• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daya Dukung dan Daya Tampung

B. Lahan dan Hutan Potensi dan Ketersediaan

Dinamika penggunaan lahan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan menyebabkan pada saat ini Jakarta mengalami keterbatasan ketersediaan lahan.

Terkonsentrasi pusat-pusat perekonomian nasional di DKI Jakarta menyebabkan bertumbuhnya kegiatan komersial yang menyebar di seluruh DKi Jakarta. Adanya keterbatasan lahan mengakibatkan adanya peningkatan intensitas penggunaan lahan ditandai dengan berkembangnya bangunan tinggi di Jakarta. Perkembangan bangunan tinggi tidak hanya menggunakan lahan tidak terbangun, tetapi juga mengubah kawasan permukiman menjadi kawasan campuran di Jakarta. Hingga tahun akhir 2019, didapatkan kurang lebih 1.027 bangunan tinggi telah selesai dibangun di DKI Jakarta. Pengembangan dan pemanfaatan bangunan tinggi banyak terjadi sejak era tahun 2000. Pada era sebelum tahun 2000, teridentifikasi sekitar 308 bangunan tinggi yang telah operasional, sementara pembangunan bangunan tinggi setelah tahun 2000 berjumlah dua kali lipatnya. Diperkirakan akan terdapat kurang lebih 1350 bangunan tinggi di DKI Jakarta pada tahun 2030 (URDI, 2019). Sebaran bangunan tinggi Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada peta dibawah.

Gambar 2.5 Ilustrasi Sebaran Bangunan Tinggi di DKI Jakarta 2019

Lebih dari 60% penggunaan bangunan tinggi di DKI Jakarta adalah untuk hunian vertikal, hanya saja adanya pengembangan hunian vertikal pada skala kawasan juga turut mendorong berkembangnya kegiatan komersial di kawasan tersebut yang kemudian mengubah pola penggunaan lahan dari kawasan perumahan dan permukiman menjadi kawasan tercampur dengan kawasan komersial.

Penggunaan lahan terbangun yang tinggi juga menyebabkan DKI Jakarta mengalami tantangan dalam ketersediaan lahan. Hal pertama yang sangat menonjol adalah adanya keterbatasan ruang terbuka. Hasil dari analisis penggunaan lahan memperlihatkan bahwa ruang terbuka hijau dan biru di Jakarta tidak mencapai 10%

dari luas Jakarta. Hal ini tentunya masih jauh dari angka ideal yaitu sekitar 30%

sebagaimana yang telah ditetap kan dalam UU Penataan Ruang.

Kawasan Lindung

Penggunaan lahan di Provinsi DKI Jakarta umumnya terbagi menjadi kawasan kawasan lindung dan kawasan budidaya. Dengan mencermati data spasial penggunaan lahan (penutupan lahan) pada tahun 2020, pemanfaatan lahan DKI Jakarta diantaranya merupakan kawasan lindung yang terdiri dari kawasan hutan lindung dengan luasan sebesar 44,76 Ha, Ruang Terbuka Hijau 9.602,5 Ha, Suaka Marga Satwa Muara Angke 25,02 Ha, Taman Nasional Kepulauan Seribu sebesar 107,489 Ha, Taman Wisata Alam Angke Kapuk 99,82 Ha, dan Suaka Margasatwa Pulau Rambut sebesar 90 Ha. Untuk lebih detail mengenai peta kawasan hutan dan luasan kawasan lindung dan budidaya di Provinsi DKI Jakarta bisa dilihat pada tabel dibawah.

Gambar 2.6 Peta Kawasan Hutan di Provinsi DKI Jakarta

Tabel 2.8 Tutupan Lahan Untuk Kawasan Lindung Provinsi DKI Jakarta

1. Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut

3.1. Suaka Margasatwa Muara Angke 25,02 25,02 0,04 0 10,81 3.2. Suaka Margasatwa Pulau Rambut 90 46,59 0,18 4,22 0,38 2. Cagar Alam dan Cagar Alam

Laut

Cagar Alam Pulau Bokor 18 16,67 0,0108 0 0

3. Kawasan Pantai Berhutan Bakau 0 0 0 0 0

4. Taman Nasional dan Taman Nasional Laut

Taman Nasional Kepulauan Seribu 107,489 39,5 0 0 107449,5 5. Taman Wisata Alam dan Taman

