Status ISPU
L. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL)
2.1.2 Kependudukan dan Kegiatannya
2.1.2.4 Perdagangan dan Industri
Secara garis besar industri dibagi menjadi 2 jenis, yaitu industri besar sedang (IBS) dan industri mikro kecil (IMK). Jumlah perusahaan industri mikro dan kecil pada tahun 2018-2019 tumbuh berkembang pesat dilihat dari jumlahnya pada tahun 2018 sebanyak 37.850 dan pada tahun 2019 sebanyak 62.929. Adapun industri mikro yang memiliki tenaga kerja terbesar selama 2019 3 diantaranya adalah makanan dengan 45.821 orang tenaga kerja, pakaian jadi dengan 88.153 orang tenaga kerja, dan percetakan dan reproduksi media rekaman dengan 15.903 orang tenaga kerja.
Berdasarkan hasil survey Industri Besar/Sedang tahunan terdapat 2.118 perusahaan di DKI Jakarta pada tahun 2018 yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 324.740 orang. Industri pengolahan yang mendominasi adalah klasifikasi pakaian jadi yaitu sebanyak 411 perusahaan. Nilai output perusahaan besar dan sedang pada tahun 2018 sebesar Rp. 575,35 milyar. Sementara itu Industri Mikro Kecil tercatat berjumlah 62.929 perusahaan di DKI Jakarta pada tahun 2019 yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 214.730 orang. Industri pengolahan yang mendominasi adalah klasifikasi makanan yaitu sebanyak 22.412 perusahaan dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 45.821 orang.
Jumlah perusahaan dan tenaga kerja pada industri besar dan sedang dari tahun 2015 sampai tahun 2017 meningkat namun pada tahun 2018 terjadi penurunan. Untuk jumlah tenaga kerja terbanyak terjadi pada tahun 2017 di wilayah administrasi Jakarta Timur sebanyak 1.210.149 orang. Dan untuk jumlah perusahaan terbanyak pada tahun 2017 sebanyak 810 perusahaan di Jakarta Barat. Sedangkan untuk industri mikro dan kecil jumlah tenaga kerja terbanyak terjadi pada tahun 2019 dengan jumlah 77.537 orang, dan untuk perusahaan terbanyak 16.969. Baik tenaga kerja maupun perusahaan tertinggi ada di Jakarta Barat. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah perusahaan dan tenaga kerja pada industri dapat dilihat pada tabel 2.66 dan tabel 2.67 dibawah ini.
Tabel 2.65 Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Besar dan Sedang Menurut Kota Administrasi di Provinsi DKI Jakarta
No. Kabupaten/Kota Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja
2015 2017 2018
1 Kepulauan Seribu - - - - 1 20
2 Jakarta Selatan 57 3.845 189 20.159 181 33.705
3 Jakarta Timur 285 80.006 597 1.210.149 476 96.874
4 Jakarta Pusat 94 4.920 203 20.358 145 11.265
5 Jakarta Barat 394 40.391 810 70.900 750 63.683
6 Jakarta Utara 493 148.940 783 174.784 565 119.193
Jumlah 1.323 278.102 2.582 1.496.350 2.118 324.740
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.66 Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Industri Mikro dan Kecil Menurut Kota Administrasi di Provinsi DKI Jakarta
No. Kabupaten/Kota Perusahaan Tenaga Kerja Perusahaan Tenaga Kerja
2018 2019
1 Kepulauan Seribu 378 682 593 1.143
2 Jakarta Selatan 6.831 19.376 13.780 33.785
3 Jakarta Timur 7.390 23.761 14.187 42.016
4 Jakarta Pusat 5.588 21.795 6.322 23.842
5 Jakarta Barat 12.244 64.497 16.969 77.537
6 Jakarta Utara 5.419 19.133 11.078 36.407
Jumlah 37.850 149.244 62.929 214.730
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2020
Tabel 2.67 Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Klasifikasi Industri pada Industri Besar dan Sedang di Provinsi DKI Jakarta
No. Klasifikasi Industri
Tahun
2015 2017 2018
Perusahaan Tenaga
Kerja Perusahaan Tenaga
