BAB IV PEMBAHASAN
4.4. Partisipan Dalam Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda-Duda Pada
Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun adalah pihak laki-laki yang disebut dengan suhut dan pihak perempuan yang disebut dengan tondong. Dalam adat Simalungun sering disebut dengan istilah tolu sahundulan lima saodoran yang termasuk tolu sahundulan yaitu tondong, sanina dan anak boru dan yang dimaksud lima saodoran yaitu Tondong, sanina, suhut, anak boru jabu, anak boru mantori.
a. Tondong
Tondong adalah kumpulan dari kaluarga dan saudara-saudara dari istri.
Tondong memiliki kedudukan paling tinggi dari pada kedudukan manusia yang laiannya dalam fungsi adat pada masyarakat Simalungun. Tondong di anggap Tuhan yang ada di bumi yang begitu mulia dan di hormati. Dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda tondong berperan penting jika tondong tidak hadir maka upacara tradisi mambere tungkot pakon duda-duda tidak akan
terlaksana. Pada masyarakat Simalungun. Tondong di sebut tondong pangalopan podah (tempat meminta nasehat).
b. Sanina
Sanina adalah saudara kandung, saudara semarga, saudara lain dari nenek ,saudara semarga tapi tidak mempunyai hubungan darah. Sanina atau saudara semarga baik saudara kandung, saudara jauh yang semarga, maupun saudara semarga yang tidak ada ikatan darah mempunyai fungsi dan peranan menjadi pendamping dan pendukung saninanya suhut bolon (yang sedang mengadakan acara adat). Sanina akan menjadi tempat untuk bermusyawarah (sanina pagalopan riah) dan dianggap sebagai saudara sepenanggungan dan sependeritaan. Sanina dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda menjadi pendamping dan pendukung dalam upacara adat.
c. Boru/anak boru
Boru/ anak boru adalah sebagai pembantu utama dalam sebuah upacara adat, anak boru mempunyai kewajiban untuk memberikan perlengkapan berupa barang-barang yang akan di butuhkan dalam upacara adat. Boru menjadi pihak yang akan mengerjakan segala sesuatu yang berurusan dengan pekerjaan, persiapan, pengaturan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan khusus dibidang parhobasan (yang bekerja).
d. Pahompu (Cucu)
Pahompu (cucu) anak dari anak kita, Pahompu termasuk pemeran utama dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda, meskipun keberadaan anak
sudah lengkap dan keuangan anak terbilang mampu untuk melakukan upacara adat tradisi mambere tungkot pakon duda-duda namun apabila pahompu tidak ada maka upacara adat tidak dapat berjalan. Pahompu dalam masyarakat Simalungun adalah sebuah berkat baru yang hadir dalam sebuah keluarga besar. Setiap pahompu bahkan cicit yang hadir dalam sebuah keluarga dianggap sebagai anugrah yang luar biasa dan harta yang tak ternilai harganya.
e. Parhuta / Teman Sekampung
Parhuta (teman sekampung/STM) pada masyarakat Simalungun parhuta memiliki peran penting dalam sebuah upacara adat, tanpa adanya parhuta (STM) suatu acara tidak akan berjalan dengan baik, karena STM yang akan membantu boru untuk marhobas (menyiapkan segala sesuatu yang di perlukan dalam upacara adat)
e. Raja Parhata
raja parhata (pembica) adalah orang yang menuntun berjalannya sebuah upacara adat. Seorang raja parhata akan membacakan tata upacara adat seperti seorang presenter, namun raja parhata harus mengerti tentang upacara adat dan harus mengerti dan menguasai tentang hukum adat istiadat yang berlaku. Raja parhata adalah orang yang di dengarkan dalam menuntun sebuah upacara adat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dan uraian hasil analisis mengenai upacara tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun ditinjau dari segi antropolinguistik yang dikemukakan dalam skripsi ini,dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Adapun tahapan-tahapan dalam Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masayarakat Simalungun yaitu: (1) Acara kebaktian singkat (2) Manurduk demban (memberikan sirih) (3) maranggir (membersihkan diri) (4) memberikan tungkot dan duda-duda (5) mangan riap (makan bersama) (6) marpodah (memberikan nasehat)
2. Adapun performansi dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda yaitu setiap apa yang disampaikan harus mendapatkan balasan. Sehingga dapat kita lihat bentuk performansi dalam kedua belah pihak adanya interaksi antara raja parhata dengan ompung/tua, raja parhata dengan suhut, raja parhata dengan tondong, raja parhata dengan pahompu, pahompu dengan ompung/tua, dan boru dengan ompung/tua
3. Pada masyarakat Simalungun terdapat banyak tanda yang digunakan sebagai indeksikalitas dalam tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun, yaitu, (1) tungkot (tongkat) (2) Bajut dan isi sirih (3) Duda-duda (penghalus sirih) (4) uang logam dan boras tenger (uang logam dan beras) (5) Uttei mungkur (jeruk purut ) (6) Demban
(sirih) (7) podoman (Tilam) (8) Gotong (penutup kepala laki-laki) (9) Bulang (penutup kepala perempuan) (10) Hiou hatirongga (11) Hiou suri-suri (12) Seperangkat pakaian untuk ompung laki-laki (13) Seperangkat pakaian untuk ompung perempuan (14) rudang-rudang (bunga pohon pinang) (15) Tobu sigerger (tebu merah ) (16) Dayok nabinatur (17) Nitak gabur-gabur (18) Namalum (19) Mumbang (kelapa muda) (20) Galuh namabei (pisang matang) (21) Dengke sayur (asrik) (22) Tolor dayok na i robus (telur ayam rebus).
