• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar

Dalam dokumen 218071996 Tesis Bu Sayang. doc (Halaman 117-123)

BAB V BENTUK GEGURIT AN DHARMAWISESA

5.5 Latar

Latar dapat diartikan sebagai salah satu unsur sastra yang berhubungan dengan tempat, keadaan, dan waktu terjadinya peristiwa dalam sebuah cerita. Latar atau setting merupakan gambaran tempat dan waktu atau segala situasi di tempat terjadinya peristiwa. Latar yang baik selalu dapat membantu elemen-elemen dalam cerita seperti plot dan perwatakan. Latar bukanlah sekedar pelukisan waktu dan tempat. Suatu adegan sedih akan lebih terasa bila ditopang oleh lukisan suasananya, seperti awan mendung, kesunyian, dan sebagainya. Untuk melukiskan latar yang baik, tergantung pada kekuatan pelukisan dari pengarang pula. Tergantung dari daya imajinasi pengarang. (Hutagalung, 1967:103).

Pendapat lain mengatakan latar adalah keseluruhan lingkungan cerita termasuk adat istiadat, kebiasaan, pandangan hidup tokoh. Di samping itu latar juga berarti tempat terjadinya peristiwa dalam cerita dan waktu berlangsungnya tindakan-tindakan (Abrams Via Sarman, 1984:2). Jadi jelas bahwa pemilihan latar dapat membentuk tema tertentu dan plot tertentu. Latar bisa berarti tempat tertentu, daerah tertentu, dengan watak-watak tertentu akibat situasi tertentu dan zamannya cara hidup tertentu, cara berpikir tertentu, (Joko Sumarjo, 1988:76).

Fungsi latar adalah pertama-tama memberikan informasi tentang situasi (ruang dan waktu) sebagaimana adanya. Selain itu ada latar yang berfungsi sebagai proyeksi keadaan batin para tokoh. Latar menjadi methapor dan keadaan emosional dan spiritual tokoh ( Tjitra Wasita via Panuti Sudjiman, 1992:46). Lebih lanjut dikatakan bahwa latar dapat dipergunakan untuk maksud dan tujuan tertentu, antara lain ; pertama, suatu latar yang dapat dengan mudah dikenal kembali, dan juga yang dilukiskan dengan terang dan jelas serta mudah diingat, biasanya cenderung

untuk memperbesar keyakinan terhadap tokoh dan gerakan serta tindakannya; kedua, latar suatu cerita dapat mempunyai dua relasi yang lebih langsung dengan arti keseluruhan dan di atas yang umum dari suatu cerita. Ketiga, kadang-kadang mungkin juga terjadi bahwa latar itu bekerja bagi maksud yang lebih tertentu dan terarah daripada penciptaan suatu atmosfir yang bermanfaat dan berguna. Latar dalam cerita rekaan tentang nama-nama peristiwa yang terjadi, kerap kali sukar atau tidak dapat dicocokkan dengan tempat-tempat yannnnng ada dalam kenyataan (Sulastin Sutrisno, 1950:53).

Dalam cerita fiksi, latar melukiskan tempat kejadian dan waktu terjadinya kejadian tersebut. Latar erat hubungannya dengan karakter pelakutema cerita, dan dengan unsur-unsur cerita lainnya (Bagus, 1990:50).

Latar sebuah karya sastra berfungsi untuk menghidupkan cerita. Dengan latar yang jelas akan membuat segala yang diangankan pengarang menjadi lebih kongkret. Jadi latar sebagai fisualisasi peristiwa, masalah dan situasi cerita sehingga dengan demikian seakan-akan cerita yang fiktif menjadi suatu yang dapat diindera (Tim Fakultas Sastra dan Kebudayan, Universitas Gadjah Mada, 1981/1982:12).

Hudson membedakan latar menjadi dua, yaitu latar sosial dan latar fisik atau material. Latar sosial mencakup penggambaran masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lainnya yang melatari peristiwa. Latar fisik atau material adalah dalam wujud fisik bangunan, daerah, dan sebagianya.

