2 TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Interaksi antar Sumberdaya Alam dengan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Suparmoko (2008), bahwa sumberdaya alam saling tergantung antara satu dengan lainnya, baik bersifat langsung maupun tidak langsung. Pengembangan suatu sumberdaya alam akan memberikan pengaruh pada sumberdaya alam lain.Sifat saling ketergantungan antar sumberdaya alam merupakan aspek utama yang menjadikan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan menjadi penting dilakukan. Pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan menuntut perlakuan dan cara pandang yang berbeda untuk berbagai karakteristik sumberdaya alam.
Interaksi antar sumberdaya yang dikelola sangat ditentukan oleh sikap mental dan cara pandang manusia terhadap sumberdaya alam tersebut. Pandangan yang konservatif (pandangan pesimis atau Malthusian) terhadap sumberdaya alam menyebabkan sikap manusia yang sangat berhati-hati didalam pemanfaatan sumberdaya alam, karena manusia dihadapkan pada ketidakpastian masa depan. Pandangan ekstrim lain adalah pandangan eksploitatif (perspektif Ricardian). Dalam perspektif ini, sumberdaya alam adalah the engine of growth ( mesin pertumbuhan). Manusia mentransformasikan sumberdaya alam menjadi sumberdaya buatan (man-made capital) yang memiliki nilai yang lebih tinggi yang menyebabkan produktifitas dan kesejahteraan manusia menjadi lebih tinggi/lebih baik. Jika terjadi kelangkaan sumberdaya alam akibat proses eksploitasi, maka akan direspon dari sisi permintaan dan sisi penawaran di pasar. Dari sisi permintaan, akibat kenaikan nilai harga output per satuan input, konsumen akan berusaha beralih kepada sumberdaya-sumberdaya substitusinya (pengganti) sehingga terjadi keseimbangan baru. Dari sisi penawaran terjadi respon berupa peningkatan produksi atau penawaran yang diupayakan pihak produsen untuk memenuhi permintaan (Suparmoko, 2008).
Menurut Fauzi (2014), dalam perspektif filosofis ada empat tipe pemikiran atau pandangan terhadap alam. Salah satu pandangan yang cenderung reduksionis adalah tipe individualist yang memandang alam sebagai sistem yang secara otomatis mampu pulih dari kerusakan dan kembali ke keseimbangan. Pandangan yang bersifat don’t
memperhatikan kemampuan daya dukung lingkungan. Sikap ekstrem lainnya ditunjukkan oleh tipe egalitarian dan fatalist yang secara filosofis memandang alam sebagai suatu sistem yang sangat rentan dan fana (ephemeral), sehingga sulit bagi manusia untuk memanfaatkan hasil alam untuk pembangunan.Pandangan ini mirip dengan deep ecology yang lebih menempatkan alam sebagai aktor utama yang harus mendapat porsi yang besar. Pandangan fatalist, di sisi lain lebih melihat aspek ketidak pastian dari alam yang bisa sangat tidak terduga (capricious) dan akan memberikan umpan balik yang negatif bagi manusia.
Berdasarkan ketiga pandangan tersebut, ada pandangan tengah yang disebut sebagai kelompok hierarchist yang memperlakukan alam dalam keseimbangan. Perspektif ini menganjurkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam, tetapi harus memperhatikan kemampuan daya dukung dan umpan balik dari alam yang akan menimbulkan umpan balik negatif. Pandangan inilah yang menjadi dasar pertimbangan ekonomi dan lingkungan dalam suatu sistem keseimbangan, sehingga dampak negatif dari pembangunan seperti degradasi dan deplesi sumberdaya alam serta pencemaran
harus diperhatikan sebagai ― biaya‖ yang harus dibayar dalam membangun. Biaya ini
harus diinternalisasikan dalam perencanaan pembangunan. Pandangan ini juga mengubah pola pikir circular flow of economy and environment. Pada model sirkular (Gambar 6) , ekonomi bergerak dari perorangan ke bisnis dengan pertukaran input dan output di pasar. Di sini aspek sumberdaya alam dan dampak yang ditimbulkan dari kegiatan ekonomi terhadap alam dan lingkungan tidak dipertimbangkan sama sekali.
