• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan konatif merupakan kecakapan tindakan yang dimiliki masyarakat sebagai upaya mendukung masyarakat dalam rangka melakukan aktivitas pembangunan. Tindakan diartikan sebagai suatu pelaksanaan pekerjaan badaniah atau perilaku nyata. Penelitian Utami (2007) menjelaskan bahwa keberdayaan masyarakat pada aspek konatif meliputi teliti dalam menyelesaikan setiap pekerjaan, tanggap dalam memanfaatkan peluang, cermat dalam melakukan kerja sama yang saling menguntungkan dan memiliki etos kerja yang tinggi. Slamet (2003) menambahkan tentang ciri-ciri masyarakat berdaya pada aspek keterampilan yaitu 1) dapat mengidentifikasi kebutuhan dan potensi yang dimiliki secara tepat, 2) mampu menerapkan unsur manajemen dan kepemimpinan dalam kehidupannya secara baik, 3) berkemampuan mencari dan memanfaatkan informasi dan peluang baru, dan 4) berkemampuan memenuhi kebutuhannya.

Berdasarkan pengertian tentang keberdayaan di atas, maka dalam konteks Posdaya makna keberdayaan diartikan sebagai proses mengoptimalkan sumber daya yang berkesinambungan yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan nyata pada setiap kegiatan Posdaya yang meliputi empat bidang (pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan). Posdaya yang berdaya adalah Posdaya yang memiliki ciri-ciri yang ada pada perilaku kader Posdaya menuju kemandirian kelompok Posdaya. Kader Posdaya yang memiliki keberdayaan tinggi berarti memiliki pemahaman tentang program Posdaya yang memadai dengan keberdayaan pada aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek konatif akan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kemandirian kader Posdaya dan masyarakat yang dicita-citakan.

Mengacu pada pendapat Widjayanti (2011), Sadono (2008), Barzman dan Desilles (2002), Susilowati et al. (2004), Sumardjo dan Saharuddin (2004), Sulistiyani (2004), Utami (2007), dan Slamet (2003) tentang ciri-ciri masyarakat berdaya maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat (kader Posdaya) dapat dikatakan berdaya jika memiliki pengetahuan, sikap dan tindakan yang memadai seperti yang disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2 Ciri-ciri keberdayaan kader Posdaya dilihat dari aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan

Aspek

perilaku Keberdayaan Kader Posdaya

Pengetahuan (kognitif)

1) memiliki pengetahuan yang luas tentang kegiatan Posdaya. 2) memiliki wawasan jauh ke depan tentang kegiatan Posdaya. 3) paham atas potensi dan kebutuhan dirinya dengan baik. 4) memahami unsur-unsur manajemen dan kepemimpinan. Sikap

(Afektif)

1) percaya diri.

2) pantang menyerah dan berani menghadapi risiko. 3) selektif.

4) komunikatif.

5) jujur dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. 6) terbuka dan peduli terhadap sesamanya.

7) menyukai prestasi. Tindakan

(Konatif)

1) dapat mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan serta potensi yang dimiliki secara tepat.

2) memiliki etos kerja yang tinggi.

3) mampu melakukan kerja sama yang menguntungkan. 4) teliti dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.

5) mampu menjalankan unsur-unsur manajemen dan kepemimpinan (mengantisipasi kondisi perubahan ke depan) dan mengarahkan dirinya sendiri.

6) cepat tanggap dan mampu memanfaatkan peluang usaha untuk masa depan.