Pengertian-pengertian latar yang telah dikemukakan di atas, pada dasarnya tidaklah saling bertentangan melainkan saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya. Bertolak dari batasan-batasan tersebut, maka dalam menganalisis latar Geguritan Dharmawisesa ini terdiri atas latar fisik dan latar sosial.

Latar fisik mencakup tempat dan waktu terjadinya peristiwa. Latar sosial mencakup penggambaran masyarakat pendukung cerita. Dalam Geguritan Dharmawisesa ini, tempat peristiwa-peristiwa terjadinya disekitar pasraman Bhagawan Wesampayana. Analisis latar dalam Geguritan Dharmawisesa akan diawali dengan analisis latar fisik, kemudian dilanjutkan dengan analisis latar sosial. Dalam Geguritan Dharmawisesa, latar fisik yang dapat diuraikan kebanyakan perisiwa-peristiwa tersebut berlangsung di asrama (pasraman) Bhagawan Wesampayana, untuk mengajarkan tentang Purusa Artha dan keutamaan dari Mahabharata lainnya. Untuk hal tersebut diuraikan dalam kutipan pupuh Pangkur seperti di bawah ini:

Kedarmanikang Brahmana,

mangajiya mayadnya dana punia di, matirta lan mapitutur,

mwang wikwaningayadnya,

lawan mananggapa dana ring ayu, puputing sapta darma,

bratanira roras siki (Dharmawisesa, II.3) Terjemahannya:

Swadharma atau kewajiban brahmana,

belajar melaksanakan yajna dam terutama dana punia, melaksanakan pemujaan dan sebagai sumber ilmu, dan menguasai ilmu tentang yajna,

dan juga dapat menentukan hari baik dalam melaksanakan dana punia, dan menguasai sapta darma,

Dari kutipan di atas dapat terlihat bahwa latar dari Geguritan Dharmawisesa adalah di pasraman sang pandita, beliau didatangi oleh seorang siswa untuk mendapatkan tuntunan kehidupan dan siraman rohani di pasraman. Hal ini dilakukan oleh Maharaja Janamejaya di pasraman Bhagawan Wesampayana. Di pasraman ini Maharaja Janamejaya memohon agar dijelaskan lebih lanjut kewajiban Catur Warna di muka bumi ini. Hal ini dapat dilihat dari kutipan di bawah ini :

Pretekanikang brata,

darma satya tapa dama yajna erih, wimatsaritwa puniku,

titiksa anasuya,

dana dreti ksama samipipun, punika dahat pawitra,

pasucian brahmana jati. (Dharmawisesa, II.4). Terjemahannya:

Adapun brata seorang brahmana,

darma satya tapa dama yajna dan piwelas asih, dan wimatsaritwa, titksa dan anasuya,

dana dreti ksama demikian itu, itulah pembersihan sangat utama, pasucian seorang brahmana jati.

Kutipan pupuh berikutnya adalah sebagai berikut ini: Darma satya tegese pagwan,

tapa aran sarira sang sosani, manesin sariranipun,

miyerin kawisayan,

mwang dama upasama dening tutur, yajna ika demen mamuja,

mademang erang ngaran erih (Dharmawisesa, II.5) Terjemahannya :

Yang dimaksud dengan darma satya adalah selalu dipercaya, tapa berarti mengendalikan hawa nafsu,

menahan diri untuk dapat menahan emosi, menghilangkan nafsu jahat,

dan sangat lemah lembut dan selalu memberi maaf,

yang dimaksud yajna adalah sangat senang melakukan persembahan, mampu mengendalikan emosi disebut erih.

