2 TINJAUAN PUSTAKA
2.13 Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang dapat dijadikan referensi untuk mendukung penelitian ini, antara lain pada Tabel 3berikutdi bawah ini :
Tabel 3. Penelitian Terdahulu
No Peneliti/ topik/
organisasi Metode Hasil penelitian
1. 2 3. Pourebrahim, et al.,2010. Integration of spatial suitability analysis for land use planning in coastal areas;case ofKuala Langat District, Selangor, Malaysia Johnson, M.F.,et al. 2011. Setting
priorities for pro- tected area plan-ning in a conflict zone – Afghanis-tan’s National Pro -tected Area System Plan
Furst, C., et al.,
2012. Integrated
land use and regio-nal resource mana-gement-A cross- disciplinary dia-logue on future perspectives for a sustainable deve- lopment of regional resources ANP, Analisis Spasial I (ArcGis), Analisis Kesesuaian (ArcGisTeknik MCE Spasial) Analisis Ekoregional (spasial analysis-ranking) Pemodelan distribusi Fauna (spasial analysis observasi & identifikasi) Zona Prioritas (ArcGis9.3) Landscape Modeling, Discuss
1. Indikator pembangunan meliputi;
kepadatan penduduk, aksesibilitas jalan utama, tingkat kesehatan, jarak dari pantai, jarak ke sekolah, kawasan rawan bencana, jarak ke kawasan industri dan perencanaan eksisting.
2. Terdapat 4 tipe pemanfaatan lahan yang utama yakni; kawasan wisata, pemukiman, kawasan industri dan kawasan konservasi
1. Terbagi atas 29 wilayah yang termasuk dalam keanekeragaman biologi yang sangat tinggi 2. Prioritas utama terletak dibagian
timur dan timur laut termasuk kawasan hutan bagian timur afganistan (mulai dari batas Propinsi Padakhshan di utara hingga Propinsi Paktika di tenggara)
1. Dalam pengelolaan sumberdaya
wilayah dalam skala luas sangat bergantung pada perubahan iklim dan dan persepsi dari para pengambilan kebijakan
2. Koordinasi lintas sektoral menjadi
sangat penting mengingat perbedaan
sumberdaya dan karakteristik wilayah seperti perencanaan yang lahir dari perbedaan fokus kebijakan seperti; perlindungan lingkungan dan hutan
3. Pentingnya penilaian sumberdaya alam dan jasa lingkungan dengan berbagai pendekatan
No Peneliti/ topik/
organisasi Metode Hasil penelitian
4. Zainuddin. 2005. Analisis Pengembangan Wilayah Pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Thesis IPB. LQ, SSA, Skalo-gram dan AHP
1. Sektor basis : perikanan dan perke- bunan.Nilai Indeks Fasilitas (IF) 15 desa pesisir pada hirarki 3
(perkembangan lambat) dengan keterbatasan fasilitas perekonomian, pendidikan,
keagamaan, olah raga dan kesenian serta fasilitas telekomunikasi dan transportasi, 8 desa pesisir pada hirarki 2 (perkembangan sedang) dan 3 desa pesisir termasuk pada hirarki 1 (perkembangan maju) yaitu Desa Mendahara Ilir, Kelurahan Muara Sabak dan Kelurahan Nipah Panjang II.
2. Arahan pengembangan seluruh
kecamatan pesisir sebagai produksi perikanan dan produksi kelapa, Kecamatan Muara Sabak produksi padi dan kedelai,
3. KecamatanMendahara produksi hortikultura serta Kecamatan Sadu dan
Mendahara untuk usaha jasa pertanian. 5. Yandri,F. 2007. Analisis Pengembangan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Dalam Perspektif Pembangunan Wilayah Tesis. IPB.
AHP, LQ, SSA, BC, NPV, IRR, Skalogram, Cluster Analysis dan DFA.
1. Kelayakan usaha dengan NPV sebesar
1.161.313, BC ratio 1,25 dan IRR 12,13%. 2. Tingkat perkembangan wilayah pesisir,
wilayah tipologi I sentra perkebunan, wilayah tipologi II sentra perikanan dan wilayah tipologi III sentra industri.
3. Lingkungan wilayah pesisir terjadi degradasi lingkungan fisik dan kualitas perairan.
6. Kusrini, D.E. 2003. Analisis
Pengembangan Wilayah Pesisir dan Laut di Kabupaten Sampang Ditinjau dari Potensi Sumberdaya dan Pendapat Masyarakat. Thesis IPB. Analisis Deskriptif, Pengelompok-kan, LQ, Analisis Perikanan, AHP
1. Sosial ekonomi masyarakat wilayah pesisir selatan yang didominasi perikanan tangkap laut lebih baik daripada wilayah pesisir utara. 2. Sejak Tahun 2000 terdapat kerugian nelayan
akibat misallocation tenaga kerja karena tingginya effort tidak sebanding dengan hasil tangkapannya.
3. Pengembangan wilayah pesisir : penciptaan lapangan kerja baru di sektor perikanan dengan cara perbaikan teknik penangkapan, pengolahan dan perluasan usaha. Perbaikan SDM melalui keterampilan dan pendidikan, penguatan kelembagaan dan meningkatkan investasi.
7. Maesaroh, S. 2013. Analisa
Pemanfaatan Ruang Wilayah Pesisir di Perairan Selat Sunda Kabupaten Analytic Network Process (ANP), Analisa spasial
1. Bobot kriteria dan parameter yang saling berpengaruh dalam kluster fungsi kebijakan 0.388, fungsi ekologi 0.3399 dan fungsi sosial ekonomi 0.3113.
2. Matriks prioritas pemanfaatan dalam fungsi
No Peneliti/ topik/
organisasi Metode Hasil penelitian
Pandeglang Banten. Thesis IPB.
pengaruh besar adalah RZWP3K 16.89% DAN RTRW 16.81%.
3. Fungsi sosial ekonomi yang memberikan dampak paling besar adalah transportasi 6.67%, struktur populasi penduduk sebesar 6.65% dan sarana dan prasarana
4. Kriteria yang memberikan dampak dari fungsi ekologi adalah kesesuaian fisik 6.05%, penggunaan lahan 6.08% dan resiko bahaya 5.80%.
5. Lokasi sesuai : budidaya laut Kecamatan Pegelaran sampai Panimbang; Konservasi sekitar Pulau Badul; Wisata Bahari perairan Sukaresmi sampai Tanjung Jaya dan Kawasan Pulau-Pulau Kecil di Ujung Kulon; Kawasan Pelabuhan Perikanan Caringin, Cigondang, Pejamben dan Desa Teluk; Kawasan Perikanan Tangkap di Kecamatan Labuan, Panimbang dan Sukaresmi.
8. Rudianto. 2004. Analisis Konflik Pemanfaatan Lahan Wilayah Pesisir. Disertasi IPB. TEV, GAMS, regresi dan game theory
1. Ada lahan yang dipertahankan, diperluas dan ditambah squatternya.
2. Kawasan yang mengeluarkan squatter adalah Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit I, Ancol, Tanjung Priok dan Tugu Selatan.
3. Kawasan yang dipertimbangkan ditambah squatter adalah Pluit II, Kali Baru, Marunda, Kamal Muara dan Cilincing.
4. Program resolusi konflik : (1) program pulang kampung (2) program pemberdayaan squatter (3) program konsilidasi lahan
(4)program pembangunan rumah susun
9. Sari,Y.T.W. 2011. Akses Nelayan Terhadap Sumberdaya Pesisir di Kawasan Pertambangan. Skripsi IPB. Analisis Deskriptif, analisis Chi-Square
1. Tingkat partisipasi nelayan lemah dalam penentuan zonasi perairan dan dapat mempengaruhi akses sumberdaya alam. 2. Jenis konflik yang terjadi di wilayah perairan
adalah konflik vertical, konflik laten dan konflik lingkungan yang melibatkan tiga
aktor utama : nelayan, perusahaan
pertambangan dan HNSI.
3. Penyelsaian konflik yang terjadi dengan konsiliasi, negosiasi dan mediasi melalui kompensasi dari perusahaan pertambangan atas pencemaran yang terjadi.
4. Konflik memiliki dua jenis dampak terhadap nelayan : (1) dampak negative yaitu penurunan kepercayaan di kalangan nelayan, timbul masalah moral dan polarisasi nelayan
No Peneliti/ topik/
organisasi Metode Hasil penelitian
(2) dampak positif yaitu ikatan kelompok lebih erat, penyesuaian diri pada kenyataan
dan pengetahauan atau keterampilan
meningkat. 10. Raden, I. et al. 2010. Kajian Dampak Penambangan Batubara Terhadap Pengembangan Sosial Ekonomi dan
Lingkungan di Kabupaten Kutai Kertanegara. Balitbang Kemendagri 2010. Analisis deskriptif, Analisis laboratorium, metode pembacaan skala, metode USLE, INP
1. Pertambangan batubara memberikan
dampak positif terhadap perekonomian masyarakat di sekitar lokasi tambang, yaitu
meningkatkan pendapatan per bulan,
memberikan peluang kerja dan peluang usaha sehingga dapat memperbaiki ekonomi masyarakat.
2. Dampak negatifnya adalah meningkatkan konflik antara masyarakat, antara masyarakat dan perusahaan yang dipicu oleh masalah limbah, penerimaan tenaga kerja, masalah tumpang tindih lahan, adanya kerusakan lingkungan fisik, kimia dan biologi yang
meliputi : kerusakan bentang alam,
penurunan kesuburan tanah, rusaknya flora dan fauna endemik, meningkatnya polusi udara dan debu, erosi dan sedimen yang memicu banjir, kebisingan, rusaknya jalan umum, masuknya limbah ke parairan sehingga merusak biota perairan.
11. Rofiko, 2005.
Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang
Pesisir Teluk
Kelabat Kawasan
Utara Pulau Bangka Propinsi Kepulauan
Bangka Belitung.
Disertasi IPB.
Analisis spasial (GIS), AHP
1. Kesesuaian lahan kawasan industri katagori sangat sesuai (S1) seluas 17.701,08 ha (13,32%), lokasi yang sesuai terbatas (S2) seluas 72.737,79 ha (54,74%); Kesesuaian lahan pariwisata, sangat sesuai seluas 600,67 ha (0,45%), lokasi yang sesuai terbatas (S2) seluas 533,66 ha (0,40%); Kesesuaian lahan bagi pemanfaatan pelabuhan, lokasi yang sangat sesuai seluas 7456,735 ha (22,63% dari luas perairan Teluk Kelabat Kecamatan Belinyu dan Kecamatan Jebus seluas 32.939,26 ha), lokasi yang sesuai terbatas seluas 20,688 ha (0,0628%) dan lokasi yang tidak sesuai seluas 25.461,617 ha (77,29%);
Keseuaian perairan bagi pemanfaatan
budidaya perikanan, lokasi yang sangat sesuai seluas 21.977,42 ha (50,06% dari luas perairan Teluk Kelabat Kecamatan Belinyu dan Kecamatan Jebus).
2. Kriteria prioritas dalam menetapkan
peruntukkan kawasan menunjukkan bahwa prioritas pada kegiatan budidaya perikanan. 12. Susanto, 2011.
Pe-ranan Sektor Peri-kanan Dalam
Pe-Analisis Deskriptif,
AHP,
Input-1. Peranan sektor perikanan dalam perekonomian wilayah dapat dianalisis melalui PDRB : sektor perikanan memberikan kontribusi
No Peneliti/ topik/
organisasi Metode Hasil penelitian
ngembangan Wila-yah Kabupaten Be-litung. Thesis IPB.
Output (I-O). PDRB rata-rata tahun 2000-2008 sebesar Rp. 167.630,33 juta atau 18,07% dari total PDRB Kabupaten Belitung. Peringkat ke-2 dari 24 sektor perekonomian setelah sektor industri non migas (21,18%).
2. Output total seluruh sektor pada Tabel I-O sektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 10,39% peringkat ke-2 setelah industri non migas 31,81%.
3. Penentuan kegiatan pembangunan perikanan, prioritas : (1) Sumber daya ikan dengan skor 0,565 ; (2) Sumber daya manusia dengan skor 0,144 ; (3) Pasar dengan skor 0,134 ; (4) Sarana dan prasarana dengan skor 0,100 ; dan (5) Biaya dengan skor 0,057. Kegiatan
prioritas untuk dikembangkan adalah
perikanan tangkap (skor 0,583), budidaya perikanan (skor 0,218) dan pengolahan hasil perikanan (skor 0,199).
4. Arah kebijakan pengembangan sektor
perikanan menuju sektor strategis : (1) Peningkatan produksi dan nilai tambah melalui kegiatan penangkapan, budidaya dan pengolahan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan partisipasi stakeholder ; (2) peningkatan keterkaitan sektor perikanan dengan sektor lain.
13. 14. Kinnear, S. and Ogden, I., 2014. Planning the innovation agenda for sustainable development in resource regions: A Central Queensland case study Kusumawati, D. 2005. Keterkaitan Sektor Unggulan dan Karakteristik Tipologi Wilayah Dalam Pengembangan Kawasan Strategis. Thesis IPB. LQ, model REMPLAN v3.0 Analisis I-O, RAS, Analisis Dampak
1.Sektor-sektor ekonomi penting ada-lah
pertambangan, perikanan, pertanian,
kehutanan, konstruksi dan transportasi. 2. Pengembangan wilayah yang ber-kelanjutan
melalui koordinasi dan tata kelola dengan upaya-upaya inovasi untuk perencanaan. 3. Ekstraksi sumberdaya di Australia berdampak
pada perubahan lahan yang menghasilkan nilai ekonomi, untuk industri dan pendapatan
nasional melalui penggunaan formulasi
rencana inovasi.
1. Sektor-sektor ekonomi yang mampu
memberikan efek multiplier bagi pertumbuhan ekonomi Kawasan Strategis Kedungsapur dan berpotensi untuk menjadi sektor unggulan wilayah : sektor industry makanan, minuman dan tembakau; sektor industry kecil, barang dari kulit dan alas kaki ; sektor industry barang dari kayu dan hasil hutan lain ; sektor industry pupuk, kimia dan barang dari karet ; sektor restoran.
No Peneliti/ topik/
organisasi Metode Hasil penelitian
2. Pemusatan aktivitas sektor unggulan : Kota Semarang, Kendal dan Kabupaten Semarang. 3. Karakteristik tipologi wilayah berdasarkan
potensi sumberdaya wilayah di kawasan strategis ada tiga kelompok tipologi wilayah : (1) Tipologi I : wilayah Kota Semarang dan Kota Salatiga ; (2) Tipologi II : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal dan ; (3) Tipologi III Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan. Pola interaksi spasial yang ada di Kawasan Kedungsepur belum menunjukkan adanya keseimbangan interaksi antarwilayah dalam kawasan.