BAB III METODE PENELITIAN
K. Teknik Analisis Data
2. Uji Prasyarat Analisis: Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui distribusi data bersifat normal atau tidak. Hasil dari uji normalitas akan menentukan tahap
pengujian hipotesis. Apabila data berdistribusi normal, yaitu jika memenuhi kriteria nilai Asym.Sig (2- tailed) lebih dari nilai alpha = 0,05 maka teknik pengujian hipotesis dapat menggunakan analisis statistic parametric. Sebaliknya, apabila data tidak berdistribusi normal, yaitu jika kriteria nilai Asym.Sig (2-tailed) kurang dari nilai alpha = 0,05 maka teknik uji hipotesis dilakukan dengan analisis statistic non- parametrik. Uji normalitas data akan dilakukan dengan menggunakan uji kolmogrof-smirnov dengan aplikasi SPSS versi 20 3. Uji Hipotesis
Menurut Ir. Syofian Siregar, M.M. Analisis komparatif adalah suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui perbedaan antara dua variabel (data) atau lebih (2017: 234). Untuk uji hipotesis, analisis statistik paramterik yang seharusnya digunakan adalah Analysis of Varience atau sering disebut dengan ANOVA. Untuk dapat menggunakan ANOVA diperlukan syarat tertentu yang harus dipenuhi, yaitu data harus berdistribusi normal dan memiliki varian yang homogen. Oleh karena data penelitian tidak berdistribusi normal, digunakanlah statistik non-parametrik yang tidak memerlukan prasyarat data berdistribusi normal. Sehingga dalam uji hipotesis menggunakan analisis uji beda mean Kruskal-Wallis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data
nominal (suku), data ordinal (tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pekerjaan),dan rasio (skor literasi keuangan).
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Lokasi dan Luas Wilayah
Desa Waryesi adalah desa yang terletak di Distrik Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Papua. Distrik Supioru Timur memiliki luas wiayah sebesar 72 km2. Distrik ini memiliki total 10 desa termasuk di dalamnya Desa Waryesi. Desa Waryesi terletak di sepanjang pesisir pantai. Pantai yang terdapat di desa ini adalah pantai Arndaidi, pantai Insundi, pantai Rimsau dan pantai Mukwar. Terdapat Sungai Syurdori di sebelah timur sebagai batas antara desa Waryesi dan desa Syurdori. Di sebelah Utara terdapat Selat Sorendiweri sebagai batas antara desa Waryesi dan desa Sorendiweri.
B. Sejarah Singkat Kabupaten Supiori
Kabupaten Supiori merupakan Kabupaten Pemekaran dari Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten yang dibentuk dengan Undang- Undang Nomor 35 tahun 2003, mempunyai wilayah daratan dengan luas sebesar 704,24 Km2 dan wilayah perairan seluas 5.993 Km2. Wilayah Kabupaten Supiori sebagian besar terletak di Pulau Supiori dan sebagian lainnya di Pulau Biak
Kondisi topografi daerah ini pada umumnya bergunung-gunung dan hanya pada beberapa bagian tertentu saja yang merupakan daerah datar hingga landai. Daerah yang datar dan landai tersebar di sepanjang daerah pesisir pantai. Pada daerah yang datar dan landai inilah masyarakat
51
membangun pemukiman, berkebun, berladang dan melakukan aktifitas ekonomi lainnya.
Kondisi tanah pada umumnya merupakan perkembangan dari bahan induk dengan struktur batu kapur. Kondisi tanah yang saat ini cukup baik bagi pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Sebagian tanah lainnya merupakan tanah yang cukup subur dan potensial untuk berbagai usaha tani, baik tanaman holtikultura, tanaman perkebunan maupun tanaman industri dan lain-lain.
Kondisi iklim, khususnya curah hujan cukup baik untuk mendukung usaha pertanian di daerah ini. Menurut klasifikasi smith dan fergusson iklim di Kabupaten Supiori termasuk tipe A/B dengan bulan basah terjadi selama 6 (enam) bulan, bulan lembab selama 4 (empat) bulan dan bulan kering selama 2 (dua) bulan.
