Status ISPU
L. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL)
2.1.2 Kependudukan dan Kegiatannya
2.1.2.2 Perumahan dan Permukiman
Provinsi DKI Jakarta terjadi perubahan fungsi lahan dari tidak terbangun menjadi kawasan perumahan atau juga RTH yang berubah menjadi central business district (CBD). Dalam kurun waktu 10 tahun perubahan penutupan lahan terjadi cukup signifikan. Dari luas wilayah Provinsi DKI Jakarta 48,41% sudah dibangun menjadi kawasan perumahan. Status kepemilikan rumah merupakan salah satu indikator untuk memberikan gambaran terhadap kemampuan masyarakat untuk mengakses rumah. Data statistik kesejahteraan DKI Jakarta tahun 2018 menunjukkan bahwa rumah tangga yang memiliki rumah dengan status milik sendiri dari kepala rumah tangga laki-laki sebesar 45,33%, sedangkan untuk kepala keluarga perempuan adalah
60,22%. Untuk rumah bukan milik sendiri dengan kepala keluarga laki-laki sebesar 54,67% dan untuk kepala rumah tangga perempuan sebesar 39,78%. Status kepemilikan rumah bukan milik sendiri dapat berupa rumah sewa, rumah dinas maupun bentuk lainnya. Tingginya kepemilikan bukan milik sendiri di DKI Jakarta dikarenakan banyaknya rumah yang disediakan secara sewa oleh pemerintah untuk mengatasi kebutuhan akan hunian yang tinggi, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Salah satu bentuk hunian dengan skema sewa adalah rumah susun sewa yang disediakan oleh pemerintah.
Tabel 2.51 Status Kepemilikan Rumah di DKI Jakarta
Karakteristik Jenis Kelamin Kepala Rumah Tangga
Laki-Laki 45,33 54,67 100
Perempuan 60,22 39,78 100
Sumber : Perkim.id (website)
Jenis pembangunan rumah yang ada di Provinsi DKI Jakarta dibagi menjadi beberapa seperti pembangunan rumah oleh perumnas atau pemerintah, pembangunan rumah susun oleh pemerintah, pembangunan rumah pribadi, ataupun pembangunan oleh pihak swasta yang disewakan kepada masyarakat urban yang datang ke DKI Jakarta tapi tidak memiliki hunian. Pembangunan rumah oleh Perum Perumnas sendiri sudah dilakukan sejak lama, namun dari tahun 2018 hingga sekarang tidak ada lagi pembangunan, untuk saat ini pihak swasta yang banyak membangun perumahan.
Dilihat dari Tabel 2.50 pembangunan perum perumnas masih ada pada tahun 2016 – 2018 dengan total pembangunan terbanyak ada di tahun 2017 sebanyak 1.933 unit.
Di perkotaan seperti DKI Jakarta sendiri Pemerintah mencari opsi lain untuk membangun hunian yang layak ditinggali oleh masyarakat yang tidak memiliki rumah seperti rumah susun sederhana yang dalam kurun waktu 5 tahun pembangunannya rutin dilakukan di beberapa titik. Rumah susun sederhana merupakan salah satu kategori rumah hunian bertingkat warga. Lokasi dan jumlah blok terbannyak pada pembangunan rumah susun berada di Jakarta Timur dengan jumlah 19 lokasi dan 89 blok terjadi pada tahun 2017, sedangkan untuk unit terbanyak yang dibangun masih di Jakarta Timur dengan jumlah 11.348 unit terjadi pada tahun 2020. Namun hanya Kepulauan Seribu wilayah yang tidak mempunyai satupun tower, blok dan unit rumah susun sederhana. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.51 dibawah ini.
Perumahan dan permukiman Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada Gambar 2.73.
