• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur Formal Geguritan Dharmawisesa

Dalam dokumen 218071996 Tesis Bu Sayang. doc (Halaman 123-200)

BAB VI STRUKTUR GEGURITAN DHARMAWISESA

6.1 Struktur Formal Geguritan Dharmawisesa

Rasa dalam tradisi ritual Bali terutama diungkapkan dengan sekar ‘bunga’. Bunga yang indah itu dipetik , ditata, lalu dipersembahkan. Di samping sekar

sebagaimana adanya, sekar juga berarti tembang sebagaimana dimaksud dalam istilah sekar alit, sekar madia, dan sekar ageng dalam tradisi sastra Bali tradisioanl (Sugriwa, 1977:6 ; Suarka, 2007: 259 ; Sukayasa, 2010 : 127). Sekar dalam wujud puisi ini pun dipersembahkan, baik kepada istadewata ‘dewa pujaan’ maupun kepada masyarakat untuk dinikmati bersama.

Geguritan Dharmawisesa sebagai sebuah sekar diciptakan berdasarkan kaidah estetik sekar alit yang di Jawa popular dengan nama macapat. Menurut Padmosoekotjo (dalam Laginem, 1996:14) konvensi macapat adalah guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu atau jumlah larik dalam bait, jumlah suku kata dalam larik, dan bunyi suku kata akhir larik (Zoetmulder, 1983;143; Suarka, 2007:241). Kaidah prosodi tersebut di Bali disebut padalingsa’rima’.Padalingsa dan reng ‘irama’ yang meliputi nada, tempo dan dinamik suara adalah tuntunan, baik dalam proses penciptaan maupun dalam pembacaan atau nembangang ‘melagukan’. Kaidah pembacaan ditentukan menurut kaidah macapat. Macapat artinya membaca teks geguritan menurut pedhotan ’penjedaan’ pemenggalan irama’ dalam pola empat suku kata (Saputra, 1992:276; Laginem, 1996:79). Penembang dalam membuat variasi nada dan irama tembang yang disebut cengkok - wilet, mengatur keras - lemahnya suara yang disebut ngees-nguncab, dan mengatur nafas yang disebut ngunjal angkihan (Suarka, 2007:271) dengan mengutamakan pembacaan empat suku kata. Notasinya menurut laras’ tangga nada’ tembang: pelog atau slendro. Titi nada dasarnya adalah sebagai berikut ini:

Tabel 6.1 Laras Pelog atau patutan Gong

Dibaca (n) ding (n) dong (n) deng (n) dung (n) dang Rendah I O E U A

Sedang i o e u a Tinggi i o e u a

Not Angka 3 4 5 7 I (Suarka, 2010 : 128)

Tabel 6.2 Laras Slendro atau patutan Gender

Dibaca (n) ding (n) dong (n) deng (n) dung (n) dang Rendah I O E U A Sedang i o e u a Tinggi i o e u a Not Angka 1 2 3 5 6 ( Suarka, 2007:268)

Titi nada dasar tersebut digunakan untuk mengungkapkan paca pariring ‘nada dasar’ tembang yang digunakan dalam Geguritan Dharmawisesa. Patokan nada dasar geguritan umumnya ditentukan dengan nada sedang. Kemampuan penembang dalam ngengkal ‘olah suara’, yakni dengan mengombinasikan sengkok- wilet , ngees- nguncab, dan ngunjal angkihan yang harmonis membuat alunan suara dalam tembang menjadi sangat indah (Suarka, 2007:272).

Padalingsa dan reng adalah unsur metrum. Metrum, selain berfungsi sebagai pengatur tiap jenis tembang, juga berfungsi sebagai ciri pembeda dan penentu nuansa tembang yang satu dengan tembang yang lainnya. Kumpulan bait dengan tembang tertentu dalam sekar alit dalam penelitian ini dinamakan pupuh. Pupuh sering diartikan sama dengan tembang, misalnya pupuh Sinom, pupuh Pangkur. Dalam Kamus Bali-Indonesia (Warna, 1990:557) pupuh diartikan bentuk lagu yang terikat oleh padalingsa. Jadi, sama dengan metrum. Sementara itu, tembang berarti lagu, tembang Sinom berarti lagu Sinom.

