• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : Maria Vira Wahyujati NIM: (Halaman 95-0)

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data dan Pembahasan

3. Pembahasan Hasil Penelitian

a. Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga di Desa Waryesi Literasi keuangan adalah pengetahuan atau kemampuan untuk mengelola keuangan. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan adalah serangkaian proses atau aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keyakinan dan keterampilan konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan baik. Sedangkan menurut OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) literasi keuangan dapat didefinisikan sebagai “A combination of awareness, knowledge, skills, attitude, and behavioursnecessary to make

sound financial decisions and ultimately achieveindividual financial well- being”.

Dari pengujian yang telah dilakukan, diketahui bahwa tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di Waryesi termasuk dalam kategori sangat rendah. Hal ini terlihat dari mean Skor Literasi Keuangan pada Tabel 5.5 yaitu sebesar 9,03 atau dengan skor 45 (9,03/20). Mengacu pada pengkategorian tingkat literasi keuangan PAP II, bila skor < 46% maka tingkat literasi keuangan berada pada kategori sangat rendah. Maka dapat dikatakan bahwa tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di Desa Waryesi berada pada kategori sangat rendah. Selain itu nilai modus menunjukkan bahwa sebagian besar responden menjawab dengan benar 9 pertanyaan dari total 20 pertanyaan yang diajukan.

Selain itu, pada tabel 5.6 literasi keuangan berdasarkan suku, tabel 5.10 literasi keuangan berdasarkan pendidikan, tabel 5.14 literasi keuangan berdasarkan pekerjaan, dan tabel 5.18 literasi keuangan berdasarkan tingkat pendapatan, mayoritas responden memiliki tingkat literasi keuangan yang sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari persentase responden yang memiliki literasi keuangan sangat rendah yaitu sebesar 61,2% dan hanya 9,1%

responden yang memiliki literasi keuangan yang sangat tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum memiliki kemampuan dan pengetahuan yang memadai mengenai literasi keuangan.

Responden belum memiliki pengetahuan mengenai produk keuangan yang sifatnya formal. Selain itu, responden juga belum memiliki

kemampuan umtuk melakukan perhitungan keuangan sederhana serta belum memahami arti penting investasi untuk masa depan.

Faktor utama yang menjadi penyebab rendahnya tingkat literasi keuangan di desa Waryesi adalah rendahnya tingkat pendidikan, pendapatan dan pekerjaan. Tingkat pendidikan yang rendah membuat pengetahuan responden (khususnya tentang literasi keuangan) sangat terbatas. Menurut Suryanto dan Rasmini (2018) tingkat pendidikan mempengaruhi literasi keuangan karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh, maka seseorang akan memiliki pemahaman dan wawasan yang luas dalam mengelola sumber pendapatannya. Tingkat pendapatan responden yang rendah membuat responden jarang memikirkan produk keuangan atau investasi. Pendapatan rendah yang dihasilkan langsung diputar untuk kebutuhan sehari-hari. Tingkat pendidikan responden yang rendah membuat responden belum memiliki pengalaman yang mumpuni dalam hal keuangan.

Seseorang dengan pekerjaan profesional dan ahli sudah seharusnya memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan orang yang memiliki pekerjaan tanpa kompetensi khusus. Hal ini dapat dikaitkan dengan lingkungan kerja yang mengharuskan seseorang bersinggungan langsung dengan produk- produk keuangan, di mana golongan pekerjaan yang profesional atau ahli memiliki akses yang lebih mudah terhadap produk keuangan.

b. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Suku

Menurut UU RI No. 40 Tahun 2008, etnis merupakan penggolongan manusia menurut nilai, kepercayaan, adat istiadat, norma bahasa, kebiasaan, geografis, sejarah, dan hubungan kekerabatan (www.hukumonline.com diakses pada 29 Februari 2019). Suku/etnis adalah sekelompok besar orang yang diidentifikasi memiliki kesamaan biologis dan tradisi (Santrock, 2003).

