• Tidak ada hasil yang ditemukan

Insiden dan Alur

Dalam dokumen 218071996 Tesis Bu Sayang. doc (Halaman 97-109)

BAB V BENTUK GEGURIT AN DHARMAWISESA

5.3 Insiden dan Alur

Insiden atau peristiwa adalah peralihan dari keadaan yang satu ke keadaan yang lain. Dari peristiwa ini diseleksi semua peristiwa yang benar ada di dalam sebuah cerita agar didapatkan sesuatu peristiwa atau insiden yang benar-benar dapat mengacu pada pertumbuhan plot. Seleksi itu dikelompokkan dalam : (1) peristiwa fungsional yaitu peristiwa-peristiwa yang secara menentukan mempengaruhi perkembangan plot, (2) peristiwa kaitan yaitu peristiwa kecil yang mengaitkan peristiwa utama, (3) penerima acuan yang tidak langsung mempengaruhi perkembangan plot. Insiden ini mengacu perkembangan unsur yang lain, (4) hubungan antara peristiwa yaitu pengaturan kelompok-kelompok peristiwa (episode) yang ditemukan kemudian disaring agar didapatkan seuatu peristiwa pokok ( Luxemburg dkk, 1984: 150-154).

Menurut Sukada (1987:58), insiden adalah kejadian atau peristiwa yang terkandung dalam cerita, besar atau kecil. Secara keseluruhan, insiden-insiden ini diuji mengenai ada tidaknya hubungan yang satu dengan yang lainnya. Unsur yang

dipakai menguji adalah plot. Itulah sebabnya sistematisasi analisis, insiden mendapat tempat yang pertama.

Beranjak dari uraian di atas, insiden dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) insiden pokok yang mengandung ide-ide, pokok cerita yang menjuruskan kesimpulan cerita kepada adanya plot, (2) insiden sampingan yaitu insiden yang menyimpang dari sebab akibat yang logis yang mengandung ide-ide sampingan dank arena itu menjurus atau tidak menunjang adanya plot.

Dalam insiden, yang dipentingkan adalah kewajaran atau kelogisan kejadian, peristiwa yang terjadi dalam ccerita, tidak ada kesan yang dibuat-buat. Insiden sebagai bagian peristiwa hanya dapat diterima atau ditangkap secara wajar, seperti sungguh-sungguh terjadi atau sungguh-sungguh ada, ada dengan sendirinya. Insiden memang memegang peranan dalam membangun sebuah karya sastra, sebab dalam insiden-insiden terkandung berbagai ide, tendens, amanat, motif dan latar yang dituangkan seseorang pengarang.

Berdasarkan uraian pendapat mengenai insiden di atas, maka dapat disimpulkan bahwa insiden merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang terkandung dalam suatu cerita, besar atau kecil yang secara keseluruhan menjadi kerangka yang membentuk struktur cerita. Bertolak dari pengertian inilah, analisis insiden Geguritan Dharmawisesa ini dilakukan. Insiden-insiden yang kronologis dapat dilihat dari bait-bait Geguritan Dharmawisesa.

Insiden yang mengisahkan seorang pendeta yang bernama Wararuci, memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kehadapan Maharsi Wyasa dan Maharsi Wesampayana. Maharsi Wyasa adalah penghimpun Weda dan penulis

kitab Mahabharata, dan juga salah seorang orang suci bagi umat Hindu. Bhagawan Wesampayana adalah salah seorang murid Rsi Wyasa, yang menyampaikan kisah Mahabharata kepada raja Hastinapura terakhir, yaitu Jana Mejaya. Intisari dari ajaran-ajaran Wyasa ini ditulis oleh Bhagawan Wararuci yang lebih dikenal dengan kitab Sarasamuçcaya. Kitab Sarasamuçcaya ini kemudian memberikan inspirasi kepada pengarang Geguritan Dharmawisesa untuk menyadurnya ke dalam bentuk geguritan. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan pupuh durma seperti di bawah ini:

Singgih pukulun hyang muniwara, Byasa lan Wararuci, asung anugraha, panyudaning dasa mala, sakeng pöh adnyana sandi, kang kalinggayang, ri sarasamuscayaji, (Dharmawisesa, I.9)

Terjemahannya:

Wahai paóðita maha kawi, Maharsi Wiyasa dan Wararuci,

semoga berkenan memberikan anugerah, menyucikan sepuluh kekotoran,

dari kemuliaan ilmu pengetahuan, yang tersurat,

dalam kitab suci sarasamuçcaya.

