Pengembangan di wilayah pesisir merupakan suatu proses perubahan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat tidak terlepas dari aktivitas pemanfaatan sumberdaya alam pesisir dan laut. Realitas wilayah pesisir yang dinamis memerlukan suatu pengelolaan khusus yang dapat mengakomodasikan berbagai kepentingan pihak-pihak terkait, sekaligus memperhatikan potensi dan kemampuan lingkungan sebagai ekosistem yang berkelanjutan tanpa mengurangi hak manusia dan komunitas lainnya untuk hidup.
Pemanfaatam sumberdaya alam di perairan Selat Sebuku serta aktiftas pendukungnya, pastilah tumpang tindih dengan fungsi ekologis pesisir dan laut sekitarnya yang terkait dengan daya dukung lingkungan. Dalam konteks ini, perairan Selat Sebuku merupakan sistem pesisir yang didominasi oleh (arus) pasang surut (tidally-dominated coastal systems). Ini merupakan inti dari landasan pertama kebijakan pengelolaan Selat Sebuku yaitu landasan ideal di mana daerah aliran sungai di Pulau Laut dan Pulau Sebuku yang bermuara ke Selat Sebuku, serta pesisir dan laut merupakan satu kesatuan karena memiliki banyak keterkaitan langsung (direct inter-linkages) antar faktor penyusunnya yaitu ekosistem, ekonomi dan komunitas serta institusi yang terkait dengannya. Dalam konteks ini, adanya tekanan akibat aktifitas pemanfaatan di perairan Selat Sebuku, maka aliran ekologis perairan pesisir secara terintegrasi menjadi sangat menarik untuk diketahui dan dianalisis.
Daerah aliran sungai, pesisir dan laut yang mengalir dalam kerangka sistem Selat Sebuku merupakan sumber ekonomi yang berbasis sumberdaya (resources-based economy), sehingga paradigma yang digunakan adalah pelestarian fungsi ekosistem daerah aliran sungai, pesisir dan laut dalam menyediakan aliran sumberdaya (resources flows) yang kemudian menjadi input utama bagi produktivitas ekonomi lokal. Dengan demikian dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomia sehingga terwujudnya pengembangan wilayah.
Secara diagramatik, paradigma ini dapat digambarkan seperti yang disajikan pada Gambar 13. Berdasarkan diagramtik tersebut dapat dilihat bahwa aliran manfaat dan biaya dari pemanfaatan sumberdaya Selat Sebuku tidak dapat dilepaskan dari aliran proses ekologis dan fungsi lingkungan yang kemudian menghasilkan barang dan jasa bagi manusia, dari hulu sampai hilir. Dalam konteks ini maka pelestarian fungsi dan proses ekosistem yang menopang pertumbuhan ekonomi kawasan sekitar Sistem Selat Sebuku menjadi agenda penting. Selain itu, manfaat langsung dan tidak langsung dari aktifitas pemanfaatan sumberdaya alam dalam konteks jangka panjang keberlanjutan lingkungan menjadi faktor lain dalam human system tersebut. Untuk itu, interaksi akibat tumpang tindih antar aktivitas dan stakeholder serta fungsi ekologis untuk manfaat ekonomi menjadi perhatian utama dalam kajian ini.
Ecological Process Environmental Functions Good or service Benefit and/or avoided cost Net value Cost overuse problem Ecological system Human system biogeofisik system Regional Development
Gambar 13 Kerangka Sistem Selat Sebuku sebagai fungsi ekosistem dan Manfaat ekonomi bagi masyarakat untuk pengembangan wilayah (Modifikasi dari Sain and Roberts, 1998)
Penyusunan arah dan strategi dalam model pengembangan wilayah berkelanjutan di Selat Sebuku tentunya memperhatikan perubahan paradigma pembangunan pada pengembangan wilayah yang berbasis pendekatan ekosistem yang akan mempengaruhi sumberdaya di kawasan Selat Sebuku secara berkelanjutan. Berdasarkan hal tersebut, maka akan ditemukan paradigma baru pengembangan wilayah berbasis sumberdaya yang lebih seimbang, rasional dan optimal. Dalam konteks perubahan paradigma tersebut diatas, maka kelestarian ekosistem pesisir dan laut menjadi sangat penting guna menjamin keberlanjutan (sustainability) dari pengelolaan wilayah pesisir dan laut. Konsekuensi dari perubahan paradigma ini adalah bahwa dinamika ekosistem harus dimasukkan ke dalam pertimbangan pengelolaan termasuk pentingnya mengetahui nilai ekonomi sumberdaya sebagai salah satu faktor input kebijakan. Pada titik inilah kebutuhan akan valuasi ekonomi menjadi penting (Adrianto, 2006).