Menurut peta kawasan hutan dan wilayah perairan Provinsi papua, sebagian besar wilayah ini merupakan kawasan hutan suaka alam. Didaerah ini terdapat kawasan hutan seluas 45.384 ha atau sekitar 65% dari luas wilayah Kabupaten Supiori. Kawasan hutan ini terdiri dari kawasan hutan suaka alam sebesar 38.517 ha, kawasan hutan lindung sebesar 4.689 ha, dan kawasan hutan produksi 2.178 ha (Analisis SIG, 2006).
C. Visi dan Misi Kabupaten Supiori Visi :
" Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Supiori Yang Mandiri Berkeadilan Dan Sejahtera Pada Tahun 2021”
MISI :
Untuk mewujudkan visi Kabupaten Supiori di masa datang maka ditetapkan misi sebagai berikut :
1. Meningkatkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama dan Pancasila
2. Meningkatkan sumber daya manusia
3. Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik 4. Meningkatkan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daerah 5.Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan buatan yang bekelanjutan
6. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana 7. Meningkatkan pelayanan prima pada masyarakat D. Penduduk
Menurut Data Bappeda Kabupaten Supiori tahun 2017, penduduk Desa Waryesi berjumlah 1.060 jiwa, yang terdiri dari 160 orang Non Papua/
Pendatang, 41 orang Papua, dan 867 orang Papua Biak. Jumlah KK di Desa Waryesi adalah 224 KK, yang terdiri dari 42 KK Non Papua/ Pendatang, 12 KK Papua, dan 170 KK Papua Biak. Banyaknya penduduk
desa Waryesi bedasarkan jenis kelamin pada tahun 2017 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Banyaknya penduduk desa Waryesi berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2017
Kelompok Jumlah
Laki-Laki Non Papua 86
Perempuan Non Papua 74
Laki-Laki Papua 17
Perempuan Papua 24
Laki-laki Biak 454
Perempuan Biak 412
Total 1067
Sumber: Data Bappeda Kab.Supiori, Orang Asli Papua Dalam Angka (2017)
Berikut adalah jumlah penduduk berdasarkan rentang usia pada tahun 2017:
Tabel 4.2
Jumlah penduduk berdasarkan rentang usia pada tahun 2017
Kelompok Umur Jumlah
0-5 102
81-85 1
86-90 0
91-95 0
96-100 0
Total 1068
Sumber: Data Bappeda Kab.Supiori, Orang Asli Papua Dalam Angka (2017)
BAB V
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Supiori Timur, Kabupaten Supiori, Provinsi Papua khususnya di Desa Waryesi. Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah dua bulan terhitung mulai dari bulan Mei sampai dengan Juni 2019. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 121 ibu rumah tangga. Selama pengambilan data di lapangan, peneliti melakukan pencarian responden dengan cara door to door yaitu mencari responden dari satu rumah ke rumah yang lain.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di Desa Waryesi jika ditinjau dari suku, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pekerjaan.
B. Deskripsi Data
Berdasarkan temuan di lapangan yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner, diperoleh data mengenai karakteristik suku, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, pekerjaan dan tingkat literasi keuangan responden.
56
1. Deskripsi Variabel Suku
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Suku Ibu Rumah Tangga
Percent Valid Percent Cumulative Percent
Biak 47,9 47,9 47,9
Valid Bukan Biak 24,0 24,0 71,9
Pendatang 28,1 28,1 100,0
Total 100,0 100,0
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel 5.1 diatas menunjukkan bahwa dari 121 responden penelitian, terdapat 47,9% responden dari Suku Papua Biak, 24%
responden dari Suku Papua bukan Biak, dan 28,1% responden dari suku pendatang. Dengan demikian responden yang digunakan dalam penelitian paling banyak dari Suku Papua Biak, diikuti suku pendatang, dan paling sedikit Suku Papua bukan Biak.
