BAB II TINJAUAN PUSTAKA…
C. Kerangka Berpikir dan Hipotesis
1. Perbedaan tingkat litersi keuangan ditinjau dari suku
Suku/etnis adalah sekelompok besar orang yang diidentifikasi memiliki kesamaan biologis dan tradisi. Suku/etnis memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap perilaku keuangan. Budaya atau kebiasaan hidup yang ada dalam suatu suku/etnis berperan penting dalam pengambilan keputusan keuangan dalam kelompoknya sehingga suku dapat mempengaruhi literasi keuangan yang dimiliki oleh seseorang. Orang dari suku mayoritas atau suku dengan jumlah yang besar cenderung memiliki literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan suku minoritas. Suku yang mampu berkembang dalam jumlah besar menunjukkan suatu tata kelola kehidupan yang baik dalam kelompoknya serta khususnya dalam bidang ekonomi.
Dalam sebuah suku/etnis terdapat prinsip-prinsip hidup yang dipegang dengan teguh, misalnya, dalam masyarakat suku Papua, kekayaan bersifat sosial, artinya orang dituntut untuk mengumpulkan kekayaan bukan dalam rangka untuk membantu memudahkan kehidupan, melainkan untuk memberikan status sosial di masyarakat. Kepemilikan
tanah bersifat kewenangan komunal bukan personal. Dan suku tersebut masih menerapkan hukum adat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tak terkecuali permasalahan ekonomi. Perekonomian di suku tersebut dipengaruhi oleh nilai-nilai lokal yang masih kental.
Berbeda dengan suku Jawa yang menjadi suku terbesar di Indonesia, yang tersebar di seluruh pulau di Nusantara. Suku Jawa cenderung dihidupi oleh nilai-nilai filosofi hidup sukses sebagai pegangan dalam menjalani hidupnya. Seperti “Alon-alon waton kelakon” pepatah ini diterapkan dalam karir dan bisnis sehingga orang Jawa cenderung menikmati proses. Ada pula pepatah “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman” yang mengingatkan untuk menyikapi segala sesuatu dengan bijak termasuk soal keuangan. Karena kebiasaan dan tatanan hidup yang bijak, suku Jawa menjadi suku yang mendominasi perekonomian yang tersebar di berbagai daerah.
Nilai hidup dalam suku/etnis menjadi penting karena dalam kehidupan masyarakat suku/etnis tak lepas dari masalah ekonomi sehingga suku menjadi faktor yang memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam jalannya perekonomian dalam suatu masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa suku/etnis dengan jumlah yang besar (mayoritas) memiliki literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan suku dengan jumlah yang lebih kecil (minoritas). Berdasarkan hal tersebut maka dapat disusun hipotesis pertama sebagai berikut:
Ho : Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku
Ha : Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku.
2. Perbedaan tingkat literasi keuangan ditinjau dari tingkat pendidikan Tingkat pendidikan adalah salah satu faktor yang dapat
memengaruhi tingkat literasi keuangan yang dimiliki oleh seseorang.
Dalam beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan tingkat pendidikan tinggi lebih memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Hal ini dapat disebabkan karena orang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki masa studi yang lebih lama serta pengetahuan yang lebih baik. Selain itu dengan pendidikan, seseorang lebih mungkin memperoleh berbagai macam pengetahuan, salah satunya pengetahuan tentang ekonomi dan keuangan. Pencapaian pendidikan seseorang memberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan kognitif yang dimiliki sehingga pengetahuan keuangan dalam hal ini pengetahuan tentang produk-produk keuangan, aset, hutang, pensiun, dan akumulasi kekayaan semakin mudah diperoleh oleh kalangan terpelajar. Sebaliknya, seseorang dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah disebabkan oleh karena masa studi yang lebih singkat dan kemampuan kognitif yang lebih rendah.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat disusun hipotesis kedua sebagai berikut:
Ho : Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan
Ha : Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan Perbedaan tingkat literasi keuangan ditinjau dari jenis pekerjaan
Tingkat literasi keuangan juga bervariasi dilihat dari pekerjaannya.
