduk orang tua meminta padi dalam tapongan (tumbuan) orang tua tersebut menancapkan tebu ke atas padi yang berada dalam tapongan dan berkata; omei on ma bonih nima, sakambuyur satapongan, marbunga songon tobu on ma hanima, jagar ma hanima ipudini ari songon jagarni na marbunga.

(Padi inilah yang menjadi benih kalian, dan beranak cuculah kalian di kemudian hari) setelah diserahkan padi tersebut semua anak mengucapkan terima kasih kepada orang tua.

4.1.4. Memberikan Tungkot Dan Duda-Duda

Tadisi mambere tungkot pakon duda-duda merupakan upacara adat terakhir kalinya diberikan kepada orang tua yang masih hidup dan layak disebut sayur matua, upacara adat ini bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada orang tua secara adat sebagai wujud ungkapan rasa terima kasih anak terhadap orang tua atas seluruh jasa orang tuanya. Sebelum menyerakhan tungkot dan duda-duda terlebih dahulu Pihak tondong memyematkan ompung gotong, dan menyematkan tua bulang. Parumaen menyematkan rudang-rudang (bunga pinang) ke bulang/ gotong dilanjutkan dengan tondong mamboras tengeri (meletakkan beras ke atas kepala) lalu ihorashon (menabur beras dengan cara menabur ke arah langit-langit) sebanyak tiga kali. Tebu yang tadinya dipakai oleh ompung menjadi tongkat diminta oleh segenap pahompu secara bersamaan.

Setelah tebu diminta dari ompung, sebagai pengganti diserahkan sebuah tongkat yang di tempah yang memiliki hiasan melingkar yang terbuat dari emas/perak (sesuai dengan kesepakatan anak-anaknya) jumlah hiasan dalam tongkat disesuaikan dengan berapa jumlah anak. Apabila ompung memiliki kebiasaan merokok maka pahompu akan memberikan ompung rokok. Selanjutnya pahompu perempuan akan Menyerakan bajut kepada tua

Gambar 4. Memberikan Tongkat dan Duda-Duda

4.1.5. Mangan Riap (Makan Bersama)

Setelah acara pemberian tungkot pakon duda-duda selesai maka acara selanjutnya adalah mangan riap (makan bersama). Sekaligus acara /manurduk dayok nabinatur. Dayok nabinatur adalah ayam yang telah di potong dan di susun kembali di atas piring sesuai susunan ayam sewaktu masih hidup, arti dari dayok nabinatur merupakan sebuah doa atau harapan, ucapan terima kasih dan memiliki makna agar terdapat keteraturan dalam menjalankan kehidupan.

Gambar .6. manurduk dayok ( memberikan ayam yang telah di susun diatas piring)

Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda yang pertama manurduk dayok adalah anak. Anak memberikan dayok nabinatur kepada orang tua.

Selanjutnya Pahompu memberikann dayok nabinatur kepada ompung/tua : on ma ompung/ tua dayok nabinatur ase songon paraturni dayok on ma tongon hita hanjon hujanan ( inilah ompung /tua ayam yang di atur seperti teraturnya ayam inilah kehidupan kita kedepannya) yang kedua Niombah pakon haganupan pahompu mamberehon namalum hubani orang tua on ma bapa/inang namalum sai malum ma tongon haganup naborit nassiam, malum homa paruhuran nassiam hubannami ganup niombah pakon haganup pahoppu nassiam (inilah Bapak/Ibu namalum (sehatlah semua penyakit yang ada di tubuh kalian, dan maafkan kami anak dan cucumu semuanya) dan ketiga Niombah pakon pahompu haganup mamberehon mumbang kepada orang tua on ma ompung mumbang ase mumbang ma tongon passarian (inilah bapa/ibu kelapa muda muda semakin banyak lah rejeki kita kedepannya). Tidak hanya orang tua yang menerima surduk-surduk melainkan semua pihak tondong di mulai dari tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut dan tondong ni anak. Selain dari surduk-surduk tondong juga menerima jambar, yaitu Tondong bona menerima jambar bagian kepala, tondong jabu menerima bagian tulan bona, tondong bona menerima tulan bona, tondong mangihut menerima bagian tulan tangan dan tondong ni anak menerima tulan tangan. Selesai acara makan boru memberi demban salpu mangan kepada semua tondong mulai dari tondong pamupus, tondong jabu, tondong bona, tondong mangihut dan tondong ni anak.

4.1.6. Marpodah (Memberikan Nasehat)

Marpodah (memberikan nasehat) acara marpodah/ memberi nasehat kepada anak adalah tahapan yang tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat Simalungun dengan tujuan agar semua anak-anaknya hidup rukun dan saling menopang satu sama lain.

Gambar 7. Marpodah (Memberikan Nasehat)

Saat marpodah ini orang tua sekalian menyampaikan/memberikan manoh-manoh jika ada dan biasanya berupa emas, tanah dan uang. Semua cucunya mendapatkan manoh-manoh dan berkat berupa beras, permen, tebu dan uang logam yang di isi di dalam bahul-bahul (sejenis rajut) kemudian di sawerkan kepada cucunya dan semua cucunya berlomba mengambil manoh-manoh tersebut. Selanjutanya acara tondong marpodah (memberikan nasehat) kepada semua anak dan jika ada biasanya tondong membawa oleh-oleh berupa ulos/hiou hiou pamalas daging kemudian di ulosi semua anak.

