BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI HASIL
D. Pembahasan Temuan Penelitian
1. Penerapan metode resitasi dalam proses belajar dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
Penggunaan metode ini dalam kegiatan belajar mengajar pokok bahasan SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel) kepada siswa dapat memberikan pengalaman baru bagi siswa dalam belajar matematika. Hal itu disebabkan karena guru terus menerus melatih siswa untuk kreatif dan aktif serta variatif dalam menyelesaikan soal. Tanggapan atau respon yang diberikan guru dengan segera ketika siswa melakukan kesalahan membuat siswa merasa diperhatikan dan dapat langsung memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan, sehingga kesalahan yang dilakukan siswa tidak akan terulang lagi pada kegiatan pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, catatan lapangan, dan hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika terlihat adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang sangat baik dibandingkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada saat sebelum dilakukan penelitian.
2. Penerapan metode resitasi didampingi tutor sebaya dalam proses belajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika terlihat dari hasil tes akhir siklus I, II, dan III yang nilai rata-ratanya terus meningkat. Pada siklus III 63,89% siswa mendapat nilai≥ 70 dari tes keseluruhan. Peningkatan hasil belajar juga terlihat dari nilai ulangan akhir siklus siswa bab SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel) yang meningkat dibandingkan nilai ulangan harian siswa sebelumnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan deskripsi data dan pembahasan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan metode resitasi mengalami peningkatan setiap siklusnya. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan tahap-tahap pemecahan masalah yaitu tahap memahami masalah pada siklus I 40% menjadi 99%. Tahap merencanakan penyelesaian pada siklus I 32% menjadi 82%. Tahap menyelesaikan masalah pada siklus I 28% menjadi 75%. Tahap pengecekan kembali pada siklus I 20% menjadi 87%.
2. Penerapan metode resitasi dalam proses pembelajaran matematika siswa dapat meningkatkan skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan nilai rata-rata tes pada setiap akhir siklus. Pada siklus III nilai rata-rata tes akhir siklus sebesar 74,65 dan 63,89% siswa mendapat nilai 70 dari tes kemampuan pemecahan masalah.
3. Penerapan metode resitasi dalam proses pembelajaran matematika siswa dapat meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini terlihat dari hasil lembar observasi yang terus meningkat pada setiap siklusnya. Skor rata-rata aktivitas siswa pada siklus I sebesar 21,39 atau dalam kategori sedang, siklus II sebesar 25,43 atau dalam kategori sedang dan pada siklus III meningkat menjadi 27,59 atau dalam kategori tinggi.
B. Saran
1. Berdasarkan penelitian ini, guru hendaknya dapat memberikan tanggapan atau respon terhadap siswa yang melakukan kesalahan atau kekeliruan pada saat mengerjakan soal atau pada hasil tugasnya.
2. Tanggapan dan stimulus yang dilakukan guru dalam rangka meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dapat dilakukan dengan cara resitasi secara kontinu, variatif dan inovatif pada siswa misalnya latihan soal, diskusi, proyek, quiz, lembar kerja siswa atau PR. 3. Penerapan metode resitasi dalam belajar matematika hendaknya harus
dilakukan bimbingan secara terus menerus oleh guru di setiap tugas yang diberikan, walaupun membutuhkan ketelitian dan kesabaran saat membimbing karena membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup lama. Tetapi hasilnya dapat memuaskan baik dari pihak siswa maupun guru yang bersangkutan.
4. Penerapan metode resitasi dalam belajar matematika hendaknya dikombinasikan dengan peran tutor sebaya agar proses belajar dapat lebih kondusif dan tidak ada siswa yang tertinggal dalam mempelajari materi. 5. Pada pembelajaran matematika hendaknya tugas yang diberikan tidak
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Mulyono., Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2003
Arikunto, Suharsimi dkk., Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2006
Arikunto, Suharsimi., PROSEDUR PENELITIAN, Jakarta : Rineka Cipta, Cet ke-5, 2002
Budi, Wono Setya., Langkah Awal Menuju Olimpiade Matematika, Jakarta: CV. RICARDO, 2005
Djamarah, Syaiful Bahri., Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2002
Djamarah, Syaiful Bahri., Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, Cet.3, 2006
http://dossuwanda.wordpress.com/2008/03/18/ragam-metode-pembelajaran/, (5 Januari 2009, 13.50 WIB)
http://id.wikipedia.org/wikipedia/matematika, (31 oktober 2006, 19.00 WIB).