Pengembangan wilayah (regional development) merupakan upaya untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilayah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah. Pada dasarnya pengembangan wilayah harus disesuaikan dengan kondisi, potensi dan permasalahan wilayah bersangkutan. Selanjutnya dijelaskan oleh Riyadi (2002), bahwa pengembangan wilayah perlu dimulai dengan melakukan analisis kondisi, potensi dan permasalahan wilayah untuk mengetahui hubungan sebab akibat perkembangan sosial ekonomi, potensi sumberdaya alam dan prasarana wilayah. Tujuan pengembangan wilayah merupakan penjabaran dari tujuan pembangunan daerah yang diartikan sebagai kesepakatan stakeholders dalam wilayah.
Menurut Mukti (2002), analisis pengembangan wilayah menggunakan model sistem dinamis adalah salah satu metode untuk memodelkan kebijakan pengembangan wilayah sehingga dapat dengan mudah melakukan simulasi berbagai kebijakan yang diterapkan di suatu wilayah. Pemodelan menggunakan metode sistem dinamis sangat baik untuk kajian perilaku suatu sistem, sehingga intervensi suatu kebijakan di suatu
Growth Economic
wilayah dapat lebih diantisipasi dampak-dampaknya karena perilaku sistem yang telah dikenali.
Menurut Dahuri et al (2001), bahwa perencanaan dan pemanfaatan wilayah pesisir secara sektoral biasanya berkaitan dengan hanya satu macam pemanfaatan sumberdaya atau ruang pesisir oleh satu instansi pemerintah untuk memenuhi tujuan tertentu, seperti perikanan tangkap, tambak, pariwisata, pelabuhan atau industri pertambangan minyak dan gas. Pemanfaatan semacam ini dapat menimbulkan konflik kepentingan antar sektor yang berkepentingan yang melakukan aktivitas pembangunan pada wilayah pesisir dan lautan yang sama. Selain itu, pendekatan sektoral semacam ini pada umumnya tidak atau kurang mengindahkan dampaknya terhadap yang lain sehingga dapat mematikan usaha sektor lain.
Selanjutnya dijelaskan oleh Riyadi (2002) bahwa konsep pengembangan wilayah sangat berorientasi pada issues (permasalahan) pokok wilayah secara saling terkait, sementara pembangunan sektoral sesuai dengan tugasnya untuk sektor tertentu. Kedua konsep tersebut berbeda namun dalam orientasi keduanya saling melengkapi, dalam arti bahwa pengembangan wilayah tidak mungkin terwujud tanpa adanya pembangunan sektoral. Sebaliknya, pembangunan sektoral tanpa berorientasi pada pengembangan wilayah akan berujung pada tidak optimalnya pembangunan sektor itu sendiri. Bahkan hal ini bisa menciptakan konflik kepentingan antar sektor, yang pada gilirannya akan terjadi kontra produktif dengan pengembangan wilayah. Dengan demikian, pengembangan wilayah menjadi acuan (referensi) bagi pembangunan sektoral dan sama sekali bukan agregat dari pembangunan sektor-sektor pada suatu wilayah tertentu.
3.2 Kerangka Penelitian
Wilayah kawasan Selat Sebuku di Kabupaten Kotabaru merupakan suatu sistem dengan kompleksitas yang sangat tinggi ditilik dari segi sumberdaya alam dan manusia. Sumberdaya alam selat sangat beragam dan sangat khas dibandingkan karakteristik sumberdaya alam yang dijumpai pada ekosistem lainnya. Demikian pula dengan sumberdaya manusia yang mendiami wilayah ini memiliki karakteristik yang kompleks. Berbagai kepentingan pemanfaatan yang berbeda dan tumpang tindih bertemu pada wilayah selat dan akibat ketidakjelasan koordinasi maupun wewenang pengelolaannya maka pada akhirnya muncul berbagai bentuk konflik pemanfaatan sumberdaya alam dapat diperbaharui (renewable) dengan sumberdaya alam tidak dapat diperbaharui (non-renewable) maupun dengan jasa lingkungan (environment service).