Penelitian Terdahulu yang Mendukung

Hasil penelitian Astuti (2007), menunjukkan bahwa aktivitas komunikasi responden yaitu dalam hal keterdedahan pada koran relatif rendah dibandingkan dengan radio dan televisi, rendahnya minat baca disebabkan oleh kesibukan responden dalam bekerja, sehingga waktu yang tersedia lebih banyak dimanfaatkan untuk mendengarkan radio atau menonton televisi. Sebagian besar responden melakukan kontak dengan pembina Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan (PBBSB), yakni penyuluh, tokoh masyarakat, dan pengelola PBBSB. Partisipasi sosial responden dalam kegiatan pengajian, arisan, kerja bakti, dan ronda malam relatif tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakteristik individu yang berhubungan sangat nyata dengan pengetahuan adalah pendidikan formal dan nonformal, pendapatan berhubungan nyata dengan sikap dan berhubungan sangat nyata dengan tindakan, lokasi tempat tinggal berhubungan nyata dengan sikap dan sangat nyata dengan tindakan. Keterdedahan pada media massa yang berhubungan sangat nyata dengan sikap dan tindakan. Keterdedahan pada saluran interpersonal berhubungan sangat nyata dengan pengetahuan, partisipasi sosial berhubungan sangat nyata dengan sikap dan berhubungan nyata dengan tindakan.

Kurniawati (2002) menemukan aktivitas komunikasi reponden menunjukkan pembinaan rohani cukup tinggi. Pada aktivitas komunikasi

responden frekuensi pembinaan jasmani rendah. Intensitas komunikasi dengan orang tua di kedua kelompok tinggi. Hasil penelitian Nursalam (2000) menemukan bahwa semakin sering nelayan melakukan komunikasi interpersonal dengan pembina, akan semakin bertambah pula kemampuan nelayan dengan mengembangkan subsistem produksi agribisnis perikanan tangkap. Komunikasi interpersonal dengan kontak nelayan, khususnya pada nelayan pandega berpengaruh nyata (arah hubungan positif) pada perilaku mereka dalam mengembangkan subsistem produksi agribisnis perikanan tangkap. Dengan demikian, semakin sering nelayan berkomunikasi dengan kontak nelayan, akan semakin menambah kemampuan nelayan pandega dalam mengembangkan subsistem produksi agribisnis perikanan tangkap. Kehadiran dalam pertemuan kelompok berpengaruh nyata (dengan arah hubungan positif) pada perilaku nelayan dalam pengembangan subsistem produksi agribisnis perikanan tangkap.

Semakin sering nelayan menghadiri pertemuan kelompok dan semakin menambah kemampuan nelayan dalam mengembangkan subsistem produksi agribisnis perikanan tangkap. Keterdedahan pada siaran radio, pada tayangan televisi, pada media cetak berpengaruh nyata pada perilaku nelayan dalam pengembangan subsistem produksi agribisnis perikanan tangkap. Dengan kata lain, semakin sering nelayan mendengarkan radio, menonton tayangan televisi, membaca media cetak akan semakin menambah kemampuan nelayan dalam mengembangkan subsistem produksi agribisnis perikanan tangkap.

Haji (1991) menemukan aktivitas komunikasi wanita pasangan usia subur (PUS) di Semplak (daerah perkotaan) maupun wanita PUS Wargajaya (daerah pedesaan) dilakukan melalui radio, televisi, maupun media cetak. Hubungan yang sangat nyata antara aktivitas komunikasi dengan pengetahuan KB wanita PUS di dua desa penelitian memberi petunjuk kuat bahwa penyebarluasan informasi KB pada masyarakat yang kondisinya belum siap secara intern untuk melakukan aktivitas komunikasi, hanya akan efektif melalui saluran interpersonal.

Kerangka Pemikiran

Posdaya merupakan gagasan baru guna menyambut anjuran pemerintah untuk membangun sumber daya manusia melalui partisipasi keluarga secara aktif. Proses pemberdayaan itu diprioritaskan pada peningkatan kemampuan keluarga untuk bekerja keras mengentaskan kebodohan, kemalasan, dan kemiskinan dalam arti yang luas. Di Kota dan di Kabupaten Bogor, Posdaya itu dibentuk di antara kalangan keluarga maupun antarkeluarga, sehingga Posdaya dapat saja memiliki basis pribadi, basis kelompok, misalnya Posdaya berbasis masjid, Posdaya berbasis tanaman, atau Posdaya berbasis pendidikan, dan lainnya. Mengenai program utama Posdaya terbagi dalam empat bidang yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.