http: //ontarusria.tripod.com/bab2.html (20 maret 2008, 12.32 WIB)
http://perpustakaan.uns.ac.id/dglib/pengguna.php?mn=detail&d_id=1375,
(5 Januari 2009, 13.45 WIB)
http://perpustakaan.uns.ac.id/dglib/pengguna.php?mn=detail&d_id=1163, (20 maret 2008, 12.32 WIB)
http://www.mathematic.transdigit.com, (30 Agustus 2007, 15.30 WIB)
http://www.pendidikanqur’an.ac.id/go.php?id=laptunilapp-gdl-res-2005-arnelisjal-205 (2 maret 2008, 15.12)
Muslich, Masnur., KTSP Pembelajaran berbass kompetensi dan kontekstual,
Jakarta: Bumi Aksara, 2008
Paimin, J. Ekaningsih., Agar Anak Pintar Matematika, Jakarta: Puspa Swara, 1998
Puspitasari, Susy., et. al, Hakikat Pembelajaran MIPA dan kiat pembelajaran matematika di perguruan tinggi, Jakarta: PAU-PPAI, 2001
Rusyan, A. Tabrani., Pedoman Mengajar Matematika berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi, Jakarta: Intimedia ciptanusantara, 2003
Sanjaya, Wina., Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
Jakarta: Kencana, 2007
Shadiq, Fajar., Pemecahan Masalah, Penalaran Dan Komunikasi, Yogyakarta: PPPG, 2004
Shaleh, Abdul Rachman., Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, Jakarta: PT Raja grafindo Persada, 2004
Suherman, Erman., Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung: UPI, 2003
Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) 2007, Jakarta: Program Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007
Undang-Undang tentang Sisdiknas dan Peraturan Pelaksanaannya, Jakarta: CV. Tamita Utama, 2004
Lampiran 1
LEMBAR WAWANCARA GURU
Wawancara pada kegiatan observasi
Untuk guru bidang studi matematika kelas VIIIA
1. Apakah pembagian kelas VIII berdasarkan tingkat kemampuan siswa? 2. Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VIII di MTs Darussa’adah? 3. Bagaimana cara Ibu meningkatkan hasil belajar matematika siswa?
4. Bagaimana tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa secara umum di MTs Darussa’adah, khususnya kelas VIII?
5. Apa saja kendala/kesulitan yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah?
6. Metode belajar seperti apa yang selama ini Ibu terapkan dalam mengajarkan matematika, khususnya pada pokok bahasan SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel)?
7. Kendala/kesulitan apa saja yang Ibu hadapi dalam mengajarkan matematika, khususnya pada pokok bahasan SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel)?
8. Apa saja kendala/kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami konsep-konsep dalam SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel)?
9. Menurut Ibu, bagaimana peran metode pembelajaran dalam mengajarkan matematika?
10.Apakah siswa selalu tepat waktu mengumpulkan tugas yang Ibu berikan? 11.Menurut Ibu, kelas mana yang paling cocok untuk dijadikan sampel penelitian
ini? .
Kutipan Wawancara Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Peneliti Guru Peneliti Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Guru : Assalamu’alaikum : Wa’alaikum salam
: Maaf Ibu perkenalkan saya Faizah mahasiswa UIN yang akan melakukan penelitian di sekolah ini, bisa minta waktunya sedikit untuk wawancara?
: Oh boleh. Sudah dapat izin dari kepala sekolah? : Oh iya, Sudah Bu. Ini surat izinnya
: Sebelum saya memulai penelitian, saya perlu melakukan wawancara dengan Ibu selaku pengajar matematika untuk mengetahui tentang kondisi siswa kelas VIII
: Ok..apa yang dapat saya bantu? : Baiklah saya mulai ya Bu
: Apakah pembagian kelas VIII berdasarkan tingkat kemampuan siswa?
: Tidak, untuk kelas VIII pembagiannya berdasarkan pembagian kelas VII lalu. Tapi pada waktu itu kelas dibagi secara merata dari segi kemampuan siswa, pada setiap kelas ada siswa yang prestasi belajarnya baik, sedang dan rendah.
: Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VIII di MTs Darussa’adah?
: Untuk kelas VIII tahun ajaran ini, hasil belajar matematikanya relatif rendah ya..bisa dilihat dari niali semesternya di kelas VII. Yang saya perhatikan selama ini, hal itu disebabkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal. Apalagi yang namanya soal cerita.
