PENELAAHAN PUSTAKA
C. Infeksi Jamur Kulit
2. infeksi kutan
Terdiri dari dermatofitosis dan kandidosis kutis merupakan penyakit jamur pada jaringan yang mengandung zat tanduk seperti kuku, rambut, dan stratum korneum pada epidermis, yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita.
a. Dermatofitosis, terdiri dari : 1) tinea kapitis (kurap kepala)
Penyakit ini menyerang rambut kulit kepala. Banyak terjadi pada anak-anak, disebabkan oleh Microsphorum dan Trichophyton.
Diagnosis penyakit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan dengan lampu wood, dan pemeriksaan mikroskopis rambut langsung dengan KOH. Pada pemeriksaan mikroskopis, akan terlihat spora diluar rambut (ectotrics)
atau didalam rambut (endotrics).
Manifestasi klinis terlihat bercak botak "bulu spots" yang rambutnya terputus 2-3 mm di permukaan kulit. Sisa rambut ini diselubungi kantong yang
warnanya kelabu.
Tinea kapitis dapat dibagi menjadi : a) gray patch
Merupakan flak kelabu akibat kumpulan skuana, rambut kering dan mudah patah, disebabkan Microsporum audouini.
b) kerion
Menyerupai abses ditandai reaksi meradang, disebabkan oleh Microsporum canis
dan Microsporum grypseum.
c) black dot ringworm
Disebabkan jamur yang hidup di dalam rambut (endotriks) sehingga rambut putus tepat dipermukaan kulit dan tinggal titik-titik hitam, disebabkan oleh
Trichophyton tonsurans (di barat) dan Trichophyton violaceum (di timur) yang menimbulkan bercak kecil
Pengobatan pada anak dilakukan dengan griseofulvin 10-25 mg/kg BB (p.o) perhari selama 6 minggu. Dosis untuk dewasa 500 mg perhari selarna 6 minggu. Griseofulvin ”fine particle" diminum bersama minuman yang mengandung lemak, misalnya dengan susu. Penggunaan antijamur topikal dapat mengurangi penularan pada orang yang ada disekitarnya. Selain antijamur, pada bentuk kerion, kortikosteroid diberikan dalam jangka waktu pendek, misalnya prednison 20 mg sehari selama 5 hari (Andrianto dan Sukardi, 1989).
2) tinea barbae (Tinea sikosis, barber's itch)
Penyakit ini menyerang peternak yang bisa menimbulkan lesi supuratif nodular pro funda oleh Trichophyton mentagrophytos atau superfisial berkusta yang sebagian alopesia bersama folikulitis yang disebabkan oleh Microsporum canis
yang menunjukan pembengkakan konfluens dengan abses. Kulit diatasnya meradang, rambutnya longgar. Penyakit kulit jenis ini terdapat satu sisi wajah atau leher. Bentuk superfisialis menyebabkan folikulitis pustualis ringan yang rambutnya patah (T. violaceum) atau tanpa rambut yang patah (T. rubrum)
(Andrianto dan Sukardi, 1989).
3) tinea korporis (Tinea sirsinata, tinea glabrosa atau kurap)
Merupakan infeksi jamur pada kulit halus (glaborous skin) di daerah muka, badan dan lengan, disebabkan oleh T. rubrum dan T. mentagrophytes.
Diagnosis penyakit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya, serta pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung dengan KOH 10-20% untuk melihat hifa atau spora jamur.
Manifestasi klinis terjadi pada daerah yang mengenai wajah, bagian atau ekstremitas dan badan. Terlihat lesi pada kulit tidak berambut (glabrosa) dimulai dengan papula agak eritem di perifer dan menyembuh ditengah. Lalu menjadi bercak berbatas tegas, sirkular, kering dan berskuama serta bagian pinggir lebih meninggi. Jenis lain terlihat berupa reaksi jaringan yang hebat dengan vesikulasi dan eksudasi. Tinea korporis sering terjadi karena kontak
dengan hewan atau keringat berlebihan merupakan faktor predisposisi. Tinea korporis adalah tinea imbrikata (tokelau) disebabkan oleh T. Concentricum.
Pengobatan diberikan secara sistemik berupa griseofulvin dosis 500 mg sehari selama 3-4 minggu, ketokonazol 200 mg sehari selama 3-4 minggu, itrakonazol 100 mg sehari selama 2 minggu atau terbinfin 250 mg sehari selama 2 minggu. Pengobatan topikal dengan salep whitfield masih cukup baik hasilnya, tolnaftat, tolsiklat, haloprogin, siklopirosolamin, derivat azol dan naftifin HCl (Andrianto dan Sukardi, 1989).
4) tinea kruris (jack itch, dhobie itch, crotch itch, ekzema marginatum atau tinea pada selangkang)
Diagnosis penyakit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas dan ditemukannya elemen jamur pada pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskop langsung memakai KOH 10-20%
Manifestasi klinis biasanya disebabkan oleh Epidermophyton floccosum, Trichophyton mentagrophytes dan Trichophyton rubrum yang mengenai lipatan paha, daerah perineum, bokong dan perut bagian bawah. Predisposisinya berupa keringat berlebihan, pakaian yang ketat. Tinea kruris dimulai dengan bercak eritematosa kecil berskuama, berkrusta atau vesikular lalu menyebar dengan batas tegas (Andrianto dan Sukardi, 1989).