Untuk merealisasikan program-program tersebut, diperlukan metode pengembangan Posdaya melalui kegiatan pelatihan, rapat koordinasi (rapat rutin kader dan anggota Posdaya, rapat koordinasi, rapat khusus atau temu kader, penyuluhan) dan pendampingan atau pembinaan yang melibatkan peran pendamping Posdaya. Kegiatan pelatihan, rapat koordinasi, dan pendampingan atau pembinaan menunjukkan sebuah aktivitas komunikasi yang diperankan oleh

kader Posdaya. Aktivitas komunikasi yang terjadi pada kegiatan Posdaya dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya karakteristik kader Posdaya (umur, pendidikan formal, pendidikan nonformal, pengalaman menjadi kader Posdaya, tingkat kekosmopolitan, tingkat pendapatan, motivasi dan kepemilikan media massa), dan faktor lingkungan (dinamika kelompok dan peran pendamping).

Keberhasilan program Posdaya dapat dilihat sejauh mana aktivitas komunikasi yang diperankan kader Posdaya berpengaruh terhadap tingkat keberdayaan kader Posdaya yang merupakan fokus dari penelitian ini. Liliweri (2004) menjelaskan bahwa dalam sebuah aktivitas komunikasi terdapat proses komunikasi yang hasil akhirnya disebut dengan efek. Efek komunikasi dapat bersifat positif yaitu tercapainya tujuan komunikasi yang diinginkan, dalam hal ini terciptanya hubungan yang kondusif atau baik antara pendamping atau pembina dengan kader Posdaya, kader Posdaya dengan aparat pemerintah atau penyuluh, kader Posdaya dengan tokoh masyarakat, kader Posdaya dengan anggotanya. Efek komunikasi juga bisa berakibat buruk atau bersifat negatif seperti timbulnya rasa ketidakpuasan yang menjurus kepada konflik-konflik destruktif yang merugikan bagi kelompok dan kader sebagai pelaksana program Posdaya itu sendiri.

Keterkaitan dengan keberdayaan kader Posdaya di Kota dan Kabupaten Bogor terletak pada proses bagaimana pemberdayaan dan pengembangan masyarakat dapat diterima dan diaplikasikan oleh kader Posdaya. Dalam konteks ini diperlukan kepedulian dan keterlibatan berbagai sistem, baik yang terlibat dengan komponen utama maupun komponen pendukung.Dalam proses demikian, aktivitas komunikasi kader Posdaya menjadi hal yang penting dalam membentuk prinsip kerjasama karena masyarakat mempunyai hak-hak dan keberdayaan di masa yang akan datang.

Tujuan pemberdayaan adalah keberdayaan, maka prioritas utama program Posdaya adalah kesertaan seluruh keluarga yang menjadi anggota Posdaya dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan yang lebih sejahtera yang didukung keberdayaan pada pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan tindakan (konatif). Keberdayaan seorang kader Posdaya sangat ditentukan oleh karakteristik individu dan lingkungan, selain itu tingkat keberdayaan kader Posdaya juga dipengaruhi oleh aktivitas komunikasi dalam pencarian informasi pada setiap bidang Posdaya (pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan). Dengan demikian tingkat keberdayaan kader Posdaya di Kota dan Kabupaten Bogor berpeluang memiliki hubungan yang nyata dengan karakteristik kader Posdaya, faktor lingkungan dan aktivitas komunikasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di bidang Ilmu Komunikasi, tidak dapat dipungkiri bahwa karakteristik kader Posdaya mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan aktivitas komunikasi seseorang yang meliputi aktivitas komunikasi interpersonal (frekuensi dan intensitas kontak interpersonal), aktivitas komunikasi termediasi (frekuensi dan durasi penggunaan media), dan aktivitas komunikasi di dalam kelompok (frekuensi dan intensitas komunikasi dalam kelompok, serta partisipasi kader Posdaya dalam kegiatan kelompok).

Dalam penelitian ini peubah yang diteliti meliputi peubah bebas (X) dan peubah terikat (Y). Peubah bebas terdiri dari karakteristik kader Posdaya (X1):

umur (X1.1), pendidikan formal (X1.2), pendidikan nonformal (X1.3), pengalaman

menjadi kader (X1.4), tingkat kekosmopolitan (X1.5), tingkat pendapatan (X1.6),

lingkungan (X2) berupa: dinamika kelompok (X2.1), dan peran pendamping (X2.2).

