BAB V BENTUK GEGURIT AN DHARMAWISESA
5.2 Sinopsis Geguritan Dharmawisesa
Pengarang geguritan Dharmawisesa mengawali gubahannya dengan tembang (pupuh) Durma mengisahkan tentang datangnya jaman kali yuga. Pengaruh jaman kali yuga ini mengakibatkan tatanan tata karma dan kehidupan di muka bumi sangat kacau. Sehingga kehidupan di muka bumi terasa durgama yaitu mengerikan. Akibat pengaruh jaman kali yuga ini, tiga karakter manusia yang dinamakan tri guna berubah menjadi tri mala, dan dari tri mala melahirkan tri modaning hati, tiga sifat angkara yang membara, yaitu cepat marah, cepat tersinggung, dan merasa paling benar.
Seseorang akan dapat menyelamatkan diri, apabila mereka selalu waspada akan dirinya, mengikuti petunjuk dharma, selalu memuja sanghyang suksma (Tuhan Maha Gaib) yang bersemayam di dalam hati setiap orang. Dan agar selalu mengikuti ajaran yang tersirat dan tersurat di dalam kitab Asta Dasa Parwa, ajaran dalam Asta Dasa Parwa dianggap mampu menerbangkan segala kekotoran dalam pikiran manusia.
Pengarang juga memohon arahan, bimbingan, dan tuntunan kehadapan Sang Paóðita maha besar, yaitu Bhagawan Wyasa penyusun kitab Asta Dasa Parwa dan Bhagawan Wararuci penyusun kitab Sarasamuçcaya, yang merupakan intisari dari ajaran Asta Dasa Parwa. Tujuan dari pengarang menggubah geguritan
ini adalah untuk dapat berderma (punia) kepada khalayak, namun dengan kerendahan hati pengarang memohon maaf kehadapan para pembaca yang budiman.
Dikisahkan Bhagawan Waisampayana, sedang memberikan penjelasan kehadapan maharaja Janamejaya tentang kisah Mahabharata (asta dasa parwa) yang patut selalu dipelajari kemuliaan ceritanya. Dijelaskan oleh Bhagawan Waisampayana, bahwa segalanya telah ada terkisahkan dalam kitab asta dasa parwa, apa yang ada di lain tempat, di sini (Mahabharata) juga ada, dan apa yang tidak ada di sini, di tempat lain juga tidak ada.. Juga dijelaskan, di antara sekian banyak ciptaan Tuhan, hanya manusia yang memiliki kewenangan nyupat (membersihkan) dosa dan nestapanya dengan melaksanakan perbuatan baik. Itulah sebabnya manusia dikatakan sakti dan utama. Dikatakan sakti karena, hanya manusia yang dapat menolong dirinya dari derita, dan dikatakan utama karena, hanya manusia yang dapat menentukan perbuatan baik dan tidak baik. Seseorang yang tidak meiliki perilaku baik, pada waktu meninggalnya sangat menderita, bagaikan orang sakit yang sedang mencari obat ke luar daerah, sudah pasti sangat tersiksa selama dalam perjalannya.
