• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian I. Rezim Pemidanaan

1) Indeterminate Sentencing (1930-1975)

Dalam periode ini, sebagian besar sistem pemidanaan di negara-negara bagian dan negara federal memiliki fitur yang sama. Hakim menentukan siapa yang harus menjalani pidana di penjara dan biasanya menetapkan hukuman minimal atau hukuman maksimal.133 Selain itu, parole board134 yang menentukan terpidana yang

berhak dilepaskan dan harus kembali menjalani hukuman penjara ketika melanggar klausul pembebasan bersyarat yang telah ditentukan.135 Perkembangan terpidana selama menjalani hukuman menjadi indikator penting ketika parole board

132 Michael Tonry (2), “Sentencing in America, 1975-2025” dalam Crime and Justice, 42(1), (2013), hlm. 141.

133 Michael Tonry (3), Sentencing Fragments: Penal Reform in America, 1975-2025, (New York: Oxford University Press, 2015), hlm. 50.

134 Lembaga ini bertugas untuk memberikan pertimbangan apakah terpidana berhak mendapatkan pembebasan bersyarat atau tidak. Di Indonesia, lembaga ini mirip dengan Tim Penilai Pemasyarakatan yang berada dalam sistem pemasyarakatan Indonesia.

ingin mengambil keputusan tersebut. Dengan skema ini, Tonry menilai tingkat pemenjaraan di AS cukup stabil di angka 150-160 per 100.000 penduduk dan bahkan sedikit berkurang dari 1960 hingga 1973, meskipun tingkat kejahatannya mengalami peningkatan yang substansial.136

Di balik semua capaian tersebut, rezim politik yang berkuasa pada masa

indeterminate sentencing meyakini individualisasi pidana adalah cara yang tepat

untuk merehabilitasi terpidana.137 Lebih lanjut, pilihan politik pemidanaan pada fase ini mengamini pendapat Francis Allen dimana kontrol ilmiah atas perilaku manusia akan mungkin terjadi ketika kita memiliki pengetahuan terhadap sumber perilaku manusia tersebut.138 Oleh karena itu, tindakan yang diberikan di penjara harus ditujukan untuk meningkatkan hidup dan prospek terpidana .139 Lebih lanjut, jika tindakan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan terpidana dan menunjukkan perkembangan positif, sudah seharusnya terpidana dilepaskan dari penjara seketika kriteria untuk mendapatkan pembebasan bersyarat bisa dipenuhi. Oleh karenanya, Tonry mengatakan:

“The implicit underlying values are straightforward. They include a belief in rational, unemotional approaches to crime; compassion for offenders whose backgrounds, circumstances, or psychological characteristics shaped their criminality; the desirability of more fully integrating them into society; and the social welfare concern to deal with them in ways that enhanced their prospects

for living successful, satisying, law-abiding lives”140

Jika ditarik dari akar pemikiran indeterminate sentencing, banyak pemikir terkemuka melihat ide yang mendasari rezim ini adalah konsep utilitarianisme yang pertama kali diperkenalkan oleh Jeremy Bentham. Hukuman harus selalu bertujuan untuk mencegah terjadinya kejahatan, harus disesuaikan dengan karakteristik individu terpidana, tetapi tidak boleh lebih kejam dari apa yang seharusnya ia terima.141

Segala jenis penderitaan kepada siapapun, termasuk penjahat, adalah suatu hal yang terkutuk. Penderitaan ini tidak dapat diterima kecuali manfaat yang dihasilkan jauh lebih besar dari tindakan tersebut.142 Dengan logika seperti ini,

136 Ibid.

137 Ibid., hlm. 51.

138 Francis A. Allen. “Legal values and the rehabilitative ideal” dalam Journal of Criminal Law,

Criminology, and Police Science, 50, (1959): hlm. 226.

139 Baca David Rothman, The Discovery of the Asylum: Social Order and Disorder in the New

Republic, (Boston: Little, Brown, 1971). 140 Ibid.

