BAB V HASIL PENELITIAN
5.2 Hasil Penelitian Kualitatif
5.2.1 Informan Kunci
1. Nama : Hot Bonar, SST., M.Stat
2. Umur : 34 Tahun
3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Kristen
5. Pendidikan Terakhir : S2
6. Alamat : Jl. Empat Lima No. 87 - Sidikalang
7. Pekerjaan : PNS
Bapak Bonar merupakan kepala seksi statistik sosial di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Dairi. BPS merupakan badan yang mengelolah Indeks Pembangunan Desa di seluruh Indonesia sehingga dapat menentukan suatu desa dikategorikan sebagai desa mandiri, berkembang maupun tertinggal. Pengelolahan Indeks Pembangunan Desa diolah pada bagian seksi statistik sosial, sehingga Bapak Bonar yang menjabat dibagian tersebut dapat dikatakan memahami bagaimana Desa Maju dapat dikategorikan sebagai desa tertinggal oleh BPS pada data tahun 2018 lalu. Berikut merupakan wawancara peneliti dengan informan kunci:
Apa pengertian dari Indeks Pembangunan Desa yang Bapak ketahui?
“Indeks Pembangunan Desa merupakan suatu indeks komposit yang menggambarkan tingkat kemajuan atau perkembangan desa pada suatu waktu”
Apa yang melatarbelakangi adanya Indeks Pembangunan Desa?
“Kita ketahui bersama bahwa Desa, sebagai wilayah administrasi terendah secara mandiri telah dijadikan sebagai subyek pembangunan.
Tujuannya mengurangi kesenjangan pembangunan perdesaan dan perkotaan yang cenderung bias perkotaan (urban bias). Selain itu juga untuk mendekatkan pelayanan pemerintahan di tingkat desa, supaya menjadi solusi bagi perubahan sosial ekonomi desa.
Desa sebagai subyek pembangunan, diharapkan mampu mendekatkan pelayanan terhadap warga melalui pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan. Sesuai dengan amanat UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, desa perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi lebih kuat, maju, dan mandiri.
Desa yang mandiri dapat menciptakan landasan yang kokoh dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Guna mewujudkan amanah tersebut, diperlukan suatu ukuran yang di bentuk dalam Indeks Pembangunan Desa (IPD). Inilah yang menjadi latar belakang atau cikal bakal adanya IPD.”
Sejak kapan pemerintah dalam hal ini BPS menggunakan Indeks Pembangunan Desa?
“Jika merujuk pada UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka dapat dikatakan bahwa sejak tahun 2014 Pemerintah sudah menggunakan IPD, meskipun mungkin angka indeks ini baru resmi dirilis oleh BPS pada bulan Juli/Agustus 2015. Namun dalam penyajiannya, IPD dimaksud tetap menggambarkan IPD pada tahun 2014.”
Jarak waktu berapa lama penghitungan Indeks Pembangunan Desa dilakukan?
“IPD baru dua kali dihitung oleh BPS, yakni berdasarkan hasil Podes 2014 dan yang terbaru Podes 2018. Direncanakan ke depan IPD akan dihitung setiap tahun, sudah dimulai dengan adanya Updating data Podes di tahun 2019 ini dan sedang berjalan.”
Bagaimana tahapan proses dalam menentukan Indeks Pembangunan Desa pada suatu desa?
“Indeks Pembangunan Desa dihitung ditingkat pusat, BPS Kabupaten/Kota tidak terlibat langsung dalam proses penghitungan sampai menghasilkan angka IPD per Desa, namun BPS Kabupaten/Kota berperan penting pada tahapan pengumpulan data Podes di lapangan.
Secara umum proses bisnis hingga IPD suatu desa didapatkan tidak terlepas dari tahapan perencanaan, pengumpulan data, pengolahan, hingga diseminasi data. Jika yang dimaksud dalam pertanyaan ini adalah bagaimana menghitung angka IPD, berarti kita berbicara pada tahap pengolahan data.
Proses pengolahan data menggunakan metode Principal Component Analysis(PCA), dimana dihasilkan model yang optimum sebanyak 42 indikator (12 variabel, dan 5 dimensi),kandidat indikator pada awalnya adalah sebanyak 60 buah. Dalam proses menghasilkan model PCA yang optimum dilakukan sebanyak 15 tahap proses kalkulasi statistik secara berurutan. Terdapat 5 dimensi yang digunakan dalam penghitungan IPD, yakni Pelayanan Dasar, Kondisi Infrastruktur, Aksesibilitas/Transportasi, Pelayanan Umum, dan Penyelenggaraan Pemerintahan. Metode PCA digunakan dengan pertimbangan bahwa metode statistik tersebut dapat digunakan untuk mereduksi jumlah indikator dan mendeteksi struktur semua faktor (konsep) yang terbentuk dalam model. Setiap faktor menggambarkan dimensi-dimensi penyusun IPD. Penimbang setiap indikator penyusun IPD dihitung berdasarkan loading factor yang dihasilkan dari model PCA yang paling optimum.