Dikisahkan, terdapat orang yang tidak mau menghiraukan ajaran dharma, mereka itu hanya tekun menghamba kepada harta benda dan uang, pikirannya sangat serakah, ada juga perilaku manusia lainnya yang selalu melanggar dharma, tidak berusaha mengurangi dosa-dosanya, mereka-mereka seperti itu pasti akan ditimpa bencana. Untuk mendapat harta dan kekayaan hendaknya berdasarkan atas dharma, agar mendapatkan keselamatan. Hendaknya perilaku menjadi manusia
mulia yang dituju, memberi dana punia dengan tulus, menjadikan orang lain senang hatinya. Orang yang gemar berderma atau bersedekah (madana punia), pahalanya tidak akan diterima oleh ayah ibunya, pahala bagi orang yang berdana punia dinikmati oleh mereka yang berdana punia, adapun pahala dari tyaga dana adalah menemukan upabhoga yaitu berlimpah-limpahnya sandang pangan, pahala orang mengabdi kepada kebayan (sulinggih), akan mendapat ajaran weda yang mulia, selalu akan mendapatkan pelajaran tentang budi pekerti, pahala yang didapatkan jika bersahabat dengan orang yang tidak senang menyakiti sesama adalah berumur panjang, demikian sabda sang pandita. Pahala bagi orang yang menguasai sanghyang aji (ilmu) adalah rahayu (selamat) dalam hal sila dan acara. Sila artinya perilaku mulia, dan acara berarti kemasyuran, demikian disebutkan dalam sastra. Harta itu akan tidak bermanfaat, apabila tidak di dana-punia-kan, dan juga tidak untuk dinimati, tiada berguna juga apabila memiliki kesaktian yang hebat, apabila tidak menang di dalam peperangan. Juga tiada berguna banyak ilmu apabila tidak dipergunanakan untuk membela kebenaran, dan budi pekerti mulia tiada berguna apabila tidak mampu menundukkan sifat-sifat rajas dan tamas, demikian juga orang yang kaya akan perhiasan emas, apabila tidak didermakan kepada orang-orang miskin, orang seperti itulah yang disebut mati meskipun sesungguhnya dia hidup. Abaya dana berpahala sangat tinggi karena mampu memberikan perlindungan kepada orang yang ditimpa bencana, dana punia yang dilaksanakan dengan lascarya tulus yang seiklas-iklasnya, dana itulah yang mengalahkan segala macam dana punia lainnya. Ada juga pahala dana punia yang lain yang nilainya setimpal dengan abayadhana yaitu berdana punia dalam wujud
desa, kala agama, ksetra, drewe, data, manah. Yang dinamakan desa adalah punia berupa tanah, atau bumi diperuntukkan untuk tempat ibadah atau tempat tinggal, kala berarti berdana punia berdasarkan hari- hari baik (suba dewasa), menurut ajaran Hindu hari yang baik untuk berdana punia adalah pada waktu mata hari condong ke utara atau berada disebelah utara garis katulistiwa (uttarayana). Agama berarti berdana punia hendaknya mengikkuti petunjuk-petunjuk agama dan berdasarkan sastra-sastra agama, ksetra yaitu si penderma iklas mendermakan miliknya, drewe artinya benda-benda yang didermakam adalah hak milik, data artinya orang yang memberikan derma sangat merasa senang dengan apa yang didermakannya, dan manah adalah pikiran yang suci dan merasa terpanggil untuk berderma.
Orang yang memberi punia dalam bentuk makanan (nasi), itu dinakan punia dalam tingkat kecil (sederhana), orang yang berdana-punia berupa emas pada hari- hari yang ditentukan, itu adalah tingkatan dana tahap kedua, kedua dermawan itu akan mendapatkan surga. Yang tergolong hari-hari baik di dalam melakukan dana punia adalah daksina yana, yaitu pada waktu matahari berada di selatan katulistiwa, uttarayana, yaitu matahari di utara katulistiwa, sada siti muka, yaitu pada waktu gerhana matahari ataupun pada waktu gerhana bulan, jika pada waktu-waktu itu melakukan dana punia akan berpahala sangat tinggi mutunya. Meskipun wujud dana punia itu sangat sedikit, namun sangat diperlukan oleh orang yang menerimanya, itu juga berbobot besar, meskipun dana punia yang diberikan sangat banyak dan berkualitas, tetapi yang berdana-punia mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan, tiada berpahala dana seperti itu.
Memberikan dana punia jangan sembarangan, atau memberikan dana punia kepada orang yang jahat, disarankan juga agar tidak menerima dana punia dari orang yang tidak sadu, yaitu orang mulia. Yang patut diberikan dana punia adalah orang miskin dan orang-orang cacat. Jangan pula memberikan dana punia kepada orang kaya, memberikan obat-obatan kepada orang yang tidak meminta obat, tetapi jangan sampai menolak memberikan sesuatu kepada pengemis yang datang meminta- minta ke rumah.
5.3 Insiden dan Alur