2. Deskripsi Variabel Tingkat Pendidikan Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Ibu Rumah Tangga Tingkat Pendidikan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Rendah 42 34,7 34,7 34,7
Valid Menengah 48 39,7 39,7 74,4
Tinggi 31 25,6 25,6 100,0
Total 121 100,0 100,0
Sumber: data primer diolah, 2019
Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa dari 121 responden yang mengisi kuesioner, didapati 42 atau 34,7% responden dengan latar belakang pendidikan rendah, sejumlah 48 atau 39,7%
responden berpendidikan menengah, dan 31 atau 25,6% responden berpendidikan tinggi. Tabel 5.2 dapat kita lihat bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini memiliki latar belakang pendidikan menengah dengan jumlah 39,7%.
3. Deskripsi Variabel Pekerjaan
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Pekerjaan Ibu Rumah tangga Tingkat Pekerjaan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Ibu rumah
tangga 60 49,6 49,6 49,6
Valid Petani, Nelayan 37 30,6 30,6 80,2
PNS 24 19,8 19,8 100,0
Total 121 100,0 100,0
Sumber:data primer diolah, 2019
Berdasarkan tabel di atas, diketahui responden yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau ibu rumah tangga sebanyak 60 atau 49,6%
responden. Responden dengan pekerjaan petani dan nelayan sebanyak 37 atau 30,6% responden, dan responden yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil sebanyak 24 atau 19,8% responden.
4. Deskripsi Variabel Pendapatan
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Tingkat pendapatan
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Rendah 70 57,9 57,9 57,9
Valid Sedang 15 12,4 12,4 70,2
Tinggi 36 29,8 29,8 100,0
Total 121 100,0 100,0
Sumber: data diolah, 2019
Berdasarkan data yang diperoleh dari total 121 responden terdapat 70 atau 57,9% responden yang menyatakan bahwa pendapatan keluarga rendah atau jumlahnya kurang dari Rp 3.240.900. Sebanyak 15 atau 12,4% responden menyatakan berpenghasilan sedang/menengah, sejumlah Rp 3.240.900 dan sisanya sebanyak 36 atau 29,8% responden menyatakan berpenghasilan tinggi yaitu lebih dari Rp 3.240.900. Dengan demikian menunjukkan bahwa sebagian besar (57,9%) responden memiliki penghasilan rendah atau kurang dari Rp Rp 3.240.900 atau di bawah standar Upah Minimum Propinsi (UMP) Papua.
5. Deskripsi Variabel Literasi Keuangan Tabel 5.5
Skor Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga
Statistics
Skor Total Literasi Keuangan
N Valid 121
Missing 0
Mean 9,03
Median 9,00
Mode 9
Std. Deviation 3,580
Minimum 2
Maximum 19
Sumber: data diolah, 2019
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai minimal skor literasi keuangan yang diperoleh oleh responden adalah 2 dan nilai maksimal yang diperoleh sebesar 19. Artinya adalah, dari 20 soal yang ada, jumlah minimal jawaban benar adalah 2 dan jumlah maksimal jawaban benar sebesar 19. Nilai modus menunjukkan bahwa dari 20 pertanyaan yang diberikan sebagian besar responden menjawab dengan benar 9 pertanyaan.
Selanjutnya, hubungan suku, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan pekerjaannya dengan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga di Desa Waryesi bervariasi seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
1. Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Suku Tabel 5.6
Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Suku
Suku
Literasi Keuangan Sangat
Rendah
Rendah Sedang Tinggi Sangat
Tinggi
Sumber: data diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden Suku Biak berada di kategori sangat rendah yaitu sebesar 33,1%. Pada kategori sangat tinggi dengan total sebesar 9,1%, terdapat 7,4% responden suku pendatang. Mayoritas responden dilihat dari tingkat suku memiliki literasi keuangan pada kategori sangat rendah, yaitu sebesar 61,2%.
Tabel 5.7
Hubungan Suku dengan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan * Suku Crosstabulation
Suku
Menengah
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar Suku Papua Biak memilki tingkat pendidikan rendah dan menengah. Dari total 47,9% Suku Biak, terdapat 19% responden dengan latar belakang pendidikan rendah dan 22,3% responden berpendidikan menengah. Sedangkan suku pendatang umumnya memiliki tingkat pendidikan tinggi. Dari 28,1%
responden suku pendatang, terdapat 15,7% responden yang memiliki tingkat pendidikan tinggi.
