• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI HASIL

3. Siklus III

3. Siklus III

Pada siklus III ini merupakan tindak lanjut dari siklus II. Siklus III ini lebih memfokuskan siswa yang memiliki nilai tes di bawah rata-rata agar lebih memahami bentuk soal-soal pemecahan masalah yang diberikan peneliti dan penerapan beberapa metode pada soal. Pada siklus III ini peneliti memberikan pembahasan tentang Aplikasi SPLDV dalam kehidupan sehari-hari. Adapun tahap-tahap siklus III ini adalah sebagai berikut :

a. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan siklus III dimulai dengan menyiapkan rencana pembelajaran, menyiapkan materi ajar, menyiapkan soal latihan dan PR, menyiapkan soal tes akhir siklus III dan keperluan pembelajaran lainnya. Pada siklus ini peneliti mengulang kembali materi tentang mencari himpunan penyelesaian SPLDV. Pada siklus III peneliti menjelaskan tentang aplikasi SPLDV dalam kehidupan. Pembelajaran dilakukan dengan metode resitasi yang dibantu tutor sebaya. Metode ini dipilih agar siswa lebih aktif dalam belajar matematika dan lebih bermakna bagi siswa.

Berdasarkan hasil refleksi siklus II, pembelajaran siklus III dibagi dalam dua kelompok, kelompok pertama siswa-siswa yang hasil tes akhir siklus II masih rendah dan kelompok kedua siswa-siswa yang

hasil tes akhir siklus II sudah baik. Siswa yang daya serapnya tinggi terhadap materi yang diberikan diarahkan untuk menjadi tutor sebaya. Kelompok pertama terdiri dari 18 siswa dan kelompok kedua terdiri dari 18 siswa. Hal ini dilakukan atas dasar temuan penelitian pada siklus II dimana siswa yang maju ke depan adalah adalah siswa-siswa yang memang memiliki kemampuan di atas rata-rata pada pelajaran matematika. Pemberian tugas dibantu tutor sebaya diprioritaskan untuk siswa yang nilainya masih dibawah rata-rata, dan penjelasan dilakukan secara individu. Hal ini dilakukan agar siswa lebih terbuka untuk mengungkapkan kesulitannya.

b. Tahap Pelaksanaan

Pada siklus III terdiri dari tiga kali pertemuan, materi ajar pada pertemuan pertama dan kedua adalah aplikasi SPLDV dalam kehidupan serta penguatan materi sebelumnya. Sedangkan pada pertemuan ke tiga peneliti melakukan ujian tes siklus III. Adapun uraian proses pembelajaran siklus III adalah sebagai berikut:

1. Pertemuan pertama/ Selasa, 26 Agustus 2008

Kegiatan pembelajaran berlangsung selama 2 x 45 menit (2 jam pelajaran), dimulai pada pukul 07.00 sampai pukul 08.30. Pada pertemuan ini semua siswa hadir. Guru matematika kelas VIII A hadir sebagai observer yang mengamati aktivitas siswa satu persatu kemudian dicatat pada lembar observasi. Selain itu obsever juga melakukan penilaian pada peneliti ketika mengajar di kelas. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi bagi perbaikan pengajaran pada pertemuan selanjutnya.

Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan mereview materi cara mencari solusi atau himpunan penyelesaian SPLDV, dengan memberikan satu contoh soal yang diselesaikan dengan 4 metode

(grafik, subtitusi, eliminasi dan kombinasi). Kemudian peneliti dan siswa membahas tugas rumah yang diberikan sebelumnya.

Pada pertemuan kali ini peneliti membagi siswa menjadi 2 kelompok sesuai dengan nilai tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Kelompok pertama adalah siswa-siswa yang hasil tes akhir siklus II masih rendah berjumlah 17 orang dan kelompok kedua adalah siswa-siswa yang hasil tes akhir siklus II sudah baik berjumlah 19 orang. Semua anggota kelompok dua berperan menjadi tutor sebaya untuk semua anggota kelompok pertama. Karena jumlah siswa kelompok pertama dan kedua hampir seimbang, maka terdapat 18 kelompok saling berpasangan. Pada saat pembagian kelompok suasana menjadi sangat ribut, bahkan ada yang tidak mengerti cara pembagian kelompoknya. Setelah suasana kelas kondusif, kelompok pertama ditugaskan menjawab soal pemecahan masalah sebanyak 5 soal dengan durasi waktu lebih lama yaitu 40 menit. Sedangkan kelompok dua ditugaskan menjadi tutor sebaya. Kendala pada pertemuan ini adalah beberapa siswa minta diajari oleh satu orang siswa yang terpandai di kelas.