Geguritan Dharmawisesa dibangun dengan 7 tembang dan di antara ketujuh tembang itu terdapat pengulangan penggunaan pupuh, sehingga

keseluruhannya berjumlah 11 pupuh, yaitu tembang Durma, Pangkur, Sinom, Dangdang Gendis, Semarandana, Ginanti, Durma, Pangkur, Sinom. Dangdang Gendis, Magatruh, dengan jumlah bait seluruhnya 535 bait. Frekuensi penggunaan tembang dalam Geguritan Dharmawisesa yang diteliti ini dapat dilihat dalam tabel berikut di bawah ini:

Tabel 6.3 Frekuensi Penggunaan Tembang dalam Geguritan Dharmawisesa

Peringkat Tembang Jumlah Bait I Durma 75 II Pangkur 46 III Sinom 69 IV Dangdang Gendis 61 V Semarandana 49 VI Ginanti 51 VII Durma 69 VIII Pangkur 43 IX Sinom 21 X XI Jumlah Dangdang Gendis Magatruh 11 38 11 535 6.1.1.1 Tembang Durma

Dalam Geguritan Dharmawisesa dikisahkan bahwa akibat dari pengaruh jaman Kaliyuga tidak putus-putusnya masalah yang bermunculan, sampai menimbulkan perang dan bencana yang sangat mengerikan. Manusia sangat susah mencari nafkah, bahkan kejahatan manusia semakin tidak terkendali. Dunia menjadi kacau dan sangat mengerikan. Bhatara Kala sampai kekenyangan memakan manusia yang tiada mengindahkan tata karma kemanusiaan . Manusia telah menjadi rendah martabatnya akibat diperbudak oleh materi dan keserakahan

dirinya. Hutan-hutan dan isi bumi lainnya dieksplorasi secara berlebihan, perut bumi dikuras, dan alam mejadi murka, alam tidak bersahabat lagi dengan manusia, akibat dari ulah manusia itu sendiri. Dalam konteks seperti inilah Kontoran memilih tembang Durma untuk menembangkan kisah yang dibangunnya.

Menurut Winter (dalam Sukayasa, 2010:141) mengartikan kata durma berasal dari kata Jawa yang berarti harimau. Sesuai dengan arti tersebut Durma berwatak bersemangat, keras, dan ganas. Digunakan untuk mengungkapkan kemarahan, kejengkelan, dan membangkitkan semangat juga kepahlawanan. Berikut kutipan dua contoh pupuh Durma yang merupakan bait pertama dan kedua yang mengawali struktur Geguritan Dharmawisesa ini, adalah sebagai berikut ini:

Durmita pangataging kaliyuga, tan mari punang wiyadi,

tekang perang adbhuta, oreg praja mandala, tar winilang kang wibogi, bagna mapasah,

durgama ikang bumi. (Dharmawisesa, I.1) Terjemahannya:

Diceriterakan tentang datangnya jaman Kaliyuga, tiada henti - hentinya persellisihan,

perang dahsyat dan sangat mengerikan, tatanan kehidupan di dunia menjadi kacau, tiada ternilai dan tiada terhitung kehancuran, terkena bencana tiada henti,

dunia sangat mengerikan.

Kutipan berikutnya adalah seperti di bawah ini: Wareg angel Ida Sanghyang Kalantaka, niwakang danda pati,

mwang lara wiyoga, ring sang masadana, moha murka duskerti, kang kinalampahan,

phalania mangke pinanggih. (Dhamawisesa,I.2)

Terjemahannya:

Bhatara sangat puas dan kenyang, memberikan hukuman,

dan menebarkan wabah,

kepada orang yang berperilaku,

moha (mabuk) murka (pemarah dan duskerti (orang yang asubhakarma), hanya dosa yang mereka perbuat,

sekarang dijumpai pahalanya.

Paca pariring berlaras pelog dan padalingsa-nya sebagai berikut:

i o e u . . ./ u u e e. . . ./ i i A A ..../ = 12a Lwir-bas-ka-ra si-na-pu-tan an-da-ka-ra,

e e e a. . ./ i o i i. . . ./ = 8i mo- ga-pe-pet -ring-nga-wya-ti,

i o e i . . ./ e o. . . ./ = 6a tar - pa- non- ti- kang-rat,

i i i i.../ i o i i =8a mang-ka- na- bu - di - ning-ngu-wang,

o i A U. . ./ A i o i =8i wu - ta- te - kping- ka- pri- ha - tin,

i i A A =4a ka- dur- na - yan

e e e a. . . ./ i o i i . . . .// =8i pa- tu- te- no- ra - ka- ak- si

(I.3) Terjemahannya:

Bagaikan matahari yang ditutup oleh awan, tertutup oelh kegelapan hati,

tiada dilihatnya dunia ini, seperti itu gelap hati seseorang, buta dan gelap hatinya,

karena kebenaran tiada tampak.

