• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intensitas komunikasi merupakan aktivitas dalam mencari atau menerima informasi melalui kontak dengan petugas atau pendamping. Hal ini penting untuk diketahui karena berhubungan dengan jumlah pencarian informasi oleh khalayak. Menurut Rogers (2003) petugas pemberi informasi/penyuluh menyediakan mata rantai komunikasi antara sistem sumber daya (umumnya disebut agen perubahan) dan sistem klien.

Hasil penelitian Herawati dan Pulungan (2006) menunjukkan bahwa intensitas penyuluhan berhubungan secara nyata dengan tingkat kehadiran

kontaktani. Hal ini berarti semakin tinggi intensitas penyuluhan maka kesadaran untuk mengetahui pentingnya programa sangat tinggi, tetapi tingginya kehadiran mereka tidak selaras dengan keaktifan dalam mengajukan saran.

Komunikasi Termediasi

Menurut Heath dan Bryant (2000) dalam Poentarie (2009), komunikasi termediasi merupakan komunikasi menggunakan media (mediated) yaitu cara manusia berkomunikasi dengan menggunakan sarana-sarana media massa yang mampu menyampaikan pesan kepada suatu khalayak dalam waktu relatif atau bahkan secara langsung.Poentarie (2009) membagi mediated dalam empat media yaitu media cetak (surat kabar, majalah, tabloid, buku), media elektronik (radio dan televisi), media luar ruangan (spanduk, baliho, umbul-umbul, leaflet, dan brosur), serta media baru (HP dan internet).

Menurut Steven M. Chaffe dalam Budiman (2009), efek penggunaan media akan menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri khalayak, seperti penerimaan informasi, perubahan perasaan atau sikap, dan perubahan perilaku (dengan istilah lain, perubahan kognitif, afektif, dan konatif).Selanjutnya terpaan media menurut Rosengreen (1974) dalam Budiman (2009), dapat dioperasionalkan menjadi jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai jenis media, isi media yang dikonsumsi, dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media keseluruhan (Rahmat, 2010). Menurut Kriyantono (2009) pengukuran terhadap kepuasan terhadap menonton televisi dapat dioperasionalkan ke dalam frekuensi dan durasi seseorang dalam menonton televisi. Sitompul (2009), menambahkan terdapat beberapa variabel dalam penggunaan radio, di antaranya durasi yang digunakan, frekuensi penggunaan, isi (bahan pembicaraan), dan jenis isi (klasifikasi ekonomi, sosial, politik, pendidikan). Pada penelitian tersebut, Sitompul (2009) menyatakan bahwa penggunaan media massa seperti televisi dapat diukur dengan frekuensi menonton televisi, terpaan media televisi, durasi menonton televisi. Penggunaan radio diukur dengan frekuensi mendengarkan radio, topik siaran radio, daya tarik siaran radio, pemahaman siaran radio. Penggunaan surat kabar diukur dengan topik yang dibaca dalam surat kabar.

Frekuensi dan Durasi Penggunaan Media

Frekuensi dan durasi penggunaan media dalam hal ini mencari informasi merupakan bagian dari komunikasi termediasi. Dalam penelitiannya, Saleh (2006) menyatakan tendensi frekuensi mendengarkan siaran radio di kalangan responden peternak sapi potong ini adalah 1-3 kali seminggu. Rata-rata frekuensi mendengarkan radio tersebut hampir sama dengan penelitian Hadiyanto (2001) yang mencapai 3,39 kali per minggu.

Saleh (2006), menjelaskan bahwa intensitas mendengar radio pada peternak kelompok maju jauh lebih banyak. Menurut Hadiyanto (2001) durasi atau lamanya mendengarkan radio, menonton televisi, dan membaca surat kabar diukur dalam jam per hari, baik pada pagi hari, siang hari, sore hari, maupun malam hari.

Berdasarkan terminologi dan hasil penelitian sebelumnya yang dikemukakan di atas, maka dalam penelitian ini komunikasi termediasi merupakan bentuk aktivitas komunikasi dengan menggunakan media sebagai saluran komunikasi yang ditandai dengan adanya kontak dengan media baik media elektronik, media cetak, media luar ruangan maupun media terbaru. Kontak dengan media dapat berarti mendengarkan, melihat, membaca atau secara lebih umum mengalami dengan sedikitnya jumlah perhatian pada pesan media yang ditandai dengan adanya frekuensi penggunaan media dan durasi penggunaan media komunikasi.

Komunikasi dalam Kelompok

Wiryanto (2006) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota- anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Definisi komunikasi kelompok tersebut menunjukkan adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan kelompok. Suatu kelompok dikatakan efektif apabila kelompok tersebut dapat menjalankan fungsinya yaitu untuk saling berbagi informasi. Menurut Rakhmat (2005), keefektifan suatu kelompok dapat dilihat dari berapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota kelompok memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.

Penelitian Marhaeni (2011) menegaskan bahwa komunikasi kelompok diartikan sebagai sekumpulan orang (3-20 orang) yang saling berinteraksi, biasanya tatap muka dalam waktu yang lama guna mencapai tujuan. Komunikasi kelompok ini dapat dianalisis melalui empat aspek pokok yaitu: (1) frekuensi komunikasi yang dilakukan antaranggota kelompok, (2) intensitas dalam berkomunikasi, (3) partisipasi anggota dalam kelompok, dan (4) perasaan senang atau tidak senang ketika masuk menjadi anggota kelompok.

Ada beberapa unsur dalam komunikasi kelompok di antaranya adalah: (1) pelaku komunikasi dalam komunikasi kelompok, (2) pesan-pesan yang dipertukarkan dalam komunikasi kelompok, (3) interaksi yang terjadi dalam proses komunikasi kelompok, (4) kohesivitas yang terjadi di dalam proses komunikasi kelompok, dan (5) norma kelompok yang diterapkan (Gurning et al., 2012). Dalam situasi kelompok terdapat hubungan psikologis. Orang-orang yang terikat dalam hubungan psikologis itu tidak selalu berada secara bersama-sama di suatu tempat, mereka dapat saja berpisah, tetapi tetap terikat oleh hubungan psikologis yang menyebabkan mereka berkumpul bersama-sama secara berulang- ulang (Effendy, 2006). Bentuk-bentuk komunikasi kelompok antara lain: ceramah, diskusi panel, simposium, diskusi forum, seminar, curah pendapat, sumbang saran dan lain-lain (Effendy, 2006). Penelitian Runtuwaro (2002) menyebutkan bahwa komunikasi di dalam kelompok tani terjadi melalui: (1) pelatihan usaha tani (kursus tani), (2) kunjungan penyuluh pertanian, (3) pertemuan anggota kelompok tani atau temu karya, (4) temu usaha, dan (5) pertemuan dengan pemimpin formal atau temu tugas.

Berdasarkan beberapa pengertian komunikasi kelompok tersebut di atas, maka dalam penelitian ini yang dimaksud dengan komunikasi kelompok dalam

kegiatan Posdaya adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok yang diikuti oleh kader Posdaya seperti pelatihan (kursus), pertemuan dengan anggota kelompok melalui rapat koordinasi (rapat rutin kader dan anggota Posdaya, rapat khusus atau temu kader, penyuluhan) kunjungan pendamping atau pembina, temu usaha dan lain-lain. Komunikasi dalam kelompok Posdaya dapat dilihat dari jenis komunikasi kelompok yang biasa dilakukan dan diikuti oleh kader Posdaya dengan memperhatikan frekuensi dan intensitas komunikasi dalam kelompok, serta partisipasi kader Posdaya dalam kegiatan kelompok.

Dokumen terkait