2. Pertemuan kedua / Kamis, 28 Agustus 2008

Kegiatan pembelajaran berlangsung selama 2 x 45 menit (2 jam pelajaran), dimulai pada pukul 10.30 sampai pukul 12.00. Pada pertemuan ini ada 2 orang siswa yang tidak hadir karena sakit. Guru matematika kelas VIII A hadir sebagai observer yang mengamati aktivitas siswa satu persatu kemudian dicatat pada lembar observasi. Selain itu obsever juga melakukan penilaian pada peneliti ketika mengajar di kelas.

Sebagaimana pertemuan pertama, proses belajar masih sama seperti pertemuan kemarin. Tetapi suasana kelas lebih kondusif karena pembagian kelompok sama seperti pertemuan pertama. Peneliti membagi siswa menjadi 2 kelompok sesuai dengan nilai

tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Kelompok pertama adalah siswa-siswa yang hasil tes akhir siklus II masih rendah berjumlah 17 orang dan kelompok kedua adalah siswa-siswa yang hasil tes akhir siklus II sudah baik berjumlah 19 orang. Semua anggota kelompok dua berperan menjadi tutor sebaya untuk semua anggota kelompok pertama. Karena jumlah siswa kelompok pertama dan kedua hampir seimbang, maka terdapat 18 kelompok saling berpasangan. Kelompok pertama ditugaskan menjawab soal pemecahan masalah sebanyak 5 soal dengan durasi waktu lebih lama yaitu 40 menit.

Pada pertemuan kedua ini, peneliti lebih ekstra membimbing siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah rendah dengan cara menyuruh mereka untuk mengerjakan soal ke depan. Jika siswa masih terlihat kesulitan dalam menjawab soal, peneliti pun membimbingnya dalam menjawab soal. Agar waktu tidak terbuang banyak, 3 siswa maju ke depan secara bersamaan. Tetapi setelah peneliti membimbing siswa satu persatu dengan baik dan siswa tidak putus asa mengerjakan latihan soal akhirnya secara perlahan siswa dapat memahami materi dengan baik.

Siswa yang dapat menyelesaikan latihan soal lebih awal berperan sebagai tutor sebaya. Jika pada pertemuan sebelumnya masih terlihat siswa yang malas mengerjakan latihan, namun pada pertemuan kali ini semua siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dan aktif dalam mengerjakan soal-soal pemecahan masalah yang diberikan (dapat dilihat pada lampiran 4).

Setelah waktu belajar tersisa 10 menit lagi, siswa ditugaskan membuat rangkuman materi bab SPLDV (sistem persamaan linear dua variabel) dari awal sampai akhir. Keunikan dari membuat rangkuman ini adalah siswa tidak boleh melihat buku apapun. Siswa hanya mengandalkan ingatan mereka tentang materi.

Gambar 6

Situasi kelas pada saat siswa mendapat bimbingan ekstra

3. Pertemuan ketiga/ Kamis, 4 September 2008

Pada pertemuan ini peneliti mengadakan ujian akhir siklus III. Ujian dimulai pada pukul 10.30 sampai dengan 12.00. Pada pertemuan kali ini dilaksanakan tes akhir siklus III untuk pokok bahasan solusi SPLDV dengan metode grafik, metode subtitusi, metode eliminasi dan metode kombinasi yang diaplikasikan dalam kehidupan. Soal tes berbentuk essay berjumlah 5 soal yang disesuaikan dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai untuk pokok bahasan tersebut (dapat dilihat pada lampiran 18).

Tes dilaksanakan selama 2 jam pelajaran, karena perhitungan memerlukan waktu yang cukup lama dalam pengerjaannya. Tes ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi yang telah diajarkan dan untuk mengetahui apakah ada peningkatan pemecahan masalah matematika antara siklus II dengan siklus III. Siswa kelas VIII A hadir seluruhnya dan pelaksanaan tes berjalan dengan baik.

Seluruh siswa tekun mengerjakan soal yang diberikan dan semua siswa dapat menyelesaikan tes sesuai waktu yang telah ditentukan. Sudah tidak terlihat siswa yang menyontek jawaban

temannya. Pada siklus III ini kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah semakin baik. Terlihat dari jawaban soal siswa yang telah mampu memahami masalah yang ada pada soal, merencanakan penyelesaian, dan menyelesaikan soal dengan benar.

c. Tahap Observasi

Pembelajaran pada siklus III ini berjalan dengan baik, kondisi kelas lebih kondusif dibandingkan siklus II. Siswa lebih tekun dan terbiasa dalam mengerjakan soal pemecahan masalah. Siswa-siswa yang rendah kemampuan pemecahan masalah matematikanya dapat mengikuti pelajaran dengan baik dengan adanya bimbingan ekstra dari guru dan teman sebayanya yang lebih pandai. Hasil pengamatan terhadap pelaksanaan pengajaran guru oleh observer sudah baik dan hasil pengamatan dapat dilihat pada lampiran 3.

