BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.2 Kehidupan Pengemis di Persimpangan Traffic Lights
4.3.1 Informan Kunci
4.3.1.1 Informan 1
Informan 1 pada penelitian ini adalah seorang pengemis tunanetra yang bernama Sawir yang berusia 65 tahun. Pak sawir yang tidak pernah mencicipi bangku sekolah ini memiliki 1 orang istri yang tidak memiliki pekerjaan serta 3 orang anak yaitu 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Pak Sawir tinggal di rumah kontrakan yang perbulannya dikenai biaya Rp 400.000. Kontrakannya berada di daerah Parak Laweh gang Pusaro bersama istri dan anak bungsunya yang kini berusia 20 tahun, sementara 2 orang lainnya sekarang tinggal di daerah asal Pak Sawir, di balai Salasa Pesisir Selatan.
Pak Sawir telah memiliki cacat mata sejak lahir, tapi masih bisa melihat sedikitnya, semakin bertambah usianya, semakin tidak jelas juga pandangannya. Pak Sawir pernah bekerja menjadi kuli bangunan sewaktu pandangannya masih sedikit jelas sebelum akhirnya menerima pilihan
pekerjaan sebagai pengemis tunanetra. Pak Sawir menjalani pekerjaan barunya ini setelah bertemu dengan ibu Dasniar.
Ibu Dasniar adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya dan memiliki 7 orang anak diantaranya 3 orang anak perempuan dan 4 orang anak laki-laki serta 4 orang cucu. Ibu Dasniar kini berusia 46 tahun dan tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Ia tinggal disekitaran Pasar Baru. Sebelum bekerja sebagai pendamping tunanetra, Bu Dasniar dulunya adalah seorang tukang cuci.
Ibu Dasniar telah menekuni pekerjaan sebagai pendamping pengemis tunanetra selama 7 tahun dengan beberapa orang yang berbeda. Bu Dasniar bertemu dengan Pak Sawir setelah dikenalkan oleh keponakan Pak Sawir yang juga pengemis. Saat itu, Bu Dasniar memang sedang mencari orang yang ingin dibawa untuk mengemis setelah rekan kerja sebelumnya telah mengalami sakit-sakitan sejak sebulan yang lalu. Kini, Ibu Dasniar dan Pak Sawir telah menjadi rekan kerja selama 20 hari.
4.3.1.2 Informan 2
Informan 2 pada penelitian ini adalah seorang pengemis tunanetra bernama Rustami berusia 63 tahun. Rustami telah mengalami kebutaan sejak lahir. Rustami hanyalah tamatan SMP. Rustami tinggal di rumah kontrakan yang berada di Banuaran dan perbulannya dikenai biaya Rp 500.000. Rustami
memiliki 1 orang istri yang bekerja sebagai IRT serta 4 orang anak, 1 orang cewek dan 3 orang cowok. Anak pertamanya bekerja di biro PLN, anak keduanya PNS di Painan, anak ketiganya SMA namun sudah putus sekolah dan anak terakhirnya masih berusia 8 tahun.
Sebelum menjadi pengemis, Rustami adalah seorang pengamen di depan sebuah swalayan. Dengan bakatnya yang pandai memainkan alat music seperti gitar, keyboard dan saxophone, Rustami mampu membiayai kebutuhan rumah tangganya. Ia berhenti menjadi pengamen dikarenakan alat soundsystem yang ia miliki hancur tertimbun reruntuhan rumahnya pada gempa besar yang terjadi di Kota Padang pada tahun 2009.
Sementara pendamping Rustami adalah Ibu Eni yang berusia 39 tahun. Eni hanyalah tamatan SMA. Eni tinggal di belakang PLTG bersama suaminya dan 4 orang anaknya, 3 orang cewek dan 1 orang cowok. Masing-masing berusia 19 tahun, 13 tahun, 5 tahun dan 8 bulan. Suaminya juga seorang pengemis dan bekerja secara individu setelah kaki kanannya diamputasi akibat sebuah kecelakaan. Sebelum menjadi pengemis, Eni adalah seorang pedagang kelapa di Pasar Aur Kuning, Bukttinggi. Hubungan Rustami dengan Eni adalah saudara. Rustami dan Eni telah bekerja menjadi pengemis selama 5 tahun.
4.3.1.3 Informan 3
Informan 3 pada penelitian ini adalah seorang pengemis tunanetra bernama Neti yang berusia 38 tahun. Neti tinggal di daerah Banuaran. Neti telah mengalami cacat mata sejak lahir. Neti yang belum menikah sampai saat ini turut serta menanggung biaya kehidupan adik perempuan nya yang memiliki 2 orang anak dan telah 3 tahun ditinggal mati suaminya. Neti tidak pernah mengenyam bangku pendidikan.
Sementara pendamping Neti adalah Bapak Arizal yang berusia 48 tahun. Arizal hanyalah tamatan SMP. Arizal tinggal di Pampangan bersama istrinya. Arizal memiliki 2 orang anak perempuan yang telah berkeluarga. Sebelum menjadi pengemis, Arizal adalah seorang pedagang buah-buahan dan barang-barang musiman. Arizal adalah orang asli Payakumbuh, namun sudah lama tinggal di Padang semenjak tahun 1978 hingga 1990. Arizal sudah menjalani kegiatan mengemis selama 5 tahun.
