• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengukuran hasil)

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pola Perilaku dan Identifikasi Permasalahan

3) Pemilihan obat penyakit infeksi jamur kulit

a) Obat yang digunakan dalam pengobatan infeksi jamur kulit

Pengobatan infeksi jamur bisa dengan cara perawatan kulit yang baik dan teratur, dimanan cara ini merupakan cara yang banyak disukai karena menghindari penyebab infeksi jamur. Namun, untuk perawatan lokal pada kulit dapat digunakan antijamur secara teratur. Berikut ini persentase permasalahan pada pemilihan obat infeksi jamur kulit :

Tabel XXVIII. Permasalahan Pada Pemilihan Obat Infeksi Jamur Kulit Oleh Responden (n = 97) di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Permasalahan Jumlah Persentase

Responden menggunakan betadine sebagai antijamur 2 2% Responden menggunakan obat tradisional berupa belerang

dan minyak tanah

2 2% Responden menggunakan rheumason sebagai antijamur 1 1%

Responden menggunakan obat tradisional berupa buah terong untuk diberikan pada daerah yang terinfeksi

1 1% Responden menggunakan obat tradisional berupa bunga

melati dan diobati jika memperoleh bunga tersebut di pesta pernikahan

1 1%

Permasalahan yang diperoleh pada pemilihan obat infeksi jamur kulit yaitu adanya penggunaan obat modern seperti betadine dan rheumason. Pemilihan obat ini kurang tepat karena betadine dan rheumason bukanlah antijamur. Betadine digunakan sebagai desinfektan kulit yang luka, sedang rheumason digunakan sebagai balsem gosok untuk meringankan rasa sakit misal : sakit otot. Pemilihan rheumason dan betadine ini biasanya untuk pengobatan kadas atau kutu air, alasan responden karena kedua obat tersebut dapat menutupi rasa sakit yang dialami. Penggunaan obat

tradisional seperti buah terong, belerang dan minyak tanah serta bunga melati juga tidak tepat karena dari referensi tidak ditemukan adanya efek farmakologi buah terong dan bunga melati sebagaia anti jamur.

b) Alasan pemilihan obat infeksi jamur kulit

Masing-masing individu memiliki alasan tersendiri dalam pemilihan obat terutamanya obat antijamur. Berikut ini persentase permasalahan dalam alasan pemilihan obat antijamur :

Tabel XXIX. Permasalahan Pada Alasan Pemilihan Obat Infeksi Jamur Kulit Oleh Responden (n = 97) di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Permasalahan Jumlah Persentase

Responden merasa cocok dengan obat antijamur tertentu 43 44% Responden mencoba-coba obat tertentu untuk pengobatan

infeksi jamur kulitnya

24 25% Responden mengetahui obat antijamur tertentu karena

Diberi tahu teman atau saudara

12 12% Responden mengetahui obat antijamur tertentu karena

bertanya pada warung, toko obat.

3 3% Responden merasa obat tersebut hangat sehingga lebih

cepat sembuh

3 3% Responden memilih obat antijamur tertentu dengan alasan

ekonomi

3 3% Responden memilih obat antijamur tertentu karena obat

tersebut tidak memiliki bau yang menyengat atau tidak enak

1 1%

Dalam penelitian ini, 42% responden mengatakan cocok dengan obat antijamur tertentu, hal ini dikatakan kurang tepat karena kondisi tubuh tiap individu berbeda, sehingga obat yang cocok digunakan untuk seseorang belum tentu cocok digunakan oleh orang lain. Alasan coba-coba seperti yang diungkapkan oleh 24 orang responden dengan persentase sebesar 25% juga termasuk jawaban yang kurang tepat

karena dengan alasan tersebut terkesan seseorang tidak benar-benar mengetahui penyakit dan obatnya sehingga seperti percobaan, hal ini tentunya dapat membahayakan.

Responden juga merasa obat antijamur tertentu yang hangat lebih baik daripada obat yang tidak menimbulkan rasa hangat, hal ini kurang tepat karena efek terapi dari suatu obat tidak disebabkan dari rasa hangat tersebut. Pengetahuan akan obat tertentu juga diperoleh dari warung dan toko obat, jawaban tersebut tidak tepat karena warung dan toko obat tidak memilik tenaga yang ahli dalam pengobatan seperti apoteker. Referensi obat dari teman dan saudara juga tidak tepat karena kesalahan terapi bisa terjadi jika teman dan saudara tersebut hanya coba-coba, selain itu tidak semua individu cocok menggunakan obat yang sama.