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa, pengarang menggambarkan pengaruh orang-orang yang hidup pada jaman kaliyuga. Pikiran dan hatinya sangat gelap, manusia sangat jauh dari kebenaran. Namun, pengarang juga membeikan jalan, yaitu hanya dengan sada diri dan membaca kitab Asta Dasa Parwa secara berulang-ulang kali, kegelapan hati dan pikiran akan diterbangkan jauh. Hal ini dapat diuraikan dalam kutipan berikut ini:

Yeki gagelaran nira sang menget, inget ring raga jati,

jatining dharma,

dharmane mawak sunia, nyunia ri telenging hati, hati sukarah,

pasrahe puput nampi.(Dharmawisesa,I.6).

Terjemahannya:

Ini adalah pegangan orang yang sadar, ingat akan kesejatian hidup,

kebenaran akan dharma / agama, dharma (Tuhan) berbadankan sunyi, amat sunyi di tengahnya hati, hati yang membahagiakan,

hanya pasrah menerima.

Dari syair di atas diketahui bahwa tembang durma di samping difungsikan untuk menembangkan kisah yang mencitrakan wirarasa, juga untuk menembangkan kisah yang mengandung nuansa adbhuta rasa ‘ rasa kagum’.

6.1.1.2 Pangkur

Kata Pangkur berarti buntut ‘ekor’. Tembang Pangkur dikatakan berkarakter gagah perwira, bergairah, dan bersemangat. Oleh karena itu, dalam

tradisi macapat di Jawa difungsikan untuk memberi semangat, melukiskan cinta yang berapiapi, dan suasana yang bernada keras (Laginem,1996:17 ; Suarka, 2010 : 144). Berbeda dengan pendapat tersebut, di Bali tembang Pangkur digunakan untuk melukiskan kesedihan atau suasana hati yang lagi bimbang atau gelap batin.

Ketika melukiskan tentang betapa rahasianya dharma atau kebenaran itu, ‘liwat sawat eweh lingganing hyang dharma, parama suksma awingit’, luir kadi tampak iwak malakweng toya’. Kontoran menggunakan pupuh Pangkur untuk menembangkan kisahnya. Dalam kisah tersebut dikisahkan bahwa Bhagawana Wesampayana mengajarkan tentang Swadharma (kewajiban sendiri) dan Paradharma (kewajiaban orang lain) terhadap Sang Catur Warna.

Penggalan kisah Geguritan Dharmawisesa bertembang Pangkur adalah sebagai berikut. Bhagawan Wesampayana menjelaskan, dharma harus dicari meskipun susah untuk dilakukan. Dengan melaksanakan kewajiban diri sendiri (swadharma) akan jauh lebih berpahala dharma itu meskipun di dalam menempuhnya tiada sempurna dibanding sukses melakoni pekerjaan orang lain (paradharma), tetapi tiada berpahala. Oleh karen itu, Hindu mengajarkan tentang empat golongan (warna) yang harus menjalankan swadharmanya masing-masing, agar dunia berjalan dengan harmonis. Jika Catur Warna tersebut tidak lagi melakukan fungsinya, maka tatanan kemasyarakatan akan menjadi kacau, hidup manusia tidak terarah lagi, maka kacaulah dunia ini. Beginilah keadaannya dilukiskan dengan tembang Pangkur. Paca pariring dan padalingsa-nya adalah sebagai berikut ini:

Cih-na-ning-a mang-gih-a- la

i o a u. . . ./ =4i ra- tu- we- di

u u u a. . . ./ u e O I =8i brah-ma-na- sar wa- bak- sa- di

I O e u. . . ./ a i a u =8u sang-we- sya- ma ga- we- ma-yus

I I I I . . . ./ e u e e. . . ./ =8a su -dra-me-rih ti -nang-ki-lan

e e I I. . . . / =4a de-ning -i- da

I O e u. . . ./ a i a u. . . . / =8u sang-te - ri- wang sa- pu - ni- ku

I I I I. . . ./ o e u e. . . . / =8a mi-wah-pan-di ta-dur - si – la

e u u a . . . ./ u e o I . . . .// =8i me-nak-mam-bek nis -ta - ta - ni

(II.11). Terjemahannya:

Ciri-ciri akan menemui bencana, raja tidak lagi dicintai,

para brahmana memakan segala, para wesia tidak rajin bekerja,

si sudra berusaha agar disanjung-sanjung, oleh karena mereka yang disebut tri wangsa itu, termasuk juga para tokoh agama berbuat dursila, orang terpelajar berperilaku seperti tidak terpelajar.