Kutipan di atas sangat jelas menggambarkan bahwa, pengarang Geguritan Dharmawisesa memuja dua orang paóðita besar (maha kawi), agar beliau berkenan memberikan anugerah di dalam menggubah kitab Sarasamuçcaya ke dalam bentuk geguritan dengan maksud, agar para pembaca khususnya si pengarang disucikan kekotoran batinnya (dasa mala), dan juga terhadap siapa saja yang telah membaca karya-karya maharsi Wyasa dan Wararuci. Keutamaan dan keagungan kitab Asta Dasa Parwa atau kitab Mahabharata, dapat menerbangkan

kekotoran yang melekat pada diri seseorang, sehingga menjadi orang yang mampu mengenal dirinya. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini:

Luir wakyan Sang Hyang Asta Dasa Parwa, ngampehang malaning hati,

mawak bayu bajra, madangi panoning wang, manuduh enu haradin, ngungsira dharma, kasampurnan pati urip. (Dharmawisesa, I.10). Terjemahannya:

Betapa mulianya ajaran di dalam kitab Asta Dasa Parwa (Mahabharata), melenyapkan kekotoran batin,

berbadankan angina topan,

memberikan pandangan yang jelas kepada setiap orang,

memberikan petunjuk hidup dan selalu tertarik untuk membaca, menuju kebenaran sejati,

kesempurnaan dalam menghadapi hidup maupun kematian.

Bila dicermati kutipan di atas, siapa saja yang membaca dan menghayati, mengamalkan isi kitab Mahabharata, batinnya akan bersih, akan memiliki pandangan hidup yang jelas, dan tidak ragu ataupun takut di dalam menghadapi kematian. Dengan begitu agung dan mulianya kandungan kitab Mahabharata, maka pengarang Geguritan Dharmawisesa bermaksud mensosialisasikan (apunyang katha) kepada khalayak intisari ajaran Mahabharata ( kitab Sarasamuscaya) dalam bentuk geguritan. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini :

Mangke kareping ngwang apuniyang katha, nganutin de baca tasni,

maweh si katunan, dumadak kahidepa,

sadadaging punang prakerti, nging ampurayang,

kimuda mambek ririh ( Dharmawisesa, I.11) Terjemahannya :

Sekarang ini saya berkeinginan menyumbangkan ide, mengikuti keinginan yang sedang haus kebenaran,

semoga dapat memberikan sumbangan kehadapan orang yang haus ajaran kebenaran,

mudah-mudahan tercapai,

segala yang diharapkan bersama, etapi mohon dimaafkan,

orang pemalu dan bodoh berpura-pura pintar.

Insiden di atas menggambarkan keinginan si pengarang Geguritan ikut berperan serta di dalam menyubangkan karya-karyanya, dan juga si pengarang sangat berharap agar karyanya mampu memberikan secercah sinar bagi mereka yang haus akan tuntuan ajaran agama. Tetapi si pengarang dengan tulus dan rendah hati menyatakan diri orang yang pemalu dan berpura-pura tahu sesuatu.

Beranjak dari kutipan di atas, si pengarang kemudian memulai gubahannya di awali dengan Bhagawan Wesampayana menceriterkan kisah Mahabharata kehadapan Raja Janamejaya, yaitu raja terakhir keturunan Pandawa di Hastina Pura. Bhagawan Wesampayana menjelaskan, bahwa segala ajaran yang sangat sempurna telah tersirat di dalam kitab Mahabharata, dan segala yang tidak ada di dalam Mahabharata, di tempat manapun di dunia ini juga tidak ada. Hal tersebut dapat dilihat di dalam kutipan di bawah ini :

Uduh anaku saluir warah-warah, pidartan catur wargi,

separi polahing. katekaning ambeknia, suba ada mungguh dini, pragat makejang,

sakancane ada dini (Dharmawisesa,I.15). Terjemahannya:

Wahai putraku segala ajaran yang utama, yang mengajarkan tentang empat tujuan hidup,

termasuk segala perilakunya, dan juga pemahamannya, segalanya telah ada di sini,

sudah sangat sempurna seluruhnya, segalanya tersedia di sini.

