BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.7 Indikator Disiplin kerja
Suatu sikap dan perilaku karyawan yang menunjukan ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, ketertiban dan tanggung jawab terhadap peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku menegaskan disiplin kerja sangat penting bagi perusahaan.
Terdapat beberapa indikator menurut Rivai (2004), yaitu:
1. Kehadiran.
Hal ini menjadi indikator yang mendasar untuk mengukur kedisiplinan, dan biasanya karyawan yang memiliki disiplin kerja rendah terbiasa untuk terlambat dalam bekerja.
2. Ketaatan pada peraturan kerja.
Karyawan yang taat pada peraturan kerja tidak akan melalaikan prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang ditetapkan oleh perusahaan.
3. Ketaatan pada standar kerja.
Hal ini dapat dilihat melalui besarnya tanggung jawab karyawan terhadap tugas yang diamanahkan kepadanya.
4. Tingkat kewaspadaan tinggi.
Karyawan memiliki kewaspadaan tinggi akan selalu berhati-hati, penuh perhitungan dan ketelitian dalam bekerja, serta selalu menggunakan sesuatu secara efektif dan efisien.
5. Bekerja etis
Beberapa karyawan mungkin melakukan tindakan yang tidak sopan ke pelanggan atau terlibat dalam tindakan yang tidak pantas. Hal ini merupakan salah satu bentuk tindakan indisipliner, sehingga bekerja etis sebagai salah satu wujud dari disiplin kerja karyawan.
2.1.8 Hubungan Disiplin Kerja Dengan Kinerja Karyawan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penelitian terdahulu menunjukan bahwa Disiplin kerja secara parsial berpengaruh terhadap kinerja karyawan (Patricia M. Sahangggamu dan Silvya L. Mandey, 2014), hal ini mendorong agar tujuan perusahaan dapat terwujud dan tercapai.
2.1.9 Pengertian Kinerja
Kinerja merupakan hasil kerja yang dihasilkan baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh sumber daya manusia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya dalam periode atau waktu tertentu.
Perusahaan dengan kinerja karyawan yang baik dapat dengan mudah mencapai tujuan yang diinginkan dan juga menjadikannya keunggulan dari para peasing.
Menurut Rivai dan basri (2005:14) kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawab dengan hasil seperti yang diharapkan.
Menurut Harsuko (2011) kinerja adalah sejauh mana seseorang dapat melaksanakan strategi organisasi, baik dalam mencapai sasaran khusus yang berhubungan dengan peran perorangan dan atau dengan memperlihatkan kompetensi yang dinyatakan relevan bagi organisasi.
Menurut Mangkunegara (2013, p. 67) menyatakan bahwa kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang di capai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
2.1.10 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
Dalam usaha pencapaian tujuan perusahaan, permasalahan yang dihadapi bukan hanya terdapat pada bahan mentah atau alat-alat kerja, akan tetapi ada beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu kinerja. Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja menurut Ruky (2001:7) mengidentifikasi enam faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi, sebagai berikut :
1. Teknologi yang meliputi peralatan kerja dan metode kerja yang digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa yang dihasilkan oleh organisasi.
Semakin berkualitas tekhnologi yang digunakan, maka akan semakin tinggi tingkat kinerja organisasi.
2. Kualitas input atau material yang digunakan oleh organisasi.
3. Kualitas lingkungan fisik yang meliputi keselamatan kerja, penataan ruangan, dan kebersihan.
4. Budaya organisasi sebagai pola tingkah laku dan pola kerja yang ada dalam organisasi yang bersangkutan.
5. Kepemimpinan sebagai upaya untuk mengendalikan anggota organisasi agar bekerja sesuai dengan standar dan tujuan organisasi.
6. Pengelolaan sumber daya manusia yang meliputi aspek kompensasi, imbalan, promosi, dan lain-lainnya.
2.1.11 Indikator Kinerja
Setiap perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja lebih baik dan lebih cepat, sehingga diperlukan sumber daya manusia yang mempunyai kinerja yang tinggi. Terdapat enam kriteria Indikator kinerja karyawan menurut Dessler (2009), yaitu:
1. Kualitas kerja
Kualitas kerja merupakan akurasi, ketelitian dan bisa diterima atas pekerjaan yang dilakukan.
2. Produktivitas
Produktivitas adalah kuantitas dan efisiensi kerja yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu.