Adapun peubah terikat terdiri dari aktivitas komunikasi (Y1) dan tingkat

keberdayaan kader Posdaya (Y2) di Kota dan Kabupaten Bogor. Untuk

mengetahui apakah karakteristik kader Posdaya, faktor lingkungan dan aktivitas komunikasi berhubungan secara nyata dengan tingkat keberdayaan kader Posdaya, maka penelitian ini memfokuskan keberdayaan kader Posdaya pada aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan tindakan (konatif).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas komunikasi memiliki hubungan yang nyata dengan tingkat keberdayaan kader Posdaya atau semakin tinggi aktivitas komunikasi kader Posdaya, maka semakin tinggi tingkat keberdayaan kader Posdaya. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah aktivitas komunikasi kader, semakin rendah tingkat keberdayaan kader Posdaya. Gambaran mengenai hubungan antara aktivitas komunikasi dengan tingkat keberdayaan kader Posdaya, dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Kerangka berpikir hubungan antarpeubah dalam penelitian

Karakteristik Kader Posdaya (X1)

X1.1 Umur

X1.2 Pendidikan formal

X1.3 Pendidikan nonformal

X1.4 Pengalaman menjadi kader

X1.5 Tingkat kekosmopolitan

X1.6 Tingkat pendapatan

X1.7 Motivasi

X1.8 Kepemilikan media massa

Keberdayaan Kader Posdaya (Y2)

Y2.1 Keberdayaan kognitif

Y2.2 Keberdayaan afektif

Y2.3 Keberdayaan konatif

Aktivitas Komunikasi Kader Posdaya (Y1)

Y1.1 Komunikasi interpersonal

Y1.2 Komunikasi termediasi

Y1.3 Komunikasi dalam kelompok

Faktor Lingkungan (X2)

X2.1 Dinamika kelompok

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir hubungan antarpeubah dalam penelitian, maka dapat dirumuskan tujuh hipotesis penelitian sebagai berikut:

1 : Terdapat perbedaan yang nyata antara aktivitas komunikasi kader Posdaya di Kota Bogor dengan Kader Posdaya di Kabupaten Bogor.

2 : Terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat keberdayaan kader Posdaya di Kota Bogor dengan kader Posdaya di Kabupaten Bogor.

3 : Terdapat hubungan yang nyata antara karakteristik dengan aktivitas komunikasi kader Posdaya di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.

4 : Terdapat hubungan yang nyata positif antara faktor lingkungan dengan aktivitas komunikasi kader Posdaya di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. 5 : Terdapat hubungan yang nyata positif antara karakteristik dengan tingkat

keberdayaan kader Posdaya di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.

6 : Terdapat hubungan yang nyata positif antara faktor lingkungan dengan tingkat keberdayaan kader Posdaya di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. 7 : Terdapat hubungan yang nyata positif antara aktivitas komunikasi dengan

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota dan Kabupaten Bogor. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive), yakni Kota dan Kabupaten Bogor mempunyai: (1) kelompok Posdaya yang selalu mendapat perhatian dari berbagai kalangan perguruan tinggi termasuk IPB melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa, (2) mendapat bantuan sosial pengembangan Posdaya, (3) menjadi ajang Observasi Studi Tour (OST), (4) telah memiliki Asosiasi Posdaya Indonesia (API), (5) mempunyai akses komunikasi dengan berbagai pihak luar secara intensif karena didukung oleh jaringan komunikasi yang lebih luas, dan (6) merupakan satu-satunya Kota dan Kabupaten yang telah berhasil menyelenggarakan konvensi Posdaya se-Jawa Barat; sehingga menjadi salah satu lokasi penelitian unggulan perguruan tinggi dalam pengembangan instrumen pengukuran Posdaya sebagai model pemberdayaan masyarakat.

Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan, yaitu dari bulan Januari 2013 sampai dengan bulan Mei 2013.