Perbedaan-perbedaan yang terdapat pada setiap etnis akan membuat masing-masing etnis memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Robb dan Woodyard (2011) mengatakan bahwa etnis dan ras memiliki perbedaan dalam hal pengelolaan keuangan. Perbedaan pengelolaan keuangan pada etnis dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti pendapatan yang berbeda antar setiap etnis, kebiasaan lingkungan, jenis pekerjaan, dan hal lainnya. Sehingga karena perbedaan cara pengelolaan keuangan tersebut membuat etnis memiliki pengaruh terhadap pengelolaan keuangan. Perry dan Morris (2005) menyatakan bahwa etnis berhubungan dengan perilaku keuangan.

Berdasarkan hasil uji hipotesis, diketahui bahwa terdapat perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku. Hal ini terlihat dari hasil uji beda mean menggunakan Kruskal-Wallis yang menunjukkan bahwa nilai Asym.Sig sebesar 0,000< nilai alpha 0,05.

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa suku pendatang memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dari Suku Biak dan Suku bukan Biak. Hal ini menunjukkan dari persentase kategori literasi keuangan sangat rendah untuk

suku pendatang hanya sebesar 9,1% ( Suku Biak 33,1% dan Suku Papua bukan Biak 19%). Untuk tingkat literasi keuangan sangat tinggi didominasi oleh suku pendatang sebesar 7,4%. Selain itu, hubungan antara suku dan tingkat literasi keuangan dapat juga dilihat dari mean (lampiran 5). Mean untuk Suku Biak sebesar 53,34, Suku Papua bukan Biak sebesar 50,90, dan suku pendatang sebesar 82,68. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat literasi keuangan suku pendatang lebih baik daripada Suku Biak dan Suku Papua bukan Biak. Penelitian Robb dan Woodyard (2003) menunjukkan bahwa suku dapat mempengaruhi literasi keuangan yang dimiliki oleh seseorang.

Perbedaan suku berpengaruh terhadap perbedaan perilaku keuangan, sehingga setiap suku dapat memiliki tingkat literasi keuangan yang berbeda pula.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan suku pendatang lebih baik dari Suku Papua Biak dan bukan Biak. Hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan suku pendatang lebih baik dari Suku Papua Biak dan bukan Biak. Tabel 5.10 menujukkan bahwa dari total 25,6% responden dengan pendidikan tinggi, terdapat 15,7% suku pendatang, 3,3% Suku Papua bukan Biak dan 6,6% Suku Papua Biak. Menurut Suryanto dan Rasmini (2018) tingkat pendidikan mempengaruhi literasi keuangan karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh, maka seseorang akan memiliki pemahaman dan wawasan yang luas dalam mengelola sumber pendapatannya. Pendidikan yang semakin tinggi membuat seseorang akan

lebih familiar dengan istilah-istilah ekonomi yang secara tidak langsung juga akan mempengaruhi literasi keuangan.

Tabel 5.14 menunjukkan bahwa tingkat pendapatan suku pendatang lebih baik dari Suku Papua Biak dan bukan Biak. Dari total 29,8% responden dengan pendapatan tinggi, terdapat 18,2% suku pendatang dan masing-masing 5,8% Suku Papua Biak dan bukan Biak. Menurut Suryanto dan Rasmini (2018) semakin tinggi pendapatan maka pengetahuan keuangan juga akan semakin baik. Semakin tinggi pendapatan seseorang, maka orang tersebut akan berusaha mencari informasi dan pemahaman untuk memanfaatkan uang yang dimilikinya. Pendapatan yang lebih tinggi menunjukkan kesempatan yang lebih besar kepada seseorang untuk lebih bertanggung jawab terkait dengan ketersediaan dana yang dimilikinya.