3. Pengetahuan pekerjaan
Pengetahuan pekerjaan adalah keterampilan dan informasi praktis atau teknis yang digunakan pada pekerjaan.
4. Keandalan
Keandalan merupakan sejauh mana seseorang karyawan bisa diandalkan atas penyelesaian dan tindak lanjut dalam tugas.
5. Kehadiran
Kehadiran adalah sejauh mana karyawan tepat waktu, mengamati periode istirahat atau makan yang ditentukan dan catatan kehadiran secara keseluruhan.
6. Kemandirian
Kemandirian adalah sejauh mana pekerjaan yang dilakukan dengan pengawasan maupun tanpa pengawasan.
2.2 Penelitian Terdahulu.
Penelitian terdahulu merupakan hasil- hasil penelitian terdahulu yang memberikan informasi terkait dengan metode penelitian, hasil dan pembahasan yang digunakan sebagai dasar perbandingan dengan penelitian yang dilakukan.
Penelitian terdahulu dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Apalia Ekakoron Anthony, dalam artikel yang berjudul Effects of discipline management on employee performance in an organization: The case of county
education office human resource department, Turkana County, terbit dijurnal International Academic Journal of Human Resource and Business Administration, Vol 2, 2017, menghasilkan kesimpulan “The study further concludes that, the current disciplinary actions haveensured that institution growth through effective procedures and good communication. According to the study unlike punitive discipline, an employee proposed discipline policy encourages workers to take responsibility for their actions by allowing them to propose their own discipline. According to the study the application of progressive discipline on employees is particularly concentrated around industry and occupational class workers. These workers are more susceptible to disciplining by employers. An unequal power balance exists between employee and employer in the progressive discipline system because progressive discipline follows the traditional ‘power over’ model”.
( Penelitian lebih lanjut menyimpulkan bahwa, tindakan disiplin saat ini telah memastikan pertumbuhan institusi melalui prosedur yang efektif dan komunikasi yang baik. Menurut penelitian tidak seperti disiplin hukuman, seorang karyawan mengusulkan kebijakan disiplin mendorong pekerja untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka dengan memungkinkan mereka untuk mengusulkan disiplin mereka sendiri. Menurut penelitian penerapan disiplin progresif pada karyawan terutama terkonsentrasi di sekitar pekerja kelas industri dan pekerjaan. Para pekerja ini lebih rentan untuk didisiplinkan
oleh majikan. Ada keseimbangan kekuatan yang tidak sama antara karyawan dan pemberi kerja dalam sistem disiplin progresif karena disiplin progresif mengikuti model tradisional ‘kekuasaan atas’ ).
2. Jamsari bin atan dan Santhi raghavan, dalam artikel yang berjudul “ Impact of Training on Employess’ job Performance: A Case Study of Malaysian Small Medium Enterprise”, terbit dijurnal Review of Management, Vol. 5, No.1/2, June 2015, menghasilkan kesimpulan “it can be concluded that effective training lead to improving employees’ job performance”.( Bahwa Pelatihan yang efektif mengarah pada peningkatan kinerja karyawan).
3. Erma Safitri, dalam artikel yang bejudul pengaruh Pelatihan dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan terbit dijurnal ilmiah manajemen, Volume 1, Nomor 4, Tahun 2013 menghasilkan kesimpulan bahwa:Erma Safitri, dalam artikel yang bejudul pengaruh Pelatihan dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan terbit dijurnal ilmiah manajemen, Volume 1, Nomor 4, Tahun 2013 menghasilkan kesimpulan bahwa:
1. Pelatihan dan disiplin kerja secara simultan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan.
2. Pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
3. Disiplin kerja berpengaruh signifikan terhdap kinerja karyawan.
4. Meisy Pramasela Kowaas, Jantje L. Sepang dan Rita N. Taroreh, dalam artikel yang berjudul Pengaruh Pendidikan, Pelatihan dan Disiplin Kerja
terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara, terbit dijurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, Volume 16, No 3, Tahun 2016, menghasilkan kesimpulan bahwa:
1. Secara simultan Pendidikan, Pelatihan, dan Disiplin Kerja berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Penanggulngan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara.