Alasan ekonomi tidak bisa dijadikan alasan ketidaktepatan pemilihan obat, hal ini karena tiap individu memiliki tingkat ekonomi yang berbeda. Menurut Anderson dan Sheatsley dalam Greenley (1980), biaya pengobatan menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah, sehingga mereka akan cenderung mencari pertolongan kesehatan disesuaikan dengan kemampuan keuangannya. Namun, pengaruh ekonomi ini dapat mempengaruhi pemilihan obat dan yang ditakutkan jika pemilihan obat tidak tepat atau obat yang dipilih menjadi tidak berkualitas. Pemilihan obat tidak tepat atau obat yang dipilih menjadi tidak berkualitas juga menjadi alasan ketidaktepatan pemilihan obat antijamur berdasarkan bau walaupun permasalahan ini sifatnya subjektif.

c) Pernah atau tidaknya responden bertanya informasi mengenai obat yang digunakan dalam swamedikasi penyakit infeksi jamur kulit dari penjualnya Kesadaran masyarakat untuk menanyakan informasi mengenai obat yang akan dibeli kepada penjualnya akan meningkatkan keberhasilan suatu terapi, namun ternyata tidak semua masyarakat membeli obat pada tempat yang benar seprti di pasar atau warung terdekat. Berikut ini beberapa permasalahan alasan responden bertanya dan tidak bertanya :

Gambar 27. Permasalahan Pernah atau Tidaknya Responden (n = 97) Bertanya Mengenai Informasi Obat Infeksi Jamur Kulit Di Propinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta

Responden yang tidak memiliki kesadaran untuk bertanya dapat dijadikan salah satu alasan ketidakberhasilan swamedikasi. Berikut ini adalah tabel yang akan menunjukkan alasan responden tidak bertanya kepada penjualnya :

Tabel XXX. Permasalahan Mengenai Alasan Responden (n = 97) Tidak Bertanya Mengenai Informasi Obat Infeksi Jamur Kulit di Propinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta

Permasalahan Jumlah Persentase

Responden beralasan hanya membeli saja sehingga tidak perlu bertanya

24 25% Responden tidak bertanya karena membeli obat di warung

dan pasar sehingga penjualnya juga belum tentu mengetahui informasi obat ketika ditanya

5 5%

Responden tidak bertanya karena merasa informasi obat sudah tercantum di label obat

13 13% Responden menggunakan obat tradisional sehingga tidak

ada yang bisa ditanya mengenai informasi obat

4 4%

Empat jawaban responden tersebut menjadi permasalahan dalam melakukan perilaku swamedikasi khususnya dalam penggunaan obat yang benar. Seharusnya, responden membeli obat di tempat yang benar terutama untuk obat-obat bebas, bebas terbatas, dan obat keras yang dapat dibeli sendiri oleh masyarakat. Selain itu masyarakat seharusnya bertanya pada penjualnya (dalam hal ini apoteker) mengenai informasi obat yang dibeli, perkecualian jika responden sudah terbiasa menggunakan obat tersebut sebelumnya.

d) Tempat responden membeli obat

Tempat pembelian obat juga menjadi salah satu penyebab ketidakberhasilan perilaku swamedikasi sebab tempat yang dipilih masyarakat biasanya tergantung dari banyak faktor yang mendasarinya seperti jarak, dana, dan waktu. Berikut ini persentase permasalahan tempat pemilihan obat infeksi jamur kulit oleh responden :

Tabel XXXI. Permasalahan Pemilihan Tempat Pembelian Obat Infeksi Jamur Kulit Oleh Responden (n = 97) di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Permasalahan Jumlah Persentase

Responden membeli obat di warung dan pasar terdekat 61 63% Responden membeli obat di toko grosir 1 1% Rsponden mengambil obat dari kebunnya sendiri 1 1%

Membeli obat yang paling tepat dilakukan di apotek, karena di apotek ada apoteker penanggung jawab yang akan bertanggung jawab pada obat yang dijual di apotek, selain itu, pasien juga dapat mengetahui informasi obat yang dibutuhkan dengan lebih akurat karena dapat bertanya langsung ke apoteker, disamping itu selain apotek mengacu pada PerMenKes No. 167 tahun 1972 yang boleh menjual obat-obat bebas dan obat terbatas adalah pedagang eceran obat.

f) Bantuan dari penjual kepada responden terhadap pemilihan obat antijamur Dari 97 responden, berikut adalah persentase mengenai ada atau tidaknya bantuan dari penjual terhadap pemilihan obat antijamur kepada responden :

Gambar 28. Ada Atau Tidaknya Bantuan Dalam Pemilihan Obat Infeksi Jamur Kulit Oleh Penjual Kepada Responden (n = 97) di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

84% responden tidak mendapat bantuan saat memilih obat, ini dapat dikarenakan responden tidak hanya membeli obat di apotek tetapi juga dapat membelinya di warung, pasar, atau toko obat sehingga tidak ada pemberian informasi dan pemilihan obat dari penjualnya seperti yang dilakukan oleh apoteker di apotek dan biasanya responden yang membeli obat tidak di apotek hanya sekedar membeli obat saja dengan alasan agar penyakitnya dapat lebih cepat ditangani.