Selanjut dalam kutipan berikut dijelaskan sebagai di bawah ini: Yan wilang sarwa tumuwuhe makejang,

sok I jadma manusaki,

ada milu nuturang sakeng ya nulad, nging yan tan mungguh i riki, lianan masih nora,

wentene atetiron,

ruruh ring aksara sami, pragat makejang, tong ada buin ngalangkungin

(Dharmawisesa,I.16).

Terjemahannya:

Jika disebutkan segala yang hidup di muka bumi,

hanya manusialah, yang ikut menceriterakan hanya karena ikut-ikutan, tetapi jika tidak ada tersirat di sini,

di tempat lainnya juga tidak ada,

adanya hanya karena mengutip dan meniru, jika dicermati di segala ajaran,

tiada yang melebihi ajaran dari Mahabharata.

Bhagawan Wesampayana menjelaskan tentang kesempurnaan dari Mahabharata, inti ajarannya adalah rasa syukur kehadapan Tuhan, karena ditakdirkan lahir sebagai manusia. Hanya manusia yang dapat merobah nasibnya sendiri dan hanya manusialah yang mampu melaksanakan amal baik dan buruk. Oleh karena itulah hendaknya manusia dapat berbuat subha karma (amal baik) semasih di dunia ini. Hal ini dijelaskan di dalam kutipan di bawah ini:

Krana eda ya sanget nyebetang, diastu nista tur miskin,

tumbuh dadi jadma, dingelahe da ya bangga,

keneh gede ajum mangengkig, apanga sama,

pitwi candalayoni. (Dharmawisesa,I.18) Terjemahannya:

Oleh karena itu janganlah sangat bersedih,

meskipun dilahirkan menjadi orang hina dan miskin, dilahirkan sebagai manusia,

pada waktu punya janganlah terlalu bangga, besar kepala dan conggkak,

agar sama,

meskipun pada waktu tertimpa duka.

Mengapa manusia dikatan mulia dan utama ? Karena hanya manusia saja yang mampu melebur segala kejahatannya dengan melaksanakan karma mulia. Hal ini dapat diuraikan di dalam kutipan berikut ini:

Sangkan ya kinucap paling utama, luwihe baannya uning,

nglebur papa neraka, darsanane karma melah, sapolah mangawe asih, ento prasida,

utamane dadi alih. (Dharmawisesa,I.19). Terjemahannya:

Mengapa manusia dikatan paling utama? utama karena manusia tahu,

memusnahkan segala dosa,

dengan jalan melakukan perbuatan baik, segala tindakan mencerminkan kasih, hanya itu yang mampu,

menyeberangi lautan dosa.

Dijelaskan juga bahwa, orang yang tidak memiliki amal baik sepanjang hidupnya, orang demikian diibaratkan sama dengan orang sakit dalam perjalanan jauh dan tidak ada orang yang mau menolong. Jika meninggal, orang itu tetap akan disiksa. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan di baah ini:

Jadma ane tan madrue kerti melah, taban lara ring kapatin, pejah pwa ya sira, sama tekaning wang lara,

lunga mareng dura desi, tanpa ubad,

salampah laku sedih kingking (Dharmawisesa,I.20). Terjemahannya:

Orang yang tidak memiliki amal baik, sampai matipun akan selalu disiksa, ibaratkan orang menderita,

ia melakukan perjalanan jauh, tanpa berbekal obat,

sepanjang perjalanannya akan selalu menderita.

Insiden selanjutnya, adalah ajaran tentang cara memdapatkan kekayaan harta benda. Diajarkan bahwa, harta yang didapat hendaknya selalu berlandaskan dharma. Jika sudah berlandaskan dharma, sudah dipastikan akan mendapatkan kebahagiaan. Hal ini diuraikan dalam kutipan seperti di bawah ini:

Yan misadyayang harta lan kasukan, kadharman anggon nyalarin, ayu kapangguha,

pan saking dharma sadana, sangkan pucukang,

kadharmane malu jalanin (Dharmawisesa,I.27). Terjemahannya:

Jika menginginkan harta dan kebahagiaan, hendaknya didasarkan atas jalan dharma, pasti menemukan kebahagiaan,

karena didapat melalui jalan yang benar,

mendapatkan harta dengan jalan dharma pasti utama, itulah sebabnya harus diutamakam,

yang dinamakan kebenaran itu terlebih dahulu dilaksanakan.