4.3.1.4 Informan 4
Informan 4 pada penelitian ini adalah seorang pengemis tunanetra bernama Mursida yang berusia 41 tahun. Mursida yang akrab disapa Mur ini tinggal di daerah Teluk Bayur. Mur tidak pernah mengenyam pendidikan. Mur juga telah mengalami cacat mata sejak lahir. Mur memiliki 3 orang anak yang
masih sekolah. Mur telah menjadi pengemis selama 7 bulan lebih setelah 3 bulan kematian suaminya.
Sementara pendamping Mur adalah Bapak Yanto yang berusia 49 tahun. Yanto yang juga tidak pernah mengenyam bangku pendidikan ini tinggal di daerah Banuaran bersama istri dan 2 orang anaknya yang masih sekolah. Sebelum menjadi pengemis, Yanto adalah seorang tukang kebun. Dikarenakan fisiknya tidak lagi kuat, Yanto akhirnya mengambil jalan pintas sebagai seorang pengemis yang sudah ditekuninya selama 8 bulan. Yanto dan Mur hanyalah sebatas rekan kerja, dan mereka bertemu setelah dikenalkan oleh tetangga Mur yang juga bekerja sebagai pengemis.
4.2.2 Informan Pendukung
4.2.2.1 Informan 5
Informan 5 pada penelitian ini adalah Ibu Niar yang berusia 38 tahun. Niar adalah pemilik warung dimana warung miliknya merupakan tempat peristirahatan para pengemis tunanetra beserta pendampingnya. Niar juga merupakan warga sekitar yang tinggal di sekitar para pengemis bekerja.
4.2.2 Informan 6
Informan 6 pada penelitian ini adalah Mita yang berusia 23 tahun mahasiswi salah satu perguruan tinggi di kota Padang. Mita merupakan dermawan yang hampir setiap harinya selalu melewati persimpangan lalulintas
Bypass, Ketaping.
4.4 Komunikasi Interpersonal (Antarpribadi)
Komunikasi antarpribadi adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih baik langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (menggunakan alat/media komunikasi. Menurut sifatnya, komunikasi antarpribadi dapat dibedakan atas dua macam, yakni komunikasi diadik
(dyadic communication) dan komunikasi kelompok kecil (small group communication) (Cangara,1998 : 36).
Komunikasi diadik pada penelitian ini berlangsung antara pengemis dengan pendampingnya. Terjadi secara langsung dapat terlihat ketika adanya interaksi antara pengemis tunanetra dengan pendampingnya, calon dermawan dan masyarakat. Komunikasi diadik ini dapat kita lihat ketika pengemis sedang melakukan kegiatan mengemis, dan juga ketika pengemis sedang tidak melakukan kegiatan mengemis. Sementara terjadi secara tidak langsung, dapat diketahui ketika adanya interaksi antara pengemis dengan pendampingnya
melalui handphone. Biasanya interaksi ini sering terjadi ketika mereka hendak ke lokasi mengemis, dimana mereka menggunakan handphone sebagai media penyampaian pesan untuk bertemu. Seperti yang diungkapkan Mur kepada peneliti pada saat wawancara tanggal 7 Juni 2015 di warung milik Niar :
“Wak jo apak biasonyo janjian ataupun agiah tau apak misalnyo awak ado kendala, tu awak ndak bisa ngemis yo lewat hape sajo. Apak mode tu juo.”
Komunikasi kelompok kecil ialah proses komunikasi yang berlangsung antara tiga orang atau lebih secara tatap muka, di mana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lainnya. Komunikasi kelompok kecil oleh banyak kalangan dinilai sebagai tipe komunikasi antarpribadi karena anggota-anggotanya terlibat dalam suatu proses komunikasi yang berlangsung secara tatap muka. Pembicaraan berlangsung secara terpotong-potong di mana semua peserta bisa berbicara dalam kedudukan yang sama, dengan kata lain tidak ada pembicaraan yang mendominasi situasi. Kemudian, sumber dan penerima sulit diidentifikasikan (Cangara,1998 : 37).
Pada penelitian ini, komunikasi kelompok kecil dapat kita lihat pada jam istirahat. Yaitu ketika pengemis, pendamping, serta masyarakat sekitar melakukan interaksi di warung milik Niar. Mereka melakukan pembicaraan dimana tidak ada satu orang pun yang mendominasi topik pembicaraan, semua nya memiliki porsi maupun kesempatan yang sama untuk berbicara.
Berdasarkan observasi peneliti, topik yang sering dijadikan pembahasan ketika terjadi komunikasi kelompok kecil ini adalah seputar masalah keluarga, keuangan, keluh kesah mengenai kehidupan masing-masing, organisasi paguyuban, dan masih banyak lagi. Pengemis satu dengan yang lainnya saling memberi kritik dan saran jika ada masalah yang terjadi baik seputar masalah pada kegiatan mengemis ataupun masalah diluar kegiatan mengemis.