: Bagaimana cara Ibu meningkatkan hasil belajar matematika siswa?
: Susah sih ya,,Waktu KBM itu hanya sedikit di kelas. Sedangkan waktu belajar terbanyak ya di rumah, tapi ya itu
Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Guru
mereka tidak menggunakan waktu untuk belajar. Padahal Biasanya sebelum memulai pelajaran saya selalu memberitahukan tujuan pembelajaran agar mereka tahu apa manfaat yang akan mereka dapatkan setelah mempelajari materi tersebut. Selain itu, saya sering beri nasehat-nasehat agar rajin belajar matematika, karena sudah kelas VIII jadi harus memiliki tanggung jawab besar dalam belajar, khususnya belajar matematika.
: Bagaimana tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa secara umum di MTs Darussa’adah, khususnya kelas VIIIA?
: Seperti tadi yang saya katakan. Mereka masih kesulitan menyelesaikan soal-soal cerita. Itu dapat ditarik kesimpulan tingkat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa secara umum dapat dikatakan menengah ke bawah ya. Tapi ada juga siswa yang menunjukkan prestasi belajar yang sudah baik namun belum bisa dikatakan kemampuan matematikanya tinggi. :Apa saja kendala/kesulitan yang dihadapi siswa dalam
menyelesaikan soal pemecahan masalah?
:Biasanya mereka sudah pusing duluan ketika membaca soal. Sering kali terjadi, mereka tidak memahami soal. Yang akibatnya penyelesaiannya kurang tepat atau bahkan salah. : Metode belajar seperti apa yang selama ini Ibu terapkan dalam
mengajarkan matematika, khususnya pada pokok bahasan SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel)?
: Metode ceramah dengan penjelasan lalu saya beri contoh soal. Kadang-kadang saya kasih latihan.
: Kendala/kesulitan apa saja yang Ibu hadapi dalam mengajarkan matematika, khususnya pada pokok bahasan SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel)?
Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Guru Peneliti Guru
sehingga konsep-konsep matematika yang abstrak sulit tersampaikan dengan baik.
:Apa saja kendala/kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami konsep-konsep dalam SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel)?
: Selama ini siswa banyak mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan SPLDV dalam mengerjakan soal. Pengalaman saya, banyak siswa yang kesulitan menyelesaikan soal SPLDV dengan grafik. Hal ini terjadi karena sebagian besar siswa jarang berlatih untuk mengerjakan soal-soal.
: Apakah siswa selalu tepat waktu mengumpulkan tugas yang Ibu berikan?
:Ya kadang-kadang. Jika mereka belum selesai mengerjakan, akhirnya saya jadikan PR.
: Menurut Ibu, bagaimana peran metode pembelajaran dalam mengajarkan matematika?
: Menurut saya metode sangat penting dalam KBM. Dengan Metode yang baik, siswa mudah memahami materi pelajaran. Metode itu tidak perlu yang baru-baru. Sebenarnya yang lamapun jika dikeas dengan baik akan berhasil.
: Menurut Ibu, kelas mana yang paling cocok untuk dijadikan sampel penelitian ini?
: Menurut saya kelas VIIIA cocok dijadikan subjek penelitian tindakan kelas ini.
: Terima kasih ya Bu atas informasinya. Sekalian saya mohon bimbingannya.
: Sama-sama mudah-mudahan penelitian ini berjalan lancar ya..Jika ada yang kurang jelas, tanyakan ke saya saja.
