BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI HASIL
1. Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada perencanaan siklus I ini adalah menyiapkan kelas tempat penelitian. Kelas tersebut adalah VIII A. Selanjutnya menyiapkan rencana pembelajaran, soal tes akhir siklus, lembar observasi, lembar wawancara, catatan lapangan, dan alat dokumentasi. Rencana pembelajaran dibuat dan didiskusikan bersama dengan guru kolaborator agar rencana pembelajaran yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan di MTs Darussa'adah Jakarta. Materi pelajaran pada siklus I ini diantaranya Pengertian persamaan linear dan sistem persamaan linear, pengertian Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV), himpunan penyelesaian Persamaan
Linear Dua Variabel (PLDV), pengertian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV).
Lembar soal latihan dan tes akhir siklus dibuat untuk mengetahui perkembangan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa persiklus. Lembar observasi digunakan untuk mencatat aspek-aspek aktivitas siswa pada setiap pertemuan, pengamatan melalui lembar observasi dilakukan oleh observer. Lembar wawancara dipersiapkan untuk mewawancarai siswa, untuk mengetahui pendapat siswa mengenai pemberian metode resitasi dalam pembelajaran matematika.
Target yang ingin dicapai pada siklus I ini yaitu 60% siswa harus mendapat nilai≥70 dari tes kemampuan pemecahan masalah matematika, dan dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah yang diberikan dengan baik.
b. Tahap Pelaksanaan
Tahap pada siklus I terdiri dari empat kali pertemuan, pada pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga, peneliti memberikan tugas kelompok dan siswa dibagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 siswa setiap kelompok. Pada pertemuan pertama masing-masing kelompok diberikan tugas diskusi materi pengertian persamaan linear dan sistem persamaan linear dan pengertian Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV). Pada pertemuan ke dua, masing-masing kelompok diberikan tugas diskusi materi himpunan penyelesaian Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV). Pertemuan ke tiga, masing-masing kelompok diberikan tugas diskusi materi pengertian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Guru mengarahkan jalannya diskusi serta mengkonstruksi pemahaman siswa tentang materi. Pada pertemuan ke empat, peneliti melakukan ujian tes akhir siklus I yang terdiri dari 5 soal yang berbentuk soal pemecahan masalah matematika. Adapun uraian proses pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut:
1) Pertemuan Pertama/ Kamis, 31 Juli 2008
Kegiatan pembelajaran berlangsung selama 2 x 45 menit (2 jam pelajaran), dimulai pada pukul 10.30 sampai pukul 12.00. Terdapat 2 orang yang tidak hadir tanpa keterangan (alpa). Guru matematika kelas VIII A hadir sebagai observer yang mengamati aktivitas siswa satu persatu kemudian dicatat pada lembar observasi. Selain itu obsever juga melakukan penilaian pada peneliti ketika mengajar di kelas. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi bagi perbaikan pengajaran pada pertemuan selanjutnya.
Pada awal pembelajaran peneliti menyampaikan materi yang akan dibahas dan tujuan pembelajaran serta menjelaskan metode yang akan digunakan selama pembelajaran berlangsung. Kemudian peneliti memberikan apersepsi, untuk menggali kembali materi prasyarat yang telah dimiliki siswa. Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa tentang sistem persamaan linear. Hanya dua orang siswa yang berani menjawab karena mereka masih ingat pelajaran setahun yang lalu sewaktu mereka duduk di kelas VII. Akan tetapi agar seluruh siswa memahami materi persamaan linear. Peneliti membuat skema tentang materi persamaan linear yang akan dipelajari dan mengulas sedikit tentang materi dengan menyimpulkan beberapa pendapat dari siswa yang menjawab.
Kemudian siswa dibagi menjadi 6 kelompok. Setiap kelompok membahas pengertian persamaan linear dan sistem persamaan linear dan pengertian Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV) serta mencari letak perbedaan dari ketiga materi tersebut. Suasana diskusi berjalan dengan ramai dan kurang terkondisikan dengan baik, peneliti terkadang terlalu lama membimbing kelompok tertentu, sedangkan siswa lainnya terabaikan bahkan ada
beberapa siswa melakukan aktivitas yang tidak relevan dengan kegiatan belajar mengajar, seperti ngobrol dan mondar-mandir.
Setelah 20 menit siswa berdiskusi, keenam kelompok menuliskan hasil diskusi mereka di papan tulis. Kemudian peneliti mengkonstruksi pemahaman siswa tentang materi dengan berinteraksi kepada siswa. Kemudian peneliti memberikan tugas (resitasi) yang berisi latihan soal pemecahan masalah sebanyak 5 soal. Soal tersebut tentang contoh-contoh persamaan linear agar siswa dapat membedakan pengertian 3 materi yang dipelajari hari ini. Siswa tampak kesulitan mengerjakan tugas. Peneliti akan memberikan reward (nilai plus) pada siswa 5 siswa pertama yang mengumpulkan tugas ke depan. Pada pertemuan ini peneliti memberikan tugas proyek membuat peta konsep tentang persamaan linear.
