BAB II KAJIAN TEORITIK DAN HIPOTESIS TINDAKAN
1. Pembelajaran Matematika Dengan Metode Resitasi
Kata "matematika" berasal dari kata "mathema" yang dalam bahasa yunani diartikan sebagai "sains, ilmu pengetahuan, atau belajar" juga "mathematikos" yang diartikan sebagai "suka belajar".6 Adapun karakteristik utama matematika adalah disiplin dan pola pikir yang logis, kritis, sistematis dan konsisten, serta menuntut daya kreatif dan inovatif.7
Istilah matematika dari beberapa negara di dunia berasal dari kata; mathematics (Inggris), mathematik (Jerman), mathematique (Perancis), matematico (Itali), matematiceski (Rusia) atau
mathematick (Belanda) berasal dari bahasa latin mathematican, yang mulanya diambil dari bahasa yunani, mathematike yang berarti “relating to learning“, perkataan ini mempunyai akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu.8
Berdasarkan etimologis kata matematika berarti “ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. Menurut Johnson dan Myklebust, matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengepresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir.9
Johnson dan Rising dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik. Kemudian Reys dkk, dalam bukunya mengatakan pula bahwa matematika adalah telah tentang pola hubungan, suatu jalan atau pola pikir, suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat. Mereka mengartikan matematika adalah suatu pola berpikir manusia yang khas berfikir matematika, maksudnya dalam memecahkan suatu masalah
6
http://id.wikipedia.org/wikipedia/matematika, (31 oktober 2006) 7
Susy Puspitasari dan Zulmahdi Dailami, Hakikat Pembelajaran MIPA dan kiat pembelajaran matematika di perguruan tinggi, (Jakarta: PAU-PPAI, 2001), h. 3
8
Erman Suherman. et.al, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: UPI, 2003) h. 15
9
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 252
harus mencari langkah – langkah yang tepat. Selain itu, matematika juga merupakan alat untuk mempelajari bidang studi yang lain.10
Menurut Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan-hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian persoalan mengenai bilangan. Menurut Jujun S. Sumantri, matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan.11
Berdasarkan pendapat – pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu keteraturan pola hubungan yang dapat dimengerti dan dapat digunakan untuk membantu kegiatan manusia.
b. Pengertian Pembelajaran
Dalam kamus bahasa Indonesia kata pembelajaran adalah kata benda yang diartikan sebagai “Proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Kata ini berasal dari kata kerja belajar, maka pengertian dari kata "belajar" itulah yang perlu diketahui dan dihayati, sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru mengenai masalah pembelajaran. Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar atau mahasiswa kata "belajar" merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal. Kegiatan belajar mereka lakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. Bisa malam hari, siang hari, sore hari, atau pagi hari.
Masalah pengertian belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang
10
Erman Suherman. et.al, Strategi Pembelajaran…, h. 17 11
J. Ekaningsih Paimin, Agar Anak Pintar Matematika, (Jakarta: Puspa Swara, 1998), h. 2-3
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebagaimana pendapat James O. Whittaker merumuskan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.12
Cronbach mengatakan bahwa belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.13 Sedangkan Howard L. Kingskey mengatakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.14
Pendapat Kingskey sejalan dengan pendapat Geoch yang mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah sebagai hasil dari latihan. Syaiful Bahri Djamarah mengatakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran adalah suatu proses yang dirancang oleh pendidik dengan tujuan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang memungkinkan peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa.15 Pembelajaran, Menurut Usman “proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk
12
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 12 13
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar….,h. 13 14
http://www.mathematic.transdigit.com, (30 Agustus 2007, 15.30 WIB) 15
mencapai tujuan tertentu”.16 Proses pembelajaran merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam pembelajaran yang satu sama lain saling berhubungan dalam sebuah rangkaian untuk mencapai tujuan. Pembelajaran merupakan proses pemperolehan maklumat dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat serta pembentukan sikap dan kepercayaan. Pembelajaran disebut juga kegiatan intruksional saja, yaitu usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang belajar berprilaku tertentu dalam kondisi tertentu.
c. Pengertian Pembelajaran Matematika
Perubahan paradigma pembelajaran dari pandangan mengajar ke pandangan belajar atau pembelajaran yang berpusat pada guru ke pembelajaran yang berpusat pada siswa membawa konsekuensi perubahan yang mendasar dalam proses pembelajaran di kelas. Perubahan tersebut menuntut agar guru tidak lagi sebagai sumber informasi, melainkan sebagai teman belajar. Siswa dipandang sebagai makhluk yang aktif dan memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuannya sendiri.