: Baik Bu, Assalamu’alaikum : Wa’alaikum salam
La mpi ran 2 PA ND UA N OB SE RV AS I SIS W A
Pokok Bahasan : Kelas :
Pertemuan ke :
Kode Siswa (diisi dengan s No Aspek yang diamati
A1 A2 A3 A4 A5 A6 B1 B2 B3 B4 1 Membawa peralatan dan
sumber belajar matematika 2 Memperhatikan penjelasan
guru
3 Bertanya pada guru jika ada materi yang kurang jelas 4 Mengerjakan tugas yang
diberikan guru sampai selesai 5 Mengoreksi atau membenarkan
jawaban teman
6 Menjawab soal dengan benar
7 Mengerjakan soal ke depan kelas
Keterangan skala penilaian : Keterangan Penilaian: 1 : Dilakukan kurang baik Skor 9 – 17 =
Kemampuan pemecahan masalah rendah
2 : Dilakukan cukup baik Skor 18 – 26 = Kemampuan pemecahan masalah sedang
3 : Dilakukan dengan baik Skor 27 – 36 = Kemampuan pemecahan masalah tinggi
4 : Dilakukan sangat baik
8 Berusaha mendapat nilai bagus (poin)
9 Mengumpulkan tugas tepat waktu
PANDUAN OBSERVASI SISWA
Pokok Bahasan : Kelas : Pertemuan ke :
Kode Siswa (diisi dengan skala penilaian) No Aspek yang diamati
D1 D2 D3 D4 D5 D6 E1 E2 E3 E4 E5 E6 F1 F2 F3 F4 F5 F6 JML 1 Membawa peralatan dan
sumber belajar matematika 2 Memperhatikan penjelasan guru
3 Bertanya pada guru jika ada materi yang kurang jelas
4 Mengerjakan tugas yang diberikan guru sampai selesai 5 Mengoreksi atau membenarkan
jawaban teman
6 Menjawab soal dengan benar
7 Mengerjakan soal ke depan kelas
8 Berusaha mendapat nilai bagus (poin)
9 Mengumpulkan tugas tepat waktu
JUMLAH
1 : Dilakukan kurang baik Skor 9 – 17 = Kemampuan pemecahan masalah rendah 2 : Dilakukan cukup baik Skor 18 – 26 = Kemampuan pemecahan masalah sedang 3 : Dilakukan dengan baik Skor 27 – 36 = Kemampuan pemecahan masalah tinggi 4 : Dilakukan sangat baik
PANDUAN OBSEVASI GURU
Nama sekolah : Mata Pelajaran
:
Nama Guru : Kelas
:
Tanggal/Pukul : Pokok Bahasan
:
Pertemuan ke : Sub Pokok Bahasan
:
Penilaian
No Aspek yang diamati
1 2 3 4
1 Membuka Pelajaran
2 Merview pengetahuan siswa sebelumnya (apersepsi) 3 Menyampaikan tujuan pembelajaran
4 Memotivasi siswa 5 Penjelasan materi
6 Ketepatan penggunaan metode 7 Volume dan nada bicara 8 Memberi tugas
9 Variasi pemberian tugas
10 Membimbing siswa pada saat melaksanakan tugas 11 Mengoreksi hasil tugas siswa
12 Menjawab pertanyaan atau menanggapi siswa 13 Ketepatan alat evaluasi
14 Cara menutup pelajaran
15 Memberi PR (Pekerjaan Rumah)
Keterangan Skala Penilaian Keterangan Nilai
1 = Kurang Skor Maksimal : 60
2 = Cukup Skor Netral : 40
3 = Baik Skor Minimum : 15
4 = Baik sekali
Pengamat
( )
Lampiran 4
CATATAN LAPANGAN
Pertemuan Ke : 1
Hari/Tanggal : Kamis, 31 Juli 2008 Catatan lapangan :
Pertemuan Ke : 2
Hari/Tanggal : Selasa, 5 Agustus 2008 Catatan lapangan :
• Masih ada 6 siswa yang tidak memperhatikan jalannya diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Masih ada yang mengobrol dan bercanda pada saat diskusi. • 1 Siswa laki-laki berani maju sebagai presentator.
• Siswa yang duduk di belakang sering mengobrol dalam belajar, terlihat ngantuk dan suka menaruh kepala di atas meja.
• Siswa perempuan lebih aktif dalam diskusi. • Ada 4 orang siswa yang berani bertanya.
• Siswa takut salah jika diminta maju mengerjakan soal di papan tulis. 1.Siswa mengeluh pusing jika mengerjakan soal yang sulit.
• Diawali dengan pertanyaan kepada siswa tentang sistem persamaan linear. “Coba ibu mau tanya, apa yang kalian tau tentang persamaan linear? ayo kalau diantara kalian ada yang tau acungkan tangan!!” Dari pertanyaan tersebut semua siswa mengacungkan tangan. Tetapi hanya ada dua orang siswa yang dapat menjawab, D2 : “Kalo salah ga papa ya bu,, persamaan yang ada x dan y-nya bu,,” dan E1 : “Persamaan yang punya nilai,, misalnya a sama dengan 1, salah ya bu,,”. Masih ada 7 siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh.
• Masih ada yang mengobrol dan bercanda pada saat diskusi kelompok.
