HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian
5.2. Indikator Pelayanan Kesehatan Perawat
5.2.4. Indikator Kepastian pelayanan Kesehatan Perawat
Berdasarkan Tabel 4.13 hasil penelitian di Rumah Sakit Imelda dari beberapa pernyataan pasien tentang indikator kepastian dari pelayanan kesehatan perawat sebanyak 49 orang (75,4%) mengatakan perawat tidak cukup waktu untuk memotivasi dalam proses penyembuhan pasien, sebanyak 35 orang (53,8%) mengatakan perawat tidak sabar mendampingi pasien di ruang rawat inap lebih sering menyuruh keluarga atau siswa perawat yang mendampingi pasien dan sebanyak 34 orang (52,3%) mengatakan perawat tidak ramah kepada pasien dan keluarga hanya komunikasi dan menyapa seperlunya saja.
Jaminan asuhan keperawatan meliputi kemampuan pengetahuan perawat terhadap pelayanan asuhan keperawatan, keramah tamahan, perhatian dan kesopanan dalam memberikan pelayanan, keterampilan dalam memberikan informasi, kemampuan di dalam memberikan keamanan di dalam memanfaatkan jasa yang ditawarkan, dan kemampuan di dalam menanamkan kepercayaan pelanggan terhadap pelayanan keperawatan.
Berdasarkan Tabel 4.14 hasil penelitian di Rumah sakit Imelda diketahui kategori indikator kepastian pelayanan kesehatan perawat kategori baik sebanyak 25 orang (38,5%), kategori kurang sebanyak 24 orang(36,9%), dan kategori cukup sebanyak 16 orang (24,6%). Berdasarkan data tersebut dapat diketahui pasien menilai kepastian pelayanan kesehatan yang diberikan perawat dalam kategori baik namun sebagian responden menilai kepastian pelayanan kesehatan yang diberikan perawat masih kurang.
Seperti hasil penelitian Mastiur Napitpulu (2012) di RSUD Doloksanggul menunjukkan bahwa jumlah responden yang menyatakan jaminan asuhan keperawatan baik 61,4%. Dan kurang baik sebesar 38,6%.
Seperti juga hasil penelitian Ervan Amri (2012) di Rumah Sakit Sari Mutiara medan dengan jumlah responden 85 orang, mayoritas responden mengatakan kepastian dari petugas kesehatan di Rumah Sakit baik sebanyak 48 orang (56,5%), sebanyak 35 orang (41,2%) mengatakan cukup baik dan sebanyak 2 orang (2,4%) mengatakan kurang baik.
Ungkapan menurut Griffith dalam Aditama (2007) menyatakan bahwa kegiatan keperawatan di Rumah sakit dapat dibagi menjadi:
1. Pelayanan keperawatan personal (personal nursing care), yang antara lain berupa pelayanan keperawatan umum dan atau spesifik untuk sistem tubuh tertentu, pemberian motivasi dan dukungan emosional pada pasien.
2. Berkomunikasi dengan dokter dan petugas penunjang medik, mengingat perawat selalu berkomunikasi dengan pasien setiap waktu sehingga merupakan petugas yang seyogyanya paling tahu tentang keadaan pasien.
3. Menjalin hubungan dengan keluarga pasien, Komunikasi yang baik dengan keluarga atau kerabat pasien akan membantu proses penyembuhan pasien itu sendiri.
4. Menjaga lingkungan bangsal tempat perawatan. Perawat bertanggungjawab terhadap lingkungan bangsal perawatan pasien, baik lingkungan fisik, mikrobiologik, keamanan, dan lain-lain.
5. Melakukan penyuluhan kesehatan dan upaya pencegahan penyakit. Program ini diberikan pada pasien dengan materi spesifik sesuai dengan penyakit yang dideritannya
Perawat di rumah sakit adalah tenaga kesehatan yang selama 24 jam berada di rumah sakit dengan tugas pokok memberikan pelayanan asuhan keperawatan, pasien menginginkan perawat yang melayaninya memiliki sikap baik, murah senyum, sabar, mampu berbahasa atau memberikan informasi yang mudah dipahami, serta berkeinginan menolong yang tulus dan mampu menghargai pendapat pasien. Mereka mengharapkan perawat memiliki pengetahuan yang memadai tentang kondisi penyakitnya sehingga perawat mampu mengatasi setiap keluhan yang dialami oleh pasien selama di rawat di rumah sakit dan memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh pasien tentang masalah penyakit yang dideritanya.