Gambar 6 Model ekonomi sirkular (Fauzi, 2014)
Hal ini berbeda dengan sistem loop yang mempertimbangkan kontribusi dari sumberdaya alam dan lingkungan terhadap ekonomi dan sosial, serta aspek umpan balik
Pasar Produk Perusahaan /bisnis Perorangan Pasar Input Barang jasa Pendapatan usaha Barang jasa Belanja konsumen Pendapatan Pembayaran atas faktor produksi Pembelian faktor produksi Tenaga kerja modal
dari ekonomi terhadap sumberdaya alam dan lingkungan sebagaimana terlihat pada Gambar 7 di bawah ini.
Gambar 7 Sistem loop antara ekonomi, sosial dan lingkungan (Duraiappah dalam Fauzi, 2014).
Sebagaimana terlihat pada Gambar diatas sumberdaya alam memberikan kontribusi pada sistem ekonomi dan sosial dalam menyuplai barang dan jasa melalui ekstraksi dan pemanfaatan jasa lingkungan (non-guna). Sistem lingkungan yang baik juga akan membantu memperbaiki sistem sosial melalui amenity dan nilai rekreasi. Namun demikian, interaksi ekonomi dengan sistem sumberdaya alam juga akan dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan untuk mendukung sistem ekonomi serta adanya umpan balik dari sistem ekonomi ke sumberdaya alam dan lingkungan yang berupa pencemaran dan degradasi lingkungan. Interaksi sistem ekonomi dan sosial mewakili proses interaksi pasar yang analoginya sama dengan pertukaran barang dan jasa pada model sirkular.
Menurut Suparmoko (2008), semakin cepat pertumbuhan ekonomi akan semakin banyak barang sumberdaya yang dipakai dalam proses produksi yang pada gilirannya akan mengurangi tersedianya sumberdaya (stok) alam. Ada hubungan yang positif antara kuantitas barang sumberdaya yang diekstrasi dengan pertumbuhan ekonomi, namun ada hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan cadangan (stok) sumberdaya alam. Disamping itu, pembangunan ekonomi yang cepat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara komprehensif dan berkelanjutan dapat menguras sumberdaya alam dan meningkatkan pencemaran. Secara digramatis, interaksi sumberdaya alam dengan pertumbuhan ekonomi ditunjukkan pada Gambar 8, Gambar 9 dan Gambar 10.
Preferensi
Output Pencemaran
Degradasi Daya Dukung
Kualitas jasa lingkungan Ekstraksi/ jasa lingkungan
Sistem Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sistem
ekonomi
Sistem Sosial
Sumber Daya Alam (N) N0 N1 N = f (Y) 0 Y0 Y1 Pertumbuhan % (Y) Sumber : Suparmoko (2008)
Gambar 8 Interaksi antara Tingkat Pertumbuhan Ekonomi dan Persediaan (stok) Sumberdaya Alam Pertumbuhan %(Y) Y1 Yo
R0 R1 Barang Sumber DayaAlam (R) Sumber : Suparmoko (2008)
Gambar 9 Perilaku Sistem Pertumbuhan Ekonomi dan Barang Sumberdaya Alam
Pencemaran P = f(Y)
P1
P0
Y2 Y1 Pertumbuhan % (Y) Sumber : Suparmoko (2008)
Gambar 10 Interaksi antara Tingkat Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pencemaran
Selanjutnya Fauzi (2010), menyebutkan terkait dengan peran dan nilai sumberdaya alam dan lingkungan tersebut, jika dimanfaatkan atau ekstraksi dengan baik dan sesuai kaidah pengelolaan maka sangatlah berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan atau pendapatan masyarakat secara keseluruhan, pendapatan daerah dan devisa Negara. Demikian pula Suparmoko (2008) menyatakan bahwa ada dua pola penting dalam melaksanakan pembangunan yang berwawasan lingkungan, yaitu pola pembangunan yang didasarkan atas Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan pola pembangunan yang didasarkan atas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).