• Siswa laki-laki kurang aktif pada saat diskusi dan malas menjadi notulen atau presentator.
• Keadaan kelas tidak stabil pada saat pembagian kelompok.
• Siswa saling tunjuk jika diminta maju untuk presentasi atau menjawab soal.
Pertemuan Ke : 3
Hari/Tanggal : Kamis, 7 Agustus 2008 Catatan lapangan :
Pertemuan Ke : 4
Hari/Tanggal : Selasa, 12 Agustus 2008 Catatan lapangan :
• Tes siklus I dilaksanakan
• Sebagian besar siswa masih bergantung pada teman dalam menjawab soal yang diberikan.
• Siswa belum dapat menyelesaikan tes sesuai dengan waktu yang ditentukan, sehingga guru memberikan perpanjangan waktu selama 10 menit
• Hasil wawancara dengan seorang siswa. Tadi kamu bisa mengerjakan soal yang ibu kasih? A6 : “ada yang bisa ada yang ga Bu,ya..kalo yang susah saya berusaha tanya teman, soalnya kalo dipaksain suka pusing dan jadi males ngerjain Bu!”. Jadi siswa belum terbiasa untuk mengerjakan soal pemecahan masalah.
• Siswa masih terlihat kesulitan dalam menjawab soal. Hal itu terlihat dari keluhan siswa D3 : “Ya ampun bu, soalnya susah-susah banget, aku ga ngerti bu!”, juga terlihat dari jawaban siswa yang belum selesai.
• Siswa saling tunjuk jika diminta maju untuk presentasi hasil diskusi. • Siswa sering melihat jawaban teman jika tidak bisa mengerjakan soal. • 3 siswa tidak bisa menjawab semua soal.
• Pada saat jawaban soal pada tugas telah dikumpulkan ke depan, masih ada siswa yang tidak menyelesaikan jawaban dengan menggunakan cara lain
Pertemuan Ke : 5
Hari/Tanggal : Kamis, 14 Agustus 2008 Catatan lapangan :
Pertemuan Ke : 6
Hari/Tanggal : Selasa, 19 Agustus 2008 Catatan lapangan :
• Aturan quiz diubah menjadi siswa boleh membuat konsep sebelum maju ke depan
• Siswa antusias menjawab quiz
• Siswa mulai terbiasa mengerjakan soal-soal pemecahan masalah. • 3 siswa tidak maju ke depan
• Seorang siswa yang memberikan celetukan “ih Ibu, dari kemarin kek kaya gini kan enak,,”
• Semua soal quiz terjawab oleh siswa
• Beberapa siswa kesulitan menjawab quiz karena belum membuat konsep dari tempat duduknya. Sehingga ada beberapa siswa yang mengeluh;
E1 : “ya Bu, saya ga bisa ngerjain langsung ke depan, karena grogi takut salah,,” dan D3 : “Bu, kita kerjain di bangku dulu deh, kalo udah ketemu jawabannya baru ke depan,,”
• Hanya 5 siswa saja yang maju ke depan.
• Hasil wawancara dengan E3 “Pembelajaran matematika dengan quiz memang menyenangkan karena kita tertantang menjawab soal dengan cepat dan tepat, apalagi kalo dapet nilai,ya tapi kalo bisa kita disuruh kerjain di tempat duduk dulu Bu,,,”
Pertemuan Ke : 7
Hari/Tanggal : Kamis, 21 Agustus 2008 Catatan lapangan :
Pertemuan Ke : 8
Hari/Tanggal : Selasa, 26 Agustus 2008 Catatan lapangan :
• Siswa dikelompokkan menjadi dua; kelompok pertama adalah siswa-siswa yang hasil tes akhir siklus II masih rendah berjumlah 17 orang dan kelompok kedua adalah siswa-siswa yang hasil tes akhir siklus II sudah baik berjumlah 19 orang
• Pada saat pembagian kelompok suasana menjadi sangat ribut, bahkan ada yang tidak mengerti cara pembagian kelompoknya, berikut penuturan siswa
E1 : “Bu,, saya dikelompok mana?” A2 : “Bu,, saya tidak kebagian kursi!!”
• Semua anggota kelompok dua berperan menjadi tutor sebaya untuk semua anggota kelompok pertama.