Tabel 5.14 menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan suku pendatang lebih baik dari Suku papuan Biak dan bukan Biak. Dari total 19,8% responden dengan pekerjaan sebagai PNS, terdapat 13,2% suku pendatang dan sisanya merupakan Suku Biak. Tingkat literasi keuangan juga bervariasi antar golongan pekerjaan. Hal ini dapat disebabkan karena literasi keuangan dapat lebih mudah diperoleh melalui interaksi dengan orang lain di tempat kerja (Lusardi & Mitchell, 2014). Seseorang dengan pekerjaan profesional dan ahli sudah seharusnya memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan orang yang termasuk dalam pekerjaan tanpa kompetensi khusus ataupun yang tidak bekerja. Hal ini dapat dikaitkan dengan lingkungan kerja yang mengharuskan seseorang bersinggungan langsung

dengan produk- produk keuangan, di mana golongan pekerjaan yang tinggi memiliki akses yang lebih mudah terhadap produk keuangan.

c. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Tingkat Pendidikan

Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 diperoleh pengertian pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Berdasarkan hasil uji hipotesis, diketahui bahwa terdapat perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikannya. Hal ini terlihat dari hasil uji beda mean menggunakan Kruskal-Wallis yang menunjukkan bahwa nilai Asym.Sig sebesar 0,003< nilai alpha 0,05. Pada tabel 5.10 menunjukkan bahwa pada tingkat literasi keuangan sangat tinggi didominasi oleh responden dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi yaitu sebesar 5% dan 4,1%. Bila dilihat dari nilai mean (lampiran 5), responden dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki nilai mean paling besar yaitu, 74,69.

Dalam beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan tingkat pendidikan tinggi lebih memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah (Lusardi & Mitchell, 2011; Agarwalla et al., 2013; Thapa & Nepal, 2015).

Hal ini dapat disebabkan karena orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki masa studi yang lebih lama serta pengetahuan yang lebih baik. Selain itu dengan pendidikan, seseorang lebih mungkin memperoleh berbagai macam pengetahuan, salah satunya pengetahuan tentang ekonomi dan keuangan. Pencapaian pendidikan seseorang memberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga pengetahuan keuangan dalam hal ini pengetahuan tentang produk-produk keuangan, aset, hutang, pensiun, dan akumulasi kekayaan semakin mudah diperoleh oleh kalangan terpelajar. Sebaliknya, seseorang dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah disebabkan oleh karena masa studi yang lebih singkat dan kemampuan kognitif yang lebih rendah.

Menurut Suryanto dan Rasmini (2018) tingkat pendidikan mempengaruhi literasi keuangan karena semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh, maka seseorang akan memiliki pemahaman dan wawasan yang luas dalam mengelola sumber pendapatannya. Pendidikan tinggi membuat seseorang akan lebih familiar dengan istilah-istilah ekonomi yang secara tidak langsung juga akan mempengaruhi literasi keuangan. Semakin tinggi pendidikan formal seseorang, biasanya orang tersebut akan memiliki sikap yang lebih kritis dan selektif dalam memilih produk keuangan. Sikap tersebut muncul karena lingkungan pendidikan yang menuntut seseorang untuk sebisa mungkin kritis dan peka terhadap fenomena yang terjadi.

Seseorang dengan sikap kritis akan memikirkan keuntungan dan risiko

terhadap hal yang dilakukannya. Untuk menghindari risiko, akan dicari informasi selengkap-lengkapnya mengenai produk keuangan yang akan digunakan. Kebiasaan mencari informasi dan pola pikir kritis tersebut yang secara tidak langsung berpengaruh pada peningkatan literasi keuangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pedidikan tinggi memiliki pendapatan yang tingi pula. Tabel 5.12 menunjukkan bahwa dari total 25,6% responden dengan pendidikan tinggi, sebesar 16,5% memiliki pendapatan yang tinggi. Menurut Suryanto dan Rasmini (2018) semakin tinggi pendapatan seseorang, maka orang tersebut akan berusaha mencari informasi dan pemahaman untuk memanfaatkan uang yang dimilikinya. Pendapatan yang lebih tinggi menunjukkan kesempatan yang lebih besar kepada seseorang untuk lebih bertanggung jawab terkait dengan ketersediaan dana yang dimilikinya.

d. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Pekerjaan

Definisi pekerjaan menurut Sukanto (2003) adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri atau orang lain, baik dibayar atau tidak. Selain itu, pekerjaan juga didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan atau membantu menghasilkan barang dan jasa dengan maksud untuk memperoleh penghasilan baik berupa uang atau barang yang akan diterima dalam kurun waktu tertentu. Ada banyak jenis pekerjaan, oleh karena itu menurut Notoatmodjo (2012) jenis

pekerjaan dibagi menjadi 1) Pedagang, 2) Buruh/tani, Nelayan 3) PNS, 4) TNI/Polri, 5) Pensiunan, 6)Wiraswastadan 7) IRT

Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan, diketahui bahwa ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari pekerjaannya. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yang menunjukkan nilai Asym.Sig sebesar 0,002 < nilai alpha 0,05. Berdasarkan tabel 5.14 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan responden dengan pekerjaan sebagai PNS lebih baik daripada responden dengan pekerjaan ibu rumah tangga dan petani atau nelayan. Hal ini menunjukkan dari perbandingan persentase pada tingkat literasi keuangan sangat tinggi yang didominasi oleh responden dengan pekerjaan sebagai PNS. Sedangkan pada tingkat literasi keuangan sangat rendah didominasi oleh responden dengan pekerjaan ibu rumah tangga. Bila dilihat dari nilai mean (lampiran 5), responden dengan pekerjaan sebagai PNS memiliki tingkat literasi yang lebih yaitu sebesar 80,44. Hal ini mengindikasikan bahwa, semakin baik pekerjaan maka tingkat literasi keuangan juga semakin baik.

Tingkat literasi keuangan juga turut bervariasi dilihat dari pekerjaannya.

Secara keseluruhan literasi keuangan lebih baik pada orang yang bekerja dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja. Orang yang bekerja pada orang lain ataupun berwirausaha (self-employed) lebih cerdas secara finansial dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja (pengangguran). Tingkat literasi keuangan juga bervariasi antar golongan pekerjaan. Hal ini dapat disebabkan karena literasi keuangan dapat lebih mudah diperoleh

melalui interaksi dengan orang lain di tempat kerja (Lusardi & Mitchell, 2014). Hal ini dapat dikaitkan dengan lingkungan kerja yang mengharuskan seseorang bersinggungan langsung dengan produk- produk keuangan, di mana orang yang bekerja memiliki akses yang lebih mudah terhadap produk keuangan. Sedangkan orang bekerja sebagai Ibu rumah tangga dan yang tidak bekerja cenderung memiliki akses terhadap produk keuangan yang lebih sulit, hal ini dapat disebabkan karena sebagian besar pekerjaannya tanpa kompetensi khusus lebih banyak melibatkan kekuatan fisik dan menghasilkan bayaran yang lebih rendah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki pendapatan yang tingi pula. Tabel 5.12 menunjukkan bahwa dari total 19,8% responden dengan pendidikan tinggi, sebesar 14% responden memiliki pendapatan yang tinggi. Menurut Suryanto dan Rasmini (2018) semakin tinggi pendapatan seseorang, maka orang tersebut akan berusaha mencari informasi dan pemahaman untuk memanfaatkan uang yang dimilikinya. Pendapatan yang lebih tinggi menunjukkan kesempatan yang lebih besar kepada seseorang untuk lebih bertanggung jawab terkait dengan ketersediaan dana yang dimilikinya.

e. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Tingkat Pendapatan

Pendapatan adalah balas karya yang diperoleh sebagai imbalan atau balas jasa, atau merupakan sumbangan seseorang terhadap proses produksi (Gilarso, 1992:64). Pendapatan adalah hasil yang diperoleh suatu keluarga,

baik bersumber dari pekerjaan pokok, pekerjaan sampingan dan pendapatan lain yang berupa uang maupun barang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari.