Pengembangan wilayah Selat Sebuku seharusnya dilakukan melalui suatu pendekatan pembangunan yang menjamin terpeliharanya keseimbangan ekologi, pertumbuhan ekonomi dan sosial budaya. Dalam kaitan dengan pemanfaatan atau pengusahaan sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resource), sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resource) maupun jasa-jasa lingkungan (environment service) Selat Sebuku, kebijakan melalui trade-off yang ditetapkan haruslah berbasis kondisi karakteristik biogeofisik serta sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya. Hal ini mengingat peran dan fungsi kawasan tersebut sangat penting baik bagi kehidupan ekosistem sekitar maupun kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya. Berdasarkan hal tersebut, maka kerangka penelitian Kajian Pengembangan Wilayah Kawasan Selat Sebuku Berkelanjutan Kabupaten Kotabaru dapat dilihat pada Gambar 14 di bawah ini.
Valuasi
Ekonomi
Sumberdaya
Gambar14 Kerangka Penelitian Selat Sebuku Potensi Non-Renewable Resource - batubara Potensi Renewable Resource - Perikanan - Mangrove - Terumbu Karang Pengembangan Wilayah Pemanfaatan Non Renewable Pemanfaatan Environment Service Pemanfaatan Renewable Potensi Environment Service - Transportasi - Pariwisata - Plasma Nutfah Nilai Ekonomi Nilai Ekonomi Nilai Ekonomi Pemerintahan Daerah Masyarakat Model Dinamis Keberlanjutan
Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan Wilayah Berkelanjutan Kawasan Selat Sebuku
Swasta
3.3 Kerangka Operasional
Informasi yang terkumpul terkait model pengembangan wilayah berkelanjutan di kawasan Selat Sebuku selama ini, diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembangan wilayah berdasarkan potensi sumberdaya yang dimiliki. Berdasarkan hal tersebut, maka kerangka operasionalkajian Model Pengembangan Wilayah Berkelanjutan di Selat Sebuku Kabupaten Kotabaru dapat dilihat pada Gambar 15 di bawah ini.
Gambar 15 Kerangka Operasional
Berdasarkan data primer dan sekunder akan dilakukan kajian mengenai model pengembangan wilayah terkait kondisi existing Selat Sebuku. Kajian tentang model pengembangan wilayah meliputi pendiskripsian pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir di Selat Sebuku. Sementara terkait nilai ekonomi sumberdaya, maka dilakukan perhitungan nilai-nilai ekonomi sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resource), sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resource) dan jasa-jasa lingkungan (environment service) di Selat Sebuku.Analisis trade off interaksi sumberdaya pesisir di Selat Sebuku antara pemerintah, masyarakat dan swasta melalui pendekatan game theory diharapkan dan ditekankan pada potensi interaksi dan kecenderungan strategi yang dipilih oleh stakeholder. Analisis Multi Dimentional Scalling (MDS-Rap-Sebuku) digunakan untuk penentuan status keberlanjutan Selat Sebuku. Sementara analisis sistem dinamik diperlukan untuk membangun model dinamis pengembangan wilayah berkelanjutan di kawasan Selat Sebuku.
Tujuan Pengembangan Wilayah :
Peningkatan pendapatan masyarakat
Pertumbuhan ekonomi wilayah
Keberlanjutan sumberdaya selat
nilai ekonomi sumber daya Stakeholders : Pemerintah Masyarakat Swasta
Valuasi ekonomi sumberdaya
Sistem dan Permodelan Pengembangan Wilayah
pemanfaatan Sumberdaya
Trade off pada
Kon-flik pemanfaatan Game theory Deskriptif Status berkelanjutan Selat MDS Rap-Sebuku
Model Pengembangan Wilayah Berkelanjutan Selat Sebuku Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan
Arah dan strategi kebijakan pengembangan wilayah
Isu Pemanfaatan Selat :
Peningkatan jumlah penduduk
Tingkat pendapatan masyarakat pesisir rendah
Keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya selat