Desain Penelitian

Penelitian ini dirancang sebagai metode penelitian survei yang bersifat deskriptif korelasional, karena selain mendeskripsikan aktivitas komunikasi dalam pelaksanaan program Posdaya juga berupaya menjelaskan hubungan antara peubah yang diamati. Menurut Singarimbun dan Effendi (2010) desain penelitian survei adalah penelitian yang mengambil contoh dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Kerlinger (2004) mengemukakan desain penelitian korelasional bukanlah untuk mengetahui hal-hal khusus tertentu melainkan mengetahui hubungan atau relasi antar fenomena-fenomena. Pada penelitian ini mencoba mencermati secara mendalam fenomena-fenomena aktivitas komunikasi yang terjadi di dalam Posdaya dan hubungannya dengan tingkat keberdayaan kader Posdaya. Peubah penelitian yang diamati terdiri dari peubah bebas berupa karakteristik kader Posdaya (X1) dan

faktor lingkungan (X2), kemudian aktivitas komunikasi (Y1) dan tingkat

keberdayaan kader Posdaya (Y2).

Populasi dan Sampel Penelitian Populasi

Populasi penelitian adalah seluruh kader Posdaya, baik sebagai koordinator, sekretaris, bendahara, ketua bidang pendidikan, ketua bidang kesehatan, ketua bidang ekonomi, dan ketua bidang lingkungan di Kota dan Kabupaten Bogor pada fase pertumbuhan Posdaya pemula, fase Posdaya semi mandiri, fase Posdaya mandiri, dan fase pertumbuhan Posdaya mandiri inti sesuai data P2SDM IPB yang

ter-update pada tahun 2012. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 119 kader dari 17 Posdaya. Daftar nama-nama fase pertumbuhan Posdaya di Kota dan Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Lampiran 1. Secara lengkap jumlah populasi dalam penelitian tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah populasi berdasarkan fase pertumbuhan Posdaya di Kota dan Kabupaten Bogor

Fase Pertumbuhan Posdaya

Jumlah Populasi di Total (orang) Kota (orang) Kabupaten (orang) Pemula 7 0 7 Semi Mandiri 49 49 98 Mandiri 0 14 14 Mandiri Inti 0 0 0 Total 56 63 119 Sumber : P2SDM, 2012 Sampel

Penarikan sampel dari data populasi dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin (Kriyantono, 2009) yaitu:

Keterangan :

N = Ukuran populasi

e = Toleransi kelonggaran (5%) n = Ukuran sampel

Berdasarkan data populasi 119 dan toleransi kelonggaran sebesar 5%, dan dihasilkan jumlah sampel sebagai berikut:

= 119 1 + 119 ( 0,05) = 119 1,2975 = 91,715 = 92 ( dibulatkan)

Berdasarkan hasil perhitungan penentuan sampel minimal dengan toleransi kelonggaran 5% diperoleh jumlah sampel sebesar 92 orang kader Posdaya, dan

= 1 +

selanjutnya dilakukan penarikan sampel dari setiap strata diambil jumlah sampel secara proporsional (Kriyantono, 2009). Matriks kerangka sampel dengan teknik penarikan proportional stratified random sampling tersebut, disajikan pada Tabel 4 berikut ini.

Tabel 4 Kerangka sampel penelitian

Fase Pertumbuhan Posdaya Jumlah Sampel di Total (orang) Kota (orang) Kabupaten (orang) Pemula 5 0 5 Semi Mandiri 37 39 76 Mandiri 0 11 11 Total 42 50 92

Data dan Instrumentasi Data

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dalam penelitian ini didahului dengan pengumpulan data sekunder terutama yang berkaitan dengan data kelompok Posdaya berdasarkan fase pertumbuhannya, kegiatan kelompok, serta data-data mengenai kondisi kelompok Posdaya. Data sekunder diperoleh dari desk study di perpustakaan dan dinas/instansi/lembaga terkait seperti P2SDM LPPM-IPB. Data primer diambil langsung dari subyek penelitian berupa data yang berkaitan dengan peubah penelitian yaitu karakteristik kader Posdaya, faktor lingkungan, aktivitas komunikasi kader Posdaya dan tingkat keberdayaan kader Posdaya.