Pengobatan secara sistemik menggunakan griseofulvin 500 mg sehari selama 3-4 minggu. Obat lain yang digunakan adalah ketokenazol. Pengobatan topikal menggunakan salep whitfield, tolraftat, toksiklat, haloprogen, siklopiroksolamin,
derivat azol dan naftifin HCl (Harahap, 2000).
5) tinea pedis dan manus (kaki atlet, kutu air dan hongkong foot)
Merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita pada kulit telapak tangan dan kaki, punggung tangan dan kaki, jari-jari tangan dan kaki serta daerah interdigital yang disebabkan oleh jamur T.rubrum, T. mentagrophytes dan E. floccosum.
Diagnosis penyakit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan pemeriksaa.n kerokan kulit dengan larutan KOH 10-20% yang menunjukan elemen jamur.
Manifestasi klinis dijumpai pada tukang cuci atau kaki yang basah, sering ada hiperhidrosis dan bersifat basah ekzematosa dan bervesikula. Bentuknya bisa maserasi dengan sedikit skuama dan kadang-kadang vesikula atau fisura mengenai selaput di antara jari, terutama di antara jari ke-4 dan ke-5.
Trichophyton mentagrophytes penyebab tersering. Bentuk lain berupa erupsi vesikula atau bulosa bila menginvasi kulit jari kaki atau telapak kaki dan kemudian melibatkan seluruh telapak kaki. Vesikel berdiameter 2 atau 3 mm dan bila bersatu membentuk bula, kemudian mengering dan meninggalkan krusta coklat kekuningan.
Trichophyton rubrum menyebabkan tinea yang relatif tanpa peradangan, berbentuk kaki maecasin (seperti orang Indian) dengan skuama yang hebat dan eritema ringan mengenai seluruh telapak kaki (bersifat eritematosa berskuama kering), terbatas sekitar kuku kaki jarang terdapat hiperkeratosis berbercak .
Pengobatan umumnya cukup secara topikal dengan obat-obat anti jamur untuk jenis interdigital dan versikuler. Lama pengobatan 4-6 minggu, diberikan anti jamur secara peroral misalnya griseofulvin, itrakonazol dan terbenafin (Harahap, 2000).
6) tinea unguinum
Kelainan pada kuku, disebabkan T. rubrum dan T. mentagrophytes. Diagnosis penyakit ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan kerokan kuku dengan KOH 10-20% atau dilakukan biakan untuk menemukan elemen.
Manifestasi klinis tinea unguinum disebabkan Trichophyton rubrum dimulai perlahan-lahan dengan reaksi radang yang minimum, pada ujung kuku namun bisa melibatkan palung kuku, yang menimbulkan warna kekuningan dan melibatkan kuku dan seluruh kuku menjadi longgar, kuku rapuh dan terpisah dari palung kuku oleh keratin subungual. Bila pecah meninggalkan sisa kekuningan dan hitam akibat kuku yang mati dan fungus. Tinea unguinum disebabkan Trichophyton mentagrophytes tanpa paronika, biasanya superfisialis, dimulai dengan pengelupasan kuku. Tinea unguinum dijumpai pada tukang cuci atau ibu rumah tangga terdapat paronika yang jelas, dimulai dari lipatan lateral kuku dan bisa dikeluarkan pusnya. Kutikula merah muda, bengkak dan nyeri jika ditekan Ditemukan pada tangan terutama yang sering berhubungan dengan air.
Pengobatan infeksi kuku memerlukan ketekunan, pengertian, kerjasama dan kepercayaan penderita dan dokter. Pengobatan dengan antijamur seperti griseofulvin 500 mg/hari selama 3-6 bulan untuk kuku jari tangan dan 9-12
bulan untuk kuku jari kaki merupakan pengobatan yang standar. Pemberian itrakonazol atau terbinafin peroral selama 3-6 bulan memberikan hasil yang baik. Obat topikal dapat diberikan dalam bentuk lotio atau kombinasi krim bifonazol dengan urea 40% (Harahap, 2000).
b. Kandidosis kutis
Penyakit kulit ini jenis penyakit kulit akut atau subakut disebabkan jamur intermediate yang menyerang kulit, kuku, selaput lendir, dan alat-alat dalam. Diagnosis kandidosis berdasarkan adanya gejala klinik berupa lesi eritematosa berbatas tegas dan meluas disertai lesi satelit disekitarnya. Diagnosis ditunjang pemeriksaan kerokan kulit dengan larutan KOH 10-20% atau preparat garam.
Gejala Klinis Kadidosis kutis terdiri dari : 1) kandidosis oral (oral thrush)
Terjadi pada bayi sehat yang kontak dengan saluran vagina ibu, sedangkan pada orang dewasa ditemukan pada mukosa pipi dan lidah.
2) kandidosis vulvovaginitis/vaginitis
Disebabkan jamur jenis Candida albicans yang terjadi pada penderita diabetes militus karena kadar gula darah dan urin-yang tinggi dan pada wanita hamil karena penimbunan glikogen dalam epitel vagina.
3) kandidosis intertriginosa
Berupa lesi didaerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan dan kaki, glans penis dan umbilikus, berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah dan eritematosa.
4) diaper-rash
Pada bayi bisa timbul di daerah popok yang basah dimulai pada regio anal dan meluas kekeseluruhan area.
5) erosio interdigitalis blastomisetika
Penyakit ini terjadi pada daerah oval maserasi di selaput jari tangan (web)
meluas kesisi jari tangan, sedangkan pada kaki terletak antara jari ke-4 dan ke-5 (Harahap, 2000).