Kerja Perusahaan Tenaga Kerja
7 Kayu Barang Dari Kayu dan Gabus (tidak termasuk furnitur) dan Barang-Barang Anyaman dari Bambu Rotan dan Sejenisnya
16 1.438 37 3.311 33 1.682
8 Kertas dan Barang dari Kertas 33 2.010 67 4.841 63 4.391
9 Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman 122 10.752 269 17.248 230 15.130
10 Produk dan Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi 1 185 8 895 10 3.409
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.68 Jumlah Perusahaan dan Tenaga Kerja Menurut Klasifikasi Industri pada Industri Mikro dan Kecil di Provinsi DKI Jakarta
No. Klasifikasi Industri
Tahun
2018 2019
Perusahaan Tenaga
Kerja Perusahaan Tenaga Kerja
1 Makanan 9.691 22.949 22.412 45.821
2 Minuman 1.083 2.377 1.984 4.639
3 Pengolahan Tembakau 5 10
4 Tekstil 959 3.686 2.573 11.866
5 Pakaian Jadi 13.369 65.797 19.163 88.153
6 Kulit dan Barang Dari Kulit Alas Kaki 1.220 5.870 1.257 7.252
7 Kayu Barang Dari Kayu dan Gabus (tidak termasuk furnitur) dan Barang-Barang Anyaman dari Bambu Rotan dan Sejenisnya
1.015 3.764 3.150 10.629
8 Kertas dan Barang dari Kertas 245 818 533 1.536
9 Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman 4.251 20.941 4.023 15.903
10 Produk dan Batubara dan Pengilangan Minyak Bumi - - - -
11 Bahan Kimia dan Barang-Barang dari Bahan Kimia 72 250 100 560
12 Farmasi Obat Kimia dan Obat Tradisional 108 345 36 48
13 Karet, Barang Dari Karet dan Plastik 307 1.901 836 2.483
14 Barang Galian Bukan Logam 285 818 151 501
15 Logam Dasar 11 22 19 76
16 Barang Logam Bukan Mesin dan Peralatannya 1.770 7.791 1.325 5.584
17 Komputer Barang Elektronik dan Optik 17 202 32 92
18 Peralatan Listrik 42 229 3 30
19 Mesin dan Perlengkapan ytdi 80 342 323 1.598
20 Kendaraan Bermotor Trailer dan Semi Trailer 64 124 30 84
21 Alat Angkutan Lainnya 27 71 50 111
22 Furnitur 1.472 5.556 2.743 12.111
23 Pengolahan Lainnya 1.536 4.544 1.635 4.509
24 Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan 226 665 546 1.134
Jumlah 37.850 149.244 62.929 214.730
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
2.1.2.5 Kesehatan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Dinas Kesehatan DKI jakarta memperbaiki dan menambah jumlah fasilitas kesehatan, guna memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat di Provinsi DKI Jakarta. Fasilitas kesehatan tersebut terdiri dari rumah sakit umum, rumah sakit khusus, puskesmas, klinik/balai kesehatan, dan posyandu. Jumlah rumah sakit dari tahun 2016 dengan jumlah 187 terus bertambah sampai tahun 2020 dengan jumlah 193. Puskesmas kecamatan jumlahnya tetap sama dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dengan jumlah 44 puskesmas. Untuk lebih jelasnya jumlah fasilitas kesehatan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 2.66. Fasilitas rumah sakit tahun 2020 sebanyak 193 unit dengan kapasitas tempat tidur sebanyak 22.209. Jumlah tenaga kesehatan berjumlah 10.112 orang dokter umum, 9.521 orang dokter spesialis dan 3.005 orang dokter gigi. Jumlah peserta KB baru di DKI Jakarta pada tahun 2020 sebanyak 128.692 orang
Tabel 2.69 Jumlah Fasilitas Kesehatan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2016-2020
No Fasilitas Kesehatan Tahun
2016 2017 2018 2019 2020
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Pada setiap unit fasilitas kesehatan membutuhkan tenaga kesehatan untuk menjalankan tugas serta membantu penyembuhan pada pasien yang berobat.
Tenaga kesehatan yang utama adalah dokter. Profesi Dokter dibagi menjadi beberapa jenis dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi.