Tabel 2.52 Jumlah Pembangunan Rumah Oleh Perum Perumnas Tahun 2015-2020
No. Tahun Jumlah
1 2015 1.148
2 2016 1.933
3 2017 1.232
4 2018 -
5 2019 -
6 2020 -
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Gambar 2.74 Peta Perumahan dan Permukiman di Provinsi DKI Jakarta
Tabel 2.53 Jumlah Rumah Susun Sederhana Menurut Lokasi Tahun 2016-2020
No Kabupaten/Kota
Tahun
2016 2017 2018 2019 2020
Lokasi Jumlah Blok
Jumlah
Unit Lokasi Jumlah Blok
Jumlah
Unit Lokasi Jumlah Blok
Jumlah
Unit Lokasi Jumlah Blok
Jumlah
Unit Lokasi Jumlah Blok
Jumlah Unit 1 Kepulauan
Seribu - - - - - - - - - - - - - - -
2 Jakarta Selatan 2 6 440 2 6 440 3 6 629 3 6 628 3 6 629
3 Jakarta Timur 15 32 5.486 19 89 8.456 18 85 11.288 18 85 11.288 5 85 11.348
4 Jakarta Pusat 10 29 2.692 9 21 2.786 8 23 2.862 8 25 2.846 7 22 2.322
5 Jakarta Barat 8 13 2.959 6 18 2.465 7 19 2.984 7 19 2.984 5 18 4.018
6 Jakarta Utara 13 37 6.744 9 61 6.425 8 52 10.459 8 62 11.437 7 52 10.449
Jumlah 48 117 18.321 45 195 20.998 44 185 28.222 44 197 29.183 27 183 28.766
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka Tahun 2017-2021
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi DKI Jakarta mendata dan melakukan pengecekan terhadap pembangunan rumah susun sederhana, maupun perawatan dari rumah susun yang sudah ada.
2.1.2.3 Transportasi
Pemerintah Provinsi DKI telah berupaya mengatasi kemacetan melalui beberapa kebijakan serta program pembangunan. Beberapa upaya tersebut diantaranya adalah:
• Penambahan rute, jadwal pengoperasian, serta unit angkutan umum berbasis jalan
• Peningkatan kualitas layanan angkutan umum berbasis rel
• Pembangunan angkutan umum masal berbasis rel
• Pembangunan dan pengembangan infrastruktur transportasi
• Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi di hari kerja
• Pengadaan transportasi berbasis air
Upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi terbukti telah cukup mengurangi jumlah penggunaan). Pemerintah Provinsi terbukti telah cukup megurangi jumlah penggunaan kendaraan pribadi. Program pembangunan angkutan umum berbasis jalan dilakukan melalui penambahan armada Transjakarta, evaluasi rute layanan angkutan sekolah, pelaksanaan OK TRIP, serta pembangunan jalur disabilitas.
Program pembatasan penggunaan kendaraan dilakukan melalui penerapan beberapa aturan lalu lintas, seperti peraturan plat nomor ganjil-genap, pajak progresif kendaraan, rencana penerapan elektronik road pricing (ERP). Kendaraan bermotor sangat berperan penting dalam mobilitas manusia sebagai kebutuhan primer bagi penduduk ibukota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyediakan banyak moda transportasi umum, namun hingga saat ini masyarakat tetap menganggap memiliki kendaraan pribadi lebih efektif untuk menunjang mobilitas. Berdasarkan Tabel 2.52 jumlah kendaraan bermotor pada tiga tahun terakhir di DKI Jakarta terus meningkat, jumlah kendaraan bermotor di Provinsi DKI Jakarta tahun 2020 tercatat sebanyak 20.221.821. Dengan jenis kendaraan mobil penumpang, bus, truk dan sepeda motor.
Sepeda motor merupakan kendaraan yang banyak digunakan sampai saat ini, jumlah yang tercata pada tahun 2020 mencapai 16.141.380 unit. Untuk kendaraan angkutan umum roda tiga yang semakin hari semakin sedikit yaitu bajaj dan kancil, 5 tahun terakhir bajaj dan kancil berkurang sangat drastis pada tahun 2016 sebanyak 54.460 unit, untuk sekarang ini tahun 2020 hanya 1.077 unit saja yang masih beroperasi, lengkapnya ada pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.54 Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis Kendaraan (unit) Tahun 2016-2020 Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.55 Jumlah Kendaraan Angkutan Jenis IV (Kendaraan Bermotor Umum Roda Tiga) Tahun 2016-2020
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Kendaraan umum lainnya yang berpartisipasi dalam pengangkutan penumpang atau barang di wilayah Provinsi DKI Jakarta adalah taksi, mobil barnag, bus pariwisata, dan bus antar kota antar provinsi atau sering disebut Bus AKAP. Untuk kendaraan umum taksi misalnya dari tahun 2015 sebanyak 24.368 unit semakin berkurang sampai pada tahun 2019 menjadi 13.781 unit saja. Begitupun dengan mobil barang dan bus pariwisata yang semakin berkurang. Namun tidak demikian dengan Bus AKAP yang setiap tahun ada peningkatan dari 3.310 unit di tahun 2015 menjadi 5.218 unit di tahun 2019. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel 2.56 Jumlah Kendaraan Umum Lainnya Tahun 2015-2019 No. Tahun Taksi Mobil Barang Bus Pariwisata Bus AKAP
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tantangan transportasi perkotaan saat ini, antara lain adalah tingginya penggunaan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil. Total jumlah perjalanan orang di wilayah Provinsi DKI Jakarta dari tahun ke tahun semakin meningkat. Beberapa upaya untuk mengurangi kemacetan yaitu dengan menyediakan sarana dan prasarana transportasi umum untuk digunakan masyarakat perkotaan. Kendaraan bermotor yang banyak digunakan di Provinsi DKI Jakarta minibus dan sepeda motor. Jumlah kendaraan bermotor dan jenis bahan bakar yang digunakannya dapat dilihat pada Tabel 2.54 dibawah ini.