Instrumentasi

Instrumentasi adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan dalam penelitian untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu peubah (Muljono, 2012). Untuk pengumpulan data digunakan instrumen berupa kuesioner, yaitu daftar pertanyaan yang relevan dengan peubah-peubah dan indikator yang diteliti. Instrumen dalam bentuk kuesioner dibangun dalam empat bagian yang berupa daftar pertanyaan tertutup, terbuka dan semi terbuka yang meliputi :

a. Data karakteristik kader Posdaya yang meliputi umur, pendidikan formal, pendidikan nonformal, pengalaman menjadi kader Posdaya, tingkat kekosmopolitan, tingkat pendapatan, motivasi dan kepemilikan media massa. b. Data faktor lingkungan yang berupa dinamika kelompok dan peran

pendamping.

c. Data aktivitas komunikasi kader Posdaya yang meliputi frekuensi komunikasi interpersonal, intensitas komunikasi interpersonal, frekuensi penggunaan media massa, durasi penggunaan media massa, frekuensi komunikasi dalam kelompok, intensitas komunikasi dalam kelompok, dan partisipasi kader Posdaya dalam kegiatan atau forum kelompok.

d. Data mengenai tingkat keberdayaan kader Posdaya yaitu tingkat keberdayaan pada aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap mental (afektif) dan aspek tindakan (konatif).

Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan penelitian dalam mengukur suatu peubah. Menurut (Kerlinger, 2004), definisi operasional meletakkan arti dalam suatu konstruk dari suatu peubah yang diamati dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang perlu untuk mengukur peubah itu. Menurut Sumardjo (1999) pengukuran peubah sangat penting dilakukan untuk memberikan kesempatan pada peneliti menggunakan gejala sosial yang diteliti dalam menyusun hipotesis, sehingga dapat menentukan tingkat hubungan dengan peubah-peubah yang lain. Peubah dalam penelitian ini terdiri dari peubah bebas (yang mempengaruhi) atau X, dan peubah terikat (yang dipengaruhi) atau Y. Masing-masing peubah yang dimaksud adalah karakteristik kader Posdaya (X1) sebagai peubah bebas yang terdiri dari: umur (X1.1),

pendidikan formal (X1.2), pendidikan nonformal (X1.3), pengalaman menjadi kader

Posdaya (X1.4), tingkat kekosmopolitan (X1.5), tingkat pendapatan (X1.6), motivasi

(X1.7), kepemilikan media massa (X1.8) serta peubah bebas faktor lingkungan (X2)

berupa: dinamika kelompok (X2.1), dan peran pendamping (X2.2). Peubah

aktivitas komunikasi kader Posdaya (Y1) sebagai peubah terikat yang terdiri dari:

komunikasi interpersonal, komunikasi termediasi, dan komunikasi dalam kelompok, serta peubah terikat tingkat keberdayaan kader Posdaya (Y2) yang

terdiri dari: keberdayaan pada aspek pengetahuan (kognitif), keberdayaan aspek sikap (afektif) dan keberdayaan aspek tindakan (konatif).

Karakteristik Kader Posdaya

Karakteristik kader Posdaya adalah ciri-ciri yang melekat pada responden kader Posdaya dan ditetapkan dengan delapan karakteristik yaitu umur, pendidikan formal, pendidikan nonformal, pengalaman menjadi kader Posdaya, tingkat kekosmopolitan, tingkat pendapatan, motivasi dan kepemilikan media massa.

1) Umur adalahrentang kehidupan yang dijalani oleh responden sampai dengan waktu penelitian yang dinyatakan dalam tahun. Dihitung berdasarkan jumlah tahun dari sejak lahir sampai dilakukan penelitian. Diukur dalam satuan tahun dengan skala rasio dan hasilnya dikelompokkan menjadi tiga kategori muda, dewasa, dan tua.

2) Pendidikan formal adalah jumlah tahun tempuh pendidikan formal yang telah diselesaikan oleh responden. Diukur dengan menggunakan skala rasio dan hasilnya dikelompokkan menjadi tiga kategori rendah, sedang, dan tinggi. 3) Pendidikan nonformal adalah frekuensi responden dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran di luar sekolah atau di luar pendidikan formal sampai dilakukan penelitian. Data diukur dengan skala rasio yaitu berapa jumlah atau banyaknya pelatihan, kursus, magang yang pernah diikuti dan hasilnya dibagi menjadi tiga kategori rendah, sedang, dan tinggi.