Hasil pengamatan tentang aktivitas siswa melalui lembar observasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 9

Skor Rata-rata aktivitas Siswa Pada Pembelajaran Matematika Siklus III

Rata-rata Pertemuan Ke- No Aspek yang diamati

8 9

Rata-rata Total 1 Membawa peralatan dan

sumber belajar matematika 3,86 4 3,93 2 Memperhatikan penjelasan

guru 2,98 3,29 3,14

3 Bertanya pada guru jika ada

materi yang kurang jelas 2,73 3,18 2,96 4 Mengerjakan tugas yang

diberikan guru sampai selesai 2,97 3,24 3,10

5 Mengoreksi atau

membenarkan jawaban teman 3,12 3,15 3,14 6 Menjawab soal dengan benar 2,78 3 2,89

Keterangan:

Skala penilaian rata-rata setiap aspek: Skala penilaian jumlah rata-rata: 1: dilakukan kurang baik 9 – 17 : pemecahan masalah rendah 2: dilakukan cukup baik 18 – 26 : pemecahan masalah sedang 3: dilakukan dengan baik 27 – 36 : pemecahan masalah tinggi 4: dilakukan sangat baik

Pada tabel 9 terlihat bahwa dari 9 aspek yang diamati melalui lembar observasi pada pertemuan 8 dan 9 didapatkan rata-rata 27,59 kategori kemampuan pemecahana masalah siswa tinggi dengan adanya penggunaan metode resitasi dalam belajar matematika.

Kemampuan pemecahan masalah matematika selama pelaksanaan siklus III adalah sebagai berikut:

1) Memahami Masalah

Pemahaman siswa pada soal pemecahan masalah semakin meningkat (dapat dilihat pada lampiran 24). Seluruh siswa semakin ulet dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh dan pantang menyerah dalam mengerjakan soal-soal yang sulit. Beberapa siswa yang mengalami kesulitan pada saat mengerjakan tugas langsung bertanya kepada guru atau tutor sebaya yang telah ditentukan oleh guru. Sebagian siswa yang pada siklus sebelumnya mudah menyerah dan mengeluh pusing jika mengerjakan soal-soal yang sulit, pada siklus III ini telah menunjukkan usaha yang lebih sungguh-sungguh untuk dapat menyelesaikan soal-soal tersebut. Dan siswa memanfaatkan waktu yang diberikan oleh guru dengan efektif dan efisien, mereka 7 Mengerjakan soal ke depan

kelas 2,83 2,97 2,90

8 Berusaha mendapat nilai bagus

(poin) 2,87 2,87 2,87

9 Mengumpulkan tugas tepat

waktu 2,93 2,95 2,94

sudah tidak memanfaatkan waktu yang diberikan untuk mengobrol atau bercanda dengan teman.

2) Merencanakan Penyelesaian

Pada siklus II ini perencanaan siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan mengalami peningkatan yang semakin baik (dapat dilihat pada lampiran 24). Hal itu disebabkan karena siswa mulai beradaptasi atau terbiasa dengan soal-soal pemecahan masalah dan pemahaman siswa pada soal yang diberikan mengalami kemajuan. Ketika guru memberikan tugas berupa soal sebanyak 5 butir soal essay pada siswa kelompok pertama, siswa mengerjakan tugas tersebut dengan mandiri (dapat dilihat pada lampiran 4). Tidak hanya mengandalkan jawaban teman yang memiliki kemampuan tinggi pada pelajaran matematika. Karena mereka merasa selalu diawasi dan dipantau oleh guru.

3) Menyelesaikan Masalah

Cara mereka menyelesaikan soal pemecahan masalah pada siklus III mengalami peningkatan yang semakin baik (dapat dilihat pada lampiran 24). Hal ini terlihat dari kesamaan cara menyelesaikan masalah dengan perencanaan penyelesaian. Pada siklus III ini, peneliti lebih ekstra membimbing siswa yang memiliki kemampuan pemecahan masalah rendah dengan cara menyuruh mereka untuk mengerjakan soal ke depan.

Seperti pada siklus II, sebelum siswa maju ke depan, mereka telah membuat perencanaan penyelesaian di tempat duduk. Ketika maju ke depan, mereka hanya meneruskan konsep perencanaan penyelesaian soal. Namun kali ini siswa yang maju ke depan adalah siswa yang telah memiliki kemampuan pemecahan masalah sedang dan rendah.