Belajar matematika lebih dipusatkan atas dasar struktur kognitif. Sehingga bahan pelajaran dan kurikulum harus disusun menurut urutan-urutan tingkat kesukaran yang logis dan didasarkan atas pengalaman-pengalaman belajar terdahulu. Bruner mengemukakan empat dalil dalam mempelajari matematika, antara lain:
1. Dalil Penyusunan (Contruction Theorema), yaitu cara belajar matematika dengan melakukan penyusunan representasinya. Cara ini baik bagi siswa untuk mempelajari konsep, dalil-dalil dalam matematika. Pada tahap ini, siswa belajar matematika dengan
16
http://perpustakaan.uns.ac.id/dglib/pengguna.php?mn=detail&d_id=1375, (5 Januari 2009, 13.45 WIB)
benda-benda konkrit untuk memahami konsep-konsep matematika. Dengan demikian, siswa aktif dalam kegiatan-kegiatan belajar karena dapat melihat, meraba, dan melakukanya sendiri.
2. Dalil Notasi (Notation Theorema), dalam penyampaian konsep matematika adalah mempergunakan notasi yang sesuai dengan perkembangan mental siswa dan kemampuannya.
3. Dalil Pengontrasan dan Keanekaragaman (Contranand Variation Theorema) adalah mengkontraskan suatu konsep dengan konsep yang lain, dan disajikan dengan keanekaragaman, sehingga konsep itu lebih bermakna bagi siswa.
4. Dalil Pengaitan (Connectivy Theorema), adalah menunjukkan suatu konsep matematika dengan konsep lain. Maka, dalam belajarmatematika hendaknya siswa diberi kesempatan untuk melihat kaitan-kaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lainnya, agar siswa dapat melihat aplikasi konsep matematika.17
Pembelajaran matematika pada umumnya lebih banyak menggunakan rumus-rumus dan algoritma yang sudah baku. Hal ini menyebabkan siswa kurang paham dan kurang memahami konsep. Keberhasilan siswa dalam pembelajaran matematika di dalam kelas diawali dengan sikap siswa terhadap matematika, sejauh mana siswa memahami konsep materi dan sejauh mana siswa dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mengingat hal-hal tersebut di atas, pembelajaran matematika di sekolah tidak bisa terlepas dari sifat-sifat matematika yang abstrak dan sifat perkembangan intelektual siswa yang kita ajar. Oleh karena itulah kita perlu memperhatikan beberapa sifat atau karakteristik pembelajaran matematika di sekolah sebagai berikut :
a. Pembelajaran matematika adalah berjenjang (bertahap)
Bahan kajian matematika diajarkan secara berjenjang atau bertahap, yaitu dimulai dari hal yang konkrit dilanjutkan ke hal
17
yang abstrak, dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks. Semisal seseorang mempelajari konsep B yang mendasarkan kepada konsep A, maka orang itu perlu memahami lebih dulu konsep A. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahai konsep B. Ini berarti, mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang lalu.
b. Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral
Setiap memperkenalkan konsep atau bahan yang baru perlu memperhatikan konsep atau bahan yang telah dipelajari siswa sebelumnya. Bahan yang baru selalu dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari, dan sekaligus untuk mengingatkannya kembali. Pengulangan konsep dalam bahan ajar dengan cara memperluas dan memperdalam adalah perlu dalam pembelajaran matematika. Metode spiral bukanlah mengajarkan konsep hanya dengan pengulangan atau perluasan saja tetapi harus ada peningkatan. Spiralnya harus spiral naik bukan spiral mendatar.