Tabel 2.70 Jumlah Tenaga Kesehatan Tahun 2016 – 2020
No Tenaga Kesehatan Tahun
2016 2017 2018 2019 2020 Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.71 Sarana Kesehatan Menurut Kota Administrasi Tahun 2016 – 2017
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2018
Tabel 2.72 Sarana Kesehatan Menurut Kota Administrasi Tahun 2018 – 2019
No Kabupaten/Kota
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2019-2020
Tabel 2.73 Sarana Kesehatan Menurut Kota Administrasi Tahun 2020
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2021
Pemantauan lingkungan terhadap fasilitas kesehatan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dengan cara membuat Lubang Resapan Biopori, pengelolaan Limbah Medis Fasyankes, pemanfaatan air hasil pengolahan limbah untuk menyiram tanaman, dan penanaman Hidroponik (RPTRA). Untuk Lubang Resapan Biopori dapat berkoordinasi dengan Kelurahan, pengelolaan Limbah Media Fasyankes yang terdiri dari limbah padat dengan kantong plastik kuning dan limbah cair dengan sistem instalasi pengolahan. Air limbah dan penggunaan kembali air hasil pengolahan limbah cair untuk menyiram air. penanaman sayuran Hidroponik di sekitar lingkungan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Rumah Sakit ataupun Dinas Kesehatan.
2.1.2.6 Pariwisata
Pada saat ini pariwisata di Indonesia khususnya Provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan kunjungan khususnya pada tahun 2019 dan tahun 2020 dikarenakan adanya pandemi Covid-19. Pembatasan banyaknya orang yang masuk dan jarak yang harus dijaga antar pengunjung menyebabkan semakin sedikitnya kunjungan yang dilakukan oleh masyarakat. Untuk lebih jelasnya jumlah kunjungan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada tabel 2.71.
Wisatawan domestik maupun mancanegara yang tercatat pada Tourist Information Center (TIC) serta data yang dihimpun oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta tempat wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan antara lain Djakarta Teater, Kawasan Kota Tua, Museum Tekstil dan Monumen Nasional. Selain sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia, Provinsi DKI Jakarta mempunyai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan nusantara sebagai salah satu pilihan untuk berlibur. Destinasi wisata yang dikunjungi seperti Taman Impian Jaya Ancol, Kepulauan Seribu, Taman Marga Satwa Ragunan, Taman Mini Indonesia Indah, dan Museum.
Banyaknya wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke DKI Jakarta dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Para wisatawan tersebut
berkontribusi dalam meningkatkan pajak penghasilan daerah yang meliputi pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan dan retribusi.
Tabel 2.74 Jumlah Kunjungan Wisatawan ke Obyek Wisata Unggulan Tahun 2016 – 2020
No Lokasi Tahun
2016 2017 2018 2019 2020
1 Taman Impian Jaya Ancol
17.850.284 19.271.212 17.575.914 9.282.441 2.351.961
2 TMII 4.977.704 5.704.712 6.004.718 5.071.980 1.123.542 3 Ragunan 5.177.877 5.366.148 5.455.788 5.407.858 633.963 4 Monumen Nasional 1.878.155 1.866.428 1.945.747 12.112.946 443.034 5 Museum Nasional 380.762 293.918 263.171 305.086 67.088 6 Museum Satria Mandala 37.969 36.144 11.693 17.132 3.138 7 Museum Sejarah
Jakarta
733.921 798.139 612.668 746.971 153.223
8 Pelabuhan Sunda Kelapa
43.398 58.284 45.653 38.058 16.348
Jumlah 31.080.070 33.384.985 32.115.352 32.982.472 4.792.342 Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017 – 2021
Berdasarkan hasil survey hotel dan akomodasi lainnya pada tahun 2020 tercatat sebanyak 392 unit hotel berbintang yang terdapat di DKI Jakarta. Hotel berbintang terbanyak terdapat di Kota Jakarta Pusat yaitu sebanyak 178 unit. Sementara itu.
Kabupaten Kepulauan Seribu merupakan daerah dengan jumlah hotel paling sedikit.