Secara keseluruhan literasi keuangan lebih baik pada orang yang bekerja dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja. Orang yang bekerja pada orang lain ataupun berwirausaha (self-employed) lebih cerdas secara finansial dibandingkan dengan orang yang tidak bekerja (pengangguran).
Tingkat literasi keuangan juga bervariasi antar golongan pekerjaan. Hal ini dapat disebabkan karena literasi keuangan dapat lebih mudah diperoleh melalui interaksi dengan orang lain di tempat kerja.
Seseorang dengan pekerjaan profesional dan ahli sudah seharusnya memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan orang yang memiliki pekerjaan tanpa memiliki kompetensi khusus. Hal ini dapat dikaitkan dengan lingkungan kerja yang mengharuskan seseorang bersinggungan langsung dengan produk- produk keuangan, di mana orang yang bekerja memiliki akses yang lebih mudah terhadap produk keuangan.
Sedangkan orang yang memiliki pekerjaan tanpa kompetensi khusus dan orang yang tidak bekerja cenderung memiliki akses terhadap produk keuangan yang lebih sulit, hal ini dapat disebabkan karena
sebagian besar pekerjaan tanpa kompetensi khusus lebih banyak melibatkan kekuatan fisik dan menghasilkan bayaran yang lebih rendah.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disusun hipotesis ketiga sebagai berikut:
Ho : Tidak Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari pekerjaan
Ha : Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari pekerjaan
4. Perbedaan tingkat literasi keuangan ditinjau dari tingkat pendapatan Tinggi rendahnya tingkat pendapatan juga menyebabkan variasi
tingkat literasi keuangan yang dimiliki seseorang. Orang yang menerima penghasilan lebih besar cenderung memiliki literasi keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang menerima pendapatan yang lebih rendah. Mereka yang memiliki pendapatan tinggi memiliki kemampuan dan akses yang lebih mudah untuk menggunakan produk keuangan formal dan dengan demikian meningkatkan kesempatan untuk memperoleh literasi keuangan khususnya dalam hal pengetahuan keuangan.
Selain itu pada Hukum Engel mengatakan bahwa orang dengan pendapatan tinggi cenderung memiliki tingkat konsumsi yang lebih sedikit, sehingga sebagian dari pendapatannya yang dapat dikelola agar dapat menghasilkan akumulasi kekayaan. Untuk dapat mengelola keuangannya, seperti misalnya berapa banyak yang ditabung dan berapa banyak yang digunakan untuk konsumsi, diperlukan literasi keuangan
yang baik. Sedangkan orang dengan pendapatan rendah cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang rendah. Hal ini dapat disebabkan karena mereka menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk konsumsi, sehingga penggunaan produk keuangan menjadi terbatas. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa orang dengan pendapatan yang tinggi lebih mungkin bersentuhan langsung dengan produk keuangan dan dengan demikian lebih melek keuangan dibandingkan mereka yang berpendapatan rendah. Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis keempat sebagai berikut:
Ho : Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendapatan
Ha : Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendapatan
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian komparatif adalah penelitian yang bersifat membandingkan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan persamaan dan perbedaan dua atau lebih fakta-fakta dan sifat-sifat obyek yang diteliti berdasarkan kerangka pemikiran tertentu. Rancangan waktu yang digunakan dalam penelitian adalah dengan menggunakan pendekatan cross sectional dilakukan untuk mengobservasi variabel-variabel pada waktu yang sama (Arikunto, 2006).
Dalam penelitian ini, penulis berusaha mengidentifikasi perbedaan tingkat literasi keuangan masyarakat ditinjau dari suku, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan pada ibu rumah tangga dari masyarakat di Desa Waryesi, Kecamatan Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Provinsi Papua.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Provinsi Papua khususnya di Desa Waryesi. Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah dua bulan terhitung mulai dari bulan Mei sampai dengan Juni 2019.