Ajaran agama manapun di dunia ini, pasti mengajarkan pemeluknya untuk saling mengasihi. Hanya dengan cinta kasih, kebenaran atau dharma dapat

diwujudkan dengan baik. Sanghyang Dharma adalah ajaran kebenaran, ajaran agama yang harus diyakini dan diimplementasikan di dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dharma adalah Sanghyang Catur Weda. Hal ini dilihat dalam kutipan berikut ini:

Sruti araning Sanghyang Catur Weda, Smerti Hyang Dharma aji,

ida pramana akna, urut mawarahira, saka luiraning pamargi, yan tuhu satya,

alep hyang dharma prawerti. (Dharmawisesa,I.55)

Terjemahannya:

Yang dinamakan Sruti adalah Sanghyang Catur Weda, Smerti adalah Dharma, itu patut dihayati,

ikuti segala ajaran-ajarannya, sepanjang hidup,

jika benar-benar setia,

akan menampakkan diri Tuhan dalam diri.

Dari ajaran-ajaran yang tersirat di dalam kitab suci Weda melahirkan Catur Warna, yang mengatur tentang tata krama di dalam pergaulan hidup. Dari Catur Warna melahirkan Catur Asrama, yaitu empat tingkatan hidup yang sudah pasti akan dilalui oleh umat manusia. Mengenai hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut di bawah ini:

Sanghyang Weda ngadakang Catur Warna, tingkahing utpati,

saupacara suang, samangkana tikang rat, miwah sang Catur Asrami, maka luir ira,

makadi Sang Brahmacari. (Dharmawisesa,I.56) Terjemahannya:

Sanghyang Weda melahirkan Catur Warna, yang mengatur perilaku hidup,

termasuk segala tingkatannya,

demikianlah dalam kehidupan di dunia, kemudian lahirlah Catur Asrama, antaranya,

Sang Brahmacari.

Lebih lanjut diuraikan tentang pembagian Catur Asrama, setelah Brahmacari adalah sebagai berikut ini:

Grhasta wanaprasta lan biksuka, punika kawikon luih, tataging tri pada, mawastu wus dadia,

wastu ya sedengan malih, wastu yangken dadia, sakeng Weda tekania sami. (Dharmawisesa,I.57). Terjemahannya:

Grhasta, Wanaprasta dan Bhiksuka,

itu ajaran kebijaksanaan yang sangat utama, gunakan tri pada sebagai penyangganya, sudah pasti berhasil,

semoga bermanfaat, semoga selalu dipelajari,

semuanya itu bersumber dari Weda.

Selanjutnya dijelaskan tentang betapa sempurnanya ajaran Weda, yang harus dijadikan pedoman oleh umat manusia di muka bumi ini.

5.3.1.2 Alur atau Plot

Setelah memahami aspek insiden Geguritan Dharmawisesa, maka analisis plot atau alurnya dapat dilakukan dengan lebih mudah, karena insiden secara implisit telah terkandung dalam plot. Dengan kata lain, analisis insiden akan dapat menggambarkan atau mendukung analisis plot. Hal ini sejalan dengan pendapat

Wallek dan Warren, bahwa plot dibangun dari insiden-insiden yang lebih kecil, insiden dan perwatakan (1962: 217).

M.S Hutagalung (1967:217) menyatakan bahwa, alur atau plot diartikan sebagai jalinan cerita , yakni bagaimanakah si pengarang menyusun peristiwa- peristiwa dalam ceritanya itu bersebab akibat dan peristiwa itu hendaknya merupakan akibat logis dari suatu peristiwa sebelumnya. Pendapat lain juga menyatakan bahwa, alur itu merupakan sambung sinambung peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat, alur tidak mengemukakan apa yang terjadi, melainkan menjelaskan mengapa hal itu terjadi (Lukman Ali, 1967:120).