Wisata Alam Laut

Taman Wisata Alam Angke Kapuk 99,82 0 0 0 0

6. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Nama Kawasan

2. Kawasan Rawan Bencana i. Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi

0 0 0 0 0

ii. Kawasan Rawan Gempa Bumi 0 0 0 0 0

iii. Kawasan Rawan Gerakan Tanah 0 0 0 0 0

iv. Kawasan yang Terletak diZona Patahan Aktif

7. Kawasan Koridor bagi Jenis Satwa atau Biota Laut yang dilindungi

DKI Jakarta memiliki wilayah dengan ketersediaan keanekaragaman hayati pada kawasan lindung yang telah ditetapkan. Kawasan lindung yang memiliki status perlindungan Ramsar sites, daerah migrasi burung dari Asia Timur ke Australia serta termasuk dalam wilayah peta PIPPIB (peta indikatif penundaan izin baru). Data DIKPLHD 2020 memperlihatkan luas kawasan konservasi sebesar 10,077.61 Ha yang berada di DKI Jakarta. Kawasan konservasi Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada Gambar 2.9.

Tabel 2.9 Potensi Keanekaragaman Hayati Provinsi DKI Jakarta

NO Keterangan

B Spesies endemic/ dilindungi 1 Ramsar site Ramsar site 2 Status dilindungi PP

7/1999

NO Keterangan

Gambar 2.7 Lahan Mangrove di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2021

Klasifikasi luas wilayah menurut penggunaan lahan utama di DKI Jakarta pada Tahun 2018 tercatat bahwa luas lahan hutan yang meliputi tutupan kawasan hutan, tutupan hutan kota, tutupan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 107.894,19 Ha dan luas lahan badan air seluas 1.269,14 Ha. Dengan luas wilayah Provinsi DKI Jakarta sebesar 66,233 Km2 = 6.623.300 Ha, maka tutupan lahan ini baru mencapai ± 1,65%.

Banyaknya pohon yang ditanam untuk menambah ruang terbuka hijau paling tinggi dilakukan di Jakarta Utara dengan jumlah batang pohon 29.578 batang, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.8 Grafik Penanaman Pohon di Provinsi DKI Jakarta

Gambar 2.9 Peta Kawasan Konservasi di Provinsi DKI Jakarta

Kawasan Budidaya

Kawasan budidaya terdiri dari kawasan peruntukan hutan produksi, pertanian, pertambangan, industri, pariwisata, permukiman, pendidikan tinggi, pesisir dan pulau-pulau kecil, serta kawasan militer dan kepolisian. Dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan fisik wilayah DKI Jakarta ditandai oleh semakin luasnya lahan terbangun. Perkembangan lahan terbangun berlangsung dengan pesat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktifitasnya. Kecenderungan tersebut mengindikasikan bahwasanya ketersediaan lahan menjadi permasalahan yang penting bagi pembangunan DKI Jakarta. Pembangunan fisik di Jakarta terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini ditandai oleh pembangunan gedung perkantoran, sarana ekonomi dan sosial serta infrastruktur kota lainnya.

Semua ini merupakan konsekuensi logis dari semakin majunya pembangunan dan perekonomian DKI Jakarta. Wilayah yang digunakan untuk budidaya pembangunan daerah di DKI Jakarta terdapat penggunaan lahan untuk lahan non-pertanian, lahan sawah, lahan kering hingga lahan perkebunan. Berikut ini merupakan luas wilayah menurut penggunaan lahan utama Provinsi DKI Jakarta Tahun 2019, dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tabel 2.10 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020

NO KABUPATEN/KOTA

Pertumbuhan penduduk dan signifikani perekonomian dan peran Jakarta dalam skala nasional menyebabkan terjadi perubahan tutupan lahan yang sangat signifikan di DKI Jakarta. Adanya penetapan fungsi-fungsi penting industri disertai dengan pengembangan berbagai fasilitas skala internasional kemudian semakin mendorong urbanisasi yang terjadi di Jakarta. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk yang disertai dengan berbagai aktifitas yang berlangsung di DKI Jakarta, luasan kawasan terbangun berkembang dari 20,34% pada tahun 1978 menjadi 90,85% pada tahun 2015 (Yanto, 2016). Perkembangan kawasan terbangun mengalami lonjakan yang cukup tinggi pada era tahun 1983-1997 yaitu hingga mencapai 42% seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk DKI Jakarta sejumlah kurang lebih dua juta jiwa. Pada era 1997-2000 dan 2000-2005 pertumbuhan kawasan terbangun melambat dikarenakan adanya krisis ekonomi 1998 yang dilanjutkan dengan proses pemulihannya. Sejak tahun 2010 pertumbuhan menjadi sangat lambat dikarenakan adanya keterbatasan lahan di Jakarta. Pada dasarnya ekspansi yang terjadi tidak terjadi dalam lingkup DKI Jakarta, tetapi juga mempengaruhi kabupaten dan kota di sekitar DKI Jakarta. Ekspansi perkembangan lahan terbangun di DKI Jakarta dan sekitarnya dapat dilihat pada gambar di bawah.