2. Secara Parsial hanya Variabel Pelatihan yang berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Penanggulngan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara
4. Patricia M. Sahangggamu dan Silvya L. Mandey, dalam artikel yang berjudul Pengaruh Pelatihan Kerja, Motivasi, Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Bank Perkreditan Rakyat Dana Raya, terbit dijurnal EMBA, Volume 2, Nomor 4, Tahun 2014, menghasilkan kesimpulan bahwa:
1. Pelatihan, motivasi, dan disiplin kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bank Dana Raya Manado.
2. Pelatihan secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bank Dana Raya Manado.
3. Motivasi secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bank Dana Raya Manado.
4. Disiplin kerja secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bank Dana Raya Manado.
2.3 Hipotesis
Hipotesis dalam karya ilmiah ini, dengan judul pengaruh Pelatihan kerja dan Disiplin kerja terhadap Kinerja karyawan Cleaning service PT Rizky Agung Abadi ditetapkan sebagai berikut :
Hipotesis Pertama
H1 diduga Pelatihan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja, dimana dalam hipotesis ini didukung oleh :
1. Erma Safitri, dalam artikel yang bejudul pengaruh Pelatihan dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan terbit dijurnal ilmiah manajemen, Volume 1, Nomor 4, Tahun 2013 menghasilkan kesimpulan bahwa Pelatihan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
2. Meisy Pramasela Kowaas, Jantje L. Sepang dan Rita N. Taroreh, dalam artikel yang berjudul Pengaruh Pendidikan, Pelatihan dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara, terbit dijurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, Volume 16, No 3, Tahun 2016, menghasilkan kesimpulan bahwa Secara Parsial hanya Variabel Pelatihan yang berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Penanggulngan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara.
3. Patricia M. Sahangggamu dan Silvya L. Mandey, dalam artikel yang berjudul Pengaruh Pelatihan Kerja, Motivasi, Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT. Bank Perkreditan Rakyat Dana Raya, terbit dijurnal EMBA, Volume 2, Nomor 4, Tahun 2014, menghasilkan kesimpulan bahwa Pelatihan secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bank Dana Raya Manado.
Hipotesis kedua
H2 diduga Disiplin kerja berpengaruh positif terhadap kinerja, dimana dalam hipotesis ini didukung oleh :
1. Erma Safitri, dalam artikel yang bejudul pengaruh Pelatihan dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan terbit dijurnal ilmiah manajemen, Volume 1, Nomor 4, Tahun 2013 menghasilkan kesimpulan bahwa Disiplin kerja berpengaruh signifikan terhdap kinerja karyawan.
2. Meisy Pramasela Kowaas, Jantje L. Sepang dan Rita N. Taroreh, dalam artikel yang berjudul Pengaruh Pendidikan, Pelatihan dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara, terbit dijurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, Volume 16, No 3, Tahun 2016, menghasilkan kesimpulan bahwa Disiplin kerja berpengaruh signifikan terhdap kinerja karyawan.
3. Patricia M. Sahangggamu dan Silvya L. Mandey, dalam artikel yang berjudul Pengaruh Pelatihan Kerja, Motivasi, Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Bank Perkreditan Rakyat Dana Raya, terbit dijurnal EMBA, Volume 2, Nomor 4, Tahun 2014, menghasilkan kesimpulan bahwa
Disiplin kerja secara parsial berpengaruh terhadap kinerja pegawai Bank Dana Raya Manado.
27
BAB III
METEDEOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis PenelitianPenelitian ini menggunakan metode kuantitatif, metode yang menekankan aspek pengukuran secara obyektif. Hal tersebut berdasarkan pada judul yang diteliti yaitu “ Pengaruh Pelatihan Kerja dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Cleaning Service PT Rizky Agung Abadi”. Penulis ingin mengetahui apakah ada pengaruh antara Pelatihan kerja, disiplin kerja terhadap kinerja karyawan.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT Rizky Agung Abadi yang beralamat di jalan Lingkar Cibuntu No. 49 Kampung Cibuntu RT 03/01 Desa Cibuntu, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi dan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2019 dengan tabel sebagai berikut :
Tabel 3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian
NO URAIAN
KEGIATAN
Periode Bulan Maret s/d Desember 2019
Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov Des
Sumber : Rivai (2004)
Desain penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1
Desain Penelitian
3.3.2 Definisi Operasional Variabel Penelitian
Adapun definisi operasional Variabel dalam penelitian ini akan dijelaskan pada tabel berikut :
Tabel 3.2
Definisi Operasional Variabel
Variabel Indikator Deskripsi
Pelatihan kerja (X1) yang digunakan dalam pelatihan di perusahaan atau organisasi karena metode pelatihan
pelatihan dan dimiliki para peserta pelatihan dalam perusahaan yang diikuti oleh seluruh karyawan, baik menguasai materi baik secara teori maupun praktek
5. Materi pelatihan 5. Ditinjau dengan apa
kedisiplinan, dan biasanya karyawan yang memiliki disiplin kerja rendah terbiasa untuk terlambat dalam bekerja.