37
C. Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga Papua Biak, Papua bukan Biak dan masyarakat pendatang di Kecamatan Supiori Timur khusunya di desa Waryesi.
Dalam penelitian ini yang menjadi obyek adalah kemungkinan terjadinya perbedaan tingkat literasi keuangan pada ibu rumah tangga dari masyarakat di desa Waryesi.
D. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan unsur-unsur yang memiliki suatu atau beberapa ciri atau karakteristik yang sama (Dajan, 1984).
Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah ibu rumah tangga dari masyarakat di desa Waryesi. Jumlah KK di Kecamatan Supiori Timur adalah 1.526 KK (BPS Supiori,2018). Jumlah KK di Desa Waryesi keseluruhan berjumlah 224 KK, dengan ciri-ciri yang dianggap mempunyai hubungan erat dengan populasi sebagai berikut:
a) Responden adalah Ibu rumah tangga masyarakat OAP (Orang Asli Papua) suku asli Biak yang berdomisili di Desa Waryesi
b) Responden adalah ibu rumah tangga dari masyarakat transmigran atau dari suku lainnya yang berdomisili di Desa Waryesi
c) Responden memiliki tingkat literasi keuangan yang berbeda (dalam hal ini Ibu Rumah Tangga dari masyarakat di desa Waryesi)
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2008). Dalam penelitian ini peneliti mengambil jumlah sampel sebanyak 121 responden dari total 224 orang ibu rumah tangga yang ada di Desa Waryesi.
Menurut Cohen, et.al, (2007, hlm. 101) semakin besar sampel dari besarnya populasi yang ada adalah semakin baik, akan tetapi ada jumlah batas minimal yang harus diambil oleh peneliti yaitu sebanyak 30 sampel. Sebagaimana dikemukakan oleh Baley dalam Mahmud (2011) yang menyatakan bahwa untuk penelitian yang menggunakan analisis data statistik, ukuran sampel paling minimum adalah 30. Semakin besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan generalisasi
Peneliti menggunakan ukuran sampel setengah dari populasi.
Sampel yang diambil setengah dari populasi agar dapat menjadi sampel yang representatif. Jadi sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga dari 121 keluarga di desa Waryesi .
E. Teknik Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2008) purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan menggunakan pertimbangan tertentu.
Dalam hal ini peneliti ingin meneliti tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di Desa Waryesi, oleh karena itu responden dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga yang berdomisili di Desa Waryesi, baik yang bekerja maupun tidak bekerja.
F. Data yang Dicari
Berdasarkan uraian sebelumya, maka penelitian ini memerlukan data sebagai berikut:
a. Data Primer
Data primer yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu data responden terkait tingkat literasi keuangan, suku, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pekerjaan.
b. Data Sekunder
Data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu data yang mendukung penelitian yang meliputi data penduduk Kabupaten Supiori tahun 2017, hasil penelitian lain yang sejenis, dan kepustakaan lain.
G. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Variabel penelitian dan definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Suku
Suku dalam penelitian ini adalah suku dari masyarakat setempat.
Yang terdiri dari suku Biak yang merupakan suku asli yang berasal dari daerah tersebut dan suku transmigran yang datang untuk menetap dan menjadi bagian dalam masyarakat di daerah tersebut.