Pertimbangan pemilihan metode PCA ini dalam menyusun IPD yaitu:(1) Data yang digunakan dalam penyusunan indeks adalah data sekunder (Potensi Desa 2014), yang sifatnya generik dan dibuat tidak dalam kerangka penyusunan IPD, sehingga justifikasi yang sifatnya subjektif mengenai urgensi satu variabelterhadap variabellainnya bisa dikurangi;
(2) Penggunaan PCA ini juga dimaksudkan agar diperoleh suatu angka sederhana untuk keperluan analisis pembangunan desa lanjutan, dengan menjaga tingkat keragaman dalam komponen penyusunnya, sehingga bias indeks yang dibentuk bisa dikurangi. Selanjutnya dilakukan penghitungan kontribusi bagi setiap indikator melalui 2 tahap, yakni (1) tahap identifikasi faktor dan (2) tahap pengukuran kontribusi indikator.
Selanjutnya nilai IPD diperoleh dari penjumlahan secara tertimbang terhadap setiap Indikator penyusun IPD. Nilai yang dijumlahkan adalah skor setiap indikator yang sudah ditimbang/dikalikan dengan penimbang masing-masing indikator, dengan formulasi sebagai berikut: IPD = (V1*B1 + V2*B2 + … + V42*B42) * 20.”
Menurut Bapak apa manfaat dari adanya Indeks Pembangunan Desa bagi pemerintah?
“Tentunya dengan IPD ini Pemerintah dapat melihat sudah sejauh mana perkembangan dan kemajuan suatu desa, tidak hanya sebagai dasar dalam penetapan arah kebijakan pembangunan berbasis kewilayahan (karena desa sebagai subyek pembangunan) namun juga sebagai dasar evaluasi atas hasil/pencapaian pembangunan yang sudah dilaksanakan.
Setiap desa sudah diberikan Dana Desa setiap tahunnya dengan memanfaatkan data IPD sebagai salah satu penimbangnya, maka tentu perlu suatu evaluasi atas pencapaian pembangunan desa dengan besaran
dana yang sudah digelontorkan, sehingga tujuan menghilangkan bias pembangunan antara desa dan kota dapat diwujudkan.”
Menurut Bapak apa terdapat kendala dalam proses pengumpulan data di masyarakat?
“Data yang dimanfaatkan dalam penghitungan IPD seperti yang diuraikan sebelumnya bersumber dari Podes, dimana responden pendataan Podes adalah aparatur desa (kepala desa, sekretaris desa, kasi/kaur, perangkat desa lainnya), bidan desa, kepala sekolah, dan unsur terkait lainnya (tokoh masyarakat). Kendala tidak terlalu banyak, dan jenis kendala ini bervariasi, bisa kendala teknis maupun non teknis.
Karena tidak terlalu melibatkan masyarakat/rumah tangga secara langsung, maka kendala dari masyarakat sepertinya tidak ada.”
Apa yang menyebabkan Desa Maju di kategorikan sebagai desa tertinggal dibandingkan desa lainnya di Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten Dairi khususnya pada pelayanan dasar?
“Kategori desa teringgal didasarkan pada pencapaian nilai IPD suatu daerah/desa. Dengan nilai IPD 45.98 pada tahun 2018, maka Desa Maju dikategorikan tertinggal (IPD ≤ 50 dikategorikan Tertinggal).
Dimensi pelayanan dasar sebagai penyumbang rendahnya IPD Desa Maju pada tahun 2018 dengan skor dimensi hanya sebesar 37.42 untuk pelayanan dasar. Penyebabnya tentu adalah rendahnya ketersediaan dan akses ke pelayanan pendidikan serta ketersediaan dan kemudahan akses ke pelayanan kesehatan. Hasil Podes 2018 menunjukkan hanya terdapat 1 SD/MI Negeri di Desa Maju, sedangkan untuk pelayanan kesehatan hanya terdapat 1 Poskesdes dan 1 Praktek Bidan yang mungkin adalah merangkap sebagai bidan di Poskesdes pada tahun 2018.”
Apa saran Bapak untuk Desa Maju dalam meningkatkan pelayanan dasar desa tersebut?
“Bercermin dari pertanyaan sebelumnya, maka Desa Maju harus mulai berbenah untuk semakin mendekatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan kepada masyarakat, sesuai kewenangan dan kebutuhan di desa tersebut. Bisa dengan mendirikan TK/RA/BA untuk anak2 pra sekolah yang langsung dibawah naungan desa/PKK, atau menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk membangun sarana pendidikan dasar/menengah/atas di desa maju. Tentu hal ini memerlukan proses dan kajian yang panjang, sementara itu dalam jangka pendek Desa Maju dapat melakukan pembenahan dari segi infrastruktur jalan bagianak-anak yang harus bersekolah keluar Desa Maju, sehingga akses terhadap
pelayanan pendidikan tidak bertambah sulit karena infrastruktur yang kurang baik. Mungkin hal yang sama dapat dilakukan untuk mendekatkan layanan kesehatan bagi masyarakat Desa Maju. Dengan demikian, perlahan Desa Maju akan keluar dari ketertinggalannya.”