Di samping untuk mengungkapkan srnggara rasa ‘rasa cinta’ yang dalam konteks ini adalah wipralambha srnggara ‘rasa cinta’ yang dalam terhadap

dipertahankannya tradisi Catur Warna tersebut. Tembang Pangkur dipergunakan juga untuk menembangkan kisah karuna rasa ‘belas kasih’.

Hal ini dikisahkan, bahwa jika tatanan catur warna tersebut tidak berjalan, maka para istri (kaum wanita) banyak yang tidak setia pada suami (jalir), mantra dam weda para brahmana tidak sidi (magis) lagi, orang tua tidak lagi memiliki rasa cinta kasih kepada putra-putrinya, dan manusia tidak lagi peduli dengan lingkungan ‘jagat tan kapirungu’. Hal ini dilukiskan di dalam pupuh Pangkur sebagai berikut:

Sang brahmana manglaliang, istri jalir,

degag tan papakering, lan wanaprasta puniku, mataki-taki kamoksan, dereng telas,

semarania kasor rampung, nundenang iya makertya, ngulah ketuwon mamargi . (II.12).

Terjemahannya:

Para brahmana melupakan, kaum permpuan tiada setia, sangat angkuh tiada takut dosa, kemudian di dalam hal wanaprasta,

bersiap-siap menuju moksa, belum berhasil, dikalahkan oleh pengaruh asmara,

kemudian memberitahukan orang lain berbuat, perbuatan itu tanpa arah.

Tidak terbatas hanya berkaitan dengan kisah sedih, Pangkur dalam Geguritan Dharmawisesa juga dipakai untuk menembangkan tutur yang dilatari oleh adbhuta rasa ‘rasa takjub’ seperti yang dikisahkan dalam pupuh Pangkur (II.21) seperti di bawah ini:

Hana malih kacarita, ndatan mandus,

ane madan mabresih, sang nganggo dama puniku, mandus mabresih ngaran, sinangguh danta,

padyusan wiku masucyan, waya biyantara,

mangkana ling nikang resi. Terjemahannya:

Ada lagi yang ingin disampaikan, tidak mandi,

tetapi tetap disebut bersih,

yang mengamalkan ajaran dama.,

yang dinamakan mandi dan membersihkan diri, yang dinamakan putih bersih,

tempat permandian para pandita, setiap hari,

demikian sabda pandita bijaksana. 6.1.1.3 Sinom

Kata Sinom ada kaitannya dengan kata sinoman, yaitu kumpulan pemuda untuk membantu orang yang mempunyai hajat. Sinom dikatakan juga berarti daun muda sehingga itu diisyaratkan dengan lukisan daun muda (Saputra, 1992:23). Sebagai nama tembang, Sinom dikatakan memiliki watak senang, gembira, dan memikat. Oleh karena itu, difungsikan untuk menggambarkan suasana, gerak yang menunjukkan kelincahan. Dalam Geguritan Dharmawisesa, tembang Sinom lebih banyak difungsikan untuk menembangkan ajaran atau pencerahan spiritual. Dengan demikian, arti kata sinom menjadi dekat artinya dengan kata somya yang berarti lemah lembut, sejuk, penuh kebajikan, lunak, dan ramah (Zoetmulder, 1995;114).

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa sinom adalah wahana tutur yang pas. Bagi Kontoran, daya pesona irama sinom itu bagaikan pesona seorang peramah dan pemaaf dan rendah hati, yang dalam Geguritan Dharmawisesa

diistilahkan dengan ksama. Ksama ibarat irama gadis cantik yang suaranya indah. Geguritan Dharmawisesa merupakan tutur, sebagai wacana yang bernuansa úanta rasa ‘memberikan ilham rasa damai’ bahagia’, ia sepatutnya juga diwacanakan kata yang dabdab ‘pelan’ alus’ dan santun’ senada dengan nuansa tembang sinom agar ngulangunin’mempesona’. Jadi, menurut hemat Kontoran, tutur dan tembang Sinom adalah isi dan bentuk yang sepaut yang secara bersama-sama dapat menyebabkan penikmat linglung mangresepi ‘lupa daratan’ terpesona menghayatinya’.