Data akomodasi secara keseluruhan dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.75 Jumlah Akomodasi, Kamar dan Tempat Tidur di Hotel Bintang Menurut Kabupaten/Kota Administrasi Tahun 2016 – 2018
No Kabupaten/Kota
Tahun
2016 2017 2018
Akomodasi Kamar Tempat Tidur Akomodasi Kamar Tempat Tidur Akomodasi Kamar Tempat Tidur
1 Kepulauan Seribu 4 192 285 N/A N/A N/A 4 222 334
2 Jakarta Selatan 48 7.698 10.218 N/A N/A N/A 107 14.164 19.660
3 Jakarta Timur 11 1.404 1.921 N/A N/A N/A 18 1.813 2.038
4 Jakarta Pusat 110 20.888 28.708 N/A N/A N/A 186 26.491 29.390
5 Jakarta Barat 29 5.774 8.095 N/A N/A N/A 57 8.299 10.581
6 Jakarta Utara 20 3.850 6.066 N/A N/A N/A 35 5.848 8.361
Jumlah 232 39.806 55.293 N/A N/A N/A 407 56.837 70.364
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.76 Jumlah Akomodasi, Kamar dan Tempat Tidur di Hotel Bintang Menurut Kabupaten/Kota Administrasi Tahun 2019-2020
No Kabupaten/Kota
Tahun
2019 2020
Akomodasi Kamar Tempat Tidur Akomodasi Kamar Tempat Tidur
1 Kepulauan Seribu 4 222 334 4 205 484
2 Jakarta Selatan 101 13.604 19.065 101 13.422 18.038
3 Jakarta Timur 18 1.813 2.038 20 2.125 2.549
4 Jakarta Pusat 182 25.991 28.722 178 26.522 30.547
5 Jakarta Barat 56 8.162 10.428 53 7.326 9.811
6 Jakarta Utara 36 6.008 8.649 36 5.923 8.476
Jumlah 397 55.800 69.236 392 55.523 69.905
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.77 Jumlah Akomodasi, Kamar dan Tempat Tidur di Hotel Non Bintang Menurut Kabupaten/Kota Administrasi Tahun 2016 – 2018
No Kabupaten/Kota
Tahun
2016 2017 2018
Akomodasi Kamar Tempat Tidur Akomodasi Kamar Tempat Tidur Akomodasi Kamar Tempat Tidur
1 Kepulauan Seribu 22 213 406 N/A N/A N/A 300 782 1.117
2 Jakarta Selatan 11 349 547 N/A N/A N/A 38 7.254 7.322
3 Jakarta Timur 26 1.011 1.316 N/A N/A N/A 26 882 997
4 Jakarta Pusat 65 2.706 3.970 N/A N/A N/A 178 4.985 5.989
5 Jakarta Barat 42 2.044 2.544 N/A N/A N/A 66 2.851 3.005
6 Jakarta Utara 39 1.975 2.208 N/A N/A N/A 40 1.430 1.602
Jumlah 205 8.298 10.991 N/A N/A N/A 648 18.184 20.032
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Tabel 2.78 Jumlah Akomodasi, Kamar dan Tempat Tidur di Hotel Non Bintang Menurut Kabupaten/Kota Administrasi Tahun 2019-2020
No Kabupaten/Kota
Tahun
2019 2020
Akomodasi Kamar Tempat Tidur Akomodasi Kamar Tempat Tidur
1 Kepulauan Seribu 238 658 958 209 854 1.499
2 Jakarta Selatan 47 7.470 7.749 47 7.441 2.469
3 Jakarta Timur 26 882 997 22 785 878
4 Jakarta Pusat 173 4.945 5.924 167 4.795 5.760
5 Jakarta Barat 73 3.281 3.493 68 3.106 3.441
6 Jakarta Utara 37 1.369 1.528 35 1.424 1.536
Jumlah 594 18.605 20.649 548 18.405 15.583
Sumber : Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka, 2017-2021
Pemantauan lingkungan terhadap fasilitas pariwisata di Provinsi DKI Jakarta dilakukan melalui beberapa cara, seperti pengelolaan sampah yang dampak dari pembuangan sampah tersebut akan merusak keindahan kota dan berdampak turunnya jumlah kunjungan wisatawan. Memberikan edukasi terhadap pihak pengelola pariwisata untuk teknik pengelolaan limbah beracun (B3) di industri pariwisata, maupun limbah domestik dari rumah makan yang ada di sekitar lokasi wisata. Demi kenyamanan para wisatawan Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta terus memantau fasilitas yang menunjang di sekitar lokasi wisata.
2.1.2.7 Sanitasi
Air bersih merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat di Provinsi DKI Jakarta.
Kebutuhan air bersih dipasok oleh PAM Jaya yang memiliki kemitraan dengan PT.