c. Pembelajaran matematika menekankan pola berpikir deduktif Matematika adalah ilmu deduktif, matematika tersusun secara deduktif aksiomatik. Namun demikian kita harus dapat memilih pendekatan yang cocok dengan kondisi anak didik yang kita ajar. Misalnya sesuai dengan perkembangan intelektual siswa di SLTA, maka dalam pembelajaran matematika belum seluruhnya menggunakan pendekatan deduktif tapi masih bercampur dengan induktif.
d. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
Kebenaran dalam matematika sesuai dengan struktur deduktif aksiomatiknya. Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya merupakan kebenaran konsistensi, tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar bila didasarkan atas
pernyataan-pernyataan terdahulu yang telah diterima kebenarannya. Dalam pembelajaran matematika di sekolah, meskipun ditempuh pola induktif, tetapi tetap pada bahwa generalisasi suatu konsep haruslah bersifat deduktif. Kebenaran konsistensi tersebut mempunyai nilai didik yang sangat tinggi dan amat penting untuk pembinaan sumber daya manusia dalam kehidupan sehari-hari.18
d. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.19 Pada kegiatan belajar-mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru dan penggunaanya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila tidak menguasai satupun metode mengajar yang telah di rumuskan.
Metode adalah cara yang sistematis yang digunakan untuk mencapai tujuan. Metode juga dapat dikatakan cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode mengajar adalah cara yang dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan belajar mengajar guna mencapai tujuan pembelajaran.
Beberapa metode yang dianggap sesuai dan dapat digunakan pada kegiatan belajar mengajar matematika antara lain, sebagai berikut: metode ceramah, ekspositori, metode demontrasi, metode latihan hafal dan praktek, metode tanya jawab, metode diskusi, metode permainan, laboratorium, kegiatan lapangan, metode
18
Erman Suherman,et.al., Strategi Pembelajaran …, h. 67-69. 19
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 145
karyawisata, metode penemuan/eksperimen, inkuiri, metode problem solving, metode pemberian tugas (resitasi), pengajaran beregu.
e. Prinsip-Prinsip Penggunaan Metode Pembelajaran
Proses kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku pada satu metode mengajar, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pembelajaran tidak membosankan. Penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi juga tidak akan menguntungkan jika penggunaan metode pembelajaran tidak tepat dan sesuai dengan situasi yang mendukungnya.
Ada lima faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar, sebagai berikut :20
1) Tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya
2) Anak didik yang berbagai tingkat kematangannya 3) Situasi yang berbagai keadaannya
4) Fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitasnya
5) Pribadi guru serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda. Metode digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Ada tiga hal kedudukan metode dalam proses belajar mengajar:
a. Metode Sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Sebagai salah satu komponen pembelajaran, metode menempati peranan yang tidak kalah pentingnya dari komponen lain dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satupun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pembelajaran. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman adalah motif-motif yang berfungsi dan aktif karena adanya perangsang dari luar. Karena itu, metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat
20
Syaiful Bahri Jamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 46
membangkitkan belajar seseorang.
Guru yang menggunakan satu metode dalam belajar mengajar cenderung membuat siswa bosan dan jalanya pembelajaran terlihat kaku. Anak didik terlihat kurang bergairah belajar dan malas mengikuti pelajaran. Dengan demikian setiap kali pertemuan guru harus mempunyai berbagai variasi penggunaan metode pembelajaran sehingga menghasilkan proses belajar mengajar yang aktif bagi siswa. Metode yang tepat dan bervariasi dapat dijadikan sebagai alat motivasi ektrinsik.
