• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDIKATOR KINERJA SAT TARGET TAHUN

2014 CAPAIAN TAHUN 2013 REALISASI TAHUN 2014 Keadaan Lingkungan

1 Rumah memenuhi syarat kesehatan % 85 87 98

2 Cakupan air bersih % 93 100 100

3 Pemanfaatan jamban keluarga % 95 96,4 98

4

Sarana Air Limbah yang memenuhi

syarat kesehatan % 85 96,3 97,2

5

Tempat pengelolaan makanan yang

memenuhi syarat kesehatan % 80 97 98,25

6 Persentase tempat tempat umum sehat % 80 85 92,01

b. Perilakuhidup Masyarakat

Perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehinga anggota keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan beperan aktif dalam kegatan – kegiatan masyarakat Pemberdayaan masyarakat dimulai dari tingkat individu dan keluarga melalui perilaku yang bersih sehat. Perilaku sehat oleh masyarakat dapat dilihat dari program Perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS). Perkembangan PHBS memperlihatkan kecenderungan peningkatan yang berarti. Hal ini dapat dilihat dari indikator rumah tangga berperilaku hidup bersih dan sehat (yang memperlihatkan kecenderungan peningkatan tahun 2013 sampai 2014 yaitu 88,87% dan 90,90%. Pencapaian cakupan rumah tangga sehat tersebut didapatkan dari survei PHBS yang dilakukan rutin setiap tahun oleh petugas.

Perilaku sehat masyarakat yang dapat mempengaruhi status gizi diantaranya adalah keluarga sadar gizi dan pemberian air susu ibu eksklusif selama 6 bulan. Berdasar survei, capaian keluarga sadar gizi tahun 2013 sebesar 84,25%dan tahun 2014 sebesar 84,61%. Sedangkan pemberian ASI eksklusif tahun 2013 sebesar 61,20% dan tahun 2014 sebesar 64,68%.

Disamping perilaku, peran serta masyarakat sangat mempengaruhi derajad kesehatan masyarakat. Peran serta masyarakat yang dikaitkan langsung dengan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit demam berdarah terlihat dalam angka bebas jentik. Angka bebas jentik (ABJ) dari tahun 2013dan 2014 menunjukkan peningkatan tetapi masih dibawah target nasional (95%), yaitu 89,88% dan 85,25%. Melihat angka bebas jentik ini dapat dikatakan bahwa peran serta masyarakat masih rendah dalam melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk yang menambah kompleksitas upaya penanggulangan demam berdarah.

Bentuk peran serta masyarakat yang lain dalam pembangunan kesehatan adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM). UKBM yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat kota Semarang salah satunya adalah dalam bentuk posyandu. Sampai tahun 2014 tercatat ada 1.561 buah posyandu, yang terbagi dalam empat katagori yaitu pratama, madya, purnama dan mandiri. Dari keempat strata posyandu tersebut, dapat dikatakan posyandu

purnama dan mandiri yang memiliki mutu pelayanan yang baik karena didukung oleh kader posyandu yang aktif maupun jenis kegiatan yang memadai secara kuantitas maupun kualitasnya. Posyandu purnama dan mandiri ini yang disebut posyandu aktif dengan jumlah 1.214 buah (77,77%) sedangkan di tahun 2013 sebesar 77,10%

Selain posyandu, kelompok usia lanjut merupakan salah satu bentuk peran serta dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari para lanjut usia. Pada tahun 2013 kelompok lanjut usia aktif sebanyak 97,65% dan 2014 sebesar 98%.

Perilaku hidup masyarakat satuan

Target Tahun 2014 Capaian Tahun 2013 Realisasi tahun 2014 Persentase rumah tangga berperilaku

hidup bersih dan sehat % 88 88.87 90,90

Keluarga Sadar Gizi

% 78 84,25 84,61

Pemberian Asi Eksklusif % 55 61,20 64,68

Angka bebas jentik

% 90 84,69 85,67

Kelompok lansia

% 90 97,65 98

Persentase Posyandu purnama dan

mandiri % 70 77.10 77,77

c. Akses dan Mutu Pelayanan

Akses layanan kesehatan ditujukan dangan adanya peningkatan jumlah jaringan,dan kualitas fasilitas layanan kesehatan, seperti Puskesmas keliling,Puskesmas Perawatan ,Puskesmas Pembantu serta pelayanan kesehatan lainnya.Kota Semarang sampai dengan tahun 2014 telah memiliki 5 Puskesmas yang memiliki sertifikat ISO, serta memiliki 13 Puskesmas perawatan dengan 6 Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar) atau puskesmas yg mempunyai fasilitas atau kemampuan untuk penanganan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal dasar. Akses masyarakat dalam menjangkau pelayanan kesehatan dapat dilihat dari rasio Puskesmas, Poliklinik, Puskesmas Pembantu per satuan penduduk di tahun 2014 yaitu 5,7% serta melaksanakan audit surveilan di lima Puskesmas. Serta persentase obat generik berlogo dalam persediaan obat di instalasi farmasi telah tersedia 100%.

Akses dan mutu Pelayanan satuan Target tahun 2014

Capaian tahun 2013

Realisasi tahun 2014 Rasio Puskesmas,Poliklinik,pustu persatuan

penduduk (per kecamatan) % 5.7 5.7 5.7

Puskesmas yang mendapatkan ISO Jml 6 5 5

Akses dan mutu Pelayanan satuan Target tahun 2014 Capaian tahun 2013 Realisasi tahun 2014

Persentase obat generik berlogo dalam persediaan

obat %

100 121 100

Persentase keluhan pelayanan kesehatan yg telah

ditindaklanjuti %

100 100 100

d. Pelayanan Kesehatan

Adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama- sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat.Pelayanan kesehatan memiliki beberapa sasaran diantaranya:

- Persentase Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan mengalami peningkatan yaitu di tahun 2013 sebesar 93% meningkat di tahun 2014 menjadi 97,87 %

- Persentase Kelurahan yang mencapai Universal Child Imunization (UCI) setiap tahunnya dapat dilakukan sesuai dengan target 100% termasuk di tahun 2014

- Persentase kelurahan yang terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam di tahun 2014 mencapai 100%

- Persentase pelayanan pemberian 90 tablet Fe pada ibu hamil pada tahun 2013 tercatat 96,36%.dan pada tahun 2014 pemberian 96 tablet Fe pada ibu hamil naik menjadi 97,23 %

- Pemberian ASI eksklusif selama 2013-2014 memperlihatkan peningkatan yaitu dari 55 % menjadi 64,68 %

- Persentase bayi yang mendapat imunisasi campak selalu mengalami peningkatan dari tahun 2013 yang telah mencapai 100 % meningkat di tahun 2014 menjadi 101,3%

- Pelayanan Kesehatan Ibu mengalami peningkatan Kunjungan ibu hamil (K-4) tahun 2013 – 2014 yaitu dari 96,90 % menjadi 97,21%.

- Pemberian vitamin A pada bayi tahun 2013 mencapai 100,61% dan meningkat di tahun 2014 menjadi 121,6%, demikian halnya pemberian vitamin A pada balita di tahun 2013 sebesar 99,54 % di tahun 2014 meningkat menjadi 100,2%. Sedangkan pemberian vitamin A pada ibu nifas mencapai sebesar 106,59% pada tahun 2013, dan di tahun 2014 sebesar 100,05%.sebagian besar target diatas 100% karena dari jumlah

sasaran mendapat tambahan dari luar Kota Semarang yang pada saat kegiatan bulan vitamin A berada di Kota Semarang

- Pelayanan pemantauan pertumbuhan balita yang ada di Kota Semarang berdasarkan balita yang datang dan ditimbang (D/S) pada tahun 2013 sebesar 79,69% hal ini naik dibandingkan tahun 2014, sebesar 80,46% sedangkan balita yang naik berat badannya (N/D) 89,14 % di tahun 2013, menjadi 89,78% ditahun 2014.

- Penemuan balita yang menderita pneumonia, pada tahun 2013 sebanyak 40% dan pada tahun 2014 sebanyak 57%. Semua balita yang menderita pneumonia dalam kurun waktu tersebut telah mendapat pelayanan kesehatan, baik ditangani langsung oleh petugas puskesmas maupun dilakukan rujukan bagi pneumonia berat.

Pelayanan Kesehatan satuan

Target tahun 2014 Capaian tahun 2013 Realisasi tahun 2014 1 Persentase Pertolongan persalinan

oleh tenaga kesehatan % 93 98.33 97,21

2 Persentase Kelurahan yg mencapai

Universal Child Immunization (UCI) % 100 100 100

3 persentase desa terkena KLB yang

ditangani < 24 jam % 100 100 100

4 Persentase Ibu Hamil mendapat tablet

Fe % 96 96.36 97,25

5 Presentase balita yang mendapat ASI

Eksklusif % 55 61,20 64,68

6 Proporsi bayi yang mendapatkan

imunisasi campak % 100 116.1 101,3

7 Cakupan imunisasi campak untuk anak

umur 12 s/d 23 bln % 100 102 100

8 Persentase pekerja yang mendapat

pelayanan kesehatan kerja % 100 100 100

9 Persentase keluarga miskin yang

mendapat pelayanan kesehatan % 100 100 100

e. Sumber daya Kesehatan;

Perkembangan tenaga kesehatan yang ada di Kota Semarang tiap tahunnya mengalami perubahan. Hal ini dapat dilihat melalui Rasio Dokter umum tahun 2013 sebesar 45,1 per 100.000 penduduk dan meningkat di tahun 2014 yaitu menjadi 91 per 100.000 penduduk.Rasio Dokter Gigi tahun 2013 sebesar 23.2 per 100.000 penduduk dan di tahun 2014 yaitu menjadi 21 per 100.000 penduduk. Rasio Dokter Spesialis tahun 2013 sebesar 47,4 per 100.000 penduduk menjadi 40 per 100.000 penduduk di tahun 2014. Sedangkan Bidan dari 53 menjadi 28 per 100.000 penduduk dari tahun 2012 ke 2013. Jumlah Perawat mengalami peningkatan yang cukup signifikan di tahun 2012 sebesar 199 per 100.000 penduduk menjadi 204 per 100.000 penduduk di tahun 2013. Di sisi lain

ada bentuk partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan seperti kader posyandu, petugas pemantau jentik, pengawas minum obat bagi penderita TB, hanya jumlahnya masih terbatas dan perlu upaya peningkatan.

Sumberdaya Kesehatan satuan Target tahun 2014 Capaian tahun

2013 Realisasi tahun 2014 Rasio Dokter umum per 100.000

penduduk % 19,7 37,53 46,65

Rasio Dokter Gigi per 100.000

penduduk % 6,8 10,75 12,3

Rasio Dokter Spersialis per

100.000 penduduk % 49,9 40 49,9

Rasio Apoteker per 100.000

penduduk % 49 36.5 49,36

Rasio Bidan per 100.000

penduduk % 35 28 35

Rasio perawat per 100.000

penduduk % 82 80 82

f. Manajemen Kesehatan

Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan diperlukan data, informasi, dan indikator Kesehatan yang dikelola dalam Sistem Informasi Kesehatan (SIK). Sistem informasi kesehatan merupakan bagian dari manajemen kesehatan. Keberhasilan manajemen kesehatan ditentukan oleh ketersediaan data dan informasi yang cepat, tepat dan akurat. Untuk itu dukungan penggunanaan teknologi informasi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan menjadi keniscayaan untuk memberikan kemudahan pengelolaan data yang pada akhirnya menentukan pengambilan keputusan yang berbasis bukti/data (evidence based).

Sistem informasi kesehatan Kota Semarang mulai dikembangkan oleh Dinas Kesehatan sejak tahun 2003, hal ini bertujuan untuk menghasilkan data dan informasi kesehatan yang akurat, cepat, dan mudah diakses oleh masyarakat dengan memberdayakan kemampuan teknologi informasi.

Sampai dengan tahun 2014 telah dikembangkan berbagai sistem informasi untuk mendukung berjalanan sistem informasi kesehatan di Kota Semarang, diantaranya pengembangan Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS), Sistem Informasi DBD, Sistem Informasi Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Kota (Jamkesmaskot), Sistem Informasi Data Dasar Puskesmas, Sistem Informasi Pemetaan Kasus Kesehatan, Website Dinas Kesehatan, dan sebagainya.

Sistem informasi terus dikembangkan secara berkesinambungan berdasarkan dinamika kebutuhan terhadap ketentuan pencatatan & pelaporan, serta kemudahan pelayanan kepada masyarakat. Segala kelemahan dan

kekurangan yang ditemukan, secara terus menerus dilakukan perbaikan dan disempurnakan.

Disamping secara aktif mengembangkan aplikasi pendukung pelayanan kesehatan kepada masyarakat, juga melakukan pembangunan infra struktur penguatan teknologi informasi dan pemeliharaan sarana sistem informasi kesehatan agar dapat berfungsi secara optimal. Dengan infrastruktur yang ada maka Dinas Kesehatan dapat berkomunikasi secara online dengan UPTD (Puskesmas, Instalasi Farmasi, Laboratorium Kesehatan), maupun dengan fasilitas pelayanan kesehatan lain di Kota Semarang.