Tabel 5.8
Hubungan Suku dengan Tingkat pendapatan Tingkat pendapatan * Suku Crosstabulation
Suku
Tinggi Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar Suku Papua Biak memiliki tingkat pendapatan yang rendah. Dari total 47,9% responden Suku Papua Biak, terdapat 38% responden dengan tingkat pendapatan yang rendah. Sedangkan dari total 28,1% renponden suku pendatang, terdapat 18,2% responden yang memiliki pendapatan yang tinggi.
Tabel 5.9
Hubungan Suku dengan Pekerjaan Pekerjaan * Suku Crosstabulation
Suku
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa sebagian besar responden Suku Biak memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Dari total 47,9%
responden Suku Biak, terdapat 32,2% yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan dari total 28,1% suku pendatang, terdapat 13,2% responden yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil.
2. Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 5.10
Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan
Literasi Keuangan Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat
Tinggi Jumlah
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendidikan rendah berada pada kategori literasi keuangan sangat rendah yaitu sebesar 26,4%. Mayoritas responden dengan tingkat pendidikan menengah berada pada kategori literasi keuangan sangat tinggi sebesar 5%. Berdasarkan persentasenya, mayoritas responden dilihat dari tingkat pendidikannya memiliki literasi keuangan pada kategori sangat rendah, yaitu sebesar 61,2%.
Tabel 5.11
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Suku Suku * Tingkat Pendidikan Crosstabulation
Tingkat Pendidikan
Total Rendah Menengah Tinggi
Suku
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diata menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan tinggkat pendidikan rendah berasal dari Suku Biak. Dari total 34,7%
responden dengan tingkat pendidikan rendah, terdapat 19% responden dengan Suku Biak. Sedangkan responden dengan tingkat pendidikan tinggi didominasi oleh responden suku pendatang. Dari total 25,6% responden dengan tingkat pendidikan tinggi, terdapat 15,7% responden suku pendatang.
Tabel 5.12
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan * Tingkat Pendidikan Crosstabulation Tingkat Pendidikan
Total Rendah Menengah Tinggi
Tingkat pendapatan Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa responden dengan tingkat pendidikan yang rendah umumnya memiliki tingkat pendapatan yang rendah. Dari total responden dengan tingkat pendidikan rendah sebesar 34,7%, terdapat 30,6%
responden yang memiliki tingkat pendapatan rendah. Sedangkan dari total 25,6% responden dengan tingkat pendidikan tinggi, terdapat 16,5%
responden yang memiliki tingkat pendapatan tinggi.
Tabel 5.13
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Pekerjaan
Tingkat Pekerjaan * Tingkat Pendidikan Crosstabulation Tingkat Pendidikan
Total Rendah Menengah Tinggi
Pekerjaan
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendidikan rendah adalah responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Dari total 34,7% responden dengan tingkat pendidikan rendah, terdapat 19,8% responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan dari total 25,6% responden dengan tingkat pendidikan tinggi, terdapat 16,5% responden dengan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil.
3. Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Pekerjaan Tabel 5.14
Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan
Literasi Keuangan Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat
Tinggi Jumlah
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden pada kategori literasi keuangan sangat rendah sebesar 33,1% adalah responden dengan pekerjaan ibu rumah tangga. Responden dengan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil memiliki tingkat literasi keuangan yang berada pada kategori sangat tinggi sebesar 1,7%. Mayoritas responden dilihat dari pekerjaannya memiliki literasi keuangan pada kategori sangat rendah, yaitu sebesar 61,2%.
Tabel 5.15
Hubungan Pekerjaan dengan Suku Suku *Pekerjaan Crosstabulation
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa mayorita responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga berasal dari Suku Biak.
Dari total 49,6% responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, terdapat 32,2% responden yang berasal dari Suku Biak.
Sedangkan dari total 19,85 responden yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, terdapat 13,2% responden berasal dari suku pendatang.
Tabel 5.16
Hubungan Pekerjaan dengan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan * Pekerjaan Crosstabulation
Pekerjaan Total
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dari total 49,6% responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, terdapat 19,8% responden dengan tingkat pendidikan rendah dan 24% responden dengan tingkat pendidikan menengah. Sedangkan dari total 19,8% responden dengan pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil, terdapat 16,5% responden yang memiliki pendidikan tinggi.