2. Ketaatan pada peraturan kerja
2. Karyawan yang taat pada peraturan kerja tidak akan melalaikan prosedur kerja dan akan selalu mengikuti pedoman kerja yang
ditetapkan oleh
perusahaan.
3. Ketaatan pada standar kerja
3. Besarnya tanggung jawab karyawan terhadap tugas
yang diamanahkan
kepadanya.
4. Tingkat
kewaspadaan tinggi
4. Karyawan memiliki kewaspadaan tinggi akan selalu berhati-hati, penuh perhitungan dan ketelitian dalam bekerja, serta selalu
kerja karyawan. akurasi, ketelitian dan bisa diterima atas pekerjaan yang dilakukan.
2. Produktivitas 2. Produktivitas adalah kuantitas dan efisiensi
4. Keandalan 4. Keandalan merupakan sejauh mana seseorang karyawan bisa diandalkan atas penyelesaian dan
tindak lanjut dalam tugas.
5. Kehadiran 5. Kehadiran adalah sejauh mana karyawan tepat waktu, mengamati periode istirahat atau makan yang ditentukan dan catatan kehadiran secara keseluruhan.
6. Kemandirian 6. Kemandirian adalah sejauh mana pekerjaan yang dilakukan dengan
pengawasan maupun tanpa pengawasan.
Penyusunan instrumen digunakan dari model Rensis Likert yakni dengan option Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Masing-masing option diberikan bobot; Sangat Setuju (SS) skor 5, Setuju (S) skor 4, Netral (N) skor 3, Tidak Setuju (TS) skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) skor 1. Sugiyono (2014: 111) mengkategorikan sifat data tersebut ke dalam skala interval. Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari responden
dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan skala likert (ordinal) dengan metode rating yang dijumlahkan.
3.4 Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016:117). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan cleaning service PT. Rizky Agung Abadi yang berjumlah 70 karyawan.
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel yang diambil populasi harus betul – betul representative (mewakili) dan jika sampel relatif kecil maka semua populasi dianggap sampel (Sugiyono, 2016:118). Pengambilan sampel menggunakan teknik nonprobalty sampling dengan metode sampling jenuh karena populasi relatif kecil. Penelitian ini menggunakan seluruh populasi karyawan cleaning service PT. Rizky Agung Abadi yang berjumlah 70 karyawan menjadi sampel.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi, mengobservasi/pengamatan yang dilakukan secara langsung di perusahaan pengguna jasa PT. Rizky Agung Abadi sebagai obyek penelitian mengenai kinerja karyawan Cleaning service PT. Rizky Agung Abdi.
2. Data kuesioner, pengumpulan data dengan cara menyebarkan angket kuesioner yang berisi tentang pernyataan mengenai Pelatihan kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan yang diberikan kepada sampel dengan menggunakan skala penilaian 1-5, dimana skala 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan skala 5 (sangat setuju).
3. Studi kepustakaan, dilakukan dengan cara mengumpulkan artikel-artikel, teori yang relevan, dan literatur lainnya yang ada kaitannya dengan penelitian ini.
3.6 Metode Analisis Data
3.6.1 Uji Instrumen Penelitian a. Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti.
Validitas sebagai salah satu derajat ketepatan atau keandalan pengukuran intrsumen mengenai isi pertanyaan ( Sugiyono, 2012:124). Teknik uji uji yang digunakan adalah teknik korelasi melalui koefisien korelasi Product Moment. Analisis faktor dilakukan
dengan cara mengkorelasikan jumlah skor faktor dengan skor total.
Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,30 ke atas, maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat. Jadi berdasarkan analisis faktor itu disimpulkan bahwa instrumen tersebut memiliki validitas konstruksi yang baik dengan rumus product moment dengan bantuan program SPSS 22. Hasil analisis perhitungan validitas butir (hitung r) dikonsultasikan dengan harga kritik r product momen, pada taraf signifikan 5 %. Jika rhitung > rtabel maka butir tersebut dikatakan valid. Sebaliknya, jika rhitung < rtabel maka butir tersebut dikatakan tidak valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji reabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan objek yang sama akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono,2012:130). Setelah instrumen penelitian tersebut dinyatakan valid, kemudian penulis melakukan uji reliabilitas terhadap instrumen-instrumen penelitian yang mencakup variabel-variabel yang diteliti dengan mengambil hasil jawaban dari responden yang dianggap valid. Tujuan uji reliabilitas adalah agar penelitian yang dilakukan konsisten dalam penelitian-penelitian serupa yang dilakukan. Jika r hitung > r tabel maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel. Penelitian uji reliabilitas instrumen dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan bantuan program SPSS 22.