Setelah semua siswa mengumpulkan tugas ke depan. Tugas dibahas bersama-sama. Kendala pada pertemuan ini adalah sebagian siswa menggunakan waktu diskusi untuk mengobrol dan
bercanda.
2) Pertemuan kedua/ Selasa, 5 Agustus 2008
Sebagaimana pada pertemuan sebelumnya kegiatan belajar berlangsung selama 2 x 45 menit (2 jam pelajaran), dimulai pada pukul 07.00 sampai pukul 08.30. Terdapat seorang siswa yang tidak hadir karena sakit. Pada pertemuan yang ke dua ini siswa mempresentasikan hasil tugas proyeknya dan kelompok lain menanggapinya. Pada saat peneliti meminta siswa untuk mengemukakan tugas proyek mereka, hanya beberapa siswa dalam kelompok yang berani mengemukakan tugasnya ataupun menuliskannya di depan kelas.
Masing-masing kelompok diberi waktu 5 menit untuk presentasi. Pada saat kelompok 3 presentasi ke depan, B6
malu-malu dan kurang percaya diri untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, karena B6 belum pernah berbicara didepan kelas sehingga suasana kelas menjadi ribut karena B6 mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dengan suara pelan. Akan tetapi berbeda dengan kelompok 4 yaitu D2, dia sangat percaya diri dan lantang dalam mempresentasikan hasil kerja kelompoknya sehingga suasana kelas pun tidak terlalu ribut dan kelompok lainnya bisa menyimak apa yang dipresentasikan D2. Peneliti mengarahkan jalannya diskusi dan mengkonstruksi pemahaman siswa tentang materi.
Setelah 30 menit diskusi berlalu, peneliti menjelaskan himpunan penyelesaian Persamaan Linear Dua Variabel (PLDV). Kemudian peneliti menerapkannya ke dalam soal-soal pemecahan masalah matematika sebagai beberapa contoh untuk siswa pahami. Akan tetapi peneliti juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab contoh soal yang diberikan, setelah itu peneliti menjelaskan bagaimana cara memahami soal pemecahan masalah tersebut dan cara menyelesaikannya.
Peneliti memberikan latihan soal pemecahan masalah kepada siswa. Adapun kendala pada pertemuan ini, siswa belum terbiasa menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah, sehingga hampir semua siswa bertanya, bahkan ada beberapa siswa yang tidak bisa menjawab semua soal.
3) Pertemuan ketiga/ Kamis, 7 Agustus 2008
Sebagaimana biasa, kegiatan belajar berlangsung selama 2 x 45 menit (2 jam pelajaran), dimulai pada pukul 10.30 sampai pukul 12.00. Terdapat seorang siswa yang tidak hadir karena sakit. Pada pertemuan kali ini, peneliti mengelompokkan siswa menjadi 6 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa. Pada saat pembagian kelompok suasana kelas ribut. Setelah
keadaan terkendali, tugas diskusi dapat dimulai. Masing-masing kelompok ditugaskan mendiskusikan pengertian dan perbedaan antara persamaan linear dua variabel dan sistem persamaan linear dua variabel.
Kemudian peneliti mengawasi jalannya kerja kelompok untuk menanggapi kelompok yang ingin bertanya atau kurang mengerti dengan soal yang mereka dapatkan dan kerja kelompok tersebut diberikan waktu oleh peneliti selama 30 menit. Setelah waktu kerja kelompoknya selesai, kemudian peneliti meminta kepada setiap kelompok untuk mempersiapkan hasil kerja kelompoknya untuk dipresentasikan di depan kelas dengan menunjuk dua orang untuk mempresentasikan yang bertugas sebagai notulen dan presentator. Kendala pada pertemuan ini yaitu masih ada beberapa siswa yang bercanda pada saat diskusi berlangsung.