Palyja dan PT. Aetra. Pelayanan air bersih dibagi menjadi 2 wilayah untuk wilayah barat dilayani oleh PT. Palyja dan untuk wilayah timur dilayani oleh Aetra. Seiring dengan bertambahnya penduduk maka kebutuhan akan air minum membuat jumlah pelanggan air bersih dari PAM Jaya terus bertambah. Dengan jumlah penduduk Jakarta sebanyak 10,6 juta jiwa pada tahun 2020, ditambah kebutuhan penglaju, diperkirakan sebanyak 1,1 miliar meter kubik air per tahun. Data badan regulator pelayanan air minum DKI Jakarta menunjukkan air yang terjual pada 2020 sebanyak 342, 4 juta meter kubik, dengan demikian air leding hanyna memasok 32% kebutuhan penduduk, sisanya menggunakan air tanah. Sumber air minum layak terus mengalami penurunan sejak tahun 2016 hingga tahun 2020, dapat terlihat jelas angka penurunannya dalam gambar dibawah ini.
Gambar 2.76 Grafik Sumber Air Minum Layak yang Dikonsumsi Penduduk DKI Jakarta
Sumber : DIKLPHD Provinsi DKI Jakarta 2021
Gambar 2.77 Kubikasi Air yang Disalurkan/Terjual dan Nilai Rupiah di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2013-2019
Sumber : Perusahaan Air Minum Jaya
Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa nilai rupiah yang dihasilkan setiap tahunnya terus meningkat akan tetap dari tahun 2018 sebesar 2.743,61 milialr rupiah menjadi 2.431,15 miliar rupiah di tahun 2019. Untuk kubikasi air yang disalurkan/terjual dari tahun 2013 sebanyak 314,32 juta m3 sampai dengan tahun 2019 sebanyak 362,63 juta m3 terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Adapun jumlah pelanggan PAM Provinsi DKI Jakarta Tahun 2019 menurut jenis pelanggan dibagi menjadi non niaga, niaga, sosial, industri, lain-lain dan khusus/rumah susun.
Jumlah terbesar ada pada pelanggan non niaga sebesar 743.555 pelanggan. Dalam kelompok pelanggan non niaga rumah tangga merupakan pelanggan terbanyak untuk penggunaan air bersih dengan jumlah 739.944 pelanggan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.
Gambar 2.78 Jumlah Pelanggan Perusahaan Air Minum (PAM) Menurut Jenis Pelanggan Tahun 2019
Sumber : DIKPLHD Provinsi DKI Jakarta 2021
Pengelolaan sampah di Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu tantangan yang sangat besar. Permasalahan sampah di DKI Jakarta juga disebabkan oleh timbulan sampah di daerah hulu (luar Jakarta) yang terbawa oleh sungai hingga masuk ke dalam wilayah DKI Jakarta dan terakumulasi dengan sampah di dalam Kota Jakarta.
Penumpukan sampah yang tidak tertangani merupakan penyebab pencemaran pada
sungai dan Teluk Jakarta, masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengolahan sampah menyebabkan beban anggaran semakin besar untuk biaya pengangkutan.
Dalam hal perencanaan DKI Jakarta berencana mencari alternatif teknologi terbaru yang dapat menggantikan peran TPA dalam proses akhir pengolahan sampah.
Sampah yang berasal dari semua sektor akan dikumpulkan dan disimpan sementara di TPS, setelah terkumpul semuanya akan diangkut ke TPA untuk nantinya dilakukan pemilahan dan pengolahan. Jenis TPS terbagi menjadi pool gerobak, pool container, bak beton, dipo, TPS dan TPS 3R. Jumlah TPS di Provinsi DKI Jakarta didominasi oleh pool gerobak dan pool container pada tahun 2019. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.79 Tempat Pembuangan Sampah Sementara Menurut Jenis TPS menurut Kota Administasi Tahun 2019 Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta
Tabel 2.80 TPS dan Bank Sampah menurut Kota Administasi Tahun 2020
No Kota Administrasi TPS Bank Sampah
1 Kepulauan Seribu 34 24 Sumber : Paparan DLH DKI Jakarta, 2021
DKI Jakarta merupakan pusat dari segala aktivitas karena merupakan Ibukota Negara, hal tersebut mengakibatkan banyaknya kegiatan domestik yang menghasilkan residu berupa limbah padat dan cair. Sampai saat ini pengolahan limbah di DKI Jakarta masih menggunakan sistem on-site. Akibat dari pengolahan limbah yang belum efektif menjadi salah satu penyebab utama pencemaran di sungai dan Teluk Jakarta. Perda Nomor 3 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik, dan Kep. Gubernur
No. 45 tahun 1992 tentang Sistem Perpipaan Pengolahan Air Limbah. Pemerintah DKI Jakarta telah menyusun masterplan sistem jaringan air limbah yang dikenal dengan proyek Jakarta Sewerage System.