3.6.2 Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji tingkat kenormalan distribusi variabel pengganggu atau residual dalam model regresi, variabel terikat, variabel bebas atau keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau penyebaran data statistik pada sumbu diagonal dari grafik distribusi normal (Ghozali, 2015).
Pengujian normalitas dalam penelitian ini digunakan dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari data normal. Sedangkan dasar pengambilan keputusan untuk uji normalitas data adalah (Ghozali, 2015):
1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (Ghozali, 2015: 105). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Jika variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol. Untuk mendeteksinya yaitu dengan cara menganalisis nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF).
Apabila nilai tolerance mendekati angka 1 dan VIF di bawah angka 10 maka regresi bebas dari multikolinieritas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah kondisi di mana sebaran varian faktor atau disturbance tidak konstan sepanjang daerah observasi. Uji heteroskedastisitas digunakan untuk melihat sifat dari variance error.
Jika variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas. Sebaliknya, apabila berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Cara untuk mengtahui ada tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variable terikat (ZPRED) dan residualnya (SRESID). Deteksi terhadap heteroskedastisitas dapat
dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antar SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y dan sumbu X yang telah diprediksi, sumbu X adalah residual (Y prediksi = Y sesungguhnya) yang telah di studentized. Dasar analisisnya dalah sebagai berikut:
1. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit). maka mengidentifikasikan telah terjadi heterokedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik yang menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokesdastisitas (Ghozali, 2015)
3.6.3 Analisis Regresi Linear Berganda a. Persamaan Regresi Linear Berganda
Analisis regresi merupakan teknik statistik yang berguna untuk memeriksa dan memodelkan hubungan diantara variabel-variabel.
Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh atau hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen dengan satu variabel dependen. Model persamaan regresi linear berganda yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Y= a + b1 X1 + b2 X2
Keterangan:
Y = Koefisien Kinerja a = Kostanta
b1 = Koefisien pelatihan kerja b2 = Koefisien disiplin kerja X1 = Variabel pelatihan kerja X2 = Variabel Disiplin kerja
Untuk menilai ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari nilai statistik T, nilai statistik F dan nilai koefisien determinasi.
b. Uji T
Uji koefisien regresi secara parsial digunakan untuk menguji salah satu hipotesis di dalam penelitian yang menggunakan analisis regresi linier berganda. Uji T digunakan untuk mengetahui apakah secara parsial pelatihan kerja dan disiplin kerja berpengaruh secara signifikan atau tidak terhadap kinerja. Hasil dari uji T dapat dilihat pada tabel Coefficients pada kolom Sig dengan kriteria:
1. Apakah probabilitas < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial.
2. Apakah probabilitas > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial.
c. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi pada intinya untuk mengukur seberapa jauh kemampuan sebuah model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Imam Ghozali, 2009). Koefisien determinasi bertujuan untuk menentukan proporsi atau persentase total variasi dalam variabel terikat yang diterangkan oleh variabel bebas. Apabila analisis yang digunakan adalah regresi sederhana, maka yang digunakan adalah nilai R Square, namun jika analisis yang digunakan adalah regresi berganda, maka yang digunakan adalah Adjusted R Square.
43
BAB IV
GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
4.1 Sejarah obyek penelitian
PT Rizky Agung Abadi berdiri pada tanggal 15 April 2010 sebagai perusahaan alih daya (outsourcing) yang bergerak dibidang cleaning service, security, jasa bongkar muat dan driver. Sesuai Undang – undang No. 13 tahun 2013 memberkan ruang kepada Perusahaan untuk mengalihkan sebagian tangung jawabnya dibidang pengelolaan tenaga kerja kepada Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja (PPJP) secara alih daya maupun yang dikenal dengan outsourcing, dengan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan pada beberapa pasal dan Undang – undang.
4.1.1 Visi, Misi dan Moto Perusahaan
4.1.1 Visi, Misi dan Moto Perusahaan