Status ISPU
G. Integrasi Pelayanan Transportasi Publik
Pada tahun 2019, upaya peningkatan kualitas transportasi publik lebih terfokus pada integrasi transportasi publik. Integrasi transportasi publik diharapkan dapat semakin menjangkau kebutuhan masyarakat secara luas dan membuat masyarakat beralih menuju transportasi publik sebagai moda transportasi utama. Salah satu wujud nyata integrasi transportasi publik yang telah dilakukan adalah integrasi manajemen pelayanan angkutan umum melalui program Jak Lingko. Jak Lingko adalah program transportasi satu harga untuk satu kali perjalanan yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Program ini memungkinkan penumpang membayar hanya satu kali bayar sebesar Rp 5.000 (atau Rp 3.500 selama masa ujicoba) untuk kemudian menggunakan berbagai layanan bus kecil hingga Transjakarta selama 3 jam. Program ini dianggap akan menurunkan biaya transportasi warga sebanyak 30 persen. Kartu yang digunakan dalam sistem pembayaran ini berbeda dengan uang elektronik yang selama ini sudah berlaku. Kartu khusus OK Otrip tersedia dengan harga Rp 40.000.
Pemprov DKI Jakarta mendorong program Jak Lingko dengan mengajak para operator bus kecil melalui untuk bersama dalam satu manajemen yang dikelola Transjakarta.
Saat ini, sudah ada sekitar 700 angkutan umum yang bergabung dalam program Jak Lingko. Apabila setiap bus kecil teriri dari 200 pengemudi dengan empat anggota keluarga yang dinafkahi; maka akan ada sekitar 8.000 penduduk yang merasakan manfaat dari program integrasi ini.
Sebagai tahap awal, Dishub DKI Jakarta akan melakukan rerouting atau perubahan rute sejumlah trayek angkutan umum yang dinilai tidak efektif. Nantinya, seluruh trayek angkutan umum akan terintegrasi dengan Transjakarta dan pengguna angkutan umum hanya perlu membayar tarif Rp 5.000 untuk satu kali perjalanan.
Sebanyak 156 trayek angkutan umum kecil yang akan mengalami perubahan rute perjalanan dan ada 42 trayek bus besar yang diprediksi akan menjadi 10 trayek. Selain itu, ada 89 trayek bus sedang yang bila diatur ulang bisa menjadi 46 trayek. Dengan pengaturan rute yang efektif, diharapkan warga akan mudah mengakses angkutan umum yang akan beroperasi hingga jalan-jalan permukiman. Karena kota yang cerdas (smart city), berawal dari kemudahan mobilitas warganya.
Transit Oriented Development
Pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) merupakan salah satu solusi permasalahan transportasi dan lingkungan di kawasan perkotaan Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi permasalahan kemacetan melalui pengintegrasian sistem jaringan transportasi massal, selain itu TOD juga bertujuan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sekaligus mendorong orang untuk berjalan kaki dan menggunakan kendaraan umum.
Konsep TOD berfokus pada pembangunan di sekitar layanan transportasi publik.
Pembangunan berbasis TOD memastikan akses yang mudah dari tempat tinggal masyarakat ke berbagai moda transportasi umum, memudahkan pengguna transportasi umum untuk berpindah-pindah jalur, dan berganti moda transportasi sesuai kebutuhan mereka. TOD juga mengatur pengembangan sistem transportasi sehingga warga mudah menjangkau kawasan perkantoran, industri, dan pusat-pusat aktivitas perkotaan dari tempat mereka tinggal. Saat ini, terdapat 54 titik potensial yang terdapat dalam lokasi TOD sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengembangkan konsep TOD di beberapa stasiun kereta api dan stasiun MRT. Bekerja sama dengan PT. MRT Jakarta, pengembangan rencana induk kawasan TOD berada di lima stasiun, yaitu Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Fatmawati, kawasan Cipete (yang mencakup Stasiun Cipete, Stasiun Haji Nawi, Stasiun Blok A), kawasan Blok M (termasuk Stasiun Sisingamangaraja), dan Stasiun Dukuh Atas. Sementara itu pengembangan TOD pada stasiun kerata api akan dilakukan pada stasiun Tanah Abang, Stasiun Pasar Senen, Stasiun Sudirman dan Stasiun Juanda. Peta TOD Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada Gambar 2.71.
Kegiatan Penataan Kawasan Stasiun dimulai sejak penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dikuasakan kepada Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia dan Direktur Utama PT Mass Rapid Transit pada 10 Januari 2020 yang disaksikan langsung oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Menteri BUMN Republik Indonesia, dan Menteri Perhubungan Republik Indonesia. Kegiatan penataan kawasan stasiun ini menonjolkan pelaksanaan kolaborasi bukan hanya antar Perangkat Daerah di dalam
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta namun juga antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta dengan tujuan mengatasi permasalahan ketidakteraturan yang terjadi akibat belum terintegrasinya penataan ruang dengan penataan transportasi di kawasan stasiun commuter line milik PT. Kereta Api Indonesia.
Pada penataan stasiun MRT, stasiun MRT Lebak Bulus merupakan stasiun pertama di koridor selatan – utara yang diharapkan dapat menjadi magnet bagi masyarakat penglaju dari daerah penyangga seperti Tangerang Selatan yang banyak beraktivitas di Jakarta. Para penglaju ini menggunakan kendaraan pribadi dan transportasi publik setiap hari dari area permukiman padat sehingga seperti area lain padat permukiman akan berkontribusi pada kemacetan. Kehadiran konsep TOD yang memiliki sejumlah fasilitas penunjang mobilitas penumpang serta memiliki sistem transportasi pengumpan dari area tersebut diharapkan akan meningkatkan jumlah pengguna atau calon penumpang transportasi berbasis rel kereta ini sehingga masyarakat dapat mulai meninggalkan penggunaan kendaraan pribadi dalam mobilitas sehari-harinya.
Gambar 2.71 Ekspansi dan Integrasi Jaringan Angkutan Umum Massal
Sumber: DIKPLHD Provinsi DKI Jakarta, 2020
Kehadiran konsep transportasi terintegrasi di Stasiun Dukuh Atas, akan mengatur arus penumpang yang menggunakan lima moda tranportasi berbeda di kawasan ini, yaitu MRT Jakarta,Bus Rapid Transit(BRT) Transjakarta, kereta bandara (railink), kereta komuter (commuterline), dan kereta Light Rapid Transit (LRT) yang sedang dikembangkan oleh pemerintah. Pergerakan manusia ini akan didukung oleh sistem
pedestrianisasi kawasan, baik berupa infrastruktur pedestrian yang baru maupun upgrade dari yang ada serta ruang-ruang terbuka yang akan dibentuk.
Kawasan Cipete (yang mencakup Stasiun Cipete, Haji Nawi, dan Blok A) akan mendorong kawasan perdagangan yang saat ini tumbuh dengan konsep shopping street serta meningkatkan aksesibilitas di setiap bagian dari kawasan tersebut sehingga penyebaran kegiatan tidak hanya terjadi di jalan utama. Peningkatan aksesibilitas tersebut diutamakan untuk pejalan kaki dan non-motorized vehicles baik melalui jalan yang ada maupun menggunakan lahan-lahan milik pribadi melalui metode publik use private own.
Gambar 2.72 Peta TOD (Transit Oriented Development) Provinsi DKI Jakarta