Suku-suku tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Tabel 3.1 Suku Suku Papua-Biak
Papua-Bukan Biak Pendatang
2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan dalam penelitian ini digambarkan melalui tingkat pendidikan formal dengan kategori pendidikan rendah yaitu SD dan SMP serta pendidikan tinggi yaitu SMA dan Perguruan Tinggi. Alternatif pilihan tingkat pendidikan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2
Alternatif Tingkat Pendidikan Pendidikan
Rendah Menengah Tinggi
3. Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga baik di sektor formal maupun informal. Adapun jenis pekerjaan dalam penelitian ini mengacu pada penggolongan menurut Notoatmodjo (2012) jenis pekerjaan dibagi menjadi sebagai berikut:
Tabel 3.3
Jenis Pekerjaan
Pekerjaan Pedagang
Buruh/tani, nelayan PNS
TNI/Polri Pensiunan Wiraswasta IRT
4. Tingkat Penghasilan
Tingkat pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diperoleh keluarga, yaitu kisaran penghasilan yang diperoleh secara berkala oleh suami/kepala keluarga ditambah penghasilan istri/ibu rumah tangga bila bekerja. Dalam penelitian ini, indikator dari tingkat pendapatan adalah jumlah pendapatan yang diterima selama satu bulan. Kategori tingkat pendapatan akan menggunakan pedoman sebagai berikut:
Tabel 3.4
Tingkat Pendapatan Keluarga Pendapatan Keluarga
< Rp 3.240.900,00 Rp 3.240.900,00
> Rp 3.240.900,00
Dalam penelitian ini, peneliti mengelompokkan tingkat pendapatan ke dalam kategori tingkat pendapatan tinggi (3), tingkat pendapatan sedang (2) dan tingkat pendapatan rendah (1) dengan menggunakan tingkat Upah Minimum Provinsi Papua pada tahun 2019
5. Literasi Keuangan
Literasi keuangan dalam penelitian ini mengacu pada definisi dari Lusardi & Mitchell (2014) yaitu literasi keuangan sebagai kemampuan (ability) untuk mengolah informasi ekonomi dan membuat keputusan keuangan yang terinformasi mengenai perencanaan keuangan, akumulasi kekayaan, hutang dan pensiun.
Konsep dasar literasi keuangan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh DEFINIT et al, 2013.
Untuk menghitung tingkat literasi keuangan akan digunakan rumus sebagai berikutt
𝑇𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝐿𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖 𝐾𝑒𝑢𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 =𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑜𝑎𝑙 × 100
Dengan catatan, skor dari masing-masing pertanyaan yang dijawab dengan benar oleh responden diberi nilai satu dan skor dari masing-masing pertanyaan yang dijawab dengan salah atau tidak tahu diberi nilai nol.
Pengkategorian tingkat literasi keuangan didapat dari mengukur tingkat literasi ibu rumah tangga menggunakan tes dan parameter literasi keuangan menggunakan Penilaian Acuan Patokan (PAP) II.
Tabel 3.5 Nilai Presentil PAP II
Nilai Presentil Nilai Huruf Kategorian Kecenderungan
H. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner atau angket yang disebar kepada responden untuk memperoleh data primer. Menurut Sugiyono (2012), kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Selain kuesioner, digunakan pula dokumentasi data yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.
I. Instrumen Penelitian
Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah; 1) kuesioner yang berisi pertanyaan data pribadi responden terkait dengan identitas diri (nama, usia), suku, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pekerjaan.; 2) tes yang mengacu pada Developing Indonesian Financial Literacy Index, yaitu studi pilot yang dilakukan oleh DEFINIT, SEADI dan OJK tahun 2013, serta sumber- sumber penelitian sebelumnya yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Tabel 3.6
Kisi-Kisi Instrumen Literasi Keuangan
No. Indikator No. Item Jumlah
1. Pengetahuan dasar tentang produk
keuangan (tabungan) 1,2,3 3
2. Penghitungan sederhana tentang
keuangan (bunga dan pinjaman) 4,5,6 3 3. Konsep dasar tentang inflasi, diskon,
time value of money dan money illusion 7,8,9,10 4
4 Fungsi pasar modal
11 1
5 Hubungan suku bunga dan obligasi
12 1
6 Produk keuangan pasar modal: saham,
obligasi dan reksa dana 13,14,15 3 7 Investasi dengan pengembalian lebih
Tinggi 16 1
8 Investasi dengan resiko lebih tinggi
17,19,20 3
9 Diversifikasi investasi
18 1
Total 20
J. Teknik Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui layak atau tidaknya instrumen penelitian yang digunakan. Dalam penelitian ini uji validitas yang dilakukan adalah validitas konstruk. Rumus yang digunakan dalam analisis validitas adalah menggunakan korelasi product moment Pearson. Dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel dapat diketahui apakah instrumen yang digunakan dalam penelitian memiliki validitas untuk digunakan atau tidak.
Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Bila nilai rhitung > nilai rtabel maka instrumen dinyatakan valid.
2) Bila nilai rhitung < nilai rtabel maka instrumen dinyatakan tidak valid.
Berikut ini adalah hasil dari uji validitas yang diolah menggunakan SPSS v20 dengan menggunakan 121 responden dan α sebesar 0,05. Nilai rhitung dari masing-masing item dilihat dari Corrected Item-Total Correlation.
Tabel 3.7
Hasil Uji Validitas Instrumen Literasi Keuangan
Item Nilai
Sumber: data primer diolah, 2019
Berdasarkan hasil uji validitas masing-masing butir instrumen tes untuk variabel literasi keuangan dapat dinyatakan valid untuk digunakan dalam penelitian. Hal ini dapat dilihat dari
nilai rhitung dari masing-masing item pertanyaan memiliki nilai yang lebih besar dari nilai rtabel (df=121-2 dengan alpha 0,05 diperoleh nilai rtabel 0,178).
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui keandalan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Metode yang digunakan untuk menguji tingkat reliabilitas instrumen adalah Cronbach Alpha dengan rumus sebagai berikut:
r11 =( 𝑛
(𝑛−1))∑ 𝜎𝑖2
𝑎2𝑡
Keterangan:
r11 : Reliabilitas instrumen n : Banyaknya butir pertanyaan
∑𝜎𝑖2 : Jumlah varians skor tiap item
𝜎2t : Varian total
Uji reliabilitas instrumen yang digunakan berdasarkan rumus Cronbach Alpha, dengan kriteria:
1) Bila rhitung > 0,6 maka instrumen dinyatakan reliabel 2) Bila rhitung < 0,6 maka instrumen dinyatakan tidak
reliabel.
Uji reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Cronbach Alpha dengan derajat keyakinan 5%
Berikut ini adalah hasil pengujian reabilitas instrumen yang ditampilkan dalam tabel.
Tabel 3.8 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Nilai Cronbach
Alpha
Keterangan
Literasi Keuangan 0,728 Reliabel
Sumber: data primer diolah, 2019
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai Cronbach Alpha sebesar 0,728 lebih besar dari 0,60 maka dapat disimpulkan bahwa instrumen dinyatakan reliabel dan dapat digunakan untuk penelitian.
K. Teknik Analisis Data
1. Uji Analisis Deskriptif
Statistik deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran penelitian melalui data sampel tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku secara umum (Sugiyono, 2008).
Statistik deskriptif dalam penelitian ini terdiri dari perhitungan nilai mean, standar deviasi, modus, nilai maksimal dan nilai minimal.
2. Uji Prasyarat Analisis Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui distribusi data bersifat normal atau tidak. Hasil dari uji normalitas akan menentukan tahap
pengujian hipotesis. Apabila data berdistribusi normal, yaitu jika memenuhi kriteria nilai Asym.Sig (2- tailed) lebih dari nilai alpha = 0,05 maka teknik pengujian hipotesis dapat menggunakan analisis statistic parametric. Sebaliknya, apabila data tidak berdistribusi normal, yaitu jika kriteria nilai Asym.Sig (2-tailed) kurang dari nilai alpha = 0,05 maka teknik uji hipotesis dilakukan dengan analisis statistic non- parametrik. Uji normalitas data akan dilakukan dengan menggunakan uji kolmogrof-smirnov dengan aplikasi SPSS versi 20 3. Uji Hipotesis
Menurut Ir. Syofian Siregar, M.M. Analisis komparatif adalah suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan antara dua variabel (data) atau lebih (2017: 234). Untuk uji hipotesis, analisis statistik paramterik yang seharusnya digunakan adalah Analysis of Varience atau sering disebut dengan ANOVA. Untuk dapat menggunakan ANOVA diperlukan syarat tertentu yang harus dipenuhi, yaitu data harus berdistribusi normal dan memiliki varian yang homogen. Oleh karena data penelitian tidak berdistribusi normal, digunakanlah statistik non-parametrik yang tidak memerlukan prasyarat data berdistribusi normal. Sehingga dalam uji hipotesis menggunakan analisis uji beda mean Kruskal-Wallis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data
nominal (suku), data ordinal (tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pekerjaan),dan rasio (skor literasi keuangan).