Selanjutanya acara suhut kepada borunya halani domma manjalo adat hanami hunbani tondong ta sonari hanami mambere adat ma hanami hubani

memberi adat kepada boru dan panogolan kami) karena sesuai filosofi masyarakat Simalungun sombah martondong, hombar marsanina, elek marboru.

Setelah selesai semua acara anak mangappu kepada semua undangan pada kesempatan ini anak atau suhut mengucapkan terima kasih kepada semua parhobas/boru yang sudah mengerjakan tugasnya dengan baik dan suhut juga berterima kasih kepada seluruh tamu undangan yang sudah hadir dan meminta maaf kepada semua yang hadir jika ada salah dalam penutur kata.

4.2. Performansi Dalam Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda Pada Masyarakat Simalungun Di Desa Bahbulwan.

Skripsi ini membahas tentang Antropoliguistik yang berhubungan dengan tiga relasi penting yang perlu diperhatikan. Pertama hubungan antara satu bahasa dengan satu budaya yang bersangkutan yang berarti bahwa ketika mempelajari suatu budaya kita juga harus mempelajari bahasanya dan ketika kita mempelajari bahasanya kita juga harus mempelajari budayanya. Performansi adalah kemampuan seseorang dalam berbahasa yang ditunjukan melalui kemampuan riil pada saat berbicara, mendengarkan, dan menulis. Pemahaman bahasa sebagai tindakan pertunjukan komunikatif, Performasi memiliki sifat yang konkret.

(Duranti, 1997 : 14-17).

Masyarakat Batak khususnya masyarakat Simalungun mengenal Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda sebagai bagian dari beberapa kolektifitas budaya yang masih dilaksanakan sampai saat ini, dan mambere tungkot pakon duda-duda ini dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan terima kasih anak kepada orang tua yang telah membesarkan semua anak-anaknya.

Tahapan Performasi Dalam Acara Kebaktian Singkat Dapat Dilihat Dari Data Di Bawah Ini

Rajaparhata: Halani domma tuppu hita haganup ijon janah Halani halak kristen do hita, maningon pukkahonta do horja adat on bani acara partonggoan singkat ase tarpasu-pasu Tuhan bani horjata bani sadarion na iboanhon pengurus gereja na adong ihuta on

Rajaparhata: Kita sudah berkumpul ditempat ini dan karena kita jemaat kristen, sebaiknya kita mengadakan kebaktian singkat supaya Tuhan turut serta dalam acara kita pada hari ini, kami serahkan kepada pengurus gereja yang ada di kampung ini).

Parhorjani kuria: Patutdo hita makkatahon diateitupa hubani Tuhan domma ibere batta panorang na laho mambaen acara partonggoan irumah namarsangapon.

Parhorjani kuria: Patut kita menucap syukur kehadirat Tuhan yang mana masih memberikan kita kesempatan melaksanakan kebaktian singkat di rumah ini)

Gambar. 8 Kebaktian singkat

Pada data di atas menjelaskan bahwa performansi dalam memulai tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun harus benar-benar

semua sudah hadir. Jika masih ada yang belum hadir maka acara tidak akan dimulai.

Sehingga apapun nantinya yang akan di laksanakan dapat diterima oleh semua pihak yang hadir. Sehingga suasana dalam acara yang dilakukan tidak akan ada masalah dan akan terjalin hubungan yang harmonis dari semua pihak yang akan mengadakan upacara adat dari awal hingga berakhirnya upacara adat tersebut.

Tahapan Performasi Manurduk Demban Dapat Dilihat Pada Data Di Bawah Ini

Raja parhata: Bani panorang on domma tongon tumpu hanami boru pakon panogolan nassiam. Domu bani sura-sura na jenges itongah-tongah ni keluarga nami marsada-sada sihol do uhur nami laho pasangaphon boru nassiam aima orang tua nami irumah on. Bani panorang sadarion na laho padas honon nami tanda ni malas ni uhur nami hubani orang tua nami na laho padashon tungkot pakon duda-duda bani orang tua hinaholongan ni uhur nami on. na parlobe sahali na laho manjuppahkon nassiam aima na laho mangalop pangir ni boru nassiam ase dear manguras tokkin nari. Roh ma hanami tulang mangalop pangir hu lobei lobei nassiam

Raja parhata: Pada kesempatan ini tulang kami panogolan dan boru sudah berkumpul di tempat ini. Sesuai dengan rencana kami keluarga semuanya kami ingin mengadakan sebuah upacara adat mambere tungkot pakon duda/duda sebagai ungkapan rasa terima kasih kami kepada boru kalian ini yaitu orang tua

kami di rummah ini. Pada kesempatan ini kami ingin datang kehadapan tulang kami ingin meminta pangir.

Anak: On ma demban nami hubani nassiam tulang nami sayur matua ma nassiam sonai age homa hanami, sonai homa bani acara ta sadarion andohar torsa, jorei das hubani salosei, maklum ma nassiam tulang nami sonon ope tarbaen hanami panogolan pakon boru nassiam.

Anak: Inilah sirih kami tulang semoga panjang umur, sehat selalu, begitu juga dengan kami panogolan dan boru kalian, dalam rencana hari ini semoga berjalan

Anak: Inilah sirih kami tulang semoga panjang umur, sehat selalu, begitu juga dengan kami panogolan dan boru kalian, dalam rencana hari ini semoga berjalan