Tabel 5.17
Hubungan Pekerjaan dengan Tingkat Pendapatan Tingkat pendapatan * Pekerjaan Crosstabulation
Pekerjaan Total
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga cenderung memiliki pendapatan yang rendah. Dari total 49,6% responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, terdapat 38% responden yang memiliki tingkat pendapatan yang rendah. Sedangkan dari total 19,8% responden dengan pekerjaan sebagai PNS, terdapat 14% responden yang memiliki pendapatan tinggi.
4. Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Pendapatan Tabel 5.18
Tingkat Literasi Keuangan Berdasarkan Tingkat Pendapatan
Tingkat Pendapatan
Literasi Keuangan Sangat
Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat
Tinggi Jumlah
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendapatan rendah berada pada kategori literasi keuangan sangat rendah yaitu sebesar 45,5%. Dari total 9,1% responden pada kategori literasi keuangan sangat tinggi terdapat dari 7,4% responden dengan tingkat pendapatan tinggi. Mayoritas responden dilihat dari tingkat pendapatannya memiliki literasi keuangan pada kategori sangat rendah, yaitu sebesar 61,2%.
Tabel 5.19
Hubungan Tingkat Pendapatan dengan Suku Suku * Tingkat pendapatan Crosstabulation
Tingkat pendapatan
Total Rendah Sedang Tinggi
Suku
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menujukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendapatan rendah berasal dari Suku Biak. Dari total 57,9%
responden dengan tingkat pendapatan rendah, terdapat 38% responden Suku Biak. Sedangkan dari total 29,8% responden dengan tingkat pendapatan tinggi, terdapat 18,2% responden berasal dari suku pendatang dan hanya masing-masing 7% berasal dari Suku Papua Biak dan bukan Biak.
Tabel 5.20
Hubungan Tingkat pendapatan dengan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan * Tingkat pendapatan Crosstabulation Tingkat pendapatan Total Rendah Sedang Tinggi
Tingkat Pendidikan
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendapatan rendah memiliki tingkat pendidikan yang rendah.
Dari total 57,9% responden dengan tingkat pendapatan rendah, terdapat 30,6% responden dengan tingkat pendidikan rendah. Sedangkan dari total 29,8% responden dengan tingkat pendapatan tinggi, terdapat 16,5%
responden dengan tingkat pendidikan tinggi.
Tabel 5.21
Hubungan Tingkat Pendapatan dengan Pekerjaan
Tingkat Pekerjaan * Tingkat pendapatan Crosstabulation Tingkat pendapatan Total Rendah Sedang Tinggi
Pekerjaan
Sumber: data primer diolah, 2019
Tabel diatas menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendapat rendah merupakan responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Dari total 57,9% responden dengan tingkat pendapatan rendah, terdapat 38% responden yang memiliki pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan, dari total 29,8% responden dengan tingkat pendapatan tinggi, terdapat 14% responden dengan pekerjaan sebagai PNS, 8,3% sebagai petani atau nelayan, dan 7,4% responden yang memiliki pekerjaan ibu rumah tangga.
C. Analisis Data dan Pembahasan
1. Pengujian Prasyarat: Uji Normalitas
Sebelum melakukan uji hipotesis dalam analisis data, peneliti melakukan uji prasyarat menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov. Adapun uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Data berdistribusi normal apabila nilai asym.Sig (2-tailed) > alpha 0,05.
Sedangkan data tidak berdistribusi normal apabila nilai asym.Sig (2-tailed) <
alpha 0,05. Hasil uji normalitas menunjukkan pada tabel berikut ini.
Tabel 5.22
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Tabel di atas, dapat diketahui bahwa data dari suku, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, dan pekerjaan tidak berdistribusi normal. Hal ini disebabkan karena nilai asym.Sig (2-tailed) variabel suku dalam uji
normalitas memiliki nilai sebesar 0,000 < alpha 0,05. Variabel tingkat pendidikan dalam uji normalitas memiliki nilai sebesar 0,000 < alpha 0,05.