b. Metode Sebagai Stategi Pembelajaran
Penggunaan metode harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas, anak didik, tujuan dan fasilitas. Karena itu, dalam kegitan pembelajaran, guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang di harapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa disebut metode mengajar. Dengan demikian metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. c. Metode sebagai Alat Mencapai Tujuan
Tujuan adalah pedoman yang memberi arah kemana kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Guru tidak bisa membawa kegiatan belajar megajar sekehendak hatinya dan mengabaikan tujuan yang telah dirumuskan. Kegiatan belajar mengajar yang tidak mempunyai tujuan ibarat ke pasar tanpa tujuan, sehingga sukar untuk menyeleksi mana kegiatan yang harus dilakukan dan yang harus diabaikan.21
Pemanfaatan metode secara akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pembelajaran. Metode merupakan pelicin jalan pembelajaran menuju tujuan. Ketika tujuan dirumuskan agar anak
21
didik memiliki ketrampilan tertentu, maka metode yang digunakan harus disesuaikan tujuan. Jadi guru harus menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagi alat yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
f. Pengertian Metode Resitasi
Belajar matematika memerlukan banyak latihan, agar proses belajar tersebut lebih efektif dan efisien, metode resitasi (pemberian tugas) dapat diterapkan. Dengan adanya pemberian tugas, siswa akan lebih berperan aktif dalam kegiatan belajarnya karena siswa memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menggunakan pengetahuan sebelumnya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang tidak rutin.
Metode resitasi (pemberian tugas) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. 22 Masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah, laboratorium, perpustakaan, bengkel, di rumah siswa sendiri, atau dimana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.
Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas; sehingga siswa berpengalaman dalam menghadapi masalah-masalah baru. Metode resitasi ini mensyaratkan adanya pemberian tugas dan adanya pertanggungjawaban dari yang diberi tugas. Adanya tugas dapat bersumber dari guru atau berupa perintah guru, dapat juga berupa hasil kompromi atau keinginan sesama siswa dan hasil pekerjaan yang harus dipertanggung-jawabkan dapat berbenuk lisan atau tertulis. Biasanya tugas yang diberikan adalah berupa penyelesian soal-soal. Metode resitasi juga merupakan suatu metode
22
mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri.23 Namun agar lebih variatif dan menghindari kejenuhan siswa, maka dapat juga tugas berupa membuat atau merancang model-model, alat-alat atau permainan yang berhubungan dengan materi pelajaran matematika.
Ditinjau dari proses penyelesaiannya atau pengerjaannya, metode pemberian tugas dalam pembelajaran matematika dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu tugas yang harus diselesaikan selama pembelajaran berlangsung dan tugas yang harus diselesaikan di luar kelas, di luar jadual belajar mengajar yang telah dijadualkan, tapi merupakan kelanjutan dari pengajaran kelas.24
Agar metode ini dapat memberikan hasil belajar yang maksimal, maka hendaknya tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan unsur penguatan sehingga dapat merangsang anak didik untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan adanya penguatan akan dapat menimbulkan sikap positif terhadap matematika, di dalam memberikan tugas hendaknya perlu diperhatikan derajat kesukaran dan banyaknya soal latihan. Sebab bila tugas yang diberikan terlalu sukar dan jumlahnya cukup banyak akan membuat siswa menjadi frustasi dengan keadaan seperti ini akan menimbulkan sikap negatif terhadap matematika. Sedangkan bila soalnya terlalu mudah akan menimbulkan rasa bosan atau dengan kata lain menjemukan.
Bila metode pemberian tugas direncanakan dengan baik akan dapat mengaktifkan siswa untuk belajar sendiri mengenal suatu masalah dengan cara membaca, mencoba atau mengerjakan soal latihan. Selain daripada itu, pemberian tugas dapat membiasakan siswa berpikir dengan membandingkan dan mencari hukum-hukum
23
http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/18/ragam-metode-pembelajaran/, (5 Januari 2009, 13.50 WIB)
24
A. Tabrani Rusyan, Pedoman Mengajar Matematika berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi, (Jakarta: Intimedia ciptanusantara, 2003), h. 75
yang berhubungan. Serta melatih siswa berhadapan dengan persoalan yang tidak hanya sekedar hapalan. Melaksanakan tugas akan mengembangkan dan memupuk inisiatif serta tanggung jawab dari siswa yang bersangkutan.