g) Perhatian responden terhadap informasi obat pada label atau kemasan obat. Perhatian masyarakat terhadap informasi obat yang terdapat pada label atau kemasan obat dapat mempengaruhi keberhasilan suatu tindakan swamedikasi penyakit infeksi jamur kulit. Berikut ditampilkan persentase perhatian responden terhadap informasi pada label atau kemasan obat antijamur :

Gambar 29. Permasalahan Mengenai Perhatian Responden (n = 97) Terhadap Informasi Yang Terdapat Pada Label Atau Kemasan Obat Infeksi Jamur Kulit Oleh

Kesadaran responden untuk memperhatikan informasi yang tertera pada label atau kemasan obat (78%) akan meningkatkan keberhasilan perilaku swamedikasi infeksi jamur kulit. Namun, yang menjadi permasalahan berikutnya adalah informasi yang tercantum di label atau kemasan tersebut telah diperhatikan oleh responden semuanya atau tidak. Berikut ini adalah tabel informasi pada label yang diperhatikan oleh responden :

Gambar 30. Permasalahan Mengenai Perhatian Responden (n = 97) Terhadap Informasi Yang Terdapat Pada Label Atau Kemasan Obat Infeksi Jamur Kulit Oleh

Responden di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Dari 78% responden atau dari 76 responden ternyata ada 74% responden yang membaca informasi yang tertera pada label atau kemasan obat secara tidak lengkap. Hal ini dapat mempengaruhi keberhasilan perilaku swamedikasi infeksi jamur kulit, pernyataan ini juga diungkapkan Nasution dan Lubis (1993) yang mengatakan bahwa dalam melakukan penggunaan obat-obat tanpa resep yang perlu diperhatikan adalah kondisi obat, tanggal kadaluwarsa dan keterangan-keterangan dalam brosur atau

selebaran yang disertakan yang berisi informasi mengenai indikasi, kontraindikasi, efek samping, dosis obatnya, waktu kadaluarsa, cara penyimpanan obat, dan interaksi obat dengan obat lain yang digunakan dan makanan yang dimakan. Sehingga semakin sedikit informasi yang diketahui oleh seseorang mengenai suatu obat maka semakin besar pula risiko terjadinya kesalahan dalam penggunaan obat tersebut.

h) Informasi yang perlu diketahui responden sebelum menggunakan obat antijamur

Tabel XXXII. Permasalahan Informasi Yang Perlu Diketahui Oleh Responden (n = 97) di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Sebelum Menggunakan Obat Infeksi

Jamur Kulit

Permasalahan Jumlah Persentase

Sebagian besar responden menganggap bahwa informasi tertentu saja yang perlu diketahui sebelum menggunakan obat antijamur tertentu

91 94%

Sebagain besar responden (94%) menganggap bahwa hanya dengan mengetahui sebagian informasi dari obat tersebut sudah cukup untuk menjadi dasar menggunakan obat tersebut. Hal ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian dalam perilaku swamedikasi pemilihan obat antijamur. Menurut Nasution dan Lubis (1993) mengatakan bahwa dalam melakukan penggunaan obat-obat tanpa resep yang perlu diperhatikan adalah kondisi obat, tanggal kadaluwarsa dan keterangan-keterangan dalam brosur atau selebaran yang disertakan yang berisi informasi mengenai indikasi, kontraindikasi, efek samping, dosis obatnya, waktu kadaluarsa, cara penyimpanan obat, dan interaksi obat dengan obat lain yang digunakan dan makanan yang dimakan. Sehingga semakin sedikit informasi yang diketahui oleh seseorang mengenai suatu

obat maka semakin besar pula risiko terjadinya kesalahan dalam penggunaan obat tersebut.

i) Keefektifan swamedikasi infeksi jamur kulit menurut responden

Keefektifan swamedikasi dapat diperoleh jika masyarakat memperhatikan dengan benar informasi yang diberikan oleh apoteker atau informasi yang tertera pada label atau kemasan obat dengan benar. Tabel berikut akan menunjukkan keefektifan dari perilaku swamedikasi infeksi jamur kulit menurut responden :

Gambar 31. Keefektifan Penggunaan Obat Infeksi Jamur Kulit Untuk Swamedikasi Oleh Responden (n = 97) di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Sebanyak 7% responden mengalami ketidakberhasilan dalam perilaku swamedikasi infeksi jamur kulit yang dilakukan. Ketika swamedikasi yang dilakukan menjadi kurang efektif atau tidak efektif, berarti ada permasalahan baik dalam diagnosis penyakitnya yang mungkin kurang tepat atau salah dalam memperkirakan keparahan penyakit, salah dalam pemilihan terapi maupun obat yang digunakan, dan kesalahan dalam penggunaan obat.

C. Analisis Data Kuantitatif Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Perilaku