Besarnya UMP untuk Provinsi Papua untuk tahun 2019 adalah sebesar Rp 3.240.900 dan besarnya UMK untuk Kabupaten Supiori mengikuti besarnya UMP adalah sebesar Rp 3.240.900. Karena Kabupaten Supiori tidak menetapkan Upah Minimum Kabupaten (UMK) sehingga mengikuti besarnya Upah Minimum Provinsi (UMP) yang ditetapkan oleh Pemprov Papua. Besarnya UMP dan UMK ini dihitung dengan berpedoman pada PP No. 78 Tahun 2015, dimana perhitungan upah minimum tidak hanya memperhatikan standar hidup layak, tetapi juga memasukkan elemen inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan, diketahui bahwa ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendapatannya. Hal ini terilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan nilai Asym.Sig sebesar 0,000 < nilai alpha 0,05. Berdasarkan tabel 5.18 menunjukkan bahwa semakin besar tingkat pendapatan maka tingkat literasi keuangan juga akan semakin baik. Pada tingkat literasi keuangan sangat tinggi didominasi oleh responden dengan tingkat pendapatan tinggi, yaitu sebesar 9%. Pada tingkat literasi keuangan sangat rendah, didominasi oleh respoden dengan tingkat pendapatan rendah yaitu sebesar 45,5%. Bila dilihat dari mean (lampiran 5), berturut-turut responden dengan tingkat pendapatan tinggi, sedang rendah memiliki mean sebesar 81,68, 67,07 dan

49,06. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pendapatan maka tingkat literasi keuangan akan semakin baik.

Tinggi rendahnya tingkat pendapatan juga menyebabkan variasi tingkat literasi keuangan yang dimiliki seseorang (Lusardi & Tufano, 2009; Lusardi

& Mitchell, 2011). Orang yang menerima penghasilan lebih besar cenderung memiliki literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang menerima pendapatan yang lebih rendah. Mereka yang memiliki pendapatan tinggi memiliki kemampuan dan akses yang lebih mudah untuk menggunakan produk keuangan formal dan dengan demikian meningkatkan kesempatan untuk memperoleh literasi keuangan khususnya dalam hal pengetahuan keuangan.

Selain itu orang dengan pendapatan tinggi cenderung memiliki tingkat konsumsi yang lebih sedikit (Hukum Engel), sehingga terdapat sebagian dari pendapatannya yang dapat dikelola agar dapat menghasilkan akumulasi kekayaan. Untuk dapat mengelola keuangannya, seperti misalnya berapa banyak yang ditabung dan berapa banyak yang digunakan untuk konsumsi, diperlukan literasi keuangan yang baik. Sedangkan orang dengan pendapatan rendah cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah. Hal ini dapat disebabkan karena mereka menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk konsumsi, sehingga penggunaan produk keuangan menjadi terbatas. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa orang dengan pendapatan yang tinggi lebih mungkin bersentuhan langsung dengan produk keuangan dan dengan demikian lebih melek

keuangan dibandingkan mereka yang berpendapatan rendah. Selain itu, semakin tinggi pendapatan seseorang, maka orang tersebut akan berusaha mencari informasi dan pemahaman untuk memanfaatkan uang yang dimilikinya. Pendapatan yang lebih tinggi menunjukkan kesempatan yang lebih besar kepada seseorang untuk lebih bertanggung jawab terkait dengan ketersediaan dana yang dimilikinya (Suryanto dan Rosmini, 2018).

Peningkatan pemahaman keuangan ini akan membuat pengetahuan mengenai hal keuangan juga akan semakin baik, sehingga literasi keuangan juga akan semakin baik pula.