4) Pengecekan Kembali

Beberapa siswa yang pada siklus I lupa mengoreksi kembali hasil pekerjaan mereka, pada siklus III sudah mulai menunjukkan peningkatan yang cukup baik dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Hal ini terlihat pada saat mereka maju ke depan untuk menyelesaikan soal, sebelum mereka kembali ke tempat duduk, mereka mengoreksi hasil pekerjaan mereka terlebih dahulu di papan tulis. Jawaban siswa pada tes akhir siklus III menunjukkan bahwa siswa telah mengecek kembali jawaban mereka dengan menyelesaikan dengan metode lain.

Berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pengajaran guru oleh observer menunjukkan peneliti melaksanakan pengajaran dengan baik, hasil observasi dapat dilihat pada lampiran 3. Hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir siklus III pada pertemuan kesepuluh, sebagai berikut:

Tabel 10

Nilai Tes Akhir Siklus III

Interval Frekuensi frelatif

frelatif kumulatif 55 - 60 2 0,0556 100% 61 - 66 5 0,1389 94,44% 67 - 72 6 0,1667 80,55% 73 - 78 11 0,3055 63,88% 79 - 84 7 0,1944 33,33% 85 - 90 5 0,1389 13,89% Keterangan:

Rata-rata = 74,65; Nilai tertinggi = 90; Nilai terendah = 55

Dari tabel 10 terlihat siswa yang mendapatkan nilai≥70 dari sebanyak 28 siswa yaitu 77,78% dan yang mendapat nilai kurang dari 70 sebanyak 8 siswa yaitu 22,22%. Pada siklus III ini indikator

keberhasilan sudah tercapai dimana lebih dari 60% siswa mendapat nilai≥70 dari tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Hasil tes akhir siklus III disajikan dalam histogram dan poligon sebagai berikut:

Gambar 7

Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi Hasil Tes Siklus III

d. Tahap Refleksi

Adaptasi siswa dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah matematika yang sudah sangat baik, pengontrolan peneliti yang lebih ekstra terhadap siswa yang kemampuannya masih lemah, adanya peran tutor sebaya membuat pembelajaran berjalan lebih kondusif dibandingkan dengan pembelajaran pada siklus II. Pada materi tentang aplikasi SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel) dalam kehidupan, siswa terlihat lebih tekun dan sungguh-sungguh dalam mempelajarinya. Meskipun pembahasan ulang juga dilakukan pada materi mencari solusi SPLDV dengan 4 metode (metode grafik, metode subtitusi, metode eliminasi, metode kombinasi)

11 10 8 6 4 2 44,5 50,5 56,5 62,5 68,5 74,5 80,5 x y F re k u e n si Interval Data

namun dengan mengulang-ngulang dalam mempelajarinya dan tidak putus asa dalam menjawab soal, akhirnya siswa dapat memahami materi dengan baik.

Berdasarkan pengamatan melalui lembar observasi ternyata hasilnya siswa sudah terbiasa menyelesaikan soal pemecahan masalah dengan adanya penggunaan metode resitasi dalam proses pembelajaran (dapat dilihat pada lampiran 4). Hasil belajar melalui tes akhir siklus III sudah menunjukkan hasil yang baik. Rata-rata nilai tes siswa mengalami peningkatan dari 64,67 menjadi 74,65 peningkatannya sebesar 11,52. Sebanyak 23 siswa sudah mendapat nilai di atas rata-rata, sehingga indikator keberhasilan yaitu 60% siswa mendapat nilai≥70 dari tes siswa sudah tercapai. Dengan adanya peningkatan hasil tes siklus III dan indikator keberhasilan sudah tercapai maka penelitian ini dihentikan pada siklus III sesuai dengan target yang direncanakan. Sebagai data tambahan yang memperkuat adanya peningkatan hasil belajar matematika siswa, pada hari Selasa, 9 September 2008 dilaksanakan ulangan harian bab SPLDV (Sistem Persamaan Linear Dua Variabel). Hasil yang diperoleh, rata-rata nilai ulangan siswa sebesar 74,68. Nilai tersebut menunjukkan hasil belajar yang sudah cukup baik bila dibandingkan dengan hasil ulangan harian semester genap. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah siklus I sampai Siklus III, disajikan dalam tabel, histogram dan poligon sebagai berikut:

Tabel 11

Skor kemampuan pemecahan masalah siswa pada siklus III

Siklus I Siklus II Siklus III

Jumlah skor 2142 2272,5 2687,5

Rata-rata 59,5 74,65

Dokumen terkait