TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Definisi Kinerja
2.1.1.1 Indikator Kinerja
Adapun standar kinerja yang baik menurut Sedarmayanti (2010:203) diantaranya :
1. Dapat dicapai, sesuai dengan usaha yang dilakukan pada kondisi yang diharapkan.
2. Ekonomis, biaya rendah dikaitkan dengan kegiatan yang dicakup 3. Dapat diterapkan, sesuai kondisi yang ada. Jika terjadi perubahan
kondisi, harus dibangun standar yang setiap saat dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada.
4. Konsisten, akan membantu keseragaman komunikasi dan operasi keseluruhan fungsi organisasi.
5. Menyeluruh, mencakup semua aktivitas yang saling berkaitan. 6. Dapat dimengerti, diekspresikan dengan mudah, jelas untuk
menghindari kesalahan komunikasi, instruksi yang digunakan harus spesifik dan lengkap.
7. Dapat diukur, harus dapat dikomunikasikan dengan presisi.
8. Stabil, harus memiliki jangka waktu yang cukup untuk memprediksi dan menyediakan usaha yang akan dilakukan.
9. Dapat diadaptasi, harus didesain sehingga elemen dapat ditambah, dirubah, dan dibuat teknik tanpa melakukan perubahan pada seluruh struktur.
10. Legitimasi, secara resmi di setujui.
11. Seimbang, diterima sebagai dasar perbandingan dengan aktifitas yang dilakukan.
12. Fokus pada pelanggan, harus terarah pada hal penting yang di inginkan pelanggan.
Berdasarkan dari uraian diatas maka dapat dipahami bahwa kinerja merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan secara individu maupun kelompok organisasi dalam melaksanakan fungsi serta tanggung jawab yang dimiliki nya dalam mencapai tujuan organisasi melalui standar yang telah ditetapkan dalam kurun waktu yang telah ditetapkan organisasi.
2.1.1.1 Indikator Kinerja
Indikator kinerja atau performance indicators secara konseptual Lembaga Administrasi Negara/LAN dalam Nawawi (2013:245) mengemukakan bahwa:
25
“ Ukuran kuantitatif dan atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu indikator kinerja harus merupakan sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat kinerja baik dalam tahap perencanaan (ex-ante), tahap pelaksanaan (on-going), maupun tahap setelah kegiatan selesai dan berfungsi (ex-post).”
Menurut Zeithaml, Parasuraman, dan Berry dalam Mukarom dan Laksana (2016:56) terdapat beberapa indikator kinerja yang terdiri dari: 1. tangibles atau ketampakan fisik, artinya penampakan fisik dari
gedung, peralatan, pegawai, dan fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki oleh providers.
2. reliability atau reliabilitas adalah kemampuan untuk menyelenggarakan pelayanan yang dijanjikan secara akurat. 3. responsiveness atau responsivitas adalah kerelaan untuk
menolong masyarakat dan menyelenggarakan pelayanan secara ikhlas.
4. assurance atau kepastian adalah pengetahuan dan kesopanan para pekerja dan kemampuan mereka dalam memberikan kepercayaan kepada pelanggan.
5. emphathy adalah perlakuan atau perhatian pribadi yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat.
Sedangkan menurut Lohman (2003) dalam Mahsun (2006:7) mendefinisikan Indikator kinerja merupakan suatu variabel yang digunakan untuk mengekpresikan secara kuantitatif efektivitas dan efisiensi proses atau operasi dengan berpedoman pada target-target dan tujuan organisasi.
Menurut Sedarmayanti (2010:198) indikator kinerja memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Memperjelas tentang apa, berapa dan kapan kegiatan dilaksanakan.
b. Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait untuk menghindari kesalahan interpretasi selama pelaksanaan kebijakan/program/kegiatan dan dalam menilai kinerjanya termasuk kinerja instansi pemerintah yang melaksanakannya.
26
c. Membangun dasar bagi pengukuran, analisis, dan evaluasi kinerja organisasi/unit kerja.
Indikator kinerja yang dirumuskan oleh McDonald dan Lawton dalam Mukarom dan Laksana (2016:55) yaitu:
1. Efficiency atau efisiensi adalah keadaan yang menunjukan tercapainya perbandingan terbaik antara masukan dan keluaran dalam suatu penyelenggaraan pelayanan publik.
2. Effectiveness atau efektivitas adalah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, baik dalam target, sasaran jangka panjang, maupun misi organisasi.
Sebelum menyusun dan menetapkan indikator kinerja, menurut Nawawi (2013:242) terlebih dahulu perlu diketahui syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu indikator kinerja. Syarat-syarat yang berlaku untuk semua kelompok kinerja tersebut sebagai berikut:
1. Spesifik dan jelas, sehingga dapat dipahami dan tidak ada kemungkinan kesalahan interpretasi.
2. Dapat diukur secara objektif baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif yaitu dua atau lebih yang mengukur indikator kinerja memiliki kesimpulan yang sama.
3. Relevan; indikator kinerja harus menangani aspek objek yang relevan.
4. Dapat dicapai, penting, dan harus berguna untuk menunjukan keberhasilan msukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak, serta proses.
5. Harus cukup fleksibel dan sensititif terhadap perubahan/penyesuaian pelaksanaan dan hasil pelaksanaan kegiatan.
6. Efektif; data/informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja yang bersangkutan dapat dikumpulkan, diolah, dan dianalisis dengan biaya yang tersedia
Ada beberapa jenis indikator kinerja yang sering digunakan dalam pelaksanaan pengukuran kinerja organisasi, yaitu: indikator masukan (input), indikator proses (process), indikator keluaran (output), indikator hasil
27
(outcome), indikator manfaat (benefit), dan indikator dampak (impact). Masing-masing indikator dijelaskan sebagai berikut:
1. Indikator masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan untuk menghasilkan keluaran. Indikator ini dapat berupa dana, sumber daya manusia, informasi, kebijakan/peraturan perundang-undangan, dan sebagainya.
2. Indikator proses adalah segala besaran yan menunjukan upaya yang dilakukan dalam rangka mengolah masukan menjadi keluaran. Indikator proses menggambarkan perkembangan atau aktivitas yang terjadi atau dilakukan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung, khususnya dalam proses mengolah masukan menjadi keluaran.
3. Indikator keluaran adalah sesuatu yang diharapkan langsung dicapai dari sesuatu kegiatan yang dapat berupa fisik dan/atau nonfisik.
4. Indikator hasil adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (efek langsung)
5. Indikator manfaat adalah seuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan.
6. Indikator dampak adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negatif pada setiap tingkatan indikator berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan.
Menurut Selim dan Woodward dalam Nawawi (2013:244) memngemukakan bahwa ada lima dasar yang bisa dijadikan indikator kinerja sektor publik antara lain:
1. Pelayanan, yang menunjukan seberapa besar pelayanan yang diberikan.
2. Ekonomi, yang menunjukan apakah biaya yang digunakan lebih murah dari pada yang direncanakan.
3. Efisiensi, yang menunjukan perbandingan hasil yang dicapai dengan pengeluaran.
4. Efektifitas, yang menunjukan hasil yang seharusnya dengan hasil yang dicapai.
5. Equity, yang menunjukan tingkat keadilan potensi dan kebijakan yang dihasilkan
28
Selain itu terdapat tujuh indikator kinerja yang saling berkaitan menurut Harsey, Blanchard, dan Johnson dalam Wibowo (2011:102) menjelaskan seperti berikut: