• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indikator Literasi Keuangan

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : Maria Vira Wahyujati NIM: (Halaman 28-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA…

A. Landasan Teori

2. Indikator Literasi Keuangan

Beberapa peneliti dalam penelitian-penelitian sebelumnya terkait dengan literasi keuangan, masing-masing memiliki indikator yang hampir sama. Salah satunya adalah indikator yang digunakan dalam penelitian Lusardi (2009) menyatakan bahwa, untuk mengukur financial literacy Lusardi & Mitchell (2009, 2011) mengembangkan pertanyaan yang dapat digunakan sebagai indikator untuk membedakan tingkat pengetahuan keuangan seseorang. Pertanyaan tersebut terdiri dari:

a. Numeracy/knowledge of interest compounding (Keterampilan berhitung/pengetahuan tentang bunga majemuk)

b. Knowledge of inflation (Pengetahuan tentang inflasi)

c. Knowledge of risk diversification (Pengetahuan tentang penyebaran resiko)

d. pemahaman seseorang mengenai hubungan antara resiko (risk) dan tingkat pengembalian (return).

e. bagaimana cara kerja obligasi, saham dan reksa dana;

f. penentuan harga aset (basic asset pricing)

Pertanyaan mengenai literasi keuangan yang disusun tersebut, pada dasarnya terbentuk dari empat prinsip yaitu: 1) simplicity; 2) relevance; 3) brevity; 4) capacity to differentiate. Adapun penjelasan dari keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut.

a. Simplicity: Pertanyaan disusun untuk mengukur konsep keuangan dasar yang dimiliki seseorang untuk mengambil keputusan keuangan dari waktu ke waktu.

b. Relevance: Pertanyaan yang disusun harus berhubungan dengan konsep yang berkaitan dengan keputusan finansial sehari-hari dalam siklus hidupnya.

c. Brevity: Jumlah pertanyaan harus dijaga agar dapat diadopsi secara luas.

d. Capacity to differentiate: Pertanyaan yang ada harus dapat membedakan pengetahuan keuangan untuk dapat mengadakan perbandingan antar responden.

Adapun indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah indikator yang disusun oleh Lusardi (2009, 2011). Berikut ini adalah tabel dari indikator literasi keuangan menurut Lusardi:

Tabel

2.1 Indikator Literasi Keuangan Literasi Keuangan

Indikator Keterangan

Pengetahuan tentang produk keuangan yang sifatnya formal

 Kelengkapan KTP/SIM

 Minimum saldo untukmembuka rekening bank

 Minimum saldo rekening Perhitungan keuangan  Perhitungan bunga sederhana

 Perhitungan bunga majemuk

 Perhitungan bunga kredit

 Konsep dasar inflasi

 Diskon

Literasi Keuangan

Indikator Keterangan

 Time value of money

 Money Illusion Pengetahuan tentang pasar

modal dan produk keuangan yang tersedia: Saham, Obligasi dan

Reksa Dana

 Fungsi pasar modal

 Tingkat bunga dan obligasi

 Tingkat pengembalian saham dan obligasi

 Resiko obligasi dan saham

 Arti dari membeli saham

 Arti dari membeli obligasi

 Penalti saat menjual obligasi sebelum jatuh tempo

 Investasi yang memberikan keuntungan pengembalian paling tinggi

 Investasi yang beresiko lebih tinggi

 Diversifikasi investasi Sumber: diolah dari DEFINIT-SEADI-OJK-2013

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan survei nasional yang diadakan oleh OJK (2016), dapat diamati bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat dapat dilihat berdasarkan faktor demografi sosial seperti wilayah, gender, usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pekerjaan. Hal ini juga didukukung dengan penelitian lain yang mengemukakan adanya pengaruh gender dan unsur demografi sosial terhadap perbedaan tingkat literasi keuangan (Lusardi et al., 2010; Lusardi & Mitchell, 2011; Agarwalla et al., 2013;

Thapa & Nepal, 2015)

Hasil dari penelitian yang ada menyatakan bahwa perempuan seringkali memiliki pengetahuan keuangan serta akses terhadap produk

keuangan formal yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini terjadi baik di negara yang maju seperti Amerika Serikat dan Singapura, maupun negara sedang berkembang seperti India dan Bangladesh. Selain itu perempuan juga cenderung lebih rentan dalam hal ketahanan keuangan dibandingkan dengan laki-laki karena kewajiban utamanya dalam menjaga dan merawat anak-anaknya. Perempuan usia muda, janda, perempuan dengan tingkat pendapatan rendah dan perempuan dengan tingkat pendidikan rendah adalah mereka yang pengetahuan keuangannya paling dangkal. Rendahnya pengetahuan keuangan menuntun pada rendahnya kepercayaan diri dalam mengambil keputusan finansial serta rendahnya kemampuan dalam menghadapi permasalahan keuangan yang lebih kompleks (OECD/INFE, 2013).

Literatur yang ada juga menunjukkan bahwa latar belakang keluarga menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat literasi keuangan. Sebagai contoh, Lusardi, Mitchell & Curto (2010) mengaitkan literasi keuangan responden dengan karakteristik rumah tangga tempat mereka tumbuh.

Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan responden berkorelasi positif dengan pendidikan orang tua khususnya ibu. Dengan kata lain, melek finansial juga dapat dipengaruhi oleh faktor keluarga.

Sejalan dengan penelitian sebelumnya, Huston (2010) juga menyebutkan bahwa kebiasaan, kemampuan kognitif, keadaan ekonomi, keluarga, teman sebaya, komunitas maupun institusi memberikan dampak

pada kebiasaan pengelolaan keuangan seseorang. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Widyawati (2012) juga mengemukakan bahwa; 1) status sosial ekonomi orang tua berpengaruh langsung signifikan positif terhadap pendidikan pengelolaan keuangan keluarga, 2) pendidikan pengelolaan keuangan keluarga berpengaruh langsung positif signifikan terhadap literasi finansial aspek kognitif dan aspek sikap. Selain faktor- faktor yang telah disebutkan di atas, terdapat studi lain yang mengemukakan bahwa kemampuan kognitif memiliki korelasi yang positif dengan tingkat melek keuangan. Hasil penelitian tersebut semakin menguatkan tingkat pendidikan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat melek literasi yang dimiliki seseorang (McArdle, Smith, Willis, 2009).

4. Status Sosial Ekonomi

Status sosial ekonomi adalah kedudukan sosial ekonomi seseorang dalam masyarakat yang menggambarkan perbedaan kedudukan pada sistem tingkatan sosial atau social stratification. Menurut Soekanto (1982: 233) kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Ukuran atau kriteria dalam menggolongkan anggota masyarakat adalah dengan melihat; 1) ukuran kekayaan, 2) ukuran kekuasaan, 3) ukuran kehormatan, dan 4) ukuran ilmu pengetahuan.

Adapun status sosial ekonomi dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain sebagai berikut.

a) Tingkat Pendidikan

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 diperoleh pengertian pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003, jalur pendidikan yang berlaku di Indonesia ada dua, yaitu jalur pendidikan formal dan nonformal.

Jalur pendidikan formal terdiri dari:

1) Pendidikan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidayah atau bentuk lain yang sederajat; dan Pendidikan Sekolah Menengah dan Madrasah Tsanawiyah atau bentuk lain yang sederajat

2) Pendidikan Menengah (Pendidikan Menengah Umum dan Pendidikan Menengah Jurusan) seperti SMA, MA, SMK, MAK atau bentuk lain yang sederajat

3) Pendidikan Tinggi (Pendidikan berbentuk Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institusi dan Universitas)

Jalur pendidikan non formal terdiri dari lembaga pendidikan yang mengarah pada bidang keterampilan.

Tingkatan pendidikan menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003 adalah:

1.Pendidikan dasar/rendah ( SD-SMP/MTs) 2.Pendidikan Menengah (SMA/SMK) 3.Pendidikan Tinggi (D3/S1)

Mengacu pada Survei Nasional OJK (2013, 2017), tingkat pendidikan dapat dikategorikan sebagai berikut:

a. Tidak tamat SD/tidak sekolah b. Lulus SD

c. Lulus SMP d. Lulus SMA e. Perguruan Tinggi

Perlu dipahami bahwa pembagian tingkat pendidikan yang dilakukan oleh OJK adalah pembagian berdasarkan jalur pendidikan formal. Hal ini dapat dimaklumi karena kelulusan di jalur pendidikan formal dapat dibuktikan keabsahannya melalui ijazah asli yang diterbitkan oleh satuan pendidikan terkait yang dijamin oleh Pemerintah.

b) Jenis Pekerjaan

Definisi pekerjaan menurut Sukanto (2003) adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri atau orang lain, baik dibayar atau tidak. Selain itu, pekerjaan juga

didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan atau membantu menghasilkan barang dan jasa dengan maksud untuk memperoleh penghasilan baik berupa uang atau barang yang akan diterima dalam kurun waktu tertentu.

Ada banyak jenis pekerjaan, menurut Notoatmodjo (2012) jenis pekerjaan dibagi menjadi pedagang, buruh/tani, PNS, TNI/Polri, pensiunan, wiraswasta dan IRT.

Tingkat Pendapatan

Pendapatan adalah balas karya yang diperoleh sebagai imbalan atau balas jasa, atau merupakan sumbangan seseorang terhadap proses produksi (Gilarso, 1992: 64). Pendapatan adalah hasil yang diperoleh suatu keluarga, baik bersumber dari pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan dan pendapatan lain yang berupa uang maupun barang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari.

Dalam rangka mencapai kesejahteraan finansial (financial well-being), sebuah keluarga pertama-tama harus mampu mengelola keuangannya dengan baik, sehingga jumlah pendapatan yang dimiliki dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari yang sifatnya mendasar. Namun, untuk mencapai kesejahteraan finansial, tentu tidak hanya behenti sampai di pemenuhan kebutuhan sehari-hari, atau dengan kata lain pemenuhan kebutuhan dalam jangka pendek.

Sebuah keluarga atau rumah tangga harus dapat mengelola keuangannya dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang, kebutuhan masa kini maupun masa depan, serta memiliki ketahanan finansial apabila terjadi hal-hal tidak terduga seperti hilangnya sumber pendapatan, terjadi sesuatu yang mengharuskan pengeluaran dalam jumah besar, dan sebagainya.

Peran Pemerintah dalam hal ini dapat terlihat dari adanya peraturan yang melindungi tingkat pendapatan masyarakat. Dalam hal ini yang dimaksud adalah upah minimum yang disesuaikan dengan pembagian wilayah, yaitu UMP atau Upah Minimum Provinsi dan UMK atau Upah Minimum Kabupaten Kota yang disusun berdasarkan Survei Kebutuhan Hidup Layak atau KHL.

Besarnya UMP untuk Provinsi Papua untuk tahun 2019 adalah sebesar Rp 3.240.900 dan besarnya UMK untuk Kabupaten Supiori mengikuti besarnya UMP adalah sebesar Rp 3.240.900.

Karena Kabupaten Supiori tidak menetapkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) maka Upah Minimum Kabupaten (UMK) mengikuti besarnya Upah Minimum Provinsi (UMP) yang ditetapkan oleh Pemprov Papua. Besarnya UMP dan UMK ini dihitung dengan berpedoman pada PP No. 78 Tahun 2015, dimana perhitungan upah minimum tidak hanya memperhatikan standar

hidup layak, tetapi juga memasukkan elemen inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

5. Suku/Etnis

Menurut UU RI No. 40 Tahun 2008, etnis merupakan penggolongan manusia menurut nilai, kepercayaan, adat istiadat, norma bahasa, kebiasaan, geografis, sejarah, dan hubungan kekerabatan (www.hukumonline.com diakses pada 29 Februari 2019). Suku/etnis adalah sekelompok besar orang yang diidentifikasi memiliki kesamaan biologis dan tradisi (Santrock, 2003). Sedangkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia etnis merupakan sekelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang memiliki kedudukan tertentu karena memiliki beberapa perbedaan seperti bahasa, agama, ras, budaya, dan lainnya.

Perbedaan-perbedaan yang terdapat pada setiap etnis akan membuat masing-masing etnis memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Robb dan Woodyard (2011) mengatakan bahwa etnis dan ras memiliki perbedaan dalam hal pengelolaan keuangan. Perbedaan pengelolaan keuangan pada etnis dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti pendapatan yang berbeda antar setiap etnis, kebiasaan lingkungan, jenis pekerjaan, dan hal lainnya. Sehingga karena perbedaan cara pengelolaan keuangan tersebut membuat etnis memiliki pengaruh terhadap pengelolaan keuangan. Perry dan Morris (2005) menyatakan bahwa etnis berhubungan dengan perilaku keuangan.

Selain dari perbedaan kebiasaan, dapat juga dikarenakan perbedaan pendapatan. Aizcorbe (2003) dalam sampel penelitiannya menyebutkan jika orang Amerika keturunan Afrika yang berkulit hitam memiliki pendapatan yang lebih rendah dibandingkan dengan kalangan kulit putih.

Seseorang dengan pendapatan yang tinggi akan memiliki perilaku pengelolaan keuangan yang lebih bertanggung jawab karena orang tersebut tidak akan merasa kekurangan uang untuk memenuhi semua kebutuhannya.

Sehingga dengan demikian etnis akan memberikan pengaruh terhadap literasi keuangan yang dimiliki seseorang dalam mengelola keuangannya.

6. Keluarga

Keluarga adalah kelompok sosial terkecil dalam masyarakat.

Keluarga terdiri dari anggota yang meliputi suami sebagai kepala keluarga/kepala rumah tangga, isteri sebagai ibu rumah tangga, dan anak.

Suami sebagai kepala keluarga dan isteri sebagai ibu rumah tangga memiliki peran penting dalam membangun sebuah keluarga.

a) Kepala Keluarga

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kepala keluarga adalah seorang dari sekelompok anggota rumah tangga yang bertanggung jawab atas kebutuhan sehari-hari rumah tangga.

Kepala rumah tangga atau kepala keluarga pada sebuah keluarga adalah seorang ayah atau bapak.

Adapun menurut Hart ( dalam Silalahi, 2016) seorang ayah memiliki peran sebagai berikut:

1) Sebagai pemberi nafkah

Seorang ayah harus memenuhi kebutuhan finansial anggota rumah tangga agar dapat memenuhi kebutuhan pokoknya.

2) Sebagai teman

Seorang ayah harus menjalin hubungan yang baik dengan anggota rumah tangga yang lain, sehingga masalah dan kesulitan yang dihadapi oleh anggota rumah tangga dapat diselesaikan.

3) Sebagai pengawas dan pendisiplin

Seorang ayah bertugas mengawasi perilaku anggota rumah tangga agar memiliki sikap disiplin.

4) Sebagai pemberi perlindungan

Seorang ayah merupakan pelindung dan otoritas dalam keluarga, dengan sikapnya yang tegas dan penuh wibawa, kepala rumah tangga menanamkan pada anggota keluarganya agar memiliki sikap patuh terhadap otoritas dan disiplin.

5) Sebagai penasihat

Seorang ayah bertugas membantu, mendampingi dan membela anggota rumah tangga yang memiliki

kesulitan atau masalah, sehingga anggota rumah tangga memiliki tempat untuk berkonsultasi.

6) sebagai pendidik dan sebagai teladan

Seorang ayah bertanggungjawab mengajari tentang apa saja yang diperlukan oleh anggota rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari melalui latihan dan teladan yang baik.

7) Sebagai pemberi perhatian

Seorang ayah dapat sering melakukan stimulasi afeksi dalam berbagai bentuk sehingga membuat anggota rumah tangga merasa nyaman dan penuh kehangatan.

8) sebagai pembimbing.

Seorang ayah harus membantu anggota rumah tangga memecahkan masalah serta kesulitan- kesulitan yang dialami oleh anggota rumah tangga, agar dapat memecahkan langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh.

b) Ibu Rumah Tangga

Ibu rumah tangga adalah orang yang bertanggung jawab dalam mengatur dan mengelola kegiatan rumah tangga. Pandangan yang beraku di masyarakat adalah bahwa ketika seorang perempuan resmi menjadi isteri dari suaminya, maka

secara otomatis ia juga menyandang status sebagai ibu rumah tangga.

Menurut Baqhir peran penting ibu rumah tangga dalam sebuah keluarga adalah: 1) ibu sebagai manajer, 2) ibu sebagai guru, 3) ibu sebagai juru masak, dan 4) ibu sebagai dokter.

Jadi, yang dimaksud dengan ibu rumah tangga adalah perempuan yang telah menikah dan dengan demikian memiliki tanggung jawab atas rumah tangganya sebagai pengatur dan pengelola keuangan keluarga dan pekerjaan rumah tangga.

Semuanya dilakukan dalam rangka mewujudkan rumah tangga yang sejahtera. (Baqhir, 2003:64)

B. Kajian Penelitian Lain

1. Penelitian yang dilakukan oleh Harini Silalahi (2016) dengan judul “Studi Komparasi Tingkat Literasi Keuangan Keluarga Di Desa Condongcatur , Yogyakarta Ditinjau dari Status Sosial Ekonomi dan Gaya Hidup”.

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif yang dilakukan pada keluarga yang berdomisili di Desa Condongcatur, Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan keluarga di Desa Condongcatur berada pada kategori sedang; terdapat perbedaan literasi keuangan dilihat dari status sosial ekonomi dan gaya hidup.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Nadia Natalia (2018) dengan judul “Studi Komparasi Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga di Desa

Caturtunggal, Yogyakarta Ditinjau dari Tingkat Pendidikan, Tingka Pendapatan, dan Pekerjaan”. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif yang dilakukan pada Ibu Rumah Tangga yang berdomisili di desa Caturtunggal, Yogyakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di desa Caturtunggal berada pada tingkat sedang/menengah dan terdapat perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan pekerjaan

3. Penelitian yang dilakukan oleh Olivia (2016) dengan judul “Studi Komparasi Kompetensi Pengelolaan Keuangan Rumah Tangga, Status Sosial Ekonomi, Gaya Hidup Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa di Kampung Ketandan Yogyakarta.” Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif yang dilakukan pada masyarakat etnis Tionghoa dan etnis Jawa di Kampung Ketandan, Yogyakarta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi pengelolaan keuangan rumah tangga pada masyarakat etnis Tionghoa maupun etnis Jawa di Kampung Ketandan sudah cukup baik. Tidak terdapat perbedaan status sosial ekonomi antara etnis Tionghoa maupun etnis Jawa namun ada perbedaan gaya hidup antara etnis Tionghoa dan etnis Jawa.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Robb dan Woodyard (2011) dengan judul

“Financial Knowledge and Best Practice Behavior”.Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif yang dilakukan pada masyarakat Amerika.

Hasil dari penelitian ini adalah perilaku keuangan secara

obyektif dan subyektif mempengaruhi pengetahuan keuangan.

Pengetahuan keuangan subyektif memiliki dampak yang relative lebih besar. Sedangkan variabel lain yang memiliki pengaruh secara positif signifikan terhadap perilaku keuangan adalah kepuasan keuangan, pendapatan, pendidikan, usia, ras, dan etnis.

C. Kerangka Berpikir dan Hipotesis

1. Perbedaan tingkat litersi keuangan ditinjau dari suku

Suku/etnis adalah sekelompok besar orang yang diidentifikasi memiliki kesamaan biologis dan tradisi. Suku/etnis memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap perilaku keuangan. Budaya atau kebiasaan hidup yang ada dalam suatu suku/etnis berperan penting dalam pengambilan keputusan keuangan dalam kelompoknya sehingga suku dapat mempengaruhi literasi keuangan yang dimiliki oleh seseorang. Orang dari suku mayoritas atau suku dengan jumlah yang besar cenderung memiliki literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan suku minoritas. Suku yang mampu berkembang dalam jumlah besar menunjukkan suatu tata kelola kehidupan yang baik dalam kelompoknya serta khususnya dalam bidang ekonomi.

Dalam sebuah suku/etnis terdapat prinsip-prinsip hidup yang dipegang dengan teguh, misalnya, dalam masyarakat suku Papua, kekayaan bersifat sosial, artinya orang dituntut untuk mengumpulkan kekayaan bukan dalam rangka untuk membantu memudahkan kehidupan, melainkan untuk memberikan status sosial di masyarakat. Kepemilikan

tanah bersifat kewenangan komunal bukan personal. Dan suku tersebut masih menerapkan hukum adat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tak terkecuali permasalahan ekonomi. Perekonomian di suku tersebut dipengaruhi oleh nilai-nilai lokal yang masih kental.

Berbeda dengan suku Jawa yang menjadi suku terbesar di Indonesia, yang tersebar di seluruh pulau di Nusantara. Suku Jawa cenderung dihidupi oleh nilai-nilai filosofi hidup sukses sebagai pegangan dalam menjalani hidupnya. Seperti “Alon-alon waton kelakon” pepatah ini diterapkan dalam karir dan bisnis sehingga orang Jawa cenderung menikmati proses. Ada pula pepatah “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman” yang mengingatkan untuk menyikapi segala sesuatu dengan bijak termasuk soal keuangan. Karena kebiasaan dan tatanan hidup yang bijak, suku Jawa menjadi suku yang mendominasi perekonomian yang tersebar di berbagai daerah.

Nilai hidup dalam suku/etnis menjadi penting karena dalam kehidupan masyarakat suku/etnis tak lepas dari masalah ekonomi sehingga suku menjadi faktor yang memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam jalannya perekonomian dalam suatu masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa suku/etnis dengan jumlah yang besar (mayoritas) memiliki literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan suku dengan jumlah yang lebih kecil (minoritas). Berdasarkan hal tersebut maka dapat disusun hipotesis pertama sebagai berikut:

Ho : Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku

Ha : Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku.

2. Perbedaan tingkat literasi keuangan ditinjau dari tingkat pendidikan Tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat

memengaruhi tingkat literasi keuangan yang dimiliki oleh seseorang.

Dalam beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan tingkat pendidikan tinggi lebih memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Hal ini dapat disebabkan karena orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki masa studi yang lebih lama serta pengetahuan yang lebih baik. Selain itu dengan pendidikan, seseorang lebih mungkin memperoleh berbagai macam pengetahuan, salah satunya pengetahuan tentang ekonomi dan keuangan. Pencapaian pendidikan seseorang memberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga pengetahuan keuangan dalam hal ini pengetahuan tentang produk-produk keuangan, aset, hutang, pensiun, dan akumulasi kekayaan semakin mudah diperoleh oleh kalangan terpelajar. Sebaliknya, seseorang dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah disebabkan oleh karena masa studi yang lebih singkat dan kemampuan kognitif yang lebih rendah.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat disusun hipotesis kedua sebagai berikut:

Ho : Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan

Ha : Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan Perbedaan tingkat literasi keuangan ditinjau dari jenis pekerjaan

Tingkat literasi keuangan juga bervariasi dilihat dari pekerjaannya.

Secara keseluruhan literasi keuangan lebih baik pada orang yang bekerja dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja. Orang yang bekerja pada orang lain ataupun berwirausaha (self-employed) lebih cerdas secara finansial dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja (pengangguran).

Tingkat literasi keuangan juga bervariasi antar golongan pekerjaan. Hal ini dapat disebabkan karena literasi keuangan dapat lebih mudah diperoleh melalui interaksi dengan orang lain di tempat kerja.

Seseorang dengan pekerjaan profesional dan ahli sudah seharusnya memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan orang yang memiliki pekerjaan tanpa memiliki kompetensi khusus. Hal ini dapat dikaitkan dengan lingkungan kerja yang mengharuskan seseorang bersinggungan langsung dengan produk- produk keuangan, di mana orang yang bekerja memiliki akses yang lebih mudah terhadap produk keuangan.

Sedangkan orang yang memiliki pekerjaan tanpa kompetensi khusus dan orang yang tidak bekerja cenderung memiliki akses terhadap produk keuangan yang lebih sulit, hal ini dapat disebabkan karena

sebagian besar pekerjaan tanpa kompetensi khusus lebih banyak melibatkan kekuatan fisik dan menghasilkan bayaran yang lebih rendah.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disusun hipotesis ketiga sebagai berikut:

Ho : Tidak Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga

Ho : Tidak Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : Maria Vira Wahyujati NIM: (Halaman 28-0)