141 Baca Jeremy Bentham, “The utilitarian theory of punishment” dalam Jeremy Bentham, J. H. Burns & H. L. A. Hart (Eds), An Introduction to Principles of Morals and Legislation, (London: Athlone, 1970).

pendukung uilitarianisme (dan juga indeterminate sentencing) menolak penjatuhan hukuman atas dasar retributif, yang dalam bahasa Michael dan Adler dianggap sebagai “a fallacious analysis ... that infliction of pain is never justified merely on the

ground that it visits retributive punishment upon the offender”.143

Meski demikian, indeterminate sentencing menimbulkan masalah dalam praktiknya. Salah satu kritik terhadap pendekatan ini adalah berkaitan dengan teknik individualisasi pidana yang memberikan ruang diskresi yang begitu luas kepada pejabat yang bertugas di penjara. Hampir tidak ada penilaian eksternal atas proses penilaian individualisasi pidana tersebut sebelum lahirnya pengakuan atas hak terpidana di tahun 1960-an144 dan hakim federal mulai memberikan perhatian pada kondisi penjara.145 Selain itu, mekanisme banding atas putusan yang menghukum terpidana jarang disediakan.146 Peraturan dan putusan pengadilan hanya menyebutkan unsur-unsur tindak pidana, tetapi hanya menyebutkan batas atas hukuman yang bisa dijatuhkan.147 Tidak ada undang-undang, pedoman, aturan internal pengadilan, atau standar lainnya yang menyediakan kriteria bagi hakim untuk mengambil keputusan.148

Ide bahwa hakim seharusnya memiliki ruang diskresi yang luas dalam menentukan hukuman, terpidana tidak memiliki hak untuk menyampaikan keberatan atas putusan hakim, dan bahwa parole boards seharusnya menentukan waktu dilepaskannya terpidana dari penjara memiliki tiga konsekuensi jangka panjang yang merusak sistem pemidanaan AS di abad ke-21.149 Pertama, hakim dan parole

boards harus mempertimbangkan segala macam informasi yang mereka anggap

relevan untuk menentukan sebuah hukuman atau tanggal pembebasan bersyarat;

kedua, hakim terikat dengan rendahnya kualitas alat bukti, atau bahkan tidak

ada sama sekali, dalam menentukan suatu informasi adalah dapat dipercaya atau tidak; dan ketiga, hakim harus memberikan penilaian yang sama besarnya atau 143 Jerome Michael & Mortime Adler, Crime, Law, and Social Science, (New York: Harcourt Brace, 1933), hlm. 341 & 344.

144 Putusan-putusan pengadilan pada abad ke-19 memunculkan doktrin “lepas tangan”, yang di dalam contoh kasus paling ekstrim bisa dilihat bahwa rasionalisasinya adalah terpidana adalah bu-dak negara dan telah melepaskan hak-hak kewarganegaraan yang biasa dimiliki warga negara lainnya. Di jangka waktu 1960-1970an, hanya sedikit terpidana yang memberikan perhatian pada perlindun-gan prosedural di tahap penilaian atau pencabutan pembebasan bersyarat. Begitu juga untuk penin-jauan administratif dan peninpenin-jauan yudisial atas keputusan-keputusan yang berdampak pada mereka. Baca Kenneth Culp Davis, Discretionary Justice: A Preliminary Inquiry, (Rouge: Louisiana State University Press, 1969). 145 Tonry (3), hlm. 53. 146 Ibid. 147 Ibid. 148 Ibid. 149 Ibid., hlm. 54.

bahkan lebih besar terhadap catatan kriminal terpidana jika dibandingkan dengan tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku.150 Ketiga konsekuensi ini semakin mempersulit usaha mencapai keadilan prosedural maupun keadilan substantif di keempat periode pemidanaan AS.151

Di samping segala keterbatasan dan ide-ide memanusiakan hukuman seperti yang diutarakan di atas, Tonry menilai nilai-nilai rehabilitasi dan pencegahan hanya memiliki efek positif yang rendah, meskipun pada segi kesejahteraan sosial dan pengendalian kejahatan, beberapa hal dinilai positif.152 Meski begitu, kritik yang tercatat pada masa indeterminate sentencing terus bermunculan dan menjadi salah satu alasan dimunculkannya gerakan sentencing reform di periode pemidanaan berikutnya.