Dari sisi kemampuan tenaga kesehatan terhadap penerapan sistem informasi kesehatan ini, dinas kesehatan juga secara berkesinambungan melakukan berbagai macam kegiatan pelatihan teknis berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi yang ada bagi para petugas kesehatan. Sehingga diharapkan sistem informasi kesehatan di Kota Semarang dapat terus berjalan dan memberikan manfaat terhadap pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Disamping pengembangan software, Dinas Kesehatan juga melakukan pembangunan infrastruktur berupa pembangunan antenna wireless, dimana nantinya diharapkan antar instansi kesehatan di lingkungan pemerintah kota Semarang (Dinas Kesehatan, Puskesmas, Instalasi Perbekalan Farmasi dan RSUD) akan saling terhubung/online.

Manajemen Kesehatan satuan Target tahun 2014 Capaian tahun 2013

Realisasi tahun 2014 1 Rata - rata persentase anggaran kesehatan dalam APBD Kota % 4,5 3.13 4,3 2

Ketersediaan dokumen sistem kesehatan dan standar pelayanan publik

Dok 2 2 2

3 Ketersediaan profil kesehatan setiap tahun Dok 1 1 1

C. Cakupan Universal Coverage

Persentase penduduk kota yang menjadi peserta jaminan kesehatan masyarakat tahun 2013 dan 2014 sebesar 100% karena seluruh penduduk Kota Semarang yang tidak masuk dalam ”Data Base” Warga Miskin asal menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) langsung dapat menggunakan Kartu Jamkesmasko.pada tahun 2014 sebesar 47.084 dengan perincian peserta yang masuk Data base sebanyak 27.306 orang dan peserta yang tidak mampu sebanyak 19.778 orang.

Cakupan Universal Coverage satuan Target 2014 Capaian tahun 2013

Realisasi tahun 2014

1 Persentase penduduk kota yang menjadi peserta

jaminan kesehatan masyarakat % 100 100 100

2 persentase penduduk miskin yang menjdi peserta

jamkesmas (APBD,APBD Prov dan APBN) % 100 100 100

3 Anggaran untuk pemberian jamkesmas pertahun Rp 47 .milyar 8.068.224.000 35.milyar

D. Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah

RSUD Kota Semarang yang dikelola dengan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK – BLUD) adalah milik Pemerintah Kota Semarang yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan pari purna dan profesional terutama peningkatan kepuasan pelanggan.

Tahun 2014Kelengkapan sarana dan prasarana di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang berupa kapasitas ruang rawat inap sebesar 210 tempat tidur di tahun 2013 meningkat menjadi 329 tempat tidur hal ini dikarenakan adanya pembangunan gedung baru terutama di pelayanan rawat inap ,rawat jalan,gawat darurat dan penunjang khususnya dipenambahan ruang rawat inap untuk kelas IIIterjadi penambahan tempat tidur yang signifikan sebanyak 132 TT. yaitu dengan jumlah tempat tidur sebanyak 128 dan ruang perawatan khusus sebesar 86 tempat tidur di tahun 2012, menjadi 98 tempat tidur di tahun 2013 Dengan persentase pemakaian tempat tidur (Bed Occupancy Rate) di tahun 2014 sebesar 70,18 % ,Sedangkan rata – rata lama hari pasien dirawat (Legth Of Stay)5,36 hari di tahun 2013 menjadi 5,07 hari di tahun 2014. Untuk rata – rata jeda waktu tempat tidur dipakai disaat terisi ke terisi berikutnya (Turn Over Interval) tahun 2013 yaitu 0,80 hari menjadi 1,97 hari di tahun 2014. Frekuensi penggunaan tempat tidur (Bet Turn Over) ditahun 2013 sebesar 77,71 kali dan tahun 2014 sebesar 61,71 kali.

Jumlah Pasien miskin yang mendapatkan pembebasan /keringan biaya perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Semarang tahun 2013 sebesar 73,830 orang turun menjadi 56,659 orang di tahun 2014.

RSUD Kota Semarang yang dikelola dengan pola pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD) adalah milik pemerintah Kota Semarang yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan paripurna dan profesional terutama peningkatan kepuasan pelanggan untuk nilai kinerja pelayanan publik ditahun 2014 Menurut data CV. KRCI lembaga riset dan konsultan untuk nilai Indek Kepuasan Masyarakat untuk RSUD tahun 2014 sebesar 74,31