Tabel 2.57 Jumlah Kendaraan Bermotor dan Jenis Bahan Bakar yang Digunakan
No Jenis Kendaraan Bermotor Jumlah (Unit)
Jumlah Bensin Solar Gas 1 Sedan dan Sejenisnya 328.007 323.639 4.365 3
2 Jeep Segala Merk 215.863 127.356 88.507 0
3 Minibus, Microbus, Bus, Combi 1.527.572 1.397.944 128.206 1.422 4 Pickup, Lighttruck, Truck 187.331 94.762 92.568 1 5 Besterl Wagon, Box, Delvan 147.703 40.177 107.491 35
6 Dum Truck, Truck Tangki 51.260 246 51.013 1
7 Otolet/Opelet, Microlet 12.871 11.219 1.652 0 8 Kendaraan Bermotor Roda 3 26.639 12.804 15 13.820
9 Sepeda Motor 7.630.157 7.629.562 515 80
10 Alat-Alat Berat 83.383 254 83.124 5
Sumber : DIKPLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020
Tabel 2.58 Jumlah Kendaraan Bermotor dan Jenis Bahan Bakar Lainnya
No Jenis Kendaraan Bermotor Jumlah
Jumlah (Unit) Listrik Campur
1 Sedan dan Sejenisnya 20 10 10
2 Jeep Segala Merk 21 18 3
3 Minibus, Microbus, Bus, Combi 93 56 37
4 Pickup, Lighttruck, Truck 8 8
5 Besterl Wagon, Box, Delvan 11 3 8
6 Dum Truck, Truck Tangki 6 6
7 Otolet/Opelet, Microlet 2 1 1
8 Kendaraan Bermotor Roda 3 5.023 5.023
9 Sepeda Motor 124.272 1.244 123.028
10 Alat-Alat Berat 5 5
Sumber : DIKPLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020
Jenis kendaraan bermotor yang banyak digunakan yaitu minibus, microbus, bus, combi dengan jumlah unit 1.527.572 dan bahan bakar bensin 1.397.944. Diikuti dengan sepeda motor dengan jumlah unit 7.630.157 dan bahan bakar bensin 7.629.562. Sedangkan untuk bahan bakar gas terbanyak 13.820 dengan jenis kendaraan bermotor roda 3.
Tabel 2.59 Penggunaan Bahan Bakar
NO PENGGUNAAN
JUMLAH (DALAM KL) MINYAK
BAKAR
MINYAK DIESEL
MINYAK
TANAH GAS BATUBARA LPG BRIKET KAYU
BAKAR BIOMASSA BENSIN SOLAR
A. INDUSTRI
1. Kimia Dasar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2. Mesin dan Logam Dasar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3. Industri Kecil 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7324 531637
4. Aneka Industri 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2251677 643007
B. RUMAH TANGGA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 130 0
Sumber : DIKLPLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020
Penggunaan bahan bakar terbagi menjadi dua sektor yaitu sektor industri dan sektor rumah tangga. Seperti yang tertera pada Tabel 2.57 sektor industri bahan bakar yang banyak digunakan bensin dan solar, pada industri kecil penggunaan bahan bakar bensin sebanyak 7.324 dan solar sebanyak 531.637. sedangkan untuk aneka industri bahan bakar bensin sebanyak 2.251.677 dan solar sebanyak 643.007. Untuk sektor rumah tangga bahar bakar yang digunakan hanya bensin dengan jumlah 130.