Sinom dimaksud juga adalah wakil tembang sekar alit, yaitu wakil tembang- tembang terpilih lainnya yang dipakai dalam Geguritan Dharmawisesa. Kontoran memandang sekar alit inilah media didaktis yang tepat karena sedang populer sebagai nyanyian masyarakat Bali agraris, terutama pada zaman Kontoran semasih hidup. Tujuan Gusti Kontoran menembangkan tutur adalah agar mudah dimengerti oleh masyarakat terutama kandungan nilai-nilia pendidikan agama Hindu yang tersirat dan tersurat di dalam kitab Sarasamuscaya. Hal itu dilakukan sebab tutur ‘wacana religius’ seperti ‘tattwa’ filsafat agama Hindu’ jika disampaikan menurut sistem wacana tattwa ‘filsafat agama’ hanya efektif untuk kalangan terbatas. Bagi masyarakat umum, wacana tattwa yang padat dan abstrak itu sering kali membosankan. Jadi, untuk mengatasi kebosanan dan agar wacana religius lebih memasyarakat dipilihlah cara magending sambilang malajah, ‘bernyanyi sambil belajar’ atau malajah sambilang magending ‘belajar sambil bernyanyi’ (Rai, 1969 ;tt). Dengan cara demikian, Gusti Kontoran berharap agar nilai-nilai spiritual Hindu yang terdapat dalam teks lontar dapat diwarisi oleh masyarakat. Ia mengatakan :

Suastiastu kanugraha paripurna, sang ngamaca tattwa iki, terus tekaning laksana, sapatuduh iking aji, nora simpang, dirga yusa maka luih ‘ Supaya selalu dalam keadaan selamat, bagi anda yang membaca tattwa karya saya ini, amalkan terus dalam perbuatan, turuti apa-apa yang tersirat di dalam buku ini, karena tidak ada yang menyimpang, pahalanya adalah panjang umur dan kemuliaan’.

Pilihan tembang di samping mempertimbagkan popularitas tembang juga berdasarkan karakter tembang itu sendiri. Rasa agama Geguritan Dharmawisesa diharapkan mencapai puncak rasa, yaitu santa rasa ‘rasa damai’. Mencapai santa rasa berarti mencapai kasidan ‘keberhasilan’. Untuk itu, seperti telah disinggung di atas, tembang sinom dipilih untuk menyatakan rasa senang, gembira dan memikat.

Kemampuan kreativitas Gusti Kontoran ‘bermain’ bahasa memenuhi kaidah prosodi tembang sinom dapat disimak seperti di bawah ini :

o e u u . . . ./ u a u u . . . ./ = 8a Si - nom-pa-ke- li-ngin- ma- nah

e u e e . . . ./ e u a a . . . ./ = 8i sa -so -la- ha ning-du-ma- di

u a e u . . . ./ e o o e . . . ./ = 8a sa - te- ka- ni- reng-mrca-pa-da

o o e u . . . ./ e e o o . . . ./ = 8i ksa-ma-wan-da di - ya-mar- gi

o e u a . . . ./ u e u a . . . ./ = 8i te - ge - si- ra ma- ka - ja - ti

o e o o . . . ./ e u a u . . . ./ = 8u sang-ke-lan-u pa- sa - me- ku

e e e u . . . ./ e o o e . . . ./ = 8a a - neng-rat-ya pi - nu- ja- ya

u a e u. . . ./ e e o o . . . ./ = 8i ka -je - ri -hin wong-sa-bu-mi

o e u u . . . ./ = 4u tur-ka-sung-sung

e u e e . . . ./ u a u u. . . ./ = 8a ka-sub-ring-ma nu- sa- pa- da

( III.1 ) Terjemahannya:

Tembang Sinom dipakai untuk mengingatkan hati, tentang tingkah laku menjadi manusia,

setelah lahir ke alam fana ini, hanya sifat pemaaf dan rendah hati, itulah inti dari penjelmaan,

yaitu suka mengampuni dan mengasihi, dipuji juga dia di atas dunia ini,

juga dihormati oleh semua orang, dan dipuji-puji,

dan terkenal di atas dunia ini.