Panuti Sudjiman menjelaskan bahwa, alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimak dan selesai ( 1986:4). Sedangkan A Teeuw menjelaskan bahwa, alur atau plot merupakan keseluruhan urutan peristiwa dalam cerita rekaan yang secara sadar disusun selogis mungkin, sehingga urutan tersebut meupakan rangkaian sebab akibat (1984:130).

Mursal Esten, menjelaskan tentang pembagian alur menjadi dua bagian, yaitu alur erat dan alur renggang. Alur erat adalah peristiwa jalinan yang sangat padu di dalam suatu karya sastra, sedangkan alur renggang adalah jalinan peristiwa yang tidak padu dalam sebuah karya sastra. Lebih lanjut dijelaskan, alur cerita rekaan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu : alur buka, alur tengah, alur puncak, dan alur tutup. Alur buka yaitu situasi mulai terbentang sebagai suatu kondisi permulaan yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya. Alur tengah adalah suatu kondisi mulai bergerak ke arah kondisi yang mulai memuncak. Alur puncak

adalah kondisi mencapai titik puncak sebagai klimak peristiwa. Alur tutup adalah kondisi yang memuncak sebelumnya mulai menampakkan pemecahan masalah atau penyelesaian.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa, yang dimaksud alur atau plot mempunyai kaitan yang sangat erat dengan jalan cerita tetapi harus dibedakan. Dapat dikatakan plot sebagai tulang punggung dari sebuah cerita harus selalu ada. Cerita tanpa plot tidak akan menarik.

Dari permulaan atau (beginning) yang tertuang di dalam Geguritan Dharmawisesa ada disebutkan katalimat durmita pangataging kali yuga, yang berarti suatu ceritera diawali dengan peristwa datangnya jaman kali yuga, mungkin yang dimaksud adalah pemberitahuan awal tentang kacaunya tatanan kehidupan di dunia. Di samping atau ada juga penyampaian rasa rendah hati si pengarang, dengan menggunakan kaliamat swastyastu kanugraha paripurna, sang ngamaca tattwa iki, yang artinya semoga selalu dalam keadaan baik dan sempurna, siapapun yang berkenan membaca hasil karya si pengarang Geguritan ini.

Di lain pihak, tidak ada disebutkan nama seoarang raja yang bertindak sebagai pelindung dalam permulaan (beginning) tersebut, namun sang kawi menyebutkan dua orang pujangga besar pada jaman Weda yang sangat dihormati, dan pujangga tersebut adalah seorang Adikawya atau muniwara yang sangat muliat dan utama, beliau adalah Bhagawan Wyasa dan Bhagawan Wararuci. Bhagawan Wyasa adalah di samping mengkodifikasi dan menghimpun Catur Weda Samhita, beliau juga sebagai pengarang kitab Mahabharata, sedangkan Bhagawan Wararuci merupakan mahamuni yang menyimpulkan ajaran-ajaran di dalam Mahabharata

yang dinamakan kitab Sarasamuçcaya. Kehadapan kedua pendeta tersebut si pengarang memohon anugerah, agar karya yang disusunnya dapat melebur sepuluh kekotoran (dasa mala) yang ada pada diri manusia. Diyakini oleh pengarang, bahwa dengan membaca Mahabharata dan Sarasamuçcaya secara berkali-kali akan berpahala besar, bahwa si pembaca memperoleh kesucian diri dan kesempurnaan hidup.

Biasanya sebelum beginning itu ditulis untuk menyebutkan hal-hal yang harus disebutkan dalam beginning, ada kata lain yang secara tradisioanal sudah menjadi kebiasaan untuk menuliskannya, baik itu dalam naskah Bali maupun kakawin Jawa Kuno, yaitu kata Om Awighnamastu Nama Sidem, yang bermakna untuk memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Agung, agar tiada aral melintang selama si pengarang menggubah karangannya. Penulisan kata tersebut merupakan konsep yang bersifat konvensional. Kata tersebut merupakan kata pembuka sebelum bait-bait yang memuat pada permulaan yang dituliskannya.

Dalam dokumen 218071996 Tesis Bu Sayang. doc (Halaman 97-109)

Dokumen terkait