Gambar 1. Situasi kelas ketika diskusi
4) Pertemuan ke empat / Selasa, 12 Agustus 2008
Pada pertemuan ini dilaksanakan tes akhir siklus I. Tes ini diberikan kepada seluruh siswa kelas VIII A dalam bentuk essay berjumlah 5 soal. Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa terhadap materi yang telah diajarkan pada pertemuan pertama sampai ke tiga. Tes dilaksanakan selama 2 x 45 menit (2 jam pelajaran). Pada saat tes berlangsung ketergantungan siswa pada temannya dalam
menjawab soal masih sangat terlihat. Beberapa siswa terlihat kesulitan menjawab soal (dapat dilihat pada lampiran 4). Tetapi siswa-siswa yang awalnya sudah memiliki prestasi yang baik dalam belajar, dapat mengerjakan tes yang diberikan dengan baik.
c. Tahap Observasi
Tahap ini pada dasarnya berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Pengamatan dilakukan oleh guru kolaborator yang mencatat seluruh aktivitas siswa dan hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran. Hasil pengamatan aktivitas siswa melalui lembar observasi dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1
Skor Rata-rata Aktivitas Siswa Pada Pembelajaran Matematika Siklus I
Rata-rata Pertemuan Ke- No Aspek yang diamati
1 2 3
Rata-Rata Total 1 Membawa peralatan dan sumber
belajar matematika 2,84 3,26 3,66 3,25 2 Memperhatikan penjelasan guru
2,67 2,63 2,88 2,73 3 Bertanya pada guru jika ada materi
yang kurang jelas 1,93 2,16 2,42 2,17
4 Mengerjakan tugas yang diberikan
guru sampai selesai 1,37 1,68 2,21 1,75 5 Mengoreksi atau membenarkan
pendapat teman 1,18 1,96 2,67 1,94
6 Menjawab soal dengan benar
2,02 2,34 2,58 2,31 7 Mengerjakan soal ke depan kelas
1,32 2,09 2,51 1,97 8 Berusaha mendapat nilai bagus (poin)
2,41 2,62 2,83 2,62 9 Mengumpulkan tugas tepat waktu
2,35 2,68 2,93 2,65
Jumlah 21,39
Keterangan:
1 : dilakukan kurang baik 9 – 17 : pemecahan masalah rendah 2 : dilakukan cukup baik 18 – 26 : pemecahan masalah sedang 3 : dilakukan dengan baik 27 – 36 : pemecahan masalah tinggi 4 : dilakukan sangat baik
Pada tabel 4.1 terlihat bahwa dari 9 aspek yang diamati pada pertemuan 1 sampai 3 didapatkan rata-rata 21,39 dengan kategori kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada tingkat sedang dengan adanya penerapan metode resitasi pada proses belajar matematika siklus I. Dari pertemuan 1 sampai 3, peneliti menggunakan metode resitasi dengan kerja kelompok dan pemberian soal pemecahan masalah. Siswa dikelompokkan menjadi 6 kelompok pada setiap kelompok terdiri dari 5 sampai 6 orang.
Kemampuan pemecahan masalah matematika selama pelaksanaan siklus I adalah sebagai berikut:
1. Memahami Masalah
Pemahaman siswa pada soal pemecahan masalah dalam belajar matematika pada siklus I masih belum baik (dapat dilihat pada lampiran 20). Hal ini ditandai dengan masih banyak siswa yang bertanya tentang tugas yang harus mereka kerjakan. Karena kondisi ini mereka menjadi kesulitan pada saat mengerjakan tugas. Terutama siswa laki-laki yang duduk di belakang tidak memperhatikan penjelasan guru tentang tugas dengan baik. Dan pada saat guru memberikan kesempatan untuk mendiskusikan tugas, beberapa dari mereka ada yang mengobrol dan bercanda
dengan teman. Untuk mengatasi kondisi ini, guru berkeliling dan mengoreksi catatan hasil tugas diskusi mereka, sehingga pada pertemuan keempat semua siswa telah mencatat dengan rapih dan dapat memanfaatkan waktu yang diberikan dengan efektif.
Pada saat guru memberikan kesempatan untuk menjawab tugas soal-soal pemecahan masalah, masih banyak siswa yang belum dapat memahami soal, sehinga hanya beberapa siswa yang
menjawab soal dengan benar. Jadi siswa belum terbiasa untuk memahami soal pemecahan masalah.
2. Merencanakan Penyelesaian
Pada siklus I, sebagian besar siswa masih sering mengeluh ketika diberikan soal-soal yang sulit. Mereka masih bingung harus menulis variabel mana yang sudah diketahui dan variabel mana yang ditanyakan. Mereka belum terbiasa untuk menulis ringkasan dari soal pemecahan masalah yaitu merencanakan variabel mana yang sudah diketahui dan variabel mana yang ditanyakan. Hal ini memudahkan mereka ke tahap selanjutnya yaitu merencanakan langkah penyelesaian masalah.
3. Menyelesaikan Masalah
Pada siklus I, 28% dari siswa belum dapat menyelesaikan soal pemecahan masalah dengan baik (dapat dilihat pada lampiran 20) Hal ini terlihat dari jawaban soal siswa pada soal yang diberikan. Namun pada pertemuan kedua dan ketiga cara siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan belum mengalami peningkatan. Juga masih ada 3 siswa yang tidak bisa menjawab semua soal.