Dalam tradisi Bali ada sejumlah irama tembang sinom. Salah satu yang paling umum disebut Sinom Manis (Dasar) dengan paca pariring ‘not dasar’ laras pelog seperti tertera di atas baris syair terkutip. Contoh tembang sinom pada pupuh di atas berisi wacana ibadat sang kawi yang penuh rasa pengampunan (ksama), dan merupakan inti dari penjelmaan ke alam ini. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa ksama

merupakan harta benda mulia seperti emas, permata, dan kekayaan lainnya, sifat ksama mampu menundukkan indria, sangat mulia dan tidak ada yang melebihinya.

6.1.1.4 TembangDangdang

Nama tembang dangdang disebut juga Dangdang Gula. Di Jawa, Dhangdhang Gula konon diambil dari nama raja Kediri, Prabu Dangdang Gendis, yang terkenal sesudah prabu Jayabaya, Watak tembang ini manis, luwes, memukau. Oleh karena itu, di Jawa digunakan terutama untuk melagukan syair yang melukiskan hal yang memabukan atau harapan akan kebaikan dan berkasih-kasihan (Sukayasa, 2010:149).

Ketika Bhagawan Wesampayana dengan tutur kata yang manis menjelaskan pahala orang yang suka mempelajari Sanghyang Weda ‘palaning mangaji Sanghyang Weda’. Dijelaskan, pahala dari orang yang banyak tahu tentang ilmu, berperilaku baik dan bertata krama yang baik . Jika seseorang banyak ilmunya , jika tiada untuk memperbaiki perilaku sendiri, dan juga tidak dipergunakan untuk menundukkan tri guna yaitu tiga karakter manusia, terutama sifat rajas dan tamas, ilmu itu tiada berguna. Hal ini dapat dilihat dari uraian pupuh di bawah ini :

Pituture sada alus manis,

palaning mangaji sanghyang Weda, Siwageni kapuja reko,

ring mantra tatasing weruh, ya yadnya widi wedanadi, yan artha pisadyayang, mukti medanaku,

yan mamwatang rabi bajang, lingganing krida sentana ya mijil, keto pikolihira.

Terjemahannya:

Yang dilahirkan, seperti itu pahalanya.

Tutur kata sangatlah manis dan lembut, pahala orang yang mempelajari Weda, Dewa Agenilah yang dipuja,

juga mantra-mantra pasti sudah dikuasai dengan baik,

itu juga dinamakan yajna untuk dipersembahkan kepada Tuhan, jika tertuju kepada kekayaan berupa harta,

setelah ketemu harus didermakan,

jika yang diharapkan istri cantik dan muda, hasilnya adalah keturunan

Kutipan selanjutnya lebih tajam menjelaskan hal di atas, seperti kutipan di bawah ini:

Palaning weruh maring sanghyang aji, rahayuning sila mwang acara,

sila ngaran swahawane, acara ya puniku,

prawreti kojaring aji, apa pakenaning arta, yan tan dana nulus, malih yan nora kabuktya,

tan padon gunanikang kasaktin lewih, yaning nora jayeng perang.

(Dharmawisesa, IV.2). Terjemahannya:

Hasil orang yang banyak ilmu pengetahuannya, bertingkah laku baik dan tata krama baik, sila artinya perilaku mulia,

dan yang dinamakan acara,

mampu memberikan ilmu kepada orang lain, jika harta yang dimiliki berlimpah,

jika tidak dipergunakan berdana punia, dan juga tidak dinikmati,

tiada berguna memiliki kesaktian yang mumpuni, jika tidak menang di dalam berperang.

Juga dijelaskan, bahwa ilmu pengetahuan itu akan tiada bermanfaat apabila tiada beramal baik, menerangi kehidupan, demikian pula budi pekerti mulia tiada berguna jika tidak dipergunakan untuk mengendalikan rajah (sifat serakah) dan

tamah (sikap bodoh dan malas). Untuk lebih jelasnya kutipan pupuh tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut ini:

Tan padona pangawruheng aji, yan tan nyuluhang darma sadana, mwang budi kapradnyanane,

yan tan ngasorang ikung rajah tamah kindriyengati, bwina dadrewening wang, emasinia mara mundur, tan ngitung mapedana,

mati aran dyastuning mangkya na urip, waluya pangububan. (Dharmawisesa, IV.3). Terjemahannya:

Tiada guna berilmu banyak, jika tiada memperbaiki diri, dan juga budi pekerti,

jka tidak mampu mengendalikan rajah dan tamah dan indria lainnya, dan apapun yang dimiliki oleh seseorang,

semua itu mundur namanya,

jika tiada dipergunakan untuk berdana punia,

orang itu mati namanya meskipun kenyataannya ia hidup, bagaikan menimbun mayat.