Realisasi volume jenis BBM tertentu (subsidi) terbanyak pada sektor transportasi darat dengan jenis BBM Minyak Solar CN48 dengan jumlah 637.199, diikuti oleh sektor transportasi laut dengan jenis BBM Minyak Solar CN48 dengan jumlah 95.031.
dan sektor usaha perikanan dengan jenis BBM Minyak Solar CN48 dengan jumlah 38.232. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.60.
Tabel 2.60 Realisasi Volume Jenis BBM Tertentu (Subsidi) Menurut Jenis Produk dan Sektor Pengguna
NO SEKTOR Jenis BBM Jumlah (KL)
1 Rumah Tangga Kerosen 0
2 Transportasi Darat Minyak Solar CN48 637199 3 Transportasi Laut Minyak Solar CN48 95031
4 Usaha Mikro Minyak Solar CN48 0
5 Usaha Perikanan Minyak Solar CN48 38232 6 Usaha Pertanian Minyak Solar CN48 0 7 Layanan Umum Minyak Solar CN48 8
TOTAL 770469
Sumber : DIKLPLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020
Untuk transportasi umum yang banyak diminati saat ini antara lain kereta api dan bus Trans Jakarta. Data jumlah pengguna kereta api pada tahun 2020 sebanyak 5.032.232 penumpang. Jumlah penumpang bus Trans Jakarta tahun 2020 sebanyak 126.845.277 orang. Penumpang paling banyak terdapat di Koridor I (Blok M – Kota) yaitu sebanyak 13.114.712 orang. Dilihat dari data tersebut sudah sebagian masyarakat menggunakan sarana dan prasarana transportasi umum yang disediakan oleh pemerintah, dengan seperti ini akan mengurangi kemacetan yang ada di perkotaan. Untuk jumlah perjalanan dengan menggunakan angkutan umum pada tahun 2020 adalah sebesar 1.304.184 perjalanan/hari, jauh berkurang daripada tahun 2019 yang memiliki jumlah perjalanan dengan angkutan umum sebesar 5.731.637 perjalanan/hari.
Tabel 2.61 Jumlah Perjalanan Angkutan Umum di DKI Jakarta Tahun 2020
NO Jenis Angkutan
Umum Jumlah Satuan
1 Transjakarta 268.551 Perjalanan/hari
2 KRL 344.074 Perjalanan/hari
3 MRT 15.264 Perjalanan/hari
4 LRT 780 Perjalanan/hari
5 Railink 696 Perjalanan/hari
6 Bus/Angkot
reguler 158.663 Perjalanan/hari 7 Ojek (online) 162.464 Perjalanan/hari 8 Taxi Bajaj 74.387 Perjalanan/hari
9 ASK 277.548 Perjalanan/hari
10 Kapal 1.756 Perjalanan/hari
11 Bis Sekolah - Perjalanan/hari
Sumber : Paparan DLH DKI Jakarta, 2021
Jalan merupakan infrastruktur transportasi yang sangat penting bagi manusia dan berguna untuk memfasilitasi perpindahan manusia ataupun barang baik menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki. Infrastruktur fisik seperti jalan yang ada di DKI Jakarta merupakan salah satu komponen pembangunan yang perlu diperhatikan. Terlebih lagi DKI Jakarta merupakan Ibu Kota Negara Indonesia yang seharusnya mempunyai infrastruktur dasar seperti jalan yang baik yang mampu mendorong pembangunan serta pengembangan infrastruktur lainnya di wilayah ini.
Setiap tahun terjadi perubahan dan penambahan ruas jalan pada beberapa jenis jalan, jenis jalan terpanjang untuk perubahan penambahan ruas jalan ada pada Jalan Kelas IIIC dengan total sepanjang 4.949.394 km di tahun 2018 dan 2019. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.58.
Tabel 2.62 Perubahan Penambahan Ruas Jalan
NO JENIS JALAN
Panjang Jalan Dua Tahun Terakhir (km) Sumber : DIKPLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020
Menurut tingkat kewenangan pemerintah, DKI Jakarta mempunyai jalan yang terbagi menjadi dua kewenangan yaitu kewenangan negara dan kewenangan provinsi. Jalan negara/nasional di Provinsi DKI Jakarta dikategorikan menjadi dua jenis yaitu jalan tol dan jalan negara. Menurut jenisnya, jalan di Provinsi DKI Jakarta dikategorikan menjadi 6 jenis yaitu tol, arteri primer, kolektor primer, arteri sekunder, kolektor sekunder, dan lokal. Data tahun 2019 dari Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta 74,4% atau 4.949.394 meter jalanan di DKI Jakarta masuk dalam kategori jenis jalan lokal, sedangkan hanya 0,9% atau 57.696 meter jalanan di provinsi ini merupakan jalan kolektor primer. Jalan lokal merupakan jenis jalan di DKI Jakarta yang terluas dibandingkan dengan jenis jalan lainnya yaitu 23.546.835 m2 dan jalan berjenis kolektor primer mempunyai luas paling kecil yaitu 31.540 m2.
Salah satu masalah yang sangat serius di Provinsi DKI Jakarta adalah kemacetan, dan untuk menanggulangi hal tersebut pemerintah melakukan pembangunan flyover untuk sedikit mengurangi hal tersebut. Kepemilikan flyover dibagi menjadi 2 jenis yaitu flyover departemen dan flyover Pemda. Selain pembangunan flyover infrastruktur penunjang untuk mengurangi kecamaten adalah dibangunnya underpass atau terowongan dalam rangka mewujudkan lalu lintas yang lancar.
Provinsi DKI Jakarta memiliki 19 underpass yang tersebar diseluruh kota administrasi.
Peta jaringan jalan Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Pengelolaan sektor transportasi darat, laut maupun udara dilakukan secara berkala oleh pihak terkait. Seperti pada moda transportasi darat dengan cara merawat dan memperbaiki unit bus TransJakarta serta halte bus TransJakarta yang tersebar sehingga dapat digunakan dengan aman dan nyaman. Untuk penggunaan kereta api dan kereta listrik penataan kawasan stasiun sangat penting untuk menunjang akses masyarakat dari dan menuju stasiun menjadi lebih mudah. Pada sektor transportasi laut pihak terkait dapat memperbaiki dan mengelola fasilitas dermaga laut dan akses jalan yang digunakan menuju dan dari arah dermaga agar lebih tertata. Sektor transportasi udara sendiri Bandar Udara yang sudah tersedia pengelolaan fasilitasnya dilakukan secara berkala agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan kepada penumpang yang akan menggunakan moda transportasi ini.
Gambar 2.75 Peta Jaringan Jalan di Provinsi DKI Jakarta
Tabel 2.63 Panjang Jalan (m) Menurut Kota Administrasi Tahun 2016-2021
No. Kabupaten/Kota
Jenis Status Jalan
2016 2017 dan 2018 2019 dan 2020
Jalan Nasional
Provinsi Jalan Nasional
Provinsi Jalan Nasional
Provinsi
Tol Negara Tol Negara Tol Negara
1 Jakarta Selatan 24.110 13.659 1.947.101 28.800 13.661 362.401 28.800 13.661 1.986.157 2 Jakarta Timur 43.832 16.006 1.409.409 52.450 22.306 363.028 52.450 22.306 1.495.523
3 Jakarta Pusat 2.485 - 689.429 2.500 - 243.813 2.500 - 692.157
4 Jakarta Barat 30.320 11.970 1.027.845 30.500 11.972 278.390 30.500 11.972 1.169.976 5 Jakarta Utara 37.942 11.917 1.014,782 46.100 11.917 235.447 46.100 11.917 1.088.660 Jumlah 138.689 53.552 6.088.566 160.350 59.856 1.483.079 160.350 59.856 6.432.473 Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.64 Luas Jalan (m2) Menurut Kota Administrasi Tahun 2016-2021
No. Kabupaten/Kota
Jenis Status Jalan
2016 2017 dan 2018 2019 dan 2020
Jalan Nasional
Provinsi Jalan Nasional
Provinsi Jalan Nasional
Provinsi
Tol Negara Tol Negara Tol Negara
1 Jakarta Selatan 512.920 192.524 11.699.569 391.200 192.554 4.121.934 691.200 192.554 11.760.118 2 Jakarta Timur 1.178.074 247.384 8.833.597 1.451.550 367.404 4.342.831 1.451.550 367.404 9.429.065
3 Jakarta Pusat 54.670 - 5.958.128 60.000 - 3.723.466 60.000 - 5.959.548
4 Jakarta Barat 619.080 234.360 6.457.434 732.000 234.416 2.896.360 732.000 234.416 7.075.324 5 Jakarta Utara 807.432 173.762 6.741.913 1.075.200 194.062 2.796.718 1.075.200 194.062 7.204.090 Jumlah 3.172.176 848.030 39.690.641 4.009.950 988.436 17.881.309 4.009.950 988.436 41.428.144 Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021