• Kendala pada pertemuan ini adalah beberapa siswa minta diajari oleh satu orang siswa yang terpandai di kelas
• Tes siklus II dilaksanakan
• Sebagian besar siswa tampak tekun dalam mengerjakan soal
• Ketergantungan siswa terhadap teman dalam menjawab soal mulai berkurang dibandingkan siklus I
• Ada 3 orang siswa yang belum dapat menyelesaikan soal tes tepat dengan waktu yang telah ditentukan. Sehingga peneliti memberikan perpanjangan waktu selama 5 menit
Pertemuan Ke : 9
Hari/Tanggal : Kamis, 28 Agustus 2008 Catatan lapangan :
Pertemuan Ke : 10
Hari/Tanggal : Kamis, 4 September2008 Catatan lapangan :
Lampiran 5
• Tes siklus III dilaksanakan
• Sebagian besar siswa tampak tekun dalam mengerjakan soal
• Ketergantungan siswa terhadap teman dalam menjawab soal mulai berkurang dibandingkan siklus I
• Siswa mengumpulkan jawaban tes tepat waktu
• Proses belajar masih sama seperti pertemuan kemarin
• Siswa yang dikategorikan masih kurang kemampuan pemecahan masalah matematikanya disuruh maju ke depan dan menjawab soal yang diberikan. • Peneliti membimbing siswa tersebut, sampai siswa tersebut dapat menjawab
soal lain
• 2 siswa belum mengerti metode subtitusi
KISI-KISI INSTRUMEN TES KESELURUHAN SIKLUS SEBELUM UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS
Tingkat Pendidikan : MTS Kelas/Semester : VIII/1
Mata Pelajaran : Matematika
Standar Kompetensi : Memahami bentuk aljabar, relasi, fungsi, dan persamaan garis lurus
Materi
Pembelajaran Kompetensi Dasar Indikator Soal No. Soal
Siswa dapat membedakan persamaan linear dua variabel dan sistem persamaan
linear dua variabel dari soal pemecahan masalah 2
Siswa dapat menentukan himpunan penyelesaian Persamaan Linear Satu
Variabel (PLSV) 4
Siswa dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah yang berkaitan dengan
himpunan penyelesaian persamaan linear 1
Siswa dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah yang berkaitan dengan
himpunan penyelesaian persamaan non linear 5
Bentuk-Bentuk Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) Menjelaskan bentuk-bentuk Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Siswa dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah yang berkaitan dengan
himpunan penyelesaian PLDV dan SPLDV 3, 6
Siswa dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah SPLDV dengan
metode grafik 8,11
Siswa dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah SPLDV dengan
metode subtitusi 7, 10
Siswa dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah SPLDV dengan
metode eliminasi 9, 12 Solusi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) Menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel
Siswa dapat menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah SPLDV dengan
Siswa dapat menafsir soal dari masalah sehari-hari yang berkaitan dengan
SPLDV 14, 15
Siswa dapat membuat model matematika dari masalah sehari-hari yang berkaitan
dengan SPLDV 18, 20 Aplikasi SPLDV dalam kehidupan Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan SPLDV dan penfsirannya
Siswa dapat mencari penyelesaian suatu masalah yang dinyatakan dalam model
Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika (Keseluruhan Siklus)
Sebelum Uji Validitas Dan Reliabilitas
1. Pak Hamid memiliki sebidang tanah berbentuk persegi panjang. Keliling tanah tersebut 90 meter. Selisih panjang dan lebarnya adalah 25 meter. Maka
a. Buatlah sistem persamaannya!
b. Hitunglah panjang dan lebar tanah tersebut! c. Hitunglah luas tanah tersebut!
2. Suatu bilangan adalah tiga kali bilangan lain. Jika jumlah kedua bilangan itu 24, maka
a. Tentukan apakah persoalan di atas PLDV atau SPLDV! b. Hitunglah selisih kedua bilangan itu!
3. Suatu toko hewan menjual seekor kucing seharga Rp 100.000,00 dan seekor burung beo seharga Rp 150.000,00. Harga jual semua hewan adalah Rp 3.600.000,00. Suatu malam, pemilik toko lupa menutup pintunya dan ada hewan yang hilang, yaitu dua kucing dan setengah dari jumlah burung beo hilang. Jika harga jual seluruh hewan yang masih ada sekarang adalah Rp 2.200.000,00. Maka buatlah sistem persamaannya dan hitunglah jumlah kucing dan burung beo masing-masing sebelum hewan itu hilang! 4. Diketahui dua sudut yang saling berpelurus. Jika selisih dua sudut itu 106o,