4. Partisipan dalam Tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun yaitu : (1) Tolu sahundulan pakon lima saodoran, yang termasuk tolu sahundulan yaitu (1) tondong , (2) sanina, dan (3) anak boru, dan yang termasuk lima saodoran yaitu (1) tondong, (2) sanina, (3) suhut, (4) anak boru jabu,(5) anak boru mantori. (2) pahompu (3) raja parhata (protokol) (4) parhuta/ teman sekampung (STM)
5.2. Saran
Penelitian dan uraian hasil analisis mengenai tradisi mambere tungkot paon duda-duda pada masyarakat Simalugun ditinjau dari segi antropolinguistik.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini merupakan suatu tahap awal yang tentunya masih terdapat banyak kekurangan dan masih perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk penyempurnaan. Penulis menyarankan hal-hal yang paling utama adalah sebagai
berikut:
1. Diharapkan kepada generasi muda agar tetap melestarikan kebudayaan karena kebudayaan merupakan jati diri.
2. Perlunya belajar budaya dan sastra secara langsung terjun ke masyarakat, karena dengan demikian kita dapat dengan mudah memahami budaya dan sastra daerah itu sendiri.
3. Disarankan kepada pemerintah kabupaten Simalungun supaya tradisi mambere tungkot pakon duda-duda pada masyarakat Simalungun tetap dilestarikan
DAFTAR PUSTAKA
Beratha, 1998. Materi Linguistik Kebudayaandalam Linguistik Tahun V edisi 9.Denpasar : Program Magister (S2) Linguistik Universitas Udayana.
Bugin, Burhan. 2011. Penelitian Kualitatif. Jakarta:Prenada Media
Duranti, 1997. Linguistic Anthropology. Camridge. Camridge University Press.
Girsang, Desy. 2014.Tradisi Mambere Tungkot Pakon Duda Duda Di Pematang Raya “ .(Skripsi).Medan :Fakultas Ilmu Sosial Unimed.
Girsang,Djaidin.1995.Ragam Pakon Ranggi Horja Adat Simalungun. Medan.
Finnegan, Ruth. (1992). Oral Tradition and the verbal Art: a Guide to research Practice. London: Routledge.
Foley,1997.Anthropoligical Linguistics:blackwell.
Koentjaraningrat. 1987.Sejarah Teori Antropologi: Universitas Indonesia 1987 Launder. 2005.Langkah Awal Memahami Linguistic. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Manik, Anita.2019. Makna Nama Orang Dalam Masyarakat Simalungun:Kajian Antropolinguistik. .(Skripsi).Medan :Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara
Nirmala Ch.W.Sinaga.2017.Mambere Namalum Untuk Pemenuhan Kebetuhan Lanjut Usia Sebagai Pendampingan Dan Konseling Pastoral Berbasis Budaya.”(Tesis)”.Fakultasteologi,Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Rifhi, Siddiq.Antropologi sosial. Jakarta : Pustaka Setia.
Sibarani, Robert. 2004 .Antropolinguistik: Antropologi Linguistik Dan Linguistik Antropologi. Medan: Penerbit Poda
Sibarani Robert 2012 Kearifan Lokal Hakikat, Peran Dan Metode Tradisi lisan Medan: Asosiasi Tradisi Lisan
Sibarani Robert 2012 Marsirimpa Kearifan Lokal Gotong Royong Pada
Masyarakat Batak Toba Di Kawasan Danau Toba.Medan:Asosiasi Tradisi Lisan
Sitanggang, Ramayanti. 2016. Tradisi Marharoan Bolon Pada Upacara Adat Masyarakat Simalungun Kecamatan Raya Kahean: Kajian
Antropolinguistik. (Skripsi).Medan: Fakultas Ilmu Budaya, Sumatera Utara.
Soekanto , Soejono.1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta.PT. Raja Grafindo Persada
Sudaryanto. 1982. Metode Penelitian. Jakarta. Gratina.
Sugiyono. 2016. Metode penelitian. Bandung: Alvabeta.
Sumbayak, Japiten.2001. Refleksi Habonaron do Bona dalam Adat Budaya Simalungun. Pematang Siantar: PMS
T.O.Ihromi. 2016. Pokok-pokok anthropologi budaya: yayasan pustaka obor indonesia utama
William A. 1999. Pengantar Antropologi. Jakarta: Erlangga.
A. Data informan
Nama : Rosmida Purba
Alamat :Bahbulawan, Nagori Sigodang Barat, Kecamatan Panei Tempat Tgl. Lahir : Bahbulawan, 02 Agustus 1964
Tamatan :SD
Bahasa Yang Digunakan:
:Bahasa Simalungun :Bahasa Indonesia
Nama : Raulina Sinaga
Alamat :Bahbulawan, Nagori Sigodang Barat, Kecamatan Panei Tempat Tgl. Lahir : Bahbulawan, 06 Juli 1944
Bahasa Yang Digunakan:
:Bahasa Simalungun :Bahasa Indonesia
Nama :Poltakman Purba
Alamat : Bahbulawan, Nagori Sigodang Barat, Kecamatan Panei Tempat tgl. Lahir :Bahbulawan 21, September 1968
Tamatan :SMA
Bahasa Yang Digunakan:
- Bahasa Simalungun - Bahasa Indonesia
Nama : Derliani Turnip
Alamat :Bahbulawan, Nagori Sigodang Barat, Kecamatan Panei Tempat Tgl. Lahir : Tanjung Mariah, 06 Juni 1972
Tamatan :SD
Bahasa Yang Digunakan:
:Bahasa Simalungun :Bahasa Indonesia
C.DOKUMENTASI MELAKUKAN WAWANCARA
Wawancara dengan informan pertama inang St.Rosmida Purba
Dokumentasi bersama informan kedua inang St.Raulina Sinaga