Tabel 2.11 Perkembangan Kawasan Terbangun di Daratan Jakarta 1978-2015 Kawasan

Terbangun 1978 1983 1997 2000 2005 2010 2015

Luas (ha) 13.456,57 20.375,64 47.657,04 54.773,97 60.100,33 59.910,9 60.099,74

% 20,34 30,80 72,04 82,80 90,85 90,57 90,85

Sumber: Yanto, 2016

Gambar 2.10 Perkembangan Kawasan Terbangun Jakarta dan sekitarnya

Sumber: Rustadi et al., 2015

Gambar 2.11 Peta Penggunaan Lahan Provinsi DKI

Sumber: RTRW Provinsi DKI Jakarta 2030

Peruntukan lahan untuk perumahan menduduki proporsi terbesar, yaitu 48,41 persen dari luas daratan utama DKI Jakarta. Sedangkan luasan untuk peruntukan bangunan industri, perkantoran dan perdagangan hanya mencapai 15,68 persen.

Secara keseluruhan lahan di Jakarta merupakan lahan budidaya dimana penggunaan lahan terbesar masih didominasi untuk guna lahan perumahan dan permukiman.

Trend dari tahun 2000, 2010, dan 2017 menunjukkan bahwa lebih dari setengah penggunaan lahan DKI Jakarta untuk kegiatan perumahan dan permukiman. Hasil analisis URDI menunjukkan bahwa secara spesifik, penggunaan lahan untuk permukiman lebih mendominasi dibandingkan dengan perumahan dengan perbandingan 3 dibanding 2. Dalam kurun waktu yang sama, perubahan terbesar terlihat dalam hal peningkatan fasilitas umum, komersil dan pemerintahan, dan lahan tidak terbangun.

Jenis pemanfaatan lahan di Provinsi DKI Jakarta 2020 hanya terdapat lahan untuk pemanfaatan pertanian dengan skala usaha rakyat berupa sawah. Luas sawah di Provinsi DKI yaitu sebesar 538 Ha.

Tabel 2.12 Jenis Pemanfaatan Lahan di Provinsi DKI Jakarta 2020

No Jenis Pemanfaatan

Lahan Jumlah Skala Usaha Luas Keterangan 1. Tambang

Selain jenis pemanfaatan diatas, terdapat juga jenis pemanfaatan untuk pelaku usaha untuk lingkungan binaan di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 23 usaha. Untuk lebih detail mengenai lokasi dan luasan dari jenis pemanfaatan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.13 Jenis Pemanfaatan Lahan Untuk Pelaku Usaha di Provinsi DKI Jakarta 2020

Kecil 0,1286 Lokasi binaan untuk

No

Untuk kawasan pertambangan di Provinsi DKI Jakarta terletak di Kawasan Kepulauan Seribu yaitu areal produksi pertambangan minyak dan gas. Operasi pertambangan dilakukan Pertamina Hulu Energi ONWJ dengan pertambangan seluas 119.000,2 Ha, dengan kapasitas produksi 2.609.138 ton per tahun.

Tabel 2.14 Luas Areal dan Produksi Menurut Jenis Bahan Galian di Provinsi DKI Jakarta 2020

No Jenis Bahan

Galian Nama Perusahaan Luas Ijin Usaha Penambangan (Ha)

Energi ONWJ 830.000 119.200 2.609.138

Sumber: DIKPLHD, 2020

Bentuk Penguasaan

Kewenangan hutan dan pemeliharaannya berada dibawah pengelolaan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) DKI Jakarta. BKSDA DKI Jakarta mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa, Cagar Alam, Taman Wisata Alam, dan Taman Buru serta konservasi jenis tumbuhan dan satwa liar baik didalam

maupun diluar kawasan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.02/MENHUT-II/2007 tanggal 1 Februari 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Konservasi Sumber Daya Alam.

Untuk dapat mengarahkan penguasaan penggunaan lahan, DKI Jakarta telah memiliki rencana tata ruang sebagai pedoman penggunaan lahan. Rencana tata ruang di DKI Jakarta sendiri telah cukup lengkap, yaitu dari rencana makro (Rencana Tata Ruang Wilayah/RTRW), rencana meso (Rencana Detail Tata Ruang/RDTR), hingga rencana mikro (Urban Design Guide Line, UDGL/Panduan Rancang Kota) dimana untuk RTRW dan RDTR telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah, sementara untuk UDGL ditetapkan melalui Keputusan Gubernur. Perubahan yang signifikan terjadi pada guna lahan komersil, yaitu meningkat hingga lebih dari 6% diikuti dengan fasilitas umum (meningkat 3%). Perubahan tersebut berdampak pada berkurangnya lahan tidak terbangun di Jakarta. Perubahan guna lahan di DKI Jakarta berdasarkan Tahun 2000-2017 dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