Pasien merasa informasi yang di berikan perawat kurang jelas dan kadang susah di mengerti sehingga pasien kurang percaya dan yakin atas informasi yang di sampaikan perawat. Saat ini petugas kesehatan hanya memberikan informasi seperlunya dan tidak memiliki banyak waktu berkomunikasi dengan alasan banyak pekerjaan yang harus di selesaiakan. Selain membutuhkan pengobatan pasien juga membutuhkan motivasi dari perawat dalam proses penyembuhanya melalui informasi yang mendukung kesembuhan pasien. Namun dilapangan sering ditemukan bahwa perawat tidak memiliki banyak waktu dalam melayani dan menjawab pertanyaan dari pasien, yang dapat memotivasi kesembuhan pasien salah satu alasan adalah jumlah perawat yang tidak sesuai dengan jumlah pasien sehingga perawat tidak memiliki
waktu lama dengan pasien dan selain itu perawat harus bisa ramah kepada pasien dan keluarga pasien selama diruang rawat inap.
5.2.5. Indikator Empati Pelayanan Kesehatan Perawat
Berdasarkan Tabel 4.15 hasil penelitian di Rumah Sakit Imelda dari beberapa pernyataan pasien tentang indikator empati dari pelayanan kesehatan perawat, sebanyak 42 orang (64,6%) mengatakan perawat tidak mengerti kesulitan pasien seperti membantu pasien saat ke kamar manadi perawat menganjurkan keluarga yang membantu atau siswa perawat dan sebanyak 24 orang (36,9%) mengatakan perawat tidak memahami kebutuhan pasien seperti kebutuhan rasa nyaman dan tenang pasien saat di ruang rawat inap.
Jika pasien sudah memiliki rasa memiliki, percaya dan mempunyai ikatan emosional yang baik perawat atau dengan rumah sakit, biasanya dia tidak mau pindah untuk dirawat di Rumah Sakit lain, meskipun terjadi perubahan harga di rumah sakit tersebut. Mereka sudah merasa nyaman, percaya dan simpati pada rumah sakit tersebut dan akan dengan mudahnya mempromosikan rumah sakit kepada keluarga dan orang lain. Hal ini secara tidak langsung mempromosikan Rumah Sakit dan membawa dampak positif bagi rumah sakit Imelda Medan.
Berdasarkan Tabel 4.16 hasil penelitian di Rumah Sakit Imelda diketahui kategori indikator empati pelayanan kesehatan perawat kategori kurang sebanyak 26 orang (40%), kategori cukup sebanyak 20 orang(30,8%) dan kategori baik sebanyak 19 orang (29,2%). Dari data tersebut diketahui persepsi pasien mengenai empati perawat masih kurang walaupun sebagian responden merasa sudah cukup baik.
Seperti hasil penelitian Mastiur Napitpulu (2012) di RSUD Doloksanggul menunjukkan bahwa jumlah responden yang menyatakan empati perawat dalam pelayanan asuhan keperawatan pasien rawat inap baik sebanyak 50% dan kurang baik juga 50%.
Seperti yang diungkapkan Parasuraman dalam Wijono (1999) menyatakan Empati (Empathy), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau bersifat pribadi yang diberikan kepada pasien dengan berupaya memahami keinginan pasien. Suatu organisasi pelayanan kesehatan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan untuk memahami kebutuhan pasien secara spefisik
Empati dalam pelayanan merupakan perhatian yang diberikan suatu layanan usaha kepada pelanggannya. Pasien sebagai orang sakit pada umumnya sangat mengharapkan perhatian dari orang-orang yang ada di sekitarnya, perawat sebagai karyawan rumah sakit yang paling sering berinteraksi dengan pasien maupun keluarga pasien dituntut untuk bisa menunjukkan rasa empatinya. saat ini masih ditemukan perawat tidak pernah memberikan komentar terhadap apa yang dirasakan pasien dan perawat tidak pernah menyebutkan penyebab apa yang pasien rasakan. Empati akan membantu dalam mempererat hubungan antara perawat dan pasien sehingga menjadikan pasien merasa diperhatikan dan pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan dan persepsi yang baik terhadap perawat.
5.2.6. Rangkuman Persepsi Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan Perawat