Manfaat lain dari metode pemberian tugas yang direncanakan dengan baik untuk siswa akan memiliki hasil belajar yang lebih baik, karena siswa melaksanakan latihan (menyelesaikan soal-soal latihan) dengan kondisi seperti ini mengakibatkan pengalaman siswa di dalam mempelajari masalah matematika dapat lebih terintegrasi. Selain daripada itu pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman belajar akan lebih mendalam dan lama tersimpan di dalam ingatan.
Oleh sebab itu dalam pelaksanaan metode resitasi perlu memperhatikan langkah-langkah berikut:
1. Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama mengenai tujuan pemberian tugas, dan cara mengerjakannya 2. Tugas yang diberikan harus dapat dipahami oleh siswa, kapan
mengerjakannya, berapa lama tugas tersebut harus dikerjakan, secara individu atau kelompok. Hal tersebut akan sangat menentukan keefektifan penggunaan metode resitasi dalam pengajaran.
3. Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok, maka perlu diupayakan agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut, terutama kalau tugas tersebut diselesaikan di luar kelas.
4. Guru harus mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh peserta didik.
5. Berikanlah penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan siswa.
Pada dasarnya proses belajar berlangsung dalam suatu latihan atau pengalaman, sehingga dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada individu yang dimaksudkan pengalaman disini adalah segala
kejadian yang secara sengaja atau tidak disengaja dialami seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan latihan adalah kejadian yang dengan sengaja dilakukan seseorang secara kontinu yang gunanya untuk mendapatkan keterampilan dan penguatan.
Dari uraian diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa metode resitasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menugaskan peserta didik mempelajari sesuatu yang kemudian harus dipertanggung-jawabkan. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam materi, dapat pula mengembangkan bahan yang telah dipelajari, dapat pula mengecek bahan yang telah dipelajari.
g. Kelebihan dan Kekurangan Metode Resitasi
Metode resitasi ini memiliki beberapa kelebihan yaitu:
1. Anak-anak terbiasa mengisi waktu luang dengan hal-hal yang kontruktif.
2. Soal-soal bukan lagi menjadi bumerang bagi siswa, karena siswa sudah terbiasa mengerjakan soal.
3. Memupuk rasa tanggung jawab dan harga diri atas segala tugas yang dikerjakan.
4. Melatih anak berpikir kritis, tekun dan giat belajar. 5. Pengetahuan yang diperoleh akan lebih mendalam. 6. Bila pemberian tugas diberikan secara efektif dan efisien,
maka akan menambah kemampuan pemecahan masalah siswa.
Selain itu, metode ini juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan, seperti:25
! " !#
$"% $# !" $
&' ( & "! ) ) " * "* &+* " *' ", - #.
1.Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia yang mengerjakan tugas atau orang lain;
2.Khusus tugas kelompok, tidak jarang yang aktif dan mengerjakan hanya anggota tertentu;
3.Tugas yang monoton menimbulkan kebosanan belajar siswa. 4.Guru harus sering menyiapkan soal-soal atau tugas siswa.
h. Fase-Fase Metode Resitasi
Langkah-langkah yang harus diikuti dalam pengunaan metode pemberian tugas atau resitasi, yaitu:
1) Fase pemberian tugas
Pada fase ini, guru harus memperhatikan tujuan yang akan dicapai dari pemberian tugas tersebut, jenis tugas harus jelas, tugas harus sesuai kemampuan siswa, adanya petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa, sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas.
2) Fase pelaksanaan tugas
Pada fase ini, guru harus memberikanbimbingan pada siswa agar siswa tidak bertanya-tanya lagi apa yang harus dikerjakan, dan apa yang menjadi tugasnya. Guru juga harus memberikan pengawasan pada siswa agar siswatidak niru pekerjaan temannya. Selain itu guru juga harus memberikan dorongan agar anak termotivasi dan mau melaksanakan tugasnya dengan baik. Pada fase ini siswa dianjurkan mencatat hasil-hasil yang ia perolah dengan baik dan sistematis.
3) Fase mempertanggung jawabkan tugas (Fase Resitasi)
Hal-hal yang harus dikerjakan pada fase ini:
a)Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakan
b)Ada tanya jawab atau diskusi kelas