Disclaimer: Kualitas Citra Satelit sebagai basis data tahun 2000 tidak sebaik tahun 2010 dan 2017

Gambar 2.12 Perubahan Guna Lahan DKI Jakarta (%)

Sumber: Analisis URDI, 2019

Selain itu, untuk perubahan penggunaan lahan yang ada di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2020 dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tabel 2.15 Luas Perubahan Penggunaan Lahan di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020

No. Jenis Penggunaan Luas Lahan (Ha)

Lama Baru

No. Jenis Penggunaan Luas Lahan (Ha)

Lama Baru

5 Semak Belukar 0 0

6 Tanah Kosong 3633,9 3633,9

7 Perairan / Kolam 854,0 854,0

9 Kebun Bibit 68,89 68,89

10 Perikanan 40,6 40,6

11 Sawah 577,79 577,79

Sumber: DIKPLHD, 2020

Tidak hanya rencana tata ruang, Jakarta juga memiliki kebijakan sangat lengkap dalam hal pengaturan pembangunan. Kebijakan-kebijakan ini tidak hanya mengatur penggunaan lahan, tetapi juga mengatur mengenai intensitas bangunan di Jakarta.

Pengembangan RTH adalah upaya pemerintah untuk mengurangi tekanan pencemaran udara ibu kota. Ketersediaan lahan menjadi kendala bagi Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan luasan asrea terbuka hijau. Tahun 2018, penambahan rasio RTH hanya sekitar 0,0665%. Meski demikian, upaya meningkatkan kualitas RTH dilakukan telah diupayakan. Pada tahun 2018, telah diakukan pembangunan ruang terbuka hijau taman dan pembangunan ruang terbuka hijau hutan. Pembangunan RTH taman terluas dilakukan di RTH Taman Jl. Penggilingan Baru, yakni seluas 6.050 m2. Adapun pembangunan RTH hutan dilakukan di Hutan Kota Cipayung, Hutan Kota Sangga Buana, Hutan Kota Ciracas, RTH Jl. Aselih Jakarta Selatan dan RTH Jl. H. Ipin Jakarta Selatan. Selain itu, pemprov DKI Jakarta juga menggalakkan beberapa program lain terkait kebutuhan pengembangan RTH ini, yakni: program gedung hijau (Green Building), program Taman Maju Bersama (TMB)—dulu dikenal dengan nama Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), dan program Gang Hijau. Berikut ini merupakan pengelolaan kawasan lindung yang berada dibawah swasta yang ada di DKI Jakarta dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Tabel 2.16 Jumlah dan Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam

Perubahan tata guna lahan juga dapat menjadi penyebab pencemaran air tanah. Air hujan yang seharusnya masuk ke dalam tanah untuk menambah kuantitas air tanah dapat menyebabkan menurunnya konsentrasi pencemar tidak dapat diserap oleh tanah karena sudah tertutup oleh pelapisan dan fungsi lainnya. Selain kuantitas air yang menurun masuk ke dalam tanah, kualitas air tanah yang dikonsumsi warga juga semakin buruk. Hasil klasifikasi Indeks Pencemaran (IP) di 48 sumur yang tersebar di lima wilayah menunjukkan 27 sumur tercatat cemar berat dan cemar sedang dan 21 sumur lainnya terindikasi cemar ringan dan dalam kondisi baik. Wilayah yang mempunyai kualitas air tanah paling buruk adalah Jakarta Utara. Tujuh dari delapan sumur yang dipantau di wilayah ini masuk kategori cemar berat dan sedang. Pada umumnya wilayah ini digunakan untuk pemukiman kawasan industri dan permukiman padat. Adapun wilayah yang kualitas airnya masih cukup baik adalah Jakarta Selatan.

Banyak fenomena masalah lingkungan seperti banjir, dan polusi udara muncul di Jakarta karena masalah kurangnya ruang terbuka hijau dan menurunnya tata guna lahan misalnya yang berfungsi sebagai hutan, baik hutan di darat, maupun hutan di lingkungan perairan. Untuk itu, salah satu elemen ruang terbuka hijau yang harus dipertahankan di dalam kota adalah Hutan Kota. Namun keberadaan hutan kota ini masih belum terealisasi sempurna karena kepentingan pemanfaatan lahan dari para pengembang daerah yang belum menyediakan ruang terbuka hijau sebagai fungsi resapan air masih relatif sedikit. Nilai kepentingan alam yang masih dinilai rendah dibandingkan dengan pengembangan aktifitas domestik masyarakat yang tinggi.

C. Laut dan Pesisir