Wimatsaritwa wastannya, nora iri lan titiksa twara pedih, anasuyane puniku,

tan nyakitin lan midanda, dana bares miwah dreti puniku, ia ngaran mapeningan,

ksama sami panas tis. (Dharmawisesa, II.6). Terjemahannya :

Yang dimaksud dengan wimatsaritwa,

tidak iri dengan orang lain titiksa tidak marah, dan anasuya artinya,

tidak menyakiti dan tidak menghukum, dana berarti sangat sosial dan dreti adalah, selalu berpikiran suci,

sama dalam suka dan suka.

Selanjutnya Maharaja Janamejaya memohon untuk menjelaskan kewajiban ksatria, adalah sebagai berikut ini:

Ksatria ulahira,

amuja Sanghyang Weda lana malih,

nitya gniotra puniku, miwah mogawe yajna, ngraksa jagat ring panjak priksa ngrungu, ring kadang warga ya dana,

yan keto swarga kapanggih. (Dharmawisesa, II.7),

Terjemahannya:

Kewajiban ksatria adalah,

memegang teguh ajaran Weda dan mentaatinya, selalu melakukan pemujaan kepada dewa ageni, dan melaksanakan upacara yajna,

memelihara lingkungan dan mengayomi masyarakat, dan juga kepada fakir miskin agar diberikan bantuan, jika seperti itu surga akan dijumpai.

Kemudian Bhagawan Wesampayana menyampaikan swadharma dari wesia, yaitu seperti kutipan di bawah ini:

Ulahira sang Wesia,

mangajia maring sang brahmana jati, ring ksatria tumungkul,

ring dina kala madana,

lan dina melah miwah demen matetulung, suka lila mangastawa,

ring Ida Sang Hyang Tri Ageni. (Dharmawisesa, II.8)

Terjemahannya:

Swadharmanya Wesia,

belajar kepada sang Brahmana jati, dan kepada ksatria patut hormat,

dan pada hari-hari tertentu hendaknya berdana punia, dan juga pada hari-hari baik dan suka membantu, senang melakukan pemujaan,

kehadapan Ida Sang Hyang Tri Ageni.

Bhagawan Wesampayana kemudian menguraikan secara rinci tentang tri ageni, sesuai dengan kutipan pupuh pangkur di bawah ini:

Sanghyang tri ageni aranya, api tetelu luir Ahawaniyageni, punika anggon mapumpun, lan ngaran grhaspatya,

gni saksi ring pawarangan puniku, citageni pangeseng sawa,

yaning tuhu manggih swargi. (Dharmawisesa, II.9).

Terjemahannya :

Yang dinamakan Sanghyang Tri Ageni, tiga jenis api antaranya ahawaniageni, api yang dipakai untuk memasak, api grhaspatya namanya,

adalah api yang berfungsi sebagai api pada waktu pernikahan, api cita geni adalah untuk membakar mayat,

Kemudian dilanjutkan dengan Swadharma warna Sudra, sesuai dengan kutipan pupuh di bawah ini:

I Sudra malaksana baktya,

sumewa ring sang tiga munggweng aria, nggawe tustan sang ketelu,

mangkana ambeking sudra, dadi supat papa nrakannia lebur, amanggih kasida karyan, keto patut sang eka jati. (Dharmawisesa, II.10), Terjemahananya:

Kewajiban Sudra adalah harus selalu bakti,

mengabdikan diri dengan tulus kepada ketiga golongan itu, menjadikan senangnya ketiga golongan,

demikian kewajiban sudra,

jika demikian papa dan dosa terhapuskan, menemukan keberhasilan dalam usaha, seperti itu sesungguhnya kewajiban ekajati.

Berdasarkan kutipan - kuitipan di atas dapat disimpulkan bahwa latar di atas mencakup latar personal dan sekaligus latarsosial antara Bhagawan wesampayana dengan Prabu Janamejaya yang terjadi dilingkungan pasraman sang Guru dengan nuansa yang harmonis.

Dalam dokumen 218071996 Tesis Bu Sayang. doc (Halaman 117-123)

Dokumen terkait