BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI HASIL
C. Interpretasi Hasil Analisis
1. Analisis hasil tes formatif
a. Tes Formatif I
Pemberian tes formatif I dimaksudkan untuk melihat tingkat kemampuan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa setelah pembelajaran siklus I. Soal tes terdiri dari 5 buah soal uraian yang berkenaan dengan kemampuan pemecahan masalah siswa untuk indikator yang akan diukur (dapat dilihat pada lampiran 12)
Setelah dilakukan pengolahan data hasil tes siklus I, diperoleh persentase kemampuan pemecahan masalah matematika siswa seperti yang terlihat pada tabel 12.
Tabel 12
Persentase Kemampuan pemecahan masalah matematika Siswa Pada Siklus I Interval f % 45 – 50 6 16,67 51 – 56 11 30,56 57 – 62 5 13,88 63 – 68 7 19,44 69 – 74 5 13,88 75 – 80 2 5,70 Jumlah 36 100
Dari tabel diatas dapat diperoleh keterangan bahwa rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 59,5. Siswa yang mendapatkan nilai lebih dari nilai rata-rata sebanyak 14 orang yaitu 38,89% dan yang mendapat nilai kurang dari nilai rata-rata sebanyak 22 orang yaitu 61,11%. Hasil penilaian tes siklus I untuk indikator kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 40% siswa dapat memahami masalah, 32% siswa dapat merencanakan penyelesaian,
28% siswa dapat menyelesaikan masalah, 20% siswa melakukan pengecekan kembali (dapat dilihat pada lampiran 20). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih sedang.
b. Tes Formatif II
Pemberian tes formatif II dimaksudkan untuk melihat tingkat kemampuan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa setelah pembelajaran siklus II. Soal tes terdiri dari 5 buah soal uraian yang berkenaan dengan kemampuan pemecahan masalah matematika untuk indikator yang akan diukur (dapat dilihat pada lampiran 15).
Setelah dilakukan pengolahan data hasil tes siklus II, diperoleh persentase kemampuan pemecahan masalah matematika siswa seperti yang terlihat pada tabel 13.
Tabel 13
Persentase Kemampuan pemecahan masalah matematika Siswa Pada Siklus II Interval f % 47 – 52 4 11,11 53 - 58 6 16,67 59 - 64 7 19,44 65 - 70 9 25 71 - 76 6 16,67 77 - 82 4 11,11 Jumlah 36 100
Dari tabel diatas dapat diperoleh keterangan bahwa rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 64,67. Siswa yang mendapatkan nilai lebih dari nilai rata-rata sebanyak 19 orang yaitu 52,78% dan yang mendapat nilai kurang dari nilai rata-rata sebanyak 17 orang yaitu 47,22%. Hasil penilaian tes siklus II untuk indikator kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 59% siswa dapat memahami masalah, 52% siswa dapat merencanakan penyelesaian, 58% siswa dapat menyelesaikan masalah, 70% siswa melakukan pengecekan kembali (dapat dilihat pada lampiran 22). Dari hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih sedang.
c. Tes Formatif III
Pemberian tes formatif III dimaksudkan untuk melihat tingkat kemampuan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa setelah pembelajaran siklus III. Soal tes terdiri dari 5 buah soal uraian yang berkenaan dengan kemampuan pemecahan masalah matematika untuk indikator yang akan diukur (dapat dilihat pada lampiran 18 ).
Setelah dilakukan pengolahan data hasil tes siklus III, diperoleh persentase kemampuan pemecahan masalah matematika siswa seperti yang terlihat pada tabel 14.
Tabel 14
Persentase Kemampuan pemecahan masalah matematika Siswa Pada Siklus III Interval f % 55 - 60 2 5,56 61 - 66 5 13,89 67 - 72 6 16,67 73 - 78 11 30,55 79 - 84 7 19,44 85 - 90 5 13,89 Jumlah 36 100
Dari tabel diatas dapat diperoleh keterangan bahwa rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 74,65. Siswa yang mendapatkan nilai lebih dari nilai rata-rata sebanyak 23 orang yaitu 63,89% dan yang mendapat nilai kurang dari nilai rata-rata sebanyak 13 orang yaitu 36,11%. Hasil penilaian tes siklus III untuk indikator kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 100% siswa dapat memahami masalah, 82% siswa dapat merencanakan penyelesaian, 75% siswa dapat menyelesaikan masalah, 87% siswa melakukan pengecekan kembali (dapat dilihat pada lampiran 24). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa tinggi.
2. Analisis Hasil Observasi
Kegiatan observasi yang dilakukan oleh seorang observer (pengamat), dimaksudkan untuk mengamati dan mencatat aktivitas siswa selama pembelajaran dengan metode resitasi. Adapun pengamatan terhadap aktivitas siswa dilaksanakan selama pembelajaran pada tiap siklusnya.