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Lokasi dan Luas Wilayah
Desa Waryesi adalah desa yang terletak di Distrik Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Papua. Distrik Supioru Timur memiliki luas wiayah sebesar 72 km2. Distrik ini memiliki total 10 desa termasuk di dalamnya Desa Waryesi. Desa Waryesi terletak di sepanjang pesisir pantai. Pantai yang terdapat di desa ini adalah pantai Arndaidi, pantai Insundi, pantai Rimsau dan pantai Mukwar. Terdapat Sungai Syurdori di sebelah timur sebagai batas antara desa Waryesi dan desa Syurdori. Di sebelah Utara terdapat Selat Sorendiweri sebagai batas antara desa Waryesi dan desa Sorendiweri.
B. Sejarah Singkat Kabupaten Supiori
Kabupaten Supiori merupakan Kabupaten Pemekaran dari Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten yang dibentuk dengan Undang- Undang Nomor 35 tahun 2003, mempunyai wilayah daratan dengan luas sebesar 704,24 Km2 dan wilayah perairan seluas 5.993 Km2. Wilayah Kabupaten Supiori sebagian besar terletak di Pulau Supiori dan sebagian lainnya di Pulau Biak
Kondisi topografi daerah ini pada umumnya bergunung-gunung dan hanya pada beberapa bagian tertentu saja yang merupakan daerah datar hingga landai. Daerah yang datar dan landai tersebar di sepanjang daerah pesisir pantai. Pada daerah yang datar dan landai inilah masyarakat
51
membangun pemukiman, berkebun, berladang dan melakukan aktifitas ekonomi lainnya.
Kondisi tanah pada umumnya merupakan perkembangan dari bahan induk dengan struktur batu kapur. Kondisi tanah yang saat ini cukup baik bagi pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Sebagian tanah lainnya merupakan tanah yang cukup subur dan potensial untuk berbagai usaha tani, baik tanaman holtikultura, tanaman perkebunan maupun tanaman industri dan lain-lain.
Kondisi iklim, khususnya curah hujan cukup baik untuk mendukung usaha pertanian di daerah ini. Menurut klasifikasi smith dan fergusson iklim di Kabupaten Supiori termasuk tipe A/B dengan bulan basah terjadi selama 6 (enam) bulan, bulan lembab selama 4 (empat) bulan dan bulan kering selama 2 (dua) bulan.
Menurut peta kawasan hutan dan wilayah perairan Provinsi papua, sebagian besar wilayah ini merupakan kawasan hutan suaka alam. Didaerah ini terdapat kawasan hutan seluas 45.384 ha atau sekitar 65% dari luas wilayah Kabupaten Supiori. Kawasan hutan ini terdiri dari kawasan hutan suaka alam sebesar 38.517 ha, kawasan hutan lindung sebesar 4.689 ha, dan kawasan hutan produksi 2.178 ha (Analisis SIG, 2006).
C. Visi dan Misi Kabupaten Supiori Visi :
" Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Supiori Yang Mandiri Berkeadilan Dan Sejahtera Pada Tahun 2021”
MISI :
Untuk mewujudkan visi Kabupaten Supiori di masa datang maka
Untuk mewujudkan visi Kabupaten Supiori di masa datang maka