4. Pengecekan Kembali
Hal terakhir yang sering dianggap sepele oleh siswa adalah mengecek atau mengoreksi kembali hasil pekerjaan mereka dalam menyelesaikan soal (dapat dilihat pada lampiran 4). Tahapan ini merupakan bagian dari pemecahan masalah yang didasarkan atas tanggung jawab. Namun, mereka mengumpulkan tugas masih belum tepat waktu. Begitu pula pada saat jawaban soal pada tugas telah dikumpulkan ke depan, masih ada siswa yang tidak
menyelesaikan jawaban dengan menggunakan cara lain (dapat dilihat pada lampiran 4).
Adapun hasil tes siklus I disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 6
Nilai Tes Akhir Siklus I
Interval F frelatif frelatif kumulatif 45 – 50 6 0,1667 100% 51 – 56 11 0,3056 83,33% 57 – 62 5 0,1388 52,77% 63 – 68 7 0,1944 38,89% 69 – 74 5 0,1388 19,45% 75 – 80 2 0,0570 5,57% Keterangan :
Rata-rata = 59,5; Nilai tertinggi = 80; Nilai terendah = 45
Dari tabel 6 terlihat siswa yang mendapatkan nilai≥70 sebanyak 5 orang yaitu 13,89% dan yang mendapat nilai kurang dari 70 sebanyak 31 orang yaitu 86,11%. Perolehan nilai tes akhir siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan penelitian ini yaitu 60% siswa harus mendapat nilai≥70 dari tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Hasil tes akhir siklus I disajikan dalam histogram dan poligon sebagai berikut:
11 10 8 6 4 2 y F re k u e n si
Gambar 3
Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Hasil Tes Siklus I
Hasil observasi terhadap guru yang mengajar oleh observer cukup baik hanya saja guru harus lebih mengarahkan siswa secara jelas dalam pemberian tugas dan masih harus meningkatkan penguasaan ruang, teknik dan nada bicara pada saat mengajar. Observer juga mengatakan bahwa pengkondisian kelas harus lebih ditingkatkan kalau perlu bersikap tegas bagi siswa yang susah diatur dan membuat onar di kelas saat pembelajaran berlangsung. Kemudian guru tersebut mengatakan siswa sudah mulai mengikuti pelajaran dengan metode yang peneliti pakai akan tetapi siswa masih belum aktif dengan pelaksanaan pembelajaran tersebut (dapat dilihat pada lampiran 4).
d. Tahap Refleksi
Kegiatan belajar metode resitasi yang diaplikasikan dengan metode tugas diskusi, belum optimal karena masih ada siswa yang tidak aktif dalam diskusi (lihat tabel 5) dan masih ada siswa yang bercanda pada saat diskusi. Pada pertemuan berikutnya, peneliti harus merancang metode resitasi yang lebih efektif lagi pengaplikasinya.
Pada pembagian kelompok, peneliti harus lebih tegas lagi dan merata agar siswa tidak ada yang protes lagi dalam hasil pembagian 44,5 50,5 56,5 62,5 68,5 74,5 80,5 x
kelompok tersebut. Siswa juga harus meningkatkan kepercayaan diri dalam mempresentasikan hasil kerja kelompoknya apapun risikonya dan bertanggung jawab.
Ketika siswa dibiarkan mengerjakan soal setelah tugas diskusi tanpa memberikan batasan waktu, menyebabkan siswa kurang fokus mengerjakannya karena durasi waktu yang sedikit (dapat dilihat pada lampiran 4). Sehingga untuk pertemuan selanjutnya pada siklus II guru hendaknya lebih ekstra hati-hati dalam mengatur waktu diskusi, jangan sampai melebihi durasi yang ada pada RPP (dapat dilihat pada lampiran 13). Hal ini bertujuan agar pembelajaran lebih terarah dan tertib dan siswa dapat lebih fokus mengerjakan soal sesuai waktu yang sudah ditentukan.
Setelah siklus I berakhir ternyata nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa masih belum memenuhi terget yang ingin dicapai yaitu 60% siswa harus mendapat nilai≥70 dari tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Hanya 13,89% siswa yang mendapat nilai≥70 dari tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Proses pembelajaran pun masih kurang maksimal karena ada sebagian siswa yang kurang percaya diri dalam mempresentasikan hasil tugas diskusi didepan kelas serta penggunaan waktu yang masih kurang efisien. Ketika ada siswa yang malu untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya menyebabkan banyak waktu yang terbuang untuk membujuk siswa tersebut agar percaya diri tampil didepan kelas. Sehingga untuk memperbaiki hal-hal tersebut peneliti memutuskan untuk melaksanakan siklus II.