4) Pengalaman menjadi kader Posdaya adalah tahun lamanya responden untuk menduduki posisi sebagai kader Posdaya yang dinyatakan dalam satuan tahun. Diukur menggunakan skala rasio dan hasilnya dikelompokkan menjadi tiga kategori rendah, sedang, dan tinggi.

5) Tingkat kekosmopolitanadalah keterbukaan responden melalui kunjungan ke daerah lainnya untuk mendapatkan berbagai sumber informasi. Dihitung berdasarkan frekuensi kader Posdaya ke luar desa, frekuensi kader Posdaya mengunjungi dan atau dikunjungi kelompok Posdaya lainnya, dan frekuensi kader Posdaya aktif mencari informasi ke institusi pengelola Posdaya dalam tiga bulan yang lalu/terakhir. Diukur dengan menggunakan skala rasio dan hasilnya dikelompokkan menjadi tiga kategori rendah, sedang, dan tinggi. 6) Tingkat Pendapatan adalah jenjang penerimaan yang diperoleh responden

berupa uang untuk jangka waktu tertentu (bulan) melalui usaha pertanian, usaha di luar pertanian, dan usaha di luar sektor pertanian yang dinyatakan dalam rupiah per bulan. Diukur dengan menggunakan skala rasio, kemudian dikategorikan menjadi tiga kategori rendah, sedang, dan tinggi.

7) Motivasi adalah daya pendorong yang menyebabkan responden berbuat sesuatu guna mencapai tujuan yang diinginkannya. Dihitung berdasarkan motivasi menggunakan media massa serta berdasarkan penilaian motivasi intrinsik dan ekstrinsik dalam berkelompok. Diukur dengan skala ordinal dan hasilnya dikategorikan menjadi tiga kategori rendah, sedang, dan tinggi. 8) Kepemilikan media massa adalah jumlah atau banyaknya media elektronik,

media cetak, media luar ruangan maupun media terbaru yang dimiliki responden untuk mendukung kegiatan Posdaya. Dihitung berdasarkan jumlah media massa yang dimiliki responden (telepon rumah, handphone, komputer, komputer berinternet, laptop, radio, televisi, dan Video Compact Disc (VCD) atau Digital Versatile Disc (DVD), surat kabar, majalah, buletin, leaflet, brosur). Diukur dengan menggunakan skala rasio, kemudian dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah kondisi dan situasi sosial yang mendorong dan memperteguh perilaku kader Posdaya terhadap aktivitas komunikasi dan tingkat keberdayaan kader Posdaya dan ditetapkan menjadi dua faktor lingkungan yaitu dinamika kelompok dan peran pendamping.

1) Dinamika kelompok adalah kondisi kelompok yang dapat mempengaruhi aktivitas komunikasi dalam kelompok.Dinamika kelompok dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan parameter dari items indikator tujuan, pembinaan, suasana, dan fungsi tugas kelompok. Diukur dengan skala ordinal dan hasilnya dikategorikan ke dalam tiga kategori rendah, sedang dan tinggi. 2) Peran pendamping adalah upaya yang dilakukan oleh pihak pendamping

dalam membina kelompok Posdaya. Pengukuran dilakukan dengan memperhatikan peran pendamping dalam penyampaian informasi baik sebagai fasilitator, komunikator maupun mediator. Diukur dengan skala ordinal dan hasilnya dikategorikan menjadi tiga kategori rendah, sedang, dan tinggi.

Aktivitas Komunikasi

Aktivitas komunikasi ialah tindakan yang dilakukan responden dalam berkomunikasi dengan orang atau sumber lain dalam mencari informasi sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan dan mengadopsi berbagai macam pelaksanaan dan penyelenggaraan program Posdaya melalui komunikasi interpersonal, komunikasi termediasi dan komunikasi dalam kelompok Posdaya. 1) Komunikasi interpersonal adalah interaksi antara kader Posdaya secara

Dokumen terkait