BAB VI

KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan pada Bab V, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di Desa Waryesi termasuk dalam kategori sangat rendah. Hal ini terlihat dari mean skor literasi keuangan sebesar yaitu sebesar 9,03 atau dengan skor 45 (9,03/20). Mengacu pada pengkategorian tingkat literasi keuangan dengan PAP II, bila skor < 46% maka tingkat literasi keuangan berada pada kategori sangat rendah. Maka dapat dikatakan bahwa tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di desa Waryesi berada pada kategori sangat rendah.

2. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Suku

Berdasarkan hasil uji hipotesis, diketahui bahwa terdapat perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku. Hal ini terlihat dari hasil uji beda mean menggunakan Kruskal-Wallis yang menunjukkan bahwa nilai Asym.Sig sebesar 0,000< nilai alpha 0,05. Hal ini dapat dilihat dari persentase kategori literasi keuangan sangat rendah untuk suku pendatang hanya sebesar 9,1% ( Suku Biak 33,1% dan Suku Papua bukan Biak 19%). Untuk tingkat literasi keuangan sangat tinggi

96

didominasi oleh suku pendatang sebesar 7,4%. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat literasi keuangan suku pendatang lebih baik daripada Suku Biak dan Suku bukan Biak. Perbedaan suku berpengaruh terhadap perbedaan perilaku keuangan karena kebiasaan dan adatnya, sehingga setiap suku dapat memiliki tingkat literasi keuangan yang berbeda pula.

3. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Tingkat Pendidikan

Berdasarkan hasil uji hipotesis, diketahui bahwa terdapat perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikannya. Hal ini terlihat dari hasil uji beda mean menggunakan Kruskal-Wallis yang menunjukkan bahwa nilai Asym.Sig sebesar 0,003< nilai alpha 0,05. Pada tingkat literasi keuangan sangat tinggi didominasi oleh respnden dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi yaitu sebesar 5% dan 4,1%. Ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi, sedangkan ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih rendah pula. Perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga dilihat dari tingkat pendidikan disebabkan oleh masa studinya.

Selain itu dengan pendidikan, seseorang lebih mungkin memperoleh berbagai macam pengetahuan, salah satunya

pengetahuan tentang ekonomi dan keuangan. Hal ini dapat diperhitungkan sebagai beberapa faktor yang menimbulkan perbedaan dalam literasi keuangannya.

4. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Pekerjaan

Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan, diketahui bahwa ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari pekerjaannya. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yang menunjukkan nilai Asym.Sig sebesar 0,002 < nilai alpha 0,05.

Responden dengan pekerjaan sebagai PNS lebih baik daripada responden dengan pekerjaan ibu rumah tangga dan petani atau nelayan. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan persentase pada tingkat literasi keuangannya. Hal ini mengindikasikan bahwa, semakin baik pekerjaan maka tingkat literasi keuangan juga semakin baik. Tingkat literasi keuangan bervariasi terhadap jenis pekerjaan yang dimiliki, yaitu individu yang bekerja pada orang lain dan individu yang menjadi wiraswasta (self-employed) memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak bekerja. Selain itu faktor interaksi sosial antar individu di tempat kerja atau di dalam komunitasnya juga tidak dapat diabaikan dalam kaitannya dengan literasi keuangan seseorang.

5. Perbedaan Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga di Desa Waryesi Ditinjau dari Pendapatan

Berdasarkan uji hipotesis yang dilakukan, diketahui bahwa ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendapatannya. Hal ini terilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan nilai Asym.Sig sebesar 0,000 < nilai alpha 0,05.

Semakin besar tingkat pendapatan maka tingkat literasi keuangan juga akan semakin baik. Pada tingkat literasi keuangan sangat tinggi

Semakin besar tingkat pendapatan maka tingkat literasi keuangan juga akan semakin baik. Pada tingkat literasi keuangan sangat tinggi

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh : Maria Vira Wahyujati NIM: (Halaman 95-0)