Sedangkan nilai asym.Sig (2-tailed) variabel tingkat pendapatan keluarga dalam uji normalitas memiliki nilai sebesar 0,000 < alpha 0,05 dan nilai asym.Sig (2-tailed) variabel pekerjaan dalam uji normalitas memiliki nilai sebesar 0,000 < alpha 0,05. Variabel literasi keuangan yang memiliki data berdistribusi tidak normal, karena nilai asym.Sig (2- tailed) variabel literasi keuangan dalam uji normalitas memiliki nilai sebesar 0,000 < alpha 0,05.
2. Pengujian Hipotesis
Berdasarkan uji normalitas, semua variabel tidak berdistribusi normal.
Oleh karena itu tidak perlu dilakukan uji prasyarat lebih lanjut yaitu uji homogenitas varians. Atas dasar hal tersebut maka pengujian yang dilakukan akan menggunakan uji non-parametrik yaitu menggunakan uji Kruskal-Wallis.
a. Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga Ditinjau dari Suku Rumusan hipotesis untuk variabel tingkat pendapatan adalah sebagai berikut.
Ho1= Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku.
Ha1= Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku.
Kriteria dalam analisis hipotesis pertama adalah jika nilai Asymp.Sig >
alpha 0,05 maka Ho1 diterima dan Ha1 ditolak. Sebaliknya jika nilai
Asymp.Sig < alpha 0,05 maka Ho1 ditolak dan Ha1 diterima. Pengujian hipotesis komparatif tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku dilakukan dengan menggunakan uji beda Kruskal-Wallis karena data variabel tingkat pendapatan tidak berdistribusi normal. Hasil uji beda Kruskal Wallis variabel tingkat pendidikan menggunakan SPSS 20 adalah sebagai berikut:
Tabel 5.23
Hasil Uji Kruskal Wallis Variabel Suku
Test Statisticsa,b
a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Suku
Tabel di atas menyatakan bahwa nilai Asymp.Sig sebesar 0,000 < alpha 0,05. Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan, jika Asymp.Sig < alpha 0,05 maka Ho1 ditolak dan Ha1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari suku.
b. Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga Ditinjau dari Tingkat Pendidikan
Rumusan hipotesis untuk variabel tingkat pendidikan adalah sebagai berikut.
Ho2= Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan.
Ha2= Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan.
Kriteria dalam analisis hipotesis kedua adalah jika nilai Asymp.Sig >
alpha 0,05 maka Ho2 diterima dan Ha2 ditolak. Sebaliknya jika nilai Asymp.Sig < alpha 0,05 maka Ho2 ditolak dan Ha2 diterima. Pengujian hipotesis komparatif tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pendidikan dilakukan dengan menggunakan uji beda Kruskal-Wallis karena data variabel tingkat pendidikan tidak berdistribusi normal. Hasil uji beda Kruskal Wallis variabel tingkat pendidikan menggunakan SPSS 20 adalah sebagai berikut:
Tabel 5.24
Hasil Uji Kruskal Wallis Variabel Tingkat Pendidikan
Test Statisticsa,b
a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: Tingkat Pendidikan
Tabel di atas menyatakan bahwa nilai Asymp.Sig sebesar 0,003 < alpha 0,05. Berdasarkan kriteria pengambilan keputusan, jika Asymp.Sig < alpha 0,05 maka Ho2 ditolak dan Ha2 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah
tangga ditinjau dari tingkat pendidikan.
c. Tingkat Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga Ditinjau dari Pekerjaan
Rumusan hipotesis untuk variabel pekerjaan adalah sebagai berikut.
Ho3= Tidak ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari pekerjaan.
Ha3= Ada perbedaan tingkat literasi keuangan ibu rumah tangga ditinjau dari tingkat pekerjaan.
Kriteria dalam analisis hipotesis ketiga adalah jika nilai Asymp.Sig >
alpha 0,05 maka Ho3 diterima dan Ha3 ditolak. Sebaliknya jika nilai
alpha 0,05 maka Ho3 diterima dan Ha3 ditolak. Sebaliknya jika nilai