Padalingsa dan paca pliring pupuh Dangdang Gula berlaras pelog seperti di bawah ini :

a u e o. . . ./ o o o o . . . ./ o e u a . . . ./ = 12i Pi- tu- tu- re ya- sa- da- a- lus - tur- ma- nis

u e i e . . . ./ = 4a ma-nga- ji- ya

e a u e. . . . / e o i . . . ./ = 7a Sang-hyang-We-da Si- wa- gni

ka- pu- ja- re ko- ta- ta- sing

o o o e . . . ./ i o e e . . . ./ = 8u yaj-na-wi-di we-da- na- wruh

i i i i . . . ./ i o i i . . . ./ = 8i yan -ar -t a- mi prih-bi- nuk-ti

i i i i . . . ./ i o i i. . . ./ =8a pi- sa- dya-yang ka- da- na- yang

o i A U . . . ./ A i i i . . . ./ = 8u ya- nya- ra- bi ba- jang-a- yu

o o o e . . . ./ i o e o . . . ./ = 8a ling-ga-ning-kri da-san- ta- na

I o A A . . . ./ = 4a pa - la - ni - ka

e e e u . . . . / e u a a . . . ./ = 8i pu- tra- san- ta na - ya - mi- jil

i i i i . . . ./ e o i i . . . .// = 8a nga-ran - wa --rah a- ji - ga - ma

Terjemahannya:

Tutur kata sangatlah manis dan lembut, pahala orang yang mempelajari Weda, Dewa Agenilah yang dipuja,

juga mantra-mantra pasti sudah dikuasai dengan baik,

itu juga dinamakan yajna untuk dipersembahkan kepada Tuhan, jika tertuju kepada kekayaan berupa harta,

setelah ketemu harus didermakan,

jika yang diharapkan istri cantik dan muda, hasilnya adalah keturunan,

demikian disebutkan dalam ajaran agama.

Karakter tembang dangdang gula dikatakan halus, luwes, dan memelas atau menanti-nanti kebaikan, maka tepatlah untuk menembangkan syair yang mengekspresikan srnggara rasa ‘rasa asmara’ sambhoga srnggara ‘cinta dalam pertemuan’ seperti syair di atas.

6.1.1.5 TembangSemarandana

Kata Semarandana beasal dari kata samara (smara) dan dahana. Semara artinya asmara atau cinta, dahana artinya pembakaran, pembakaran oleh api; api, nyala api (Zoetmulder, 1995:187). Sesuai dengan arti kata tersebut, semaradahana berarti terbakar oleh api cinta. Sebagai sebuah tembang, karakter tembang semarandana sesuai dengan arti dasar dimaksud, ‘asmara’. Oleh karena itu, sering digunakan untuk melukiskan kerinduan, kesedihan hati, mesra, dan sedih (Padmosoekotjo dalam Haryatmo, 2003:18 ; Sukayasa, 2010 : 156).

Dalam konteks Geguritan Dharmawisesa, Semarandana digunakan untuk melukiskan gairah cinta, yaitu cinta yang tulus seorang guru (Bhagawan Wesampayana) kepada sisianya (murid), yaitu prabu Janamejaya di dalam memberikan petuah-petuah ajaran agama terutama tentang tujuan hidup. Gairah cinta seorang spiritual orang suci yang api asmara duniawinya telah terbakar. Gairah cinta Illahinya terinspirasi oleh keindahan alam ; langit yang cerah, air yang jernih. Bagi orang suci, pemandangan yang indah itu adalah yantra ‘sarana meditasi’. Dengan yantra alam itu, orang-orang suci mengonsentrasikan pikirannya, sehingga batinnya segera terserap ke tujuan religius, yakni ke Realitas Sejati yang selalu memikat hati dan memabukkan orang-orang suci. Dengan

Dalam dokumen 218071996 Tesis Bu Sayang. doc (Halaman 123-200)

Dokumen terkait