Untuk mengelola air limbah Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta membuat kegiatan perbaikan kualitas lingkungan dengan membangun SPALD skala permukiman sebanyak 5 lokasi di RPTRA dan 4 lokasi di waduk. Pembangunan SPALD pada tahun 2020 keseluruhan mencapai 6.955 SR. Dan melakukan revitalisasi tangki septik di rumah jaga pompa sebanyak 37 lokasi untuk menurunkan pencemaran air dan tanah. Pembangunan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) yang berfungsi untuk mengolah tinja dari tangki septik masyarakat. Adapun pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di beberapa RPTRA yang tersebar di Provinsi DKI Jakarta.
Berikut merupakan titik lokasi pembangunan IPAL dan IPLT pada tabel dibawah ini.
Tabel 2.81 Kegiatan Fisik untuk Pengelolaan Air Limbah
No. Nama Kegiatan Lokasi Kegiatan Pelaksana Kegiatan 1 Pembangunan SR (Sambungan
Rumah) Pulau Panggang
Pulau Panggang, Kab.Kepulauan Seribu
Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 2 Pembangunan SPALD di Kab.
Kepulauan Seribu
Pulau Harapan, Kab.Kepulauan Seribu
Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 3 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Ciracas Prima
Ciracas, Jakarta Timur Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 4 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) RPTRA Tunas Harapan
Sunter Jaya, Jakarta Utara
Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 5 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) RPTRA 6 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Asrama Damkar Ciganjur
Ciganjur, Jakarta Selatan Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 7 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Asrama Damkar Semper
Semper, Jakarta Utara Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 8 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Waduk Kaja
Ciracas, Jakarta Timur Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 9 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Waduk 10 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Setu Babakan
Jagakarsa, Jakarta Selatan
Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 11 Pembangunan Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL) Waduk Jagakarsa
Jagakarsa, Jakarta Selatan
Bidang Air Baku, Air Bersih dan Air Limbah 12 Pembangunan Sistem Pengelolaan
Air Limbah Domestik (SPALD)
RPTRA Mardani Kec.
Cempaka Putih
Suku Dinas SDA Kota Adm. Jakarta Pusat
No. Nama Kegiatan Lokasi Kegiatan Pelaksana Kegiatan 13 Pembangunan Sistem Pengolahan
Air Limbah (Bioretention) Di 14 Pembangunan Sistem Pengelolaan
Air Limbah Domestik (SPALD) di Wilayah Jakarta Timur Sumber : Dinas Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta
Provinsi DKI Jakarta terdiri dari jaringan-jaringan drainase yang rumit. Beberapa diantaranya adalah jaringan saluran drainase yang secara hidrolik berdiri sendiri namun terdapat jaringan saluran drainase yang berhubung satu sama lain. DKI Jakarta juga merupakan kota yang terbentuk secara alami, untuk penataan kota dan pengelolaan drainase tidak dapat dilakukan secara optimal. Sebagian besar tanah dan lokasi drainase di Provinsi DKI Jakarta sudah menjadi hak milik atau dikuasai oleh perorangan sehingga menyulitkan dalam penambahan dan penataan drainase, karena memerlukan dana besar untuk pembebasan lahan milik warga. Pentingnya pengelolaan sistem drainase sangat berpengaruh karena apabila dalam pengelolaan sampah yang kutang baik maka sedikit banyak pengaruhnya terhadap kapasitas sistem drainase untuk melakukan limpasan air hujan akan terhambat.
Dalam penanggulangan bencana banjir, rob dan genangan di Provinsi DKI Jakarta pemerintah melakukan pembangunan drainase tersier, sekunder dan primer. Karena setiap datang musim penghujan genangan dan banjir akan muncul akibat dari kondisi drainase yang buruk. Setelah adanya pembangunan drainase tersier, sekunder dan primer tetap harus diperhatikan dan dilakukan pemeliharaan agar bencana banjir, rob maupun genangan tidak terjadi lagi.
Tabel 2.82 Sistem Drainase di Provinsi DKI Jakarta
No Jenis Lokasi Panjang
No Jenis Lokasi Panjang
1. Saluran Penghubung dan mikro di 5 wilayah
13.595.118 27.190.235
5 Sarana dan Prasarana Lain 1. Irigasi 272.112 - 1.605.394
2. Pompa - - -
3. Pintu AIr - - -
Sumber : Materi Teknis RDTR
2.2 INDIKASI DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG LINGKUNGAN HIDUP