Berdasarkan hasil kegiatan observasi terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran dari siklus pertama sampai siklus tiga, (dapat dilihat pada lampiran 2) menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan metode resitasi berlangsung baik.
Tabel 15
Statistik Deskriptif Peningkatan Aktivitas Siswa
Kemampuan Pemecahan Masalah Statistik
Skor Kategori
Siklus I 21,39 Sedang
Siklus II 25,43 Sedang
Siklus III 27,59 Tinggi
Pada siklus I skor kemampuan pemecahan masalah matematika melalui lembar observasi mendapatkan skor dengan rata-rata 21,39 dengan kategori kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sedang, pada siklus II skor rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa meningkat menjadi 25,43 dengan kategori kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sedang. Hasil pengamatan pada siklus III diperoleh rata-rata skor aktivitas siswa sebesar 27,59 dengan kategori kemampuan pemecahan masalah matematika siswa tinggi. Skor tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan sudah tercapai. Dari aspek yang diamati kemampuan pemecahan masalah matematika siswa mengalami peningkatan yang cukup baik, rata-rata skor pada aktivitas bertanya, menjawab soal dengan benar, maju mengerjakan soal di papan
tulis menunjukkan peningkatan pada setiap siklus. Siswa tidak lagi kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
3. Perbandingan Nilai Siswa Pada Siklus I, II dan III
Tabel 16
Perbandingan Nilai Siswa Pada Siklus I, II dan III
NILAI SISWA SIKLUS
I SIKLUS II SIKLUS III Nilai Terbesar 80 82 90 Nilai Terkecil 45 47 55 Rata-rata 59,5 64,67 74,65 Median 57,7 65,17 75,23
Berdasarkan tebel 16 diatas dapat disimpulkan bahwa perbandingan nilai siswa pada pembelajaran dengan menggunakan metode resitasi yang dilaksanakan dengan tiga siklus terdapat peningkatan, misalnya rata-rata nilai siswa, pada siklus I rata-ratanya 59,5, pada siklus II rata-ratanya 64,67 dan pada siklus III rata-ratanya 74,65. Ini menunjukkan bahwa perbandingan nilai siswa dari siklus I, siklus II, dan Siklus III mengalami peningkatan, mulai dari nilai terbesar, nilai terkecil, rata-rata dan median.
Tabel 17
Prosentase Kemampuan pemecahan masalah Matematika Siswa Pada Siklus I, II dan III
INDIKATOR SIKLUS I SIKLUS II SIKLUS III Memahami masalah 40% 59% 100% Merencanakan penyelesaian 32% 52% 92% Menyelesaikan masalah 28% 58% 75% Pengecekan kembali 20% 70% 87%
Hasil belajar dijadikan indikator keberhasilan dalam penelitian ini karena seseorang yang sudah memiliki kemampuan pemecahan masalah matematika yang tinggi ditandai dengan hasil belajar yang tinggi pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne (1970) yang menyatakan bahwa keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat dikembangkan melalui pemecahan masalah. Pemecahan masalah merupakan kemampuan paling tinggi, artinya jika siswa telah memiliki kemampuan pemecahan masalah maka otomatis siswa tersebut memiliki hasil belajar yang tinggi.42
Dari tabel 13. terlihat jumlah siswa yang mendapat nilai≥ 70 dari nilai tes keseluruhan meningkat dari mulai siklus I, II dan III. Indikator keberhasilan penelitian ini yaitu 60% siswa mendapat nilai≥70 dari nilai tes keseluruhan sudah tercapai pada siklus III. Sehingga penelitian ini berhenti pada siklus III dimana jumlah siswa yang mendapat nilai≥70 dari sebanyak 23 siswa yaitu 63,89%. Peningkatan skor kemampuan pemecahan masalah matematika jika disajikan dalam dalam diagram berikut:
42
Eman Suherman. Et.al, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: UPI) h. 89
y
Gambar 8
Histogram Dan Poligon Skor Awal Dan Akhir Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa
Keterangan:
: skor awal kemampuan pemecahan masalah matematika siswa : skor akhir kemampuan pemecahan masalah matematika siswa
Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa siswa yang dipilih diperoleh informasi bahwa pemberian metode resitasi memberikan nuansa belajar yang baru bagi siswa untuk terus berlatih menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah. Siswa yang kemampuan matematikanya masih rendah, dengan menggunakan metode ini memberikan pengaruh besar terhadap pola belajar siswa tersebut. Seperti pernyataan yang dikatakan seorang siswa bahwa dia senang belajar di kelas dengan metode resitasi yang variatif, dia merasa percaya diri karena dapat menyelesaikan soal-soal sulit secara mandiri. 18 16 14 12 10 8 6 4 2 42,5 48,5 54,5 60,5 66,5 72,5 